Dokumenter VICE

Dokumenter VICE Soroti Orang Sahur, Buka Bersama, dan Lebaran di 'Animal Crossing'

Game 'Animal Crossing' tidak pernah merayakan momen penting dalam ajaran Islam, sehingga seorang pemainnya menyelenggarakan sendiri perayaan selama Ramadan tahun ini.
27 Mei 2020, 6:57am

Ramadan 2020 terasa sangat berbeda. Umat Muslim tidak bisa berkumpul dan buka puasa bareng seperti tahun-tahun sebelumnya. Begitu juga saat Idul Fitri. Banyak yang terpaksa mengubur keinginannya untuk mudik dan berlebaran bersama keluarga karena pandemi corona. Tak ada lagi yang namanya halal bihalal dan salam-salaman dengan tetangga setelah Salat Id.

Untung saja ada Animal Crossing. Para pemain Muslim masih bisa menghabiskan waktu bersama meski dari jarak jauh.

Pada dasarnya, Animal Crossing adalah game simulasi membangun rumah idaman, memancing dan bercocok tanam. Kalian harus memainkannya sendiri untuk mengetahui daya tarik game ini. Sejak dirilis dalam Nintendo Switch pada 20 Maret lalu, popularitas Animal Crossing: New Horizons langsung melejit. Bagaimana tidak? Game ini cocok dijadikan pelarian selama masa karantina. Mengobrol dengan sesama pemain dan karakter penduduk desa bisa mengobati kesepian di dunia nyata.

Acara musiman Animal Crossing merupakan momen paling ditunggu-tunggu. Di versi sebelumnya, Jingle the Reindeer akan mengunjungi pemain pada 24 Desember (yang disebut sebagai “Toy Day”). Lalu pada 1-12 April, Animal Crossing mengadakan acara “Bunny Day” yang merujuk pada Hari Paskah. Selama acara berlangsung, pemain bisa mencari telur dan menukarkannya dengan hadiah istimewa kepada kelinci raksasa.

Itulah mengapa Rami Ismail berharap Animal Crossing juga memperingati ramadan tahun ini. Tapi sayangnya tidak ada acara apapun.

Berprofesi sebagai developer game, Rami akhirnya menyelenggarakan ramadan di pulaunya. Lewat Twitter, dia memberi tahu akan mengadakan Iftar dan Sahur bersama. Tak lama kemudian, pemain berbondong-bondong minta diajak dalam acara ini.

Tamu Rami datang dari berbagai belahan dunia, dan separuhnya merupakan non-Muslim. Sama seperti dirinya, para pemain muslim yang sahur dan buka bersama Rami di pulau virtual tidak bisa bertemu keluarganya. Rami tidak bisa menjenguk sang ayah, meski tempat tinggal mereka tidak berjauhan.

Rami senang pemain non-Muslim ikut bergabung dalam acaranya. Itu berarti dia bisa memperkenalkan budaya Islam kepada mereka. Di dunia nyata, orang non-Muslim “mustahil bergabung dalam tradisi ini. Pasti aneh, kan, kalau mereka datang ke rumah tetangga Muslimnya pada pukul 3 pagi untuk sahur bersama,” ujarnya sambil tertawa

Para pemain berkumpul di meja piknik yang sudah dipersiapkan di luar rumah Rami. Dia mendekorasinya dengan hal-hal yang mengingatkannya akan Mesir. Percakapan mereka melantur ke mana-mana. Ada yang bertanya soal cara menanam bunga, ada juga yang bercanda tentang karakter-karakter di pulau.

Suasananya hening ketika makan bersama. "Mulutmu penuh makanan karena ingin menghabiskannya sebelum Imsak," tutur Rami. Kayak beberapa dari kalian yang menenggak air minum sebanyak-banyaknya menjelang Imsak.

Reporter VICE News mengunjungi pulau Rami untuk menyaksikan bagaimana pemain Muslim bisa tetap terhubung selama pandemi.

Simak dokumenternya di tautan awal artikel

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News