Iklan
The Pledge

Kekecewaan Mendorong Eko Nugroho Ubah Plastik Jadi Karya Seni

Seniman terkenal di Tanah Air ini menghasilkan beberapa instalasi seni terkait sampah dan plastik. Mantan pegiat zine ini terpicu peduli pada isu lingkungan setelah kecewa melihat Kota Yogya berubah.

oleh Yvette Tanamal
03 Desember 2018, 11:52am

Eko Nugroho saat mengerjakan 'Boutique of Love' untuk Potato Head Bali. Foto dari arsip Potato Head

Eko Nugroho menyadari betul Indonesia adalah negara plastik, sejak Sungai Code yang ia cintai di kampung halamannya jadi tak seindah ingatan masa kecilnya dulu. Sebagai warga asli Kota Yogyakarta, dia terkejut melihat perkembangan kotanya yang disebut-sebut makin maju justru mematikan sungai dan ekosistem di sekitarnya. "Justru masyarakat yang tampak modern yang membuang sampah ke sungai," ujarnya.

Sejak memendam kekecewaan pada sampah plastik tersebut, Eko terobsesi ingin mengubahnya jadi lebih bermanfaat: karya seni. Namun cita-cita itu agak lama tersendat. Eko pada dekade 90’an lebih banyak berkutat mengembangkan komik dan zine yang kini legendaris, yakni Daging Tumbuh.

Lambat laun, Eko melebarkan sayap pada medium seni lainnya, membangun reputasi dengan pameran di Singapura ataupun Jerman, bahkan memperoleh julukan ‘artistic genius’. Sampai akhirnya, pada 2017, cita-cita lama itu terkenang kembali, dia ingin mengubah plastik menjadi karya seni utuk menggedor kesadaran masyarakat yang kadung kecanduan plastik.

Pada 2017, Eko Nugroho merancang dan membuat instalasi besar-besaran yang ia namai ‘Bouquet of Love’ di Bali. Kolaborasinya dengan Potato Head Club tersebut dibuat dengan 300 kilogram sampah plastik yang disusun sedemikian rupa agar berbentuk Colosseum. Karena kesadaran dalam berkarya itu pula, dia tidak menolak ajakan berkolaborasi bareng Danone, menghasilkan gambar di kemasan AQUA seri 'REFLECTIONS' memakai konsep Bening. "Konsep bening ini bukan hanya ada di dalam fisik tapi juga pendalaman makna yang bermanfaat bagi kesehatan," ujarnya.

1543836739638-Picture1-Eko
Eko saat berkolaborasi bersama Danone

Karya Eko, yang dipamerkan di Potato Head Bali, benar-benar memicu perhatian publik. Karya tersebut secara jenial membuat pemirsanya tersadar betapa negara ini hampir mustahil untuk menghindari pemakaian plastik. Berdasarkan data Jambeck,lebih dari satu juta kantong plastik digunakan di Indonesia setiap menitnya. Setengah dari seluruh plastik tersebut juga akan hanya dipakai sekali sebelum dibuang begitu saja.

Sejajar dengan penggunaan plastik yang berlebihan tersebut, pengolahan sampah di Indonesia pun jauh dari ideal. Hanya tujuh persen dari sampah plastik yang dikelola, dan sebagian besarnya hanya ditimbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Tak jarang juga sampah plastik tersebut ditelantarkan untuk ‘berpetualang’ di Samudra, sehingga negara kita pun dinobatkan sebagai negara dengan polusi plastik dilaut kedua terbesar di dunia setelah Tiongkok. Karya Eko, karenanya, hadir di saat yang tepat. Seni yang ia hasilkan indah sekaligus menggugah publik agar segera bertindak. VICE berbincang bareng Eko Nugroho membahas pandangannya terhadap plastik, mimpi-mimpinya sebagai seniman, serta pandangannya mengenai masalah lingkungan di Indonesia.

VICE: Halo Eko. Gimana sih awalnya kamu tertarik membuat karya seni menggunakan plastik?
Eko Nugroho: Saya dulu tinggal di Kampung Prawirodirjan, Yogyakarta. Kampung itu padat dan berada di tepi Sungai Code. Saat itu Sungai Code masih terlihat alami dan banyak hijau-hijauan, sehingga banyak orang yang melakukan aktivitas di situ. Dalam perjalanannya, sungai itu terus berwujud namun mati. Airnya dangkal dan sampah mengendap dimana-mana. Pemerintah berusaha menata, tetapi tidak memikirkan bahwa ekosistem di sungai ini tidak berjalan dengan baik. Justru masyarakat yang tampak modern yang membuang sampah ke sungai.

Dulu masih ada pemulung sampah yang mengutip plastik, tetapi sekarang sudah jarang yang masuk ke kampung dan area sungai untuk mengumpulkan sampah. Alhasil, banyak sumbatan plastik di sungai dan bahkan di kampung. Saya jadi kepikiran untuk mengolah sampah plastik menjadi sesuatu yang dapat disimpan di rumah dan bahkan dibanggakan.

Kapan ide mengubah sampah jadi seni coba dieksekusi?
Sejak saya kuliah di tahun 2000-an, pikiran untuk berkarya dengan plastik itu sudah ada. Pemikiran ini berlarut-larut sehingga pada 2017, saya berkesempatan menggunakan sampah plastik saat proyek dengan Potato Head Club Bali. Konsepnya masih sama, saya ingin mengembalikan sampah-sampah plastik ke rumah, karena sampah plastik diproduksi di rumah, maka harus kembali. Mereka harus sadar bahwa plastik itu bisa menjadi masalah tetapi apa yang saya buat dapat merubahnya menjadi sesuatu yang menarik. Saya ingin plastik tersebut dipajang dirumah atau di ruang-ruang representatif. Inilah yang membuat saya tertarik dan tertantang untuk mengeksplorasi desain dan berkarya menggunakan media yang tidak lazim.

Kenapa menurutmu plastik perlu diubah menjadi sebuah karya seni?
Plastik akan tetap menjadi plastik, dan plastik akan menjadi masalah jika dibiarkan sendirian dan tidak direkonstruksi ulang untuk menjadi sesuatu yang bermanfaat— entah dari nilai ekonomisnya, keseniannya, nilai desainnya, atau nilai apapun. Ini salah satu langkah kecil saya yang mungkin tidak seberapa dibanding masyarakat lainnya yang peduli sampah. Saya menggunakan kesenian yang mengangkat sampah plastik menjadi sesuatu yang unik.

Apa sih tantangan terbesar saat berkarya menggunakan bahan plastik?
Sebetulnya, saya pernah beberapa kali mengelola plastik untuk karya-karya skala kecil yang untuk di dalam ruangan. Untuk karya yang lebih besar, ada ‘Bouquet of Love’ yang dipasang di Potato Head Bali, dan Carnival Trap yang dipamerkan di ArtJog 2018. Semua prosesnya luar biasa menyedot energi, tapi sangat menyenangkan.

Setelah bekerja dengan skala besar menggunakan sampah plastik, apa yang kamu sadari tentang pemborosan plastik di Indonesia? Apakah kamu sendiri berusaha mengubah kebiasaanmu memakai plastik?
Secara konsep, saya bisa dibilang saya telah meminimalisir penggunaan plastik sehari-hari. Sebagai bentuk pertanggungjawaban ide dan konsep saya mengenai plastik, saya menyentuh ulang dan merespons ulang sampah-sampah yang saya buat tadi. Sebenarnya, sampah ini tetap akan jadi masalah, karena secara logika plastik itu susah diurai oleh bumi. Plastik akan terus bertambah karena masyarakat, negara, dan dunia yang modern saat ini. Sampah menjadi dominan dan menjadi bagian dari hidup kita.

Tidak bisa dipungkiri bahwa banyak hal terbuat dari plastik. Dari alat tulis, peralatan makan, bahkan bungkus makanan. Kita selalu menuntut produk yang higienis dan bersih, sehingga pada akhirnya plastik menjadi solusi yang tercepat. Kita manusia yang super cepat, modern, dan efektif. Bagi masyarakat berpemikiran begini, pastinya sampah akan menjadi pendamping sejati karena ke-efektifan menjadi yang terpenting. Ini sungguh idealis, namun bagi kita yang peduli tentang problema sampah plastik harus berusaha untuk membantu dengan versi masing-masing. Saya ingin menjadi bagian dari mereka yang peduli sampah, dan mengubahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat, bukannya penghambat ekosistem. Masalah polusi ini bisa terus turun menjadi masalah buat generasi anak cucu kita.

Di Indonesia, hampir mustahil hidup sembari menghindari plastik. Apa kamu sepakat sama pernyataan itu?
Fenomena ini terjadi di seluruh dunia, Hanya ada sebagian kecil dari dunia yang mungkin sudah jarang menggunakan plastik atau tidak sama sekali, dan ini dikarenakan teknologi baru yang dapat mereka pergunakan. Sedangkan di Indonesia plastik menjadi pendamping sejati kehidupan dan masyarakat kita, dari yang paling bawah sampai yang teratas. Rumah didominasi plastik, sampai sayur pun dibungkus plastik karena masyarakat selalu berpikir itu penting untuk kebersihan. Kita berbicara tentang kepedulian terhadap lingkungan, binatang, dan banyak hal, tetapi lupa bahwa hampir semua yang kita konsumsi itu berhubungan dengan plastik. Itu adalah sesuatu yang idealis yang patut dibicarakan. Kehidupan dan bumi ini didominasi oleh plastik karena kita yang menjunjung efektivitas, harga murah, gampang, dan massal.

Setelah nyaris dua dekade berkarya, kenapa menurutmu isu konservasi lingkungan itu penting banget terus diangkat oleh seniman?
Di usia bumi yang semakin tua ini, kita bisa bisa menolak climate change, tapi kenyataanya semuanya terjadi. Secara kasat mata, es-es di kutub mencair dan ekosistemnya mulai berubah. Secara sederhana, ini akan merambat ke hal-hal lain yang bisa jadi berakhir di kerusakan ekosistem jika kita tidak dari jauh-jauh hari mulai mengkonservasi lingkungan itu. Ketika alam sudah tidak lagi memberikan apa yang kita butuh dan inginkan, ini adalah konflik yang rumit. Manusia itu penghuni manja, ingin semuanya dan tampak terpenuhi oleh keinginan-keinginan itu, tapi tak pernah berpikir apa konsekuensinya untuk masa depan.

Kesadaran untuk mengkonservasi lingkungan dan dorongan untuk bertindak itu harusnya dimulai sejak dini lewat pendidikan. Kita hidup di alam tetapi selalu mengabaikannya, menebang hutan tapi tidak menanam kembali. Menghabiskan, namun lupa membibit. Logika-logika konservasi inilah yang sebenarnya harus menjadi tujuan utama kita sebagai penduduk bumi.

Menurut Eko, haruskah seniman lain sama-sama belajar memakai bahan yang lebih ramah lingkungan?
Kesenian itu kemerdekaan dan kebebasan dalam mengekspresikan diri lewat sebuah karya, dan medium yang digunakan bermacam-macam. Artinya, tanpa dituntut seharusnya generasi muda kita harus cerdas soal lingkungan karena ilmu, internet dan teknologi sudah sangat terbuka di mana-mana. Kepedulian ini perlu digencarkan, tetapi kita tidak bisa memaksakan kepada mereka karena itu kembali pada pilihan dan kesadaran masing-masing. Kalau melakukan karena terpaksa, itu akan menjadi hal yang sementara. Jika melakukan karena sadar, mereka akan terdorong untuk mencari solusi menggunakan karya-karya yang berlogika untuk kepedulian dan penyelamatan lingkungan. Itu yang lebih penting. Generasi kita cukup cerdas, saya yakin kita bisa bertindak dengan cara masing-masing.

Apakah Eko punya rencana membuat karya seni menggunakan bahan bahan sampah yang lain, misalnya Styrofoam?
Proyek karya sampah ini sudah saya seriuskan dan fokuskan sejak dua tahun yang lalu. Sebelumnya masih banyak eksplorasi dan ide, tapi saya sudah mulai membuat komunitas untuk produksi karya sampah. Dari mulai mengumpulkan sampah, membersihkan, konstruksi karya, hingga menggunakannya. Ini melibatkan orang-orang yang peduli dan terlibat dengan sampah plastik. Karena ini, karya-karya saya akan terus berkembang dan bereksplorasi dengan banyak medium lain yang ditemukan dalam keseharian. Saat ini saya belum terlalu banyak bereksplorasi dengan Styrofoam, tetapi itu tidak menutup kemungkinan berkarya dengan bahan itu. Dan juga, bukan berarti saya hanya akan fokus kepada obyek tertentu. Yang pasti, ketika dia menjadi masalah polusi dan sampah, saya akan tertarik untuk bertanggungjawab dan berkreasi dengan itu.

Inilah semangat yang ingin terus saya sirami untuk tetap berkesinambungan dalam berkarya. Bukan hanya dengan komunitas dan sampah plastik ini. Di proyek-proyek yang memang saya ingin rawat, seperti proyek Wayang, proyek Batik, Bordir, dan edukasi seni untuk anak-anak. Ketika saya memulai sesuatu, hal itu akan menjadi tanggung jawab saya untuk terus tumbuh, hidup dan berkembang. Tentu ini melibatkan banyak generasi muda yang peduli lingkungan.


* Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas

Seri The Pledge adalah kolaborasi VICE X Danone AQUA dalam mengkampanyekan kesadaran tentang gerakan #bijakberplastik