Iklan
Sejarah Punk dan Hardcore

Mengenang Awal Mula Skena Hardcore New York Bersama Roger Miret, Vokalis Agnostic Front

Sang musisi legendaris ini berbagi cerita penting yang perlu diketahui anak-anak hardcore zaman sekarang.

oleh Tony Rettman
02 Mei 2018, 10:01am

Foto dari arsip Agnostif Front.

Artikel ini diampu penulis buku 'NYHC: 1980 – 1990' Tony Rettman. Dia diminta redaksi Noisey mengulas beberapa band keren, album serta momen-momen esensial dalam sejarah punk dan hardcore. Dalam kesempatan kali ini, Rettman ngobrol bareng Roger Miret, vokalis band hardcore kawakan Agnostic Front. Mereka berdua membahas tahun-tahun awal karir Agnostic Front, kondisi skena NYHC di awal tahun ‘80an, hingga band-band keren yang terlupakan, sehingga akhirnya cuma jadi catatan kaki sejarah kancah hardcore di AS.


Tiap ada kesempatan melamun, saya biasanya memikirkan beberapa hal yang ujung-ujungnya menguatkan tekad saya menulis buku lebih dari 300 halaman tentang kancah Hardcore New York. Buku itu juga perlu memuat cerita semua band gila serta sosok yang pernah dan masih berkecimpung di dalam kancah tersebut.

Saat bicara soal topik ini, saya pun pasti selalu terkenang sebuah kejadian di salah satu Sabtu pagi pada 1984. Waktu itu, saya berjingkat-jingkat menyelinap masuk masuk kamar kakak cuma untuk melihat plat 12 inci pertama Agnostic Front Victim in Pain yang tergelak di bawah kaki dipannya. Saat itu, saya jelas tak bisa memutar vinylnya. Kakak masih asik tidur. Saya tak berani membangunkannya. Yang saya ingat adalah suara gemerisik yang saya buat begitu membuka sampul platnya. Pun, masih segar juga dalam ingatan ketika saya terpaku memandangi foto-foto Agnostic Front menaklukan panggung di Rock Hotel.

Beberapa jam setelahnya, kakak saya bangun. Selang sekian detik kemudian, dia langsung menggeber album itu dan saya langsung jatuh cinta pada hardcore. Kombinasi citra mencolok Agnostic Front dan katarsis sonik yang ditawarkan album ini menggores tajam dalam hati saya. Tak bisa dipungkiri, Victim in Pain adalah album yang menceburkan saya ke kancah Hardcore New York.

Sekarang, setelah sekian tahun dan sekian sentimeter tambahan lemak menumpuk di pinggang, penggemar hardcore akhirnya bisa menyaksikan perilisan No One Rules, album panjang berisi demo Agnostic Front yang mendahului United Blood atau bahkan Victim in Pain. Kumpulan demo ini diedarkan kolektif sejarawan Hardcore yang bernaung di bawah payung Radio Raheem Records. Seperti yang bisa selalu andalkan dari rilisan-rilisan label tersebut, No One Rules dipenuhi lagu-lagu serta foto-foto yang belum pernah beredar dan bikin penggila Hardcore meneteskan liur.

Setelah mendengar kabar tentang dirilisnya No One Rules, saya melakukan apa yang biasanya dilakukan oleh manusia yang cinta mati pada hardcore: segera cabut dari kantor pas jam makan siang dan nongkrong bareng vokalis Agnostic Front, Roger Miret. Saya beruntung Miret mau menyempatkan sedikit waktunya untuk wawancara, di luar kesibukannya sebagai ayah idaman. Kami pun akhirnya ngobrol tentang pembuatan No One Rules, produser NYHC legendaris Don Fury dan band-band dari gelombang pertama anak hardcore yang kini hanya berakhir menjadi catatan kaki skena HC di NYC.

Noisey: bisa ceritakan bagaimana proyek No One Rules akhirnya bisa terwujud?
Roger Miret: Rich dari Radio Raheem mengontakku lewat bantuan Chris Wenn dari label hardcore Bridge 9. Dia bertanya tentang materi-materi awal Agnostic Front yang pernah beredar dalam CD berjudul ‘Raw Unleashed’. Rich rupanya ingin sekali merilis ulang track-track itu dalam format plat. Rich kemudian mengirim beberapa album yang pernah dirilis oleh Radio Raheem Records, seperti LP Loud and Clear-nya The Abused. Setelah dilihat-lihat, album-album yang dikirim Rich kayaknya keren, dibuat dengan penuh semangat dan paten. Jadi menurutku, ide merilis ulang track-track awal Agnostic Front adalah sebuah ide yang keren banget.

Masih punya kenangan tentang sisi pembuatan album itu?
Ya Tuhan! Waktu itu, kami selalu latihan di Studio Don Fury. Enaknya latihan di sana adalah kalau kamu mau bayar 2 dollar, Fury bakal merekam latihanmu dalam ke dalam kaset dua track. Nah, tiap kali kami bisa menyisihkan dua dollar, kami akan minta Fury melakukannya. Setelah latihan, kami akan membawa kaset-kaset hasil rekaman itu ke rumah Vinnie Stigma di Mott Street untuk didengarkan bareng-bareng. Kayaknya cuma itu yang aku ingat.

Gimana sih ceritanya sampai kamu bisa akrab sama Don Fury?
Siapa coba musisi NYC yang enggak tahu Don Fury? Dia tuh pada masanya adalah anak punk veteran yang doyan nongkrong di komunitas punk rock. Don terang-terangan menyukai Agnostic Front dan dia dulu punya band namanya Balls. Suatu hari, dia bilang pada kami, “Kalau kalian bisa ngumpulin uang buat nyewa mesin 16 track, aku bisa merekam lagu kalian. Gratis.” tak lama kemudian, Agnostic Front dan Balls manggung bareng di CBGB dan uang yang kami peroleh cukup untuk menyewa mesin 16 track.

Aku masih ingat saat mesin itu sampai di studio Don di Prince Street. Semua anggota Agnostic Front ikut membantu Don menurunkan mesin itu lewat tangga. Muka Don sumringah sekali mesin itu ada di studionya. Jaman segitu, mesin 16 track itu sudah terhitung perangkat rekaman yang wah. Kami menyetelnya dan bilang “Mantap!” dan mulai merekam album ‘Victim in Pain’. Sisanya sejarah, Bung!

Ngomong-ngomong soal No One Rules , kamu sudah gabung berapa lama pas album itu mulai direkam?
Kayaknya baru satu atau dua bulan deh. Pokoknya belum lama banget. Aku bergabung dengan Agnostic Front pada musim gugur 1982. Enggak lama kemudian, tahu-tahu aku sudah masuk studio rekaman. Aku cuma nyumbang dua lagu. Itupun aku ambil dari koleksi band pertamaku, The Psychos. Lagu-lagu lainnya sudah beres ditulis Vinnie.

Agnostic Front

Apa judul dua lagu yang kamu bawa dari The Psychos? Jangan-jangan ‘Fight’ dan ‘Discriminate Me’ ya?
Ya, kayaknya tebakanmu benar. Kamu malah lebih tahu dari aku.

Kemasan No One Rules luar biasa. Aku tahu Rich dan Chris adalah kolektor memorabilia NYHC yang fanatik. Tapi, Aku penasaran apakah foto-foto atau flyer yang ada dalam booklet penyerta album berasal dari koleksi kalian juga?
Aku sih enggak bisa ikut-ikut mengklaim aku punya sumbangsih dalam penyusunan booklet itu. Itu semua kerjaan mereka. Kalau pun ada yang aku sumbangkan di album ini ya musik cupu di dalamnya [tertawa]. Cuma, Chriss dan Rich mengemas album dengan luar biasa. Mereka sungguh-sungguh melakukannya. Keduanya punya semangat untuk mengabadikan sejarah.

Agnostic Front

Kalau ketemu orang yang getol mengoleksi memorabilia yang berkisar tentang kehidupanmu, kami merasa takut enggak sih? Apa kamu kaget melihat koleksi mereka? Atau kamu mikir mereka mengaduk-aduk sampah masa lalumu?
[tertawa] Enggak sama sekali. Aku malah seneng ada orang macam itu. Malah asyik. Aku bisa ikut melihat koleksi mereka dan bilang “Wanjirr!!” dan kembali mengenang masa laluku. Pera kolektor ini memang dikarunia rasa cinta pada sejarah dan itu bagus sekali. Cuma kalau ngomongin segala kelakuan kami yang terekam dalam sejarah ini, aku rasa kita sudah enggak melakukannya lagi saat ini dan bisa melenggang begitu saja, ya kan? Enggak tahu sih? Bisa jadi dugaanku meleset.

New York kayaknya jadi skena hadcore pertama di AS yang mengusung paham skinhead. Menurutmu kenapa sentimen skinhead ramai di New York daripada skena-skena hardcore lainnya di awal dekade ‘80an?
Kami memang selalu tertarik dengan segala hal yang berbaru skinhead Amerika. Kami enggak berusaha jadi orang Inggris. Paham skinhead yang kami anut lebih menekankan pada harga diri, rasa hormat pada orang lain dan kepedulian terhadap sesama. Masalahnya baru muncul ketika orang-orang Ameria berusaha mengarahkannya agar mirip dengan varian skinhead di Inggris.

Kami sih lebih sepakat dengan band-band seperti Iron Cross, Effigies dan The Anti-Heroes. Kami mengambil inspirasi skindhead Amerika dari band seperti SS Decontrol dan Minor Threat serta berusaha mengembangkan skena skinhead Amerika.

Agnostic Front

Waktu track-track No One Rules direkam, Agnostic Front itu sudah sebesar apa sih di kancah NYHC?
Agnostic Front masih jadi band pembuka waktu itu. Misalnya nih, kami pernah manggung di Great Gildersleeves dan begini urutan bandnya: Agnostic Front, Cause for Alarm lalu GBH. Tapi asal tahu saja ya, orang-orang waktu itu enggak peduli urutan bandnya waktu itu. Contohnya, ada satu gig di A7 Club baru dimulai jam satu tengah malam dan para penonton bakal ada di sana terlepas dari siapapun yang main. Akhirnya, kami manggung saja. Bodo amat deh urutannya gimana. Yang penting main.

Menurutmu, adakah band dari masa-masa awal NYHC yang harusnya lebih dikenal banyak orang?
Pastilah! Urban Waste adalah band yang menginspirasiku untuk pindah ke kota dan menjajal skena NYHC. awalnya, aku cuma seorang penggemar punk Inggri. Urban Waste yang menceburkan aku ke dalam hardcore. Salah band favoritku dari tahun-tahun awal NYHC adalah Mark Truthe and the Liars, kamu pernah dengar mereka kan?

Agnostic Front

Wah aku malah enggak tahu sama sekali.
Masak sih Tony?! Kamu kan penulis buku tentang skena hardcore New York, bisa-bisanya kamu enggak tahu siapa mereka? Mark Truthe and The Liars itu band fenomenal. Mereka punya lagu yang sering banget mereka mainkan. Judulnya "Subway Man". Aksi Mark Truthe di atas panggung itu punk abis!

Ah, paling kamu cuma ngerjain aku! Ini bandnya beneran ada?
Iyalah! Ada juga The Influence, band hardcore kulit hitam pertama di skena NYHC. satu lagi band dari masa itu yang enggak banyak dibahas orang adalah Killer Instinct.

Agnostic Front

Sepanjang wawancara ini, kamu selalu mengerdilkan nilai penting track-track No One Rules. Tapi menurutku album ini penting. Kamu harus menyadarinya.
Ya enggaklah, aku enggak mengerdilkan album tersebut. Sejarah itu selalu penting. Ini kayak aku selalu bilang “Jangan percaya anak hardcore yang enggak ngedengerin punk.” kamu harus tahu sejarahmu sendiri. Ini sangat, sangat penting. Dan aku enggak ngomongin tentang hardcore. Kalau kamu menyukai sesuatu dan kamu bersemangat banget tentang hal itu, kamu harus memahami akarnya. Album ini—bagaimanapun juga—[tertawa] adalah bagian dari sejarah.



Artikel ini pertama kali tayang di Noisey.