Iklan
serba-serbi peliharaan

Ilmuwan Amerika Menciptakan Sisir yang Terinspirasi dari Lidah Kucing untuk Kurangi Dampak Alergi

Percobaan terbaru menghasilkan sisir canggih yang terinspirasi oleh lidah kucing putus. Sisir ini akan sangat cocok bagi para penderita alergi.

oleh Troy Farah
22 November 2018, 4:53am

Foto: Shutterstock

Peringatan: Ada foto lidah kucing putus dalam artikel ini.

Manusia menghabiskan sepertiga hidupnya untuk tidur, sementara kucing menghabiskan separuh waktu mereka menjilati tubuhnya. Kita sebelumnya tidak pernah memahami kebiasaan mereka, atau bagaimana ini bisa membuat bulu kucing tetap bersih dan sejuk, serta membasmi hama seperti kutu.

Alexis Noel dan David Hu, dua ilmuwan dari Georgia Institute of Technology di Atlanta, baru saja menemukan jawabannya. Mereka memanfaatkan lidah kucing asli dalam penelitian terbarunya yang diterbitkan awal pekan ini dalam Proceedings of the National Academies of Sciences. Analisis mereka digunakan untuk menciptakan sisir canggih baru yang mudah dibersihkan. Sisir ini bermanfaat bagi orang yang memelihara hewan tetapi menderita alergi. Ciptaan mereka juga bisa membawa kemajuan dalam peralatan bersih-bersih dan soft robotic.

Jika dilihat dari dekat, lidah kucing sekilas mirip punggung landak yang berduri. Titik-titik runcing pada lidah (Papila) terbuat dari keratin, protein keras yang merupakan materi dasar penyusun kuku manusia dan kuda serta tempurung kura-kura.

Para peneliti mengambil papila dari enam lidah kucing beda spesies: kucing peliharaan, kucing hutan, cougar, singa, macan tutul salju, dan harimau. Semua lidah putus dalam percobaan ini berasal dari kucing yang sudah mati. Setelah dibersihkan, papila dipindai untuk dibuat model 3D-nya.

Mereka menemukan bahwa papila kucing sebenarnya bukan berbentuk kerucut, melainkan seperti sekop dengan dua lubang berongga. Lubangnya ada di bagian dasar dan ujung. Rongga-rongga ini membentuk tegangan permukaan yang memungkinkan kucing untuk menggerakkan dan menstabilkan air liur, meskipun ketika lidahnya terbalik.

Untuk menguji teori ini, lidah kucing dikeringkan dengan pengering rambut dan tisu sebelum ditimbang. Setelah itu, peneliti mencelupkan lidahnya ke air dan mengukur jumlah cairan yang tertahan di papila.

Mereka juga menciptakan “mesin penyisir otomatis” yang bermotor dengan menempelkan lidah tersebut ke rak horizontal dan menyeretnya pada kecepatan yang berbeda di bulu kucing yang sudah mati tadi. Eksperimen selanjutnya dilakukan dengan pewarna makanan biru untuk menentukan distribusi air liur.

Panjang papila ternyata berperan penting dalam kebersihan tubuh kucing. Bulu mereka terdiri dari dua lapis: lapisan atas untuk melindungi kulit dari paparan cuaca, dan lapisan bawahnya berguna untuk mengatur suhu. Air liur bisa mencapai bagian dasar bulu berkat papila. Tanpa papila, kucing hanya bisa membersihkan bulu bagian atasnya saja.

1542657012389-rga
Image: Alexis Noel and David Hu/PNAS

“Karakal, cheetah, dan macan tutul adalah spesies paling ‘bersih’ karena bulunya yang pendek dan tipis,” tulis peneliti. Sementara itu, dua kucing Persia dianggap “kurang bersih” karena bulunya yang sangat panjang. Papila mereka tidak bisa mencapai dasar. Karena itulah, pemilik kucing Persia harus membersihkan peliharaannya setiap hari dan memandikannya sebulan sekali. Kalau tidak, bulu kucingnya akan kusut dan lepek.

Dengan menggunakan model 3D mereka, kedua peneliti menciptakan sisir yang terinspirasi dari lidah kucing atau tongue-inspired grooming brush (TIGR) yang lebih besar 400 persen dari papila kucing domestik. Noel dan Hu menyatukan perangkatnya ke mesin penyisir, dan menyisirkan bulu imitasi. TIGR jauh lebih efektif dibandingkan sisir manusia biasa. Selain itu, benda ini mudah dibersihkan juga.

Karena bisa mencapai bagian bawah bulu, maka perangkat ini dapat digunakan untuk mengoles obat atau campuran pembersih langsung ke kulit kucing. Penderita alergi bisa hidup berdampingan dengan kucing. Ini adalah alternatif yang lebih bagus dari suntik dan obat alergi, atau memandikan kucing setiap hari. Para peneliti telah mengajukan paten sementara untuk teknologi baru ciptaannya.

Mereka menganjurkan agar perangkat ini digunakan juga dalam soft robotic atau situasi lainnya yang melibatkan pembersihan filamen fleksibel seperti karpet. Percobaan dengan lidah kucing mungkin terdengar aneh, tapi ternyata banyak manfaat yang tidak kita ketahui sebelumnya.