Musik

Ngobrol Bareng Perfume yang Masih Jadi Girl Group Jepang Paling Eksperimental

Menjelang konser di Coachella 2019, trio J-Pop ini bercerita tentang album baru mereka ‘Future Pop’ dan alasan mereka enggak pernah suka konsep kawaii.

oleh Ilana Kaplan
14 Januari 2019, 10:06am

Foto milik Perfume.

Selama hampir dua puluh tahun, Perfume telah menjadi salah satu band paling sukses dari Jepang. Meski trio pop ini telah memainkan berbagai jenis musik semenjak terbentuk pada 2000, mereka enggak mau dikaitkan dengan aliran yang super kawaii. Malahan, A-Chan, Kashiyuka, dan Nocchi telah bergerak menuju ruang lebih eksperimental dalam hal gaya (mereka mempunyai rancangan busana sendiri) dan pertunjukan penuh teknologi.

Kini dengan album terbaru mereka, Future Pop (yang rilis Agustus 2018), mereka mendorong batas-batas definisi “grup perempuan” J-POP. Bayangkan apabila Grimes, Zedd, dan CHVRCHES punya anak berupa karya musik: jadinya pasti kayak Perfume.

Sekarang band ini akan manggung di Coachella, dan mulai bulan Maret, Perfume akan memulai tur dunia pertama mereka sejak dua tahun lalu, menekankan hubungan antara teknologi, tubuh manusia, si penonton, dan artis. Menjelang tur mereka, kami sempat ngobrol bareng Perfume tentang bagaimana mereka mendorong batas-batas J-Pop dengan musik yang lebih nge-tren, penggemar mereka, dan teknologi inovatif di panggung.

VICE: Halo. Menurut kalian, kenapa sih Perfume sukses mengubah kancah J-POP?
KASHIYUKA: Menurut aku, kami menghibur dengan sinkronisitas tarian kami. Dengan tarian yang disinkronkan, kami bisa menunjukkan individualitas kami masing-masing dan itu yang bikin pertunjukan kami seru. Kayaknya banyak orang memperhatikan itu.
A-CHAN: Ada banyak rutinitas tarian yang hanya bisa dilakukan oleh kelompok besar, tapi kami cuman bertiga. Dengan jumlah anggota terbatas, kami melakukan banyak variasi dan ekspresi. Menurutku ada banyak orang yang melihat potensial dalam tarian kami.

Apakah menjadi terkenal di AS salah satu tujuan kalian?
K: Iya, itu salah satu tujuan kami, tapi enggak cuman di AS. Aku harap lebih banyak orang di dunia akan mengenal J-POP, Perfume dan betapa menariknya pertunjukan kami.

Tantangan apa saja yang kalian hadapi dalam upaya menarik penggemar di AS?
NOCCHI: Bagi orang Amerika yang tertarik dengan budaya Jepang dan J-POP, ada beberapa cara mereka bisa menemukan kami ketika mereka mencoba mendalami kebudayaan tersebut, tapi menurutku tantangannya adalah menarik perhatian penggemar musik massal yang belum tentu menyukai J-POP. Kami harus bekerja lebih keras untuk mencapai itu.
K: Kayaknya banyak orang mengakui kualitas pertunjukan kami di Jepang, tapi sampai sekarang kami belum berhasil membawa produksi besar ini ke luar negeri pada skala yang sama. Kami enggak bisa memadukan semua teknologi dan produksi pada pertunjukan internasional kami, jadi menurutku itu menantang.

Kenapa kalian telah menghindar sisi kawaii-nya J-POP?
N: Mungkin karena di AS, banyak orang menganggap semua idola-idola Jepang sebagai “kawaii.”
K: Dari dulu kami memang enggak masuk kancah kawaii di Jepang, dan kami enggak pernah merasa kita cocok di kancah itu.
A-C: Karena kami memang enggak masuk dalam kancah atau aliran tertentu, kami berhasil menciptakan aliran kami sendiri ketika mulai terkenal. Kami berhasil dikenal untuk apa yang kami lakukan ketika menjadi terkenal, tapi kami memilih untuk meneruskan apa yang kami lakukan. Pas kami terus melakukan itu, mulai ada banyak orang yang mendukung kami. Gaya kami tuh enggak kawaii, tapi tentunya bukan rock juga. Kami enggak menulis musik kami sendiri, jadi kami bukan pencipta lagu. Kami enggak pernah mengubah tujuan kami demi beralih ke arah tertentu, tapi karena itu kami mempunyai genre kami sendiri.

PERFUME FUTURE POP

Bagaimana kalian memadukan teknologi dan fesyen lewat rilisan terbaru kalian?
A-C: Menurutku lagu “Fusion” merupakan contoh baik untuk bagaimana kami memadukan teknologi pada album ini. Kami berpisah dan pergi ke tiga negara berbeda dan manggung live bersama. Itu menantang sinkronisitas tarian kami dengan koneksi 5G baru. Dalam hal fesyen, kostum yang kami pakai untuk pertunjukkan itu juga menarik. Selama livestream tersebut, kami bertiga dipotong dan di-edit secara live menjadi satu, jadi tangan kanannya punyaku dan tangan kirinya punya Kashiyuka, dengan badan dan kaki kanan Nocchi, dan kaki kiriku.

Kostum kami berbeda-beda dan terbuat dari tiga warna, biar para penonton bisa tahu mereka lagi lihat bagian tubuhnya siapa. Di panggung juga ada tiga warna cahaya yang disesuaikan sama kostum kami. Kostum kami dirancang secara dekoratif dan tidak simetris, jadi rekamannya lebih menarik pas kami dipotong-potong dan dijadiin satu. Saat kami berkolaborasi dengan teknologi terbaru, dulunya kami menentukan unsur teknologinya sebelum menentukan kostumnya, tapi sekarang kami menentukan kedua hal tersebut bersamaan biar pertunjukan kami lebih menarik.

Apa yang membuat kalian bergerak ke arah electro-pop?
N: Karena sempat ada pertemuan dengan produser kami. Manajer kami pada saat itu mencari seorang produser yang cocok dengan Perfume dan karena itu kami bertemu dengan Yasutaka Nakata. Musik dia lebih ke electro-pop, kami dulu sebutnya sebagai tekno, jadi begitulah cara kami mulai menuju ke aliran itu. Menurut aku sih cocok.

Bagaimana kalian membuka pintu bagi artis-artis J-POP lain?
N: Kayaknya kami membuka pintu untuk idola-idola manggung di festival rock.

A-C: Menurutku, idola-idola J-POP mulai bertujuan manggung di Budokan setelah kami melakukannya. Sekarang ini udah jadi semacam contoh bagi idola-idola baru, tapi dulu enggak ada yang melakukan itu. Manajer kami pada saat itu demen sama musik rock, jadi dia bilang ke kami bahwa musisi itu harus fokus pada penampilan live dan bahwa nilaimu sebagai artis ditentukan oleh berapa banyak orang hadir di konsermu. Dalam hal itu, kayaknya kami telah menginspirasi idol-idol yang lebih muda.

Ceritakan dong tema-tema lirik dari Future Pop
A-C: Lagu-lagu di album ini baru semua, tapi pas didengerin, terdengarnya agak nostalgik. Album ini penuh suara dan melodi yang bikin kami mengingat masa lalu kami. Pas kamu dengar istilah “masa depan,” kamu akan memikirkan masa yang masih jauh, tapi menurut Nakata, musik yang kami buat telah menjadi aliran “future pop” masa kini. Dia percaya pada kami dan memimpin kami sejauh ini, tapi hanya Nakata yang memahami tema yang sebenarnya.
N: Di Jepang, artis-artis arus utama belum merilis begitu banyak lagu-lagu “future pop,” jadi Nakata menulis album ini dengan harapan menyebar aliran tersebut, sembari Perfume menantang aliran itu.

Kalian terinspirasi musisi mana saja saat mempersiapkan rilisan terbaru ini?
K: Mungkin enggak sepenuhnya jadi inspirasi di rilisan ini, tapi akhir-akhir ini aku sering dengerin Troye Sivan.
A-C: Buat aku Tom Misch.
N: Pentatonix pernah nge-cover Perfume di konser mereka di sini. Itu menginspirasi, dan sejak itu aku menjadi penggemar mereka.

Artikel ini pertama kali tayang di i-D