Pernikahan

Berikut Alasan Beberapa Perempuan Indonesia Tak Bisa Ikuti Cara Suhay Salim Menikah

Artikel ini wajib dibaca para ortu. Sebenarnya anak muda pengin sih nikah di KUA doang pakai blazer dan celana jins. Kalau mau bete, salahkan budaya bangsa kita yang komunal kali ya...
05 Desember 2018, 8:02am
Suhay Salim Vox Pop
Ilustrasi oleh Ilyas Rivani.

Topik pernikahan ramai lagi di Indonesia sepekan belakangan karena dua berita yang amat kontras. Kisah pertama tentu tentang pernikahan mewah bernilai Rp10 miliar yang digelar dua keluarga "crazy rich Surabaya" yang disorot habis-habisan berbagai media. Gara-gara sorotan itu, sampai perkara suvenir emas diberitakan, keluarga mempelai stres dan nyaris akan membatalkan acara resepsi.

Kehebohan berikutnya, lagi-lagi soal resepsi, datang dari beauty vlogger Suhay Salim—yang sering dijuluki "penyebar racun" bagi perempuan karena rajin mengulas skincare. Lewat Instagram Story di akun pribadinya, Suhay bercerita betapa pernikahannya sangat"selebor" sekaligus sederhana. Cukup datang ke Kantor Urusan Agama, pakai baju casual (dia mengenakan blazer hitam polos dan jins), dan voila, dia dan pasangannya resmi menikah.

Dua pernikahan yang bertolak belakang itu segera dibanding-bandingkan. Ada yang mendukung, bahkan ingin meniru pernikahan murah-meriah ala Suhay. Sebagian lainnya menganggap ide itu keren tapi mereka pasti dicoret dari Kartu Keluarga bila nekat melakukannya. Di kubu manapun kalian berada, yang pasti obsesi kita membicarakan pernikahan (serta ngomongin mereka yang menikah) selalu menggebu-gebu—sebab, topik satu ini memang selalu menggelisahkan anak muda di Tanah Air.

Di Indonesia, pernikahan sayangnya tidak bisa sekedar janji suci antara dua insan manusia untuk saling melindungi dan menyayangi selama-lamanya. Ada pemeo terkenal di negara kita yang kira kira begini bunyinya: “kalau kamu menikah, kamu bukan hanya menikahi istri/suamimu, tapi juga keluarganya!”

Maka dari itu, hari pernikahan bagi orang Indonesia tidak bisa sekadar menyenangkan mempelai, tetapi juga mencakup keinginan ibunya, bapaknya, sampai saudara-saudara jauh yang bahkan sudah jarang ngobrol. Karena ini juga, akhirnya orang Indonesia rela membayar rata-rata Rp 40 juta untuk hari pernikahan mereka, padahal kalau ke KUA sebetulnya nyaris gratis.

Redaksi VICE jadi bertanya-tanya. Pernikahan ala Suhay Salim semestinya bisa jadi sesuatu yang dianggap normal. Kami pun ingin tahu, apakah perempuan yang berencana menikah dalam waktu dekat mau meniru resepsi supersederhana macam itu. Ternyata dari beberapa perempuan muda yang kami hubungi, konsep kayak gitu susah. Muaranya, lagi-lagi, perkara budaya.

Jadi, berikut hasil pandangan lima perempuan yang kami hubungi tentang pernikahan anti ribet, dan apa arti resepsi pernikahan bagi mereka. Semoga para ortu baca artikel ini, supaya bisa mempertimbangkan kegelisahan anak-anak muda yang kami wawancarai. Hehehe


Helsa Josephine, 25 tahun, Arsitek

VICE: Hai Helsa, elo tahu Suhay Salim kan? Sudah lihat pernikahannya yang heboh?
Helsa Josephine: Iya, gue udah nonton Suhay Salim dari sekitar satu tahun yang lalu dan lumayan ngikutin setiap kali dia upload. Terus, tiba tiba dia upload foto cuma pake celana jins dan blazer. Gue kontan langsung ngecek instastory-_nya dan komentar-komentar fotonya. Gue masih enggak percaya, dan sempet mikir beneran enggak sih ini orang udah menikah? Gue mikirnya sih, dia mungkin mau tampil beda. Enggak tau sih apa yang di otaknya, tapi kan dia _public figure, jadi ini sesuatu yang mengagetkan.

Elo pribadi mau nikah tanpa perayaan begitu?
Enggak! Soalnya menikah itu menurut gue adalah hari yang harus dirayakan sama keluarga. Pastinya gue mau sesuatu yang lebih effort, kayak makan makan dan ngumpul-ngumpul. Karena wedding menurut gue juga bukan hanya untuk gue dan pasangan, tapi juga untuk keluarga dan orang-orang lain yang mungkin udah lama enggak ketemu. Di hari pernikahan, gue pasti merasa senang banget. Karena senang banget, gue mau orang lain juga merasakan kebahagiaan gue. Istilahnya, spread the love.

Emang apa sih arti wedding day buat elo? Kan enggak otomatis ngaruh juga untuk kesuksesan rumah tangga seseorang..
Hari pernikahan itu adalah hari dimana gue merayakan fase baru dalam hidup. Itu bukan tentang diri elo sendiri, karena elo dapat anggota-anggota keluarga baru. Maka dari itu menurut gue penting setidaknya bisa ngumpul-ngumpul dengan keluarga baru dan teman-teman dalam merayakan persatuan ini. Ya pernikahan kayak Suhay Salim sih enggak salah juga, sih. Cuma kan gue pengen nikah sekali doang, hehe. Jadi harus dirayain, dong. Elo ulang tahun setiap tahun aja dirayain. Graduation, dirayain. Masa pernikahan yang sekali seumur hidup ke KUA doang?

Ya enggak salah, sih, cuma gue enggak mau kayak gitu aja. Gue sendiri nanti kalau menikah maunya yang seharian, yang heboh, yang di pantai, and i’ll be the queen of the day! Pas resepsi gue enggak mau terlalu banyak, sih, cuma temen-temen deket. Bakalan ada games, dan gue mau semua orang pegang hape biar bisa foto-foto bareng!

Menurut elo, kenapa sih di negara kita orang peduli banget seberapa mewah pesta perayaan nikahnya?
Ya itu tergantung orangnya, sih, enggak di Indonesia doang. Tapi mungkin karena kalau di Indonesia kekeluargaan itu penting banget. Kayak yang gue bilang, wedding itu bukan cuma buat diri elo sendiri aja, tapi juga untuk keluarga. Otomatis, kalau elo mau bikin pesta yang merepresentasikan keluarga elo, ya setidaknya harus bagus lah. Lagian, kalau di KUA nanti nggak dapet angpao, hehehe.

Welensha Desylanna, 28 tahun, Karyawan Swasta

VICE: Halo Deslyanna! Apa pendapatmu setelah lihat pernikahan sederhana Suhay Salim?
Welensha Deslyanna: Kaget sih ngelihat unggahannya. Menurut saya itu sih WOW banget, haha. Untuk ukuran dia sebagai influencer yang popularitasnya lumayan di Indonesia pasti dia punya relasi yang banyak dan dari berbagai kelas. Saya mikirnya, masa sih seorang Suhay Salim cuma menikah di KUA dan berpakaian kasual banget?

Kamu mau menikah sederhana kayak gitu?
Jujur, saya sih pernah kepikiran untuk keep it simple, tapi nggak pake jins dan kaos juga sih yaa. Sebagai keluarga yang kanan kiri Batak totok, kayak gitu pasti dihakimi. Itu udah jadi budaya kita, dan harus dipenuhi untuk kerabat dan relasi yang juga banyak jumlahnya.

Menurut adat, perkawinan itu adalah peristiwa yang sangat bahagia, jadi pasti dari orang tua maunya bikin pesta yang besar. Ini balik lagi ke budaya, sih, dimana kita menunjang untuk mengundang sanak saudara sebanyak-banyaknya. Saya lebih menghargai keluarga besar, sih.

Apa sih arti dari sebuah pesta pernikahan untukmu?
Hari dua manusia menyatakan janji suci untuk menjaga satu sama lain. Ini adalah momen bahagia, yang harap-harap hanya terjadi sekali seumur hidup, haha. Makanya, sebaiknya dihadiri oleh keluarga inti dan disaksikan pencatatan sipil dan pengurus agama. Saya sendiri nanti kalaupun menikah mau perayaan yang intim, nggak usah kebanyakan ngundang orang-orang yang sejujurnya kita kurang kenal. Maunya pesta outdoor dan lebih membaur dengan keluarga baru supaya bisa saling mengenalkan. Waktu kecil, pasti kita pengennya seperti princess di hari pernikahan kita. Tapi ini realita, dan lambat laun pasti kita akan sadar kalau mau mimpi kayak gitu butuh dana yang besar. Jadinya sih paling ujung-ujungnya yang kita mau asal sah aja! Hahaha..

Omong-omong, kenapa sih wedding day di Indonesia itu kadang malah jadi ajang gengsi?
Karena menurut saya orang Indonesia lebih mentingin omongan orang, dan kita kita yang nggak mau diomongin pasti akan berusaha untuk membuat setiap hal sempurna. Padahal sebetulnya kalau soal bagus dan ga bagus juga bakal diomongin juga sih, terlepas dari positif dan negatifnya.

Restya Mahara, 24 tahun, mahasiswi

VICE: Halo Restya. Menurutmu gaya pesta pernikahan yang ideal kayak gimana sih?
Restya Mahara: Yang ideal buat saya ya yang bisa membuat bahagia yang punya acara dan tentu saja pasangan pengantinnya, dan sesuai dengan keinginan mereka sendiri, tanpa paksaan dari pihak mana pun termasuk keluarga.

Tapi kan banyak anggapan menggelar pesta pernikahan di Indonesia setidaknya harus keluar duit lumayan lah, paling enggak puluhan juta lah?
Kalau buat saya sendiri sih, ini balik lagi ke keputusan masing-masing pasangan dan keluarganya. Maksudnya ya, "standar" orang kan pasti berbeda satu sama lain dan gak akan pernah bisa sama. Jadi apa yang dianggap mewah untuk satu pihak, bisa saja buat pihak lainnya justru sederhana.

Kamu sendiri merespons gimana melihat di Indonesia pernikahan yang lazim pake resepsi di gedung?
Nah kalau saya sendiri sih termasuk orang yang gak mau peduli dan ngurusin anggapan mayoritas masyarakat Indonesia yang menganggap pesta pernikahan itu harus mahal. Karena buat saya bukan di banyak atau tidaknya jumlah uang yang keluar tapi tujuan dari acaranya itu sendiri. Kalau memang tujuan akhir dari acara puluhan juta tersebut bisa membuat si yang punya acara senang dan dia juga mampu untuk melaksanakannya ya kenapa tidak? Tapi ya kalau gak mampu lebih baik dikondisikan sesuai dengan kemampuan saja. Toh pernikahan kan gak hanya selesai sampai di pestanya saja.

Kemarin beauty vlogger Suhay Salim nikah cuman pakai jeans dan kaos ke KUA, pernah enggak sih kepikiran buat nikah secara sederhana macam itu?
Sering banget kepikiran malah hahaha. Kalau bisa sih justru mau juga selesai di KUA kayak Suhay Salim kemarin. Kalau mau ada acara lanjutan paling bikin acara makan-makan saja sama keluarga dan teman-teman terdekat. Kalau untuk "pengumuman" ke orang banyak ya tinggal bikin "postingan" di IG saja. Beres kan? Hehe. Gak capek, gak banyak persiapan, dan bikin senang juga.


Tonton dokumenter VICE mengenai mahar luar biasa mahal di pernikahan tradisional Indonesia, bikin anak muda pilih kabur saja daripada kawin:


Jadi intinya mau meniru pernikahan ala Suhay?
Sebenarnya simpel saja sih, karena skala prioritas saya bukan hanya untuk acara 2-3 jam itu saja. Seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya, pernikahan itu bukan hanya sampai acaranya saja, tapi lebih jauh dari itu. Saya sih mikirnya ya, walaupun nanti ada dananya sekalipun, daripada buang-buang uang untuk acara besar dan megah tapi saya tidak menikmati ya buat apa? Lebih baik dananya dialihkan untuk hal lain yang sudah pasti bikin senang. Misalnya jadi dana untuk _honeymoon_-nya, atau biaya cicil rumah, biaya hidup untuk berbulan-bulan ke depan, dan lain sebagainya yang lebih penting.

Maretha Tosayti, 20 tahun, karyawan swasta

VICE: Halo Maretha. Elo udah kebayang mau bikin pesta pernikahan kayak gimana?
Maretha Tosayti: Menurut gue sih, married enggak perlu pesta di gedung yang mewah, dihadiri banyak orang yang gue sendiri enggak kenal, ataupun dengan gaun yang berjuta-juta. Gue lebih suka yang private, sederhana tapi memorable di benak semua orang yang hadir. Karena balik lagi, menurut gue marriage is a celebration of love, asal vibe warm and love_-nya kerasa, _I’m satisfied with that.

Berarti mau dong menggelar pernikahan cuma pake kaos sama jeans doang kayak Suhay Salim?
Pernah kepikiran sih cuma ke KUA, tapi enggak pake jeans sama kaos juga sih hahaha.

Emang kenapa?
Gue lebih ke ga ambil pusing sih sebenernya. Mungkin karena gue orangnya juga sederhana pada dasarnya hahaha. Jadi untuk punya wedding yang mewah gitu enggak pernah kepikiran.

Annisa Fathania Alindya, 22 tahun, mahasiswi

VICE: Halo Annisa. Kamu pernah ngimpiin pesta pernikahan kayak gimana?
Annisa Fathania: Gaya pesta pernikahan yang ideal menurut gue tuh yang enggak maksain kehendak sih. Enggak harus ngabisin puluhan, ratusan juta bahkan miliaran. Gue enggak setuju banget sama gaya pernikahan mewah kayak gitu. Capek-capek ngumpulin duit bertahun-tahun, abis dalam beberapa jam aja cuman buat resepsi yang "wow" banget, itu juga wow-nya menurut orang tua dan warga sekitar, bukan menurut kita. Orang kita yang cari duit. Enggak make sense aja sih.

Berarti langsung cabut ke KUA aja kali ya kayak Suhay?
I've always dreamt of a simple wedding reception! Enggak usah ribet, yang dateng bener-bener kenal deket. Temen deket, keluarga deket, tetangga deket. Yang penting intimate lah, biar kerasa maknanya itu apa.

Emang apa salahnya sama resepsi pernikahan yang "wow"?
Gue males banget sih harus duduk di pelaminan terus nyalamin orang-orang yang enggak gue kenal satu-satu sampai acara kelar. Gue lebih suka membaur sama tamu-tamu gue, ngobrol-ngobrol, ketawa, joget, nge-wine, dan nyanyi bareng. Biar lebih kerasa selebrasinya. Kalau pernikahan simple juga setelah acara enggak harus mikirin utang. Pokoknya sesuai sama budget!

Kalau ortu maksa buat ngikutin gaya pesta pernikahan sesuai mau mereka gimana?
Iya itu sih yang susah, apalagi gue anak pertama, harus mengamini cita-cita konsep pernikahan idaman orang tua gue. Alias tikus percobaan haha. The idea of breaking their hearts kinda break mine too. Tapi gue akan coba rasionalisasi ke mereka dulu sih, gue akan bilang ke mereka kalau pernikahan seperti ini, atau seperti itu yang gue sebenernya mau. Kalau mereka mau ngerti yaa syukur, kalo ga yaa gue enggak bisa egois. Paling kita akan deal-dealan aja, enggak semua harus menurut orang tua. I really, sincerely, do hope they understand though.