Iklan
kesehatan

Angka HIV di India Meningkat Gara-Gara Marak Dokter Palsu

"Dokter" tanpa pendidikan, bahkan abal-abal, adalah masalah yang kerap dialami Negeri Sungai Gangga akibat maraknya klinik suntik swasta mengisi minimnya RS pemerintah.

oleh Ankita Rao
09 Januari 2018, 7:06am

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic

Saat dilaporkan ada 13 orang di Distrik Premganj, Uttar Pradesh, India didiagnosis positif mengidap HIV dua bulan lalu petugas kesehatan setempat menemukan masalah yang lebih serius. Lonjakan angka pengidap HIV di salah satu negara bagian terpadat India itu dipicu oleh maraknya praktik dokter abal-abal tanpa lisensi medis memadai.

Kasus serupa akhirnya ditemukan di Distrik Unnao. Jurnalis media online Scroll Kanchan Srivastava melaporkan bahwa setidaknya ada delapan kasus penularan HIV/AIDS akibat penggunaan jarum suntik tidak steril oleh satu sosok "dokter" yang sama di wilayah tersebut. Kasus tersebut telah ditindaklanjuti oleh otoritas kesehatan setempat, dan segera ditanggulangi dan direspons segera oleh Lembaga Pengendalian AIDS India.

"Dari beberapa kasus penularan HIV, kami menemukan indikasi bahwa pemicu utamanya adalah kontaminasi jarum suntik," kata Amit Sengupta, Direktur Yayasan Jan Swasthya Abhiyan, sebuah lembaga nonprofit yang menyediakan layanan kesehatan di wilayah pedesaan India. Tragisnya, kontaminasi virus HIV itu menimpa anak-anak dan lansia, yang seharusnya tidak berisiko tinggi terjangkit penyakit mematikan tersebut.

Di Negeri Sungai Gangga, ada banyak klinik swasta yang beroperasi di wilayah pedesaan karena tak tersedia fasilitas pemerintah. Sebutan dokter abal-abal tadi adalah 'Quacks'. Pemerintah India bukannya tidak tahu ada orang yang menjalankan peran sebagai dokter, padahal tak punya kualifikasi medis memadai. Dari survei otoritas kesehatan setempat yang dimuat British Medical Journal, diperkirakan 70 persen penyedia layanan kesehatan di wilayah terpencil maupun pedesaan India tidak punya latar belakang pendidikan medis. Sebagian Quack pernah mengikuti pelatihan homeophatic atau ayurvedic, sebagian lainnya adalah perawat. Tapi berdasarkan aturan hukum, mereka tentu saja tidak boleh mengklaim diri sebagai dokter dan atau menulis resep obat.

Quacks sampai sekarang tetap dipercaya masyarakat, karena tak banyak pilihan tersedia. Saya pernah melakukan liputan ke India beberapa tahun lalu saat terjadi wabah malaria. Warga yang saya wawancarai mengaku lebih percaya quacks daripada dokter resmi pemerintah. Alasannya, quacks tak ragu menyuntik pasien yang mengeluh sakit, sementara dokter resmi paling banter cuma memberi pil. Seperti di Indonesia, penduduk India punya sugesti merasa belum diobati kalau tidak disuntik.

Dalam kasus penularan HIV di Distrik Unnao akibat jarum suntik tak steril, rumah sakit setempat sebetulnya sudah berupaya menyelidiki Quacks yang memicu kasus tersebut, jauh sebelum kasus ini diberitakan media. Penyelidikan mandeg, karena pemerintah tak serius menangani praktik dokter abal-abal. "Secara teori pemerintah memang seharusnya tegas menutup praktik quacks, tapi kenyataanya penutupan klinik swasta sangat jarang terjadi," kata Sengupta.

Quacks bukan cuma membuat masalah dalam hal penularan HIV. Tahun lalu, salah satu dokter abal-abal melakukan malapraktik, berdampak pada meninggalnya bayi berusia 19 bulan saat menggelar imunisasi.

Adanya dokter-dokter palsu yang lebih dipercaya masyarakat membuat posisi pemerintah India serba salah. Negara itu memiliki rasio penularan HIV/AIDS cukup tinggi. Dilaporkan sepertiga dari total populasi India—setara 2,1 juta people—resmi dinyatakan positif mengidap HIV. Upaya kampanye kesehatan pemerintah agar warga menghindari jarum suntik tidak steril pun susah dilakukan, karena kepercayaan penduduk terhadap Quacks masih tinggi.

Salah satu langkah yang akhirnya ditempuh pemerintah adalah mengizinkan Quacks tetap membuka klinik, dengan memberi pelatihan tambahan. Para dokter palsu tadi dibekali pengetahuan medis dasar, serta pelatihan agar peralatan medis yang mereka pakai tetap steril bagi pasien. Sengupta menyayangkan program macam itu hanya sporadis di beberapa negara bagian tertentu. Selain itu, mengizinkan Quacks terus membuka klinik hanya solusi jangka pendek, yang sama sekali tidak menyelesaikan akar masalah.

"Isunya bukan sekadar quacks menyebabkan peningkatan angka HIV. Masalah utama yang harus dijawab adalah kenapa sampai sekarang pemerintah India gagal menyediakan fasilitas kesehatan secara memadai dan merata kepada rakyatnya," ujarnya. "Kondisi yang ada di negara kami sekarang sangat tidak bisa diterima."

Tagged:
HIV
INDIA
AIDS
Tonic
Berita
Layanan Kesehatan
Dunia
medis
Dokter Palsu
Klinik Swasta