Iklan
mitos

Arti di Balik Lambang Mata Setan yang Kita Temui di Mana-Mana

Meski sering jadi ikon fashion yang dipakai di mana-mana, ternyata di negara lain soal mitos mata setan ini bukan hisapan jempol semata, tapi dipercaya sebagai kutuk yang nyata

oleh Leila Ettachfini
06 Juni 2018, 12:18pm

Foto oleh Kolidzei via Getty 

Musim semi lalu, aku duduk di rooftop sambil memandangi Chefchaouen, “Kota Biru” di Maroko dan—tanpa sadar—menyebabkan aku dan temanku Leah terkena kutukan mata setan.

Kami sampai di Maroko beberapa jam sebelumnya, setelah menempuh perjalanan darat dari Marrakech dengan ibu dan dua bibiku. Walaupun cuaca hari itu tergolong hangat, kedua bibiku terkesan rewel sekali. Saban kali aku dan Leah meminta mereka membesarkan AC mobil, keduanya langsung berkhotbah agar kami menutupi dada kami dengan selimut agar tak jatuh sakit—hal yang sama terjadi tiap kali kami minta jendela mobil diturunkan. Ini terus terjadi bahkan saat kami sampai di rumah kakekku di Fes, mereka tak henti-hentinya menjerit , “ wili, wili, wili!” ( ungkapan dalam bahasa Maroko yang kira-kira berarti“Ya Tuhan”) saban kali mendapati kami berkeliaran dengan mengenakan piyama dan tank top. Minimal lima kali dalam sehari, mereka mewanti-wanti kalau kami akan sakit dan lima kali pula kami menertawai mereka—”Ah mereka ini kok enggak masuk akal banget cara berpikirnya,” ujar kami.

Kembali lagi ke rooftop rumah kakekku di Chefchaouen, Leah waktu itu baru saja beres mandi dan rambutnya masih basah hingga membentuk dua garis di jaket jeans yang dia pakai di atas gaun pendekarnya. Dalam bahasa Arab, salah satu bibiku berkata: “Aku sudah berusaha menasehati temanmu sebelum kami pergi, tapi dia enggak mau dengar. Temanmu itu bakal sakit!” Aku cuma mendengarnya selewatan saja. “Khalti, kami sering kok keluar dengan rambut masih basah, kami enggak pernah sakit,” jawabku ketus. “Lihat saja, kami akan baik-baik saja.”

Esoknya, aku bangun tidur dan mendengar suara Leah berusaha mengeluarkan dahak dari tenggorokannya. Sekian detik kemudian, giliran aku yang bersin. Kami saling berpandangan dan tawa kami keluar tak tertahankan. Kami pun akhirnya sakit selama sisa perjalanan kami.

Penyebabnya jelas: kesombonganku akan kekuatan sistem kekebalan tubuh kami telah menyebabkan kami kena kutukan mata setan.

Khamsa amulets, Maroko. Foto oleh Artur Widak/NurPhoto via Getty Images

Mata Setan atau al-ayn (artinya “mata” Arabic) adalah sejenis kutukan yang menyebabkan korbannya menderita, dalam level yang berbeda-beda dari gangguan kecil yang bikin bete, raibnya kekayaan seseorang hingga memicu serangkaian nasib buruk. konon, seseorang bisa kena kutukan Mata Setan lewat lirikan dan pujian yang diberikan orang lain—baik dengan sengaja atau tidak.

Pun seseorang bisa menyebabkan dirinya terkena kutukan ini karena tindakan yang kurang sopan. contohnya, mengacuhkan nasehat bibimu dan menyombongkan sistem kekebalan tubuhnmu. Itu yang aku alami. Bahkan seseorang bisa terkena kutukan ini tanpa campur tangan orang lain. kasusnya bisa seperti ini: seorang perempuan yang kelewat mengagumi kecantikannya saat berkaca bisa bangun dengan jerawat di jidatnya karena dia kena kutukan mata setan.

Kepercayaan akan kutukan ini sudah ada sejak 5.000 tahun lalu pada masa bangsa Sumeria yang mendiami lembah sungai Eufrat, kendati beberapa sejarawan telah menemukan gambar berusia 10.000 tahun di sebuah gua di Spanyol dan jimat yang berasal dari Suriah dari 3.300 SM yang diyakini sebagai simbol Mata Setan. Seperti dalam berbagai tradisi di dunia, kepercayaan akan kutukan Mata Setan dan apa yang menyertainya bervariasi dari satu daerah ke daerah lainnya, namun keberadaanya yang melintasi lautan, budaya dan milenium memang mencengangkan. saat ini, kepercayaan akan Mata Setan terbesar di mana-mana dan jimat penangkalnya dijual di pinggir jalan di Yunani hingga mal-mal di Bloomingdales.

Terdapat banyak sekali jimat, doa dan ritual di seluruh dunia yang dipercaya menangkal kutukan Mata Setan. salah satu yang paling terkenal adalah jimat yang kenal dengan nama khamsa (dalam bahasa Arab) atau hamsa (dalam bahasa Ibrani) yang bentuknya mirip seperti ukiran berbentuk tangan. jimat yang tak kalah kesohornya adalah nazar (yang banyak digunakan di Turki), manik-manik biru dengan lambang pupil di tengahnya. simbol mata ini dapat ditemukan di berbagai kawasan di Bumi mulai dari Asia Barat sampai Amerika Tengah. simbol-simbol ini biasanya ditempatkan di pintu depan rumah, dijadikan pegangan pintu, dikenakan sebagai hiasan, diukir dalam furnitur sampai ditaruh di sebelah orang yang ingin dilindungi dari kukutan Mata Setan. Dan meski penganut agama monotheis menganggap jimat sebagai bentuk kesyirikan dan karenanya termasuk dosa besar, jimat penangkal Mata Setan ditemukan di banyak rumah di planet ini, terlepas dari agama apa yang dianut pemiliknya. dan di berbagai belahan dunia ini, doa-doa yang menyebut nama tuhan dianggap sebagai penangkal paling kuat bagi kutukan Mata Setan.

Jimat Nazar yang populer di Turki. Foto oleh Vik Walker via Creative Commons.

Dulu waktu kecil, rambutku panjang sekali sampai bisa diduduki. dan hal itu sering jadi sumber pujian yang keluar dari mulut orang lain. Biasanya mereka akan memujiku dengan bilang, “wah rambutnya cantik sekali.” Lalu, kalau mereka tak tahu cara yang benar untuk mengatakannya, ibu akan menunggu sampai mereka pergi dan mengucap , “mashallah, mashallah,” guna memastikan bahwa rambut panjang yang kumiliki berasal dari Allah dan karenanya melindungi aku dari gangguan Mata Setan. Seringkali, saat aku menyisir rambut dan ada rambut yang tertinggal di sisir, ibu akan menggelengkan kepala dan bilang, “Nah kan rontok jadinya, pasti ibu-ibu yang memujimu itu penyebabnya— al-ayn.”

Walaupun orang-orang yang relijius berdoa untuk menangkal kutukan Mata Setan, kepercayaan akan Mata Setan tak hanya dimiliki oleh penganut agama Islam, Yahudi dan agama monotheis lainnya meski Mata Setan benar disebut dalam kitab suci masing-masing agama tersebut.

Di Brasil, terdapat kebiasaan untuk menempatkan tanaman yang konon dimiliki oleh Cabacio, Dewa Api yang dipercaya penduduk Brasil, di depan jalan masuk rumah atau tempat berbisnis mereka agar terlindung dari Mata Setan. Di beberapa kawasan di Amerika Tengah, penduduk setempat menangani kutukan Mata Setan, atau mal de ojo , dengan bantuan curandero, semacam dukun, lewat sebuah ritual yang menggunakan telur mentah. Sementara itu di Yunani dan Italia, beberapa orang meneteskan minyak zaitun di atas air suci untuk menentukan seseorang terkena kutukan Mata Setan. Jika minyaknya mengambang, orang itu baik-baik saja. sebaliknya, jika minyaknya tenggelam, orang itu dipastikan dikutuk Mata Setan.

Tentu saja, kepercayaan akan kutukan Mata Setan dengan mudah ditemui di mana-mana, tak sedikit orang yang skeptis akan hal ini. Orang-orang relijus yang kolot, golongan nihilis dogmatis dan mereka yang sinis terhadap hal-hal yang bersifat spiritual sudah lama menampik kepercayaan ini. Begitu juga ribuan orang lainnya yang tinggal di kawasan di mana kepercayaan akan Mata Setan mengakar kuat. Aku misalnya menunjukkan ketidakpercayaanku tiap kali ibu memintaku untuk tak membagikan sebuah berita gembira atau berdua untuk keselamatan aku dan saudariku setelah ada yang menatap kami dengan aneh. “Kamu boleh tertawa semuamu,” katanya baru-baru ini. “Ada yang terjadi secara kebetulan. Tapi, ada yang terlalu aneh untuk digolongkan sebagai kebetulan.”