Takhayul Populer

Alasan Mahluk Gaib Menindihmu Kala Tidur

Kami menyelidiki muasal kepercayaan yang populer di Indonesia maupun Asia Tenggara, mengenai pemicu kelumpuhan sementara saat kita terbangun dari tidur.

oleh Arzia Tivany Wargadiredja
06 Juni 2017, 12:11pm

"The Nightmare" lukisan John Henry Fuseli. Sumber Wikimedia Commons.

"Takhayul Populer" adalah seri artikel VICE mengungkap akar mitos-mitos populer dari Indonesia yang masih dipercayai sampai sekarang. Klik di sini untuk membaca artikel serupa.

Di Indonesia, sebutan fenomena ini macam-macam jenisnya: rep-repan, eureup-eureup, hingga tindihan. Orang dari etnis Hmong di Vietnam dan Laos menjulukinya dab tsong. Penduduk Kamboja punya sebutan sendiri, yakni khmaoch sângkât. Di setiap negara kawasan Asia Tenggara, subur kepercayaan gaib soal kondisi yang oleh dokter dinamai "lumpuh tidur" (sleep paralysis). Fenomena tersebut kerap dikaitkan dengan kematian mendadak di kala tidur, dan beragam mitos mistis lainnya akibat ulah mahluk halus.

Tindihan adalah hal yang sering aku alami. Sampai-sampai aku malas tidur di bulan puasa, seperti kawan-kawan lainnya. Bukan apa-apa. Tidur memang enak. Tapi kalau kalian rutin ketindihan seperti yang kualami, percaya deh, pasti kalian juga jadi agak malas buat rebahan di kasur.

Bayangkan, di tengah-tengah tidur dalam kita tiba-tiba bangun di tengah situasi setengah sadar yang aneh tanpa mampu bergerak, bahkan sulit bernapas. Di tengah-tengah kepanikan itu, selalu muncul gambaran realitis mengenai kehadiran seseorang di sekitarku. Beberapa kali aku merasa disentuh dan diraba karena ada beberapa bagian yang terasa lebih hangat dari bagian tubuh lain yang tidak tersentuh. Pernah juga aku melihat sesuatu berwarna hitam bangun dari tubuhku dan menembus tembok di sampingku. Aku bisa kena tidur lumpuh sampai dua puluh kali dalam semalam. Aku mulai rutin mengalaminya sejak usia enam tahun. Tidak perlu ditanya rasanya, sumpah melelahkan.

"Aku pernah ngalamin sekali, ketakutan banget. Entah mimpi buruk atau apa, aku engga bisa gerak terus ketakutan." —Mirella Pandjaitan

Jadi apa sih sebenarnya penyebab ketindihan? Sebagian orang di Indonesia percaya bahwa ketidakberdayaan dalam tidur dan rasa sesak itu datang dari semacam jin atau makhluk halus. Kalaupun engga percaya sama kepercayaan itu, karena kamu menganggapnya takhayul, tetap saja ada suasana spiritual yang menyeramkan dari proses ketindihan. Dengar saja pengakuan Mirella Pandjaitan, 22 tahun, yang mengasosiasikan lumpuh tidur dengan ulah hal tak rasional.

"Aku pernah ngalamin sekali, ketakutan banget. Entah mimpi buruk atau apa, aku enggak bisa gerak terus ketakutan," kata Mirella kepada VICE Indonesia. "Yang pasti dulu aku percayanya bukan sleep paralysis karena belum pernah dengar istilah itu. Justru aku kepikiran aku diganggu makhluk halus karena sebelumnya aku pernah terbangun (karena makhluk halus) dan enggak bisa tidur lagi."

"Adanya halusinasi yang khas seperti munculnya sosok lain di dekat kita, tergantung latar belakang kebudayaan. Makanya setiap kebudayaan punya mitosnya sendiri." —Andreas Prasadja

Setelah tahu kalau bukan cuma aku yang mengalami tindihan, rasanya sih agak melegakan. Tapi masih kurang. Aku harus tahu apa penyebabnya. Kalau engga, sampai lebaran kuda aku bakal tak nyenyak setiap tidur karena khawatir di tengah malam terbangun dalam kondisi tak bisa bergerak. Demi menjawab pertanyaan itu, aku menemui Andreas Prasadja sebagai satu-satunya dokter medis ahli gangguan tidur di Indonesia. Andreas bertanya, apakah aku lumayan sering mengalami tindihan ketika puasa. Aku jawab iya.

"Orang yang puasa itu kan jadwalnya berubah, jadinya kurang tidur. Dan kurang tidur yang ekstrem akhirnya akan memicu sleep paralysis, that's it," kata Andreas Prasadja.

Ketika menemuinya di Rumah Sakit Mitra Kemayoran, aku baru sadar bahwa banyak sekali orang Jakarta yang punya masalah tidur yang kompleks. Aku tidak pernah menyangka soal tidur bisa serumit ini. Di ruang Klinik Gangguan Tidur rumah sakit tersebut, aku segera bercerita perihal tindihan yang sering aku rasakan. Andreas lalu menjelaskan secara detail bagaimana sistematika tidur yang harus dilalui manusia setiap malamnya.

Andreas menjelaskan bila tindihan selalu terjadi pada tahap tidur mimpi atau Rapid Eye Movement (REM). Tahap tidur REM merupakan tahap tidur paling penting bagi otak manusia. Dalam proses tersebut, kemampuan otak manusia seperti konsentrasi, daya ingat, kreativitas, stabilitas emosi, sampai kemampuan mengambil keputusan dibentuk. Alhasil, fenomena sleep paralysis terjadi ketika terjadi tumpang tindih antara gelombang otak dan REM. Dampaknya berupa kondisi setengah sadar dan setengah mimpi.

"Dalam tahap tidur mimpi ada dua hal yang khas, pertama adanya mimpi yang muncul sebagai halusinasi, yang khas munculnya sosok lain di dekat kita, tergantung latar belakang kebudayaan. Makanya setiap kebudayaan punya mitosnya sendiri," kata Andreas.

Jangan salah, pengalaman tak bisa gerak padahal bangun, di belahan dunia manapun menakutkan. Tapi jangan pikir semuanya berupa gangguan hantu seperti diyakini penduduk Asia Tenggara. Banyak pengidap sleep paralysis di Amerika Serikat melihat hewan yang menindih mereka, misalnya laba-laba. Bosku, bule asal AS, malah pernah merasa ketindihan anak kucing (duh, imutnya).

Satu lagi yang khas dari sleep paralysis, sesuai namanya, adalah kelumpuhan justru akibat fungsi tubuh kita bekerja dengan baik.

"Supaya tidak bergerak-gerak mengikuti isi mimpi, maka tubuh ini dibuat lumpuh. Jadi setengah sadar, setengah mimpi lihat yang seram-seram enggak bisa gerak, sleep paralysis," kata Andreas. "Jadi kelumpuhan itu justru adalah sistem pengaman."

"My Dream, My Bad Dream," lukisan Fritz Schwimbeck

Dokter-dokter di Amerika Serikat mulai tertarik pada fenomena tindihan, ketika ditemukan banyak kasus serupa dari imigran asal Vietnam dan Kamboja di negara itu sepanjang 1977. Mereka melapor terbangun di tengah tidur dan tak bisa bergerak. Saat itu ditemukan lebih dari 100 pemuda yang dalam keadaan sehat mati secara tiba-tiba dan misterius dalam tidur mereka dan kala itu dikategorikan sebagai Sudden Unexplained Nocturnal Death Syndrome (SUNDS). Saat itu, tidak ada penyebab valid yang ditemukan para dokter, kecuali tingginya kasus sleep paralysis dan kepercayaan suku Hmong soal Dab Tsog.

Belakangan, ditemukan fakta bahwa SUNDS terkait dengan gangguan kesehatan genetis, yakni tubuh gagal berkoordinasi dengan sinyal elektrik otak menyebabkan jantung berhenti berdetak. Dua dekade kemudian, guru besar gangguan tidur dari University of California, San Francisco, memperoleh kesimpulan mengejutkan: para imigran Hmong itu meninggal saat tidur karena tubuhnya kelelahan dan otaknya lemas gara-gara terlalu percaya ada hantu bernama dab tsong. Kelelahan ini memicu serangan jantung.

Matteo Vatta, asisten professor bidang kardiologi di Baylor College of Medicine, Houston, Amerika Serikat menyatakan kasus tewas mendadak saat tidur lebih banyak dialami lelaki dibanding perempuan. Ada beberapa teori yang mengaitkannya dengan kondisi tidur mimpi, tetapi tidak pernah ada bukti saintifik yang bisa menjelaskan korelasi SUNDS dan mimpi. Begitu pula belum ada yang bisa mengaitkan kondisi ini dengan orang keturunan Asia Tenggara.

"Detak jantung pasien awalnya normal-normal saja, tapi kemudian berhenti mendadak," kata Vatta saat diwawancarai Majalah Life's Little Mysteries. "Biasanya kasus serangan jantung mendadak ini terjadi malam hari. Di Asia Tenggara kematian mendadak semacam itu memicu lebih banyak angka kematian lelaki daripada kecelakaan di jalan raya."

"Di Indonesia ini kita percaya bahwa ada yang namanya unseen world. Kita tidak pernah menyatakan yang unseen sesuatu yang terpisah dari hidup. Karena dia tidak terpisah, maka dia (dianggap) bisa datang setiap saat." —Risa Permandeli

Andreas segera menenangkan saya. Dia menjelaskan bila tindihan berbeda dari kasus kematian mendadak saat tidur yang biasa dialami pemuda suku Hmong. Menurutnya, rep-repan tidaklah berbahaya. Jika kalian mengalaminya tidak perlu susah-susah dilawan, anggap saja angin lalu dan upayakan tidur kembali.

"Engga berbahaya pada saat kejadian, tapi implikasinya sangat berbahaya. Artinya adalah (lumpuh tidur) sebenarnya ciri dari kurang tidur ekstrem. Kemudian setelahnya kamu nyetir mobil atau bawa motor. Berkendara dalam kondisi mengantuk itu lebih berbahaya dibanding mabuk," ucap Andreas. "Sudahlah engga usah bangun, capek, lanjut tidur saja, aman enggak ada apa-apa cuma memang menakutkan, implikasinya engga ada apa-apa."

Dalam catatan sejarah, kasus sejenis sleep paralysis di Hindia Belanda pernah terekam setidaknya sekitar 300 tahun lalu, tepatnya pada 1664 melalui laporan yang ditulis oleh dokter medis Belanda Isbrand Van Diemerbroeck. Fenomena ini juga sudah dikenal di bidang kedokteran Persia di Abad ke-10 oleh seorang dokter medis bernama Rhazes. Begitupun dokter-dokter Yunani Abad ke-2. Bahkan catatan pertama mengenai lumpuh tidur sudah ditemukan sebelumnya dalam buku mengenai mimpi di Tiongkok Tahun 400 Sebelum Masehi.

Di bidang seni rupa, salah satu contoh paling terkenal tentang sejarah lumpuh tidur bisa kita temukan pada lukisan Henry Fuseli pada 1781. Lukisan berjudul "The Nightmare" menampilkan gambaran gejala klasik sleep paralysis. Figure yang dilukiskan berupa seseorang yang sedang tidur terlentang, sementara iblis atau setan duduk di bagian dadanya. Berbeda dari pemahaman dokter AS, sebetulnya orang dari berbagai kebudayaan mengaitkan sleep paralysis dengan mistis dan mitos.

Justru mitos tersebut datang pertama dari Eropa, tanah yang dianggap paling erat dengan rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Istilah "mare", dalam kata "nightmare", berasal dari istilah kawasan utara Jerman yang bermakna kekuatan supernatural yang menindih dada seseorang dan membuatnya tercekik lemas, bahkan di kebudayaan lainnya sleep paralysis dikaitkan dengan ulah para penyihir.

Sementara konsep tindihan di Indonesia berkembang sampai sekarang, lantaran pewarisan mitologi tersebut turun temurun. Risa Permanadeli, selaku Direktur Pusat Representasi Sosial yang juga telah bertahun-tahun meneliti soal hantu Indonesia, menjelaskan betapa di Tanah Air penjelasan saintifik mengenai fenomena melibatkan kepercayaan gaib tidak pernah dianggap penting. Sederhananya, kita lebih menyukai mitos daripada alasan ilmiah ketika memahami berbagai peristiwa.

"Akhirnya (masyarakat) menerima saja transmisi informasi yang kita peroleh, terus saja dianggap seperti itu. Tidak pernah ada bantahan atau verifikasi untuk mengatakan bahwa betul atau tidak. (Karena) tidak pernah menjadi suatu preokupasi masyarakat, bahwa sesuatu bisa diteliti kebenarannya," kata Risa Permanadeli ketika ditemui VICE Indonesia.

Dalam memahami konsep tindihan ini, Risa memberi contoh representasi sosok Dewi Sri sebagai dewi padi dalam masyarakat agraris. Menurut Risa tidak cuma masyarakat Jawa yang memiliki sosok dewi agraris, hampir di seluruh masyarakat Asia Tenggara yang merupakan negara agraris memilikinya, hanya saja nama dan sosok yang berbeda sesuai referensi masyarakat setempat. Begitu pula pandangan soal berbagai mitos yang lahir di dunia soal gejala lumpuh tidur. Ia pun mengaitkan mitos ini dengan kepercayaan masyarakat Indonesia yang meyakini keberadaan dunia gaib.

"Di Indonesia ini kita percaya bahwa ada yang namanya unseen world. Kita tidak pernah menyatakan yang unseen itu sesuatu yang terpisah dari hidup kita. Karena dia tidak terpisah, maka dia (dianggap) bisa datang setiap saat. Saya pikir di setiap tempat pasti ada konsep unseen world bahkan di Prancis yang saya kenal sangat rasional," kata Risa.

"Dalam perkembangannya, di Eropa Barat (kepercayaan terhadap alam gaib) hilang ketika ditemukannya paham rasionalitas. Kita (Indonesia) itu tidak pernah ada rasionalitas pengetahuan, sehingga yang namanya arus dari masa silam itu hidup terus."