Iklan
Manfaat Ganja

Ganja Dinilai Ampuh Meredakan Berbagai Gejala HIV

Sebuah penelitian secara obyektif memaparkan faedah ganja bagi orang yang hidup dengan HIV. Selama ini terlalu banyak mitos seputar ganja dan HIV.

oleh Steven Blum
01 Desember 2018, 10:45am

Ilustrasi oleh Lia Kantrowitz 

Selama ini, riset kegunaan medis ganja nyaris mustahil dilakukan. Di Amerika Serikat misalnya, ganja dijaga sedemikian rupa agar jauh dari jangkauan dokter dan ilmuwan oleh DEA. Sampai kini, mariyuana masih diklasifikasikan oleh pemerintah federal AS sebagai substansi schedule I menurut Controlled Substances Act. Kondisi yang sama bisa kita jumpai di sini. Wacana legalisasi ganja masih sangat jarang terdengar di Indonesia. Alhasil, Jangan terlalu jauh ngimpi mariyuana digunakan sebagai obat medis. Buktinya, Fidelis Arie Sudewarto pernah diseret ke meja hijau lantaran berinisiatif mengobati istrinya dengan ganja.

Situasi ini berimbas pada proses penelitian medis terhadap ganja. Para peneliti susah mendapat akses untuk mendapatkan ganja legal khusus untuk penelitian. Bahkan di negara bagian AS yang melegalkan ganja, penelitian yang melibatkan ganja menuntut kesabaran tingkat dewa. Pasalnya, penelitian baru boleh digarap setelah mendapatkan serangkaian persetujuan. Belum lagi, sampel ganjanya hanya bisa didapatkan dari satu-satunya laboratorium yang menyumplai ganja penelitian di AS.

Meski begitu, sekelompok ilmuwan tetap nekat menguji manfaat medis mariyuana bagi kesehatan. Ganja tenyata berpotensi mengatasi adiksi, PSTD, nyeri kronis, penyakit otak dan sejumlah kondisi kesehatan lainnya. Malah, belakangan muncul dugaan—yang mesti diragukan sampai muncul bukti sahih—bahwa ganja bisa dimanfaatkan untuk merawat pasien HIV. Konon tanaman haram ini bisa mencegah virus HIV masuk dalam sel, mengurangi bengkak-bengkak kronis dan mencegah gangguan neurokognitif yang muncul akibat infeksi HIV.

Robert L Cook, pengajar epidemiologi di University of Florida, baru-baru ini mengumumkan dirinya tengah memimpin sebuah penelitian yang melibatkan 400 responden untuk mengungkap efek ganja pada orang yang hidup dengan HIV. Penelitian yang dikepalai Cook akan berjalan selama lima tahun dan menelan dana $3,2 juta (setara Rp45,9 miliar).

Tak heran, proyek ini dipercaya sebagai penelitian manfaat medis ganja paling akbar, setidaknya untuk saat ini. Cook dan timnya tak hanya bernafsu mengungkap dampak mariyuana pada otak pengidap HIV, tapi juga ingin membuktikan apakah ganja bisa mengerem perkembangan virus HIV dlaam tubuh. Sepanjang penelitian, Cook akan benar-benar mengawasi jumlah konsumsi mariyuana para responden dan kadar THC dan cannabinoid dalam dosis ganja mereka. Hal ini menurut Cook belum pernah bisa dilakukan oleh peneliti sebelumnya.

Beberapa hari lalu, Cook ngobrol dengan VICE. Dalam obrolan itu, Cook menjelaskan bagaimana ganja bekerja di level seluler, kenapa Florida adalah tempat yang cocok untuk penelitian ini dan bagaimana rasanya meriset ganja saat DEA sedang gencar-gencarnya menolak proposal penggunaan ganja untuk kepentingan medis.

VICE: Tolong ceritakan bagaiman awalnya kamu tertarik terhadap efek ganja pada pasien HIV?
Robert L Cook: saya ini sebenarnya seorang dokter dan saban hari saya ketemu pasien HIV. Waktu itu saya sedang mencari jenis ganja yang bisa saya rekomendasikan pada mereka. Saya juga mikir bagaimana mereka menggunakannya—dikonsumsi langsung atau dihisap asapnya. Saya juga saat itu bertanya-tanya apa saya harus merekomendasikan ganja jenis tertentu. Ini membingungkan karena tak ada data kenapa satu tipe ganja bisa punya efek medis yang lebih baik dari jenis lainnya. Ini alasan saya mencetuskan penelitian ini.

Dalam penelitian yang saya pimpin, kami membandingkan efek pada mereka yang mengonsumsi ganja saban hari dengan mereka yang cuma sesekali mengonsumsi ganja. Kami akan mengadakan tes toksikologi air kencing untuk menyingkap kandungan dalam ganja yang digunakan responden. Soalnya, beberapa dari mereka cuma bilang mereka dalam suplai ganja sekian kali sebulan. Kemungkinan besar mereka tak tahu ganja apa yang mereka pakai.

Idealnya, di akhir penelitian, kita bisa ngomong “Wah, sepertinya mereka yang menggunakan ganja untuk mengatasi rasa nyeri menggunakannya dengan pola tertentu.” atau orang yang menggunakan yang memakai ganja untuk mengurangi stres juga punya pola konsumsi ganja tersendiri.


Tonton dokumenter VICE mengikuti tim pengusaha yang mencari varian kanabis terbaik sedunia konon ada di pedalaman hutan Kongo:



Di saat sama, kamu juga tertarik dengan efek THC pada virus dan gejala HIV kan?
Saya pernah melihat sekumpulan data menarik yang mengungkap kadar virus dalam darah pasien HIV sebelum dirawat dengan antiretroviral. Penelitian tersebut menunjukkan pengguna ganja punya kadar virus yang lebih rendah dalam darah mereka dibandingkan mereka yang tak menggunakan ganja sama sekali. Ini jelas kabar yang menggembirakan. Sayangnya, saya belum pernah menemukan percobaan klinis yang menguji dampak langsung THC pada virus HIV. Penelitian yang membandingkan THC dengan THC plus CBD pada penderita HIV belum juga belum banyak dilakukan. Saat ini, kami juga mengukur respon peradangan lantaran penggunaan ganja dengan lebih terkontrol dari penelitian sebelumnya.

Mengukur kerajinan melakoni pengobatan juga penting. Salah satu alasan kenapa ganja bisa memiliki efek positif pada pengidap HIV ada kaitannya dengan perilaku mereka. Salah satu stereotip pengidap HIV yang menggunakan ganja adalah motivasi mereka untuk berobat lebih rendah. Mereka cuma duduk di sofa dan nonton TV serta jarang minum obat tepat waktu. Stereotipe ini belum tentu benar, Kami juga akan menelitinya.

Bisa ceritakan bagaimana THC, senyawa dalam ganja, bekerja dalam level seluler?
THC secara eklusif menarget pada reseptor CB1, reseptor cannabinoid yang tersebar di seluruh tubuh kita. Ini yang menyebabkan kita teler dan sempoyongan. THC juga memengaruhi ingatan jangka pendek kita. Selain ditemukan di otak, reseptor CB1 juga banyak terdapat dalam sel sistem kekebalan tubuh kita. Ada 100 macam cannabinoid dalam hanja dan jenis yang menarget reseptor CB1 sepertinya mengurangi peradangan. Kini, industri farmasi berusaha menciptakan analog sintetis dari THC atau CBD yang memengaruhi reseptor CB1.

Tapi, sampai saat ini, saya belum menemukan penelitian yang secara langsung membandingkan efek klinik THC dan CBD. saya percaya THC-lah yang membuat kita teler sementara CB2 berfungsi mengurangi peradangan. Sayang, kita susah memetakannya dalam proses pengobatan rasa nyeri. Soalnya begini, jika pengidap HIV merasa baikan, muncul dua pertanyaan: ini karena rasa nyerinya hilang atau mereka kelewat teler saja?

Sejumlah orang juga senang sekali mendengar senyawa dalam ganja bisa menembus pembatas antara otak dan darah karena antiretroviral tak bisa melakukan ini . Jika benar begini, peradangan otak akan bisa dihindari.

Ini memang berita yang menyenangkan. Sekarang, kita baru bisa mengontrol virus HIV dengan obat-obatan. Masalahnya, penderita HIV tetap menua lebih cepat dari orang normal. mereka, misalnya, bisa terserang penyakit jantung empat atau lima tahun lebih dulu. Penyebabnya, menurut banyak orang, adalah peradangan. Jadi apapun yang bisa mengendalikan peradangan akan membuat kehidupan penderita HIV lebih bahagia.

Kenapa penelitian ini harus dikerjakan di Florida?
Satu dari sepuluh orang yang hidup dengah HIV di AS tinggal di Florida saat ini. Angka infeksi baru HIV paling tinggi di AS juga dijumpai di Florida. Di samping itu, di sini, banyak orang baru mencoba ganja saat berusia lebih dari 50 tahun.

Terakhir, keragaman etnis di Florida cukup tinggi. Ini membantu kami mendapatkan sampel dari orang yang bisa saja hidup di tempat lain.


Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas dan enak dibaca.

Follow Steven Blum di Twitter.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US

Tagged:
MARIJUANA
HIV
hiv/aids
penelitian
kesehatan
Sains
Mariyuana Medis
Mariyuana
Penelitian HIV
Pengobatan AIDS