Formula 1

Memahami Tradisi Problematis Membayar Supaya Bisa Jadi Pengendara F1

Apakah 'pay driver' cuma pengendara tak berbakat anak orang kaya yang 'nyogok' supaya bisa balapan? Kenapa ada tradisi begini di F1? Kami ulas semuanya dalam tulisan berikut.

oleh Jim Weeks
18 Juli 2017, 12:06pm

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Lance Stroll harus berterimakasih ke banyak pihak ketika naik podium untuk pertama kali, dalam Grand Prix Azarbaijan. Pebalap Formula 1 (F1) berutang banyak pada timnya, Williams, yang telah menyediakan sebuah mobil yang bisa melaju kencang. Dia juga harus bersyukur lantaran beberapa kemujuran yang bikin dia nangkring di posisi puncak. Bahkan, dia juga harus bersyukur pada kekuatan yang misterius yang menganugrahinya bakat alam luar biasa.

Tak lupa, Stroll juga harus banyak berterimakasih pada ayahnya, seorang milliarder bisnis retail, Lawrence Stroll, yang membiayai keikutsertaan anak lelakinya itu dalam ajang balapan mobil paling bergengsi sedunia. Lawrence Stroll diperkirakan sudah menggelontorkan dana sebanyak US$80 juta (sekitar Rp1,6 triliun) agar anaknya bisa jadi salah satu pebalap yang berlaga di ajang Grand Prix. Akan sangat durhaka jika Stroll tak mengucapkan terimakasih barang sebentar saja pada sang ayah.

Meski jelas sangat berbakat, Stroll harus menanggung cap jelek selama berlaga dalam gelaran Grand Pix: Stroll dalam olahraga ini dijuluki "pay driver". kemenangannya di Grand Prix Azarbaijan sedikit melunturkan anggapan miring mengenai pay driver. Namun, Stroll bakal butuh waktu lama kalau dirinya benar-benar ingin dikenal sebagai seorang pebalap ulung ketimbang cap anak orang kaya yang bisa 'nyogok' untuk balapan. Tapi, sebelum tulisan ini melangkah terlalu jauh, mari kita bedah apa yang dimaksud dengan pay driver, sebuah istilah yang punya konotasi jelek dalam kancah F1.

Sumber gambar Lance Stroll: PA Images

SEBELUM MEMBAHAS LEBIH JAUH…

Mari kita awali dengan sebuah penjelasan sederhana: Grand Prix F1 bukanlah olahraga yang murah. Mengelola tim yang ikut serta Grand Prix setidaknya membutuhkan dana sebesar €100juta (setara Rp153 miliar) dalam satu musim kompetis. Angka tersebut bakal jauh berlipat jika kita bicara tentang tim langganan pemenang. Tim raksasa macam Mercedes, Ferrari dan Red Bull mungkin tak punya banyak masalah dalam menyusun budget. Kondisinya berbeda 180 derajat dengan tim-tim gurem dalam kompetisi F1, yang harus berjuang mencari penyandan dana untuk memenuhi budget. Kadang Pengucuran dana sponsor tak sekadar pertukaran modal dan sponsor bisa saja datang dengan pembalap titipan—pembalap inilah yang kita kenal sebagai pay driver.

APA DEFINSI PAY DRIVER?

Kendati transaksi pay driver biasanya lurus-lurus saja— kalian kasih kami £10 juta, kami akan izinkan pembalap kalian bertanding mewakili tim kami—ada beberapa jenis pay driver dalam kancah F1. Ada yang datang dengan segepok uang. Pembalap macam ini biasanya dengan mudah melenggang masuk ke sebuah tim.

Misalnya, saat bergabung dengan tim Force India, Sergio Perez menyumbang dana yang tak sedikit jumlah. Namun, Perez bukan pembalap kacangan. Sebelum bergabung dengan Force, CV Perez lumayan mentereng: pernah tujuh kali naik podium. Dengan catatan prestasi seperti ini, Perez jelas pembalap yang patut sekali dikontrak tim mana pun. Tapi, di saat yang sama, tim mana sih yang bakal menolak tawaran dana sebesar beberapa juta poundsterling. Hal yang sama bisa dialami oleh Stroll. Pembalap asal Kanada ini berpeluang naik podium lagi di masa depan, tapi sepertinya sang ayah akan diminta terus mengucurkan dana (mungkin jumlah lebih sedikit) agar Stroll tetap bisa balapan di ajang Grand Prix.

Lalu, ada juga pebalap yang karirnya dirintis penyandang dana tertentu—biasanya tim F1 raksasa yang ingin anak baru ini digembleng di tim lain. Selama paruh musim balapan lalu, tim Manor menurunkan pembalap muda Esteban Ocon dan Pascal Wehrlein. Keduanya adalah pembalap masa depan Mercedes yang "dititipkan" ke tim Manor dengan sogokan tertentu. Bagi Mercedes. Sokongan dana ini adalah sebentuk investasi yang buahnya bakal dipanen di masa depan.

Ada kalanya sokongan dana datang dibarengi masuk pembalap yang sudah harum namanya. Misalnya, pada tahun 2010, Fernando Alonso masuk tim Ferrari dengan sokongan dana dari raksasa bank Santander. Tapi, apa lantas publik F1 mengalungkan predikat pay driver padanya? Enggak lah. Alonso adalah salah satu pembalap terbaik pada masanya dan dibayar tinggi untuk berlaga di sirkuit F1. Tetap saja, pada kasus tertentu, sebuah tim justru dapat durian runtuh ketika menyewa seorang juara dunia.

Tidak ada yang mengeluh ketika Sergio Perez membayar supaya bisa ikut F1, karena dia memang berbakat. Sumber gambar: PA Images

Akhirnya, ada pembalap yang posisinya dalam sebuah tim bergantung sepenuhnya pada uang yang bisa mereka guyurkan ke kantong tim. Sumber dana ini bisa macam-macam dari sekelompok penduk ung (Marcus Ericsson), perusahaan minyak milik negara (Pastor Maldonado) dan kekayaan keluarga (Stroll). Pembalap macam ini biasanya cuma bisa bertahan satu atau dua musim kompetisi karena pada akhirnya para penyandang dana akan mempertanyakan apa faedahnya mengucurkan dana besar untuk pembalap yang rajin finish di nomor 19 atau ada pembalap baru dengan dukungan dana yang lebih kuat yang ingin ikut balapan. Tapi, nasib mereka tak selamanya buruk—Maldonado pernah memenangkan satu balapan dan Stroll malah sudah naik podium di usia yang sangat belia, 18 tahun.

Jadi, apa yang dimaksud sebagai "pay driver" oleh khalayak pemirsa F1 tak selalu berarti pembalap yang membeli tempatnya dalam sebuah tim—pay driver adalah pembalap yang hanya bergantung pada sokongan dana ketimbang talenta mereka (meski definisi ini juga, kalau ditilik lebih jauh, masih morat-marit).

Tapi mari kita sederhanakan permasalahannya. Kalau kamu masih bingung, cobalah jawab pertanyaan ini: seandainya semua tim F1 hanya menyewa driver semata berdasarkan kemampuan mereka dan tambahan dana tak lagi dibutuhkan, apakah nama-nama pebalap yang kita sebut sebelumnya bakal tetap berlaga dalam kompetisi F1? Dalam kasus Perez, jawabannya mungkin iya. Tapi, tidak demikian dengan Ericsson yang berlaga di bawah bendera Sauber—meski Ericsson bukanlah pay driver terburuk sepanjang masa.

SEJARAH PAY DRIVER

Pay driver sebenarnya adalah peletak dasar F1. di awal perkembangannya, pembalap F1 otomatis adalah anak gedongan—kebanyakan datang dari lingkaran aristokrat Eropa—yang berlomba-lomba menggeber mesin mobil mereka melewati batas kecepatan wajar. Memang, saat itu, ada juga "pembalap pabrikan"—yang disewa oleh pabrik mobil dan digaji untuk ikut balapan—tapi mereka juga datang dari keluerga tajir karena bagaimana caranya coba kamu bisa ikutan olahraga mahal ini kalau kam tak punya kocek tebal?

Seiring perkembangan Formula 1 di dekade 60an dan 70an, pembalap F1 kian makin profesional walaupun rasa amatir dalam F1 belum sepenuhnya punah. Masuknya sponsor besar—terutama perusahaan rokok—memungkinkan pembalap dari keluarga biasa dan mendapatkan nama bermodal kemampuan alami mereka sebagai seorang pembalap. Di sisi lain, ada banyak pembalap tajir dengan beragam talenta yang datang membawa dana segar. Daftar pembalap seperti ini sangat panjang. Namun David Purley (putra pendiri LEC Refrigeration ) and Rupert Keegan (putra seorang pengusaha penerbangan sukses ) adalah dua di antaranya. Beberapa pay driver dari generasi ini sukses berat: Niki Lauda berani mengambil simpanan ke bank untuk membiayai karirnya di F1 dan tiga keluar sebagai juara dunia (fakta ini kerap dijadikan alasan ketika seorang pay driver ditanya tentang sumbangan dana mereka pada tim seakan-akan mereka sehebat Lauda).

Rupert Keegan mengendarai mobil tim Hesketh yang disponsori Penthouse. Sumber foto: PA Images

Saat itu tak ada protes berarti dari fan F1 atas kehadiran pay driver. Memang, beberapa di antaranya balapan dengan skill seadanya. Namun, perlu dicatat di masa itu ikut serta dalam ajang F1 adalah tindakan yang membutuhkan keberanian khusus. Rata-rata dalam satu tahun, satu pembalap menemui ajal di lintasan balap. Salah satunya adalah Piers Courage, pewaris sebuah dinasti bir dengan nama serupa, yang menghembuskan nafas terakhir dalam Grand Prix 1970 di Belanda. Dengan resiko yang begitu besar, para pembalap masa itu sudah cukup dihargai dengan keberaniannya mengadu nyali di sirkuit F1. di samping itu, dengan masih kentalnya cita rasa amatir dalam F1 waktu itu, pay driver belum punya status miring sebagai aib seperti saat ini.

MASA KEEMASAN PAY DRIVER

Saat olahraga ini bertambah profesional di era delapan puluhan dan sembilan puluhan, pembalap bayaran menjadi semakin kentara, sebuah tren yang melejit mendekati era millennium. Hal ini berhubungan dengan angka-angka grid: pada perlombaan F1 1992, terdiri dari 30 entri. Ada banyak pembalap bayaran di antara mereka—Pedro Chaves, Andrea Chiesa, Paul Belmondo—tapi mereka sering gagal masuk kualifikasi, dan dengan banyak kursi mereka tidak begitu relevan.

Pada akhir 1996, grid ini telah menurun menjadi 20 entri. Kompetisi masih sengit, yang meningkatkan kebencian terhadap mereka yang mengambil kursi hanya karena mereka mampu.

Kasus pada 1996 adalah contoh yang bagus. Menggunakan definisi 'kayaknya-enggak-akan-di-sana-kalau-enggak-berduit', F1 membayar pembalap kontingen yang menampilkan Pedro Diniz di Ligier, Ricardo Rosset di Arrowsm Ukyo Katayama dengan Tyrrell, dan Giovanni Lavaggi di Pacific.

Diniz, yang duitnya datang dari bisnis besar pakaian bapaknya, adalah pembalap bayaran yang bagus: tidak ada yang spesial di balik kemudi kecuali yang cukup kompeten sampai-sampai kehadirannya dalam olahraga itu diterima. Sama halnya dengan Katayama, yang datang dengan dukungan merk rokok Jepang Mild Seven. Mereka berdua memiliki kemampuan untuk mencetak skor lagi dan lagi dan hampir tidak pernah mengganggu pentolan.

Diniz mengendarai mobil tim Ligier; adanya logo Parmalat tentu saja berkat campur tangan sang ayah. Foto oleh: PA Images

Rosset, sebagaimana Diniz, didanai oleh bisnis keluarganya, tidak memiliki kaliber yang sama. Rapornya sebagai pembalap junior biasa saja dan dia tidak terkenal di 1996, namun pada 1998 dia mengalami mimpi buruk dengan Tyrrell, gagal masuk kualifikasi untuk lima perlombaan. Di antaranya adalah upaya buruk di Monaco, setelahnya si mekanik mengubah huruf pertama dan terakhir nama belakangnya di skuter menjadi "tosser." Itulah tahun terakhirnya di F1.

Lalu yang terakhir adalah Lavaggi. Orang Italia ini datang dari bursa saham aristokrat dan tiba di F1 pada 1995, yang 40 tahun terlambat untuk pembalap semacam dia. Dia 37 tahun pada saat itu, 15 tahun lebuh tua dari amatir F1 dan tidak jago juga ngebut-ngebutan. Selama proses kualifikasi di Spa dia dikalahkan empat detik oleh teman satu timnya Andrea Montermini, yang sebetulnya bukan Michael Schumacher juga. Selama perido akhir 1996 dia bergabung dengan Minardi, gagal masuk kualifikasi untuk tiga dari enam perlombaan sebelum akhirnya meninggalkan olahraga itu. Dia mungkin berusaha, lebih keras dari siapapun, untuk mengkristalisasi konsep pembalap bayaran. Bagaimanapun, dia adalah laki-laki tergormat yang memasuki usia 40, yang memiliki rapor jelek sebagai pembalap junior, dan mengemudi di Formula 1 hanya karena dia punya duit. Kamu mungkin bisa berargumen bahwa tidak ada yang seburuk dia sejak itu, meski sebetulnya ada yang lumayan mirip: Taki Inoue, Alex Yoong dan Gaston Mazzacane.

AKANKAH PAY DRIVER TAK LAGI DIPANDANG REMEH?

Ada banyak pembalap bayaran sejak 1996, dari orang Austria Patrick Friesacher sampai DJ Sakon Yamamoto, pembalap Jepang yang sepertinya hanya membeli kursinya setelah setengah musim terlewatkan.

Namun meski para pembalap ini tidak menawarkan apapun di sirkuit, tetap ada banyak pembalap bayaran yang hebat. Adrian Sutil, Vitaly Petrov, Pedro de la Rosa—mereka tidak akan bisa mengalahkan Hamilton atau Vettel, tapi masih menunjukkan talenta dan hasil menakjubkan sebelum F1.

Kini mungkin saja seseorang memasuki F1 tanpa uang banyak. Kombinasi kemiskinan global, uang perusahaan rokok dan kesulitan yang dihadapi oleh pabrik mobil besar menimbulkan tantangan baru bagi tim-tim untuk beroperasi, dengan banyak dari mereka membutuhkan sejenis investasi pembalap. Ini juga berimbas pada pembalap junior pula—kalau menilik grid Formula 2, kamu akan melihat banyak anak miliarder.

Namun fakta bahwa semua orang punya uang bukan berarti tidak ada taleta tersisa di F1, alih-alih garisnya dipudarkan. Ketika Valtteri Bottas pindah dari Williams ke Mercedes pada musim salju dia membopong sponsor-sponsornya. Bottas amat berbakat dan telah memenangkan sepasang grand prix, tapi seperti orang lain, dia dibantu duit sponsor.
Jadi apa yang kita maksud ketika kita ngobrolin soal pembalap bayaran di 2017, mengingat setengah grid cocok dengan deskripsinya?

Palmer sebagai salah satu pay driver memang punya musim yang buruk, tapi dia sebetulnya ga jelek-jelek amat kok. Sumber foto: PA Images

Sejujurnya, ini telah menjadi tim yang lebih selektif. Tidak ada lagi yang menyebut duit sponsor Perez, karena para Meksiko telah membuktikan dia pantas berada di F1. Tidak ada yang peduli bahwa Bottas didukung oleh Wirhuri atau Kevin Magnussen datang dengan sponsor pribadi, Jack & Jones. Hal ini disebut beberapa kali, tapi kalau seorang pembalap tampil sangat baik selama beberapa waktu, soal sponsor tidak akan disebut lagi.

Oleh sebab itu, kalau Perez tiba-tiba tampil buruk dia mungkin akan disebut "pembalap bayaran" lagi. Begitu pula dengan Jolyon Palmer, yang memenangkan titel GP2 di 2014 dan sepertinya ada sesuatu. Namun dia juga membawa uang untuk posisinya dengan Renault, dan dengan hasilnya saat ini dia tidak menerima sebutan itu. Ditto Marcus Ericsson, yang memenangkan perlombaan di GP2 dan merebut titel F3 Jepang, tapi tidak pernah berbuat spesial di F1.

Bersamaan dengan Stroll, yang bertahan sebagai pemenang Eropa F3—mereka berdua adalah pembalap F1 yang paling mungkin disebut sebagai pembalap bayaran. Jadi inilah yang dilakukan pembalap bayaran di 2017: seseorang yang tidak hanya membawa uang, tapi juga gagal menyanggupi tuntutan F1, setidaknya di mata penggemar. Tak satupun pantas disandingkan dengan Lavaggi, dengan Inoue, atau bahkan dengan pembalap bayaran lebih baik seperti Diniz. Mereka telah mencetak rekor bagus di kategori junior—mungkin bahkan memenangkan perlombaan besar—dan setelah itu, sesuai standarnya, membayar untuk bangku F1.

Hal ini ditutup oleh Stroll muda, yang podumnya di Baku memulai sesuatu yang akan menjadi proses panjang untuk menghapuskan sebutan pembalap bayaran dan mencetak nama sendiri sebagai peserta Formula 1 yang patut diperhitungkan. Namun, peringatan: meski reputasi membutuhkan bertahun-tahun untuk dibangun, beberapa perlombaan buruk akan menodainya. Pada akhirnya, kita pasti selalu mendapatkan hasil sesuai yang kita bayar.

Follow penulis artikel ini di akun @Jim_Weeks. Ajak dia ngobrol semua hal terkait olahraga.