Iklan
Musisi Legendaris

Buat Orang yang Bilang The Beatles 'Overrated', Elo Semua Pada Gila Ya?

Pendapat sok beda kayak gitu gak bikin elo lebih keren. Yang ada elo kelihatan blo'on banget di mata pakar maupun penyuka musik. Jadi saran gue, berhenti ngebacotin Beatles deh.

oleh Dan Ozzi
06 November 2018, 7:51am

Kolase foto oleh Noisey

Sering kali, beberapa orang—eh bentar, gue ulang dulu deh pembuka artikelnya...

Sering kali, sejumlah manusia pukimak sok gagah ngebacot di kolom komentar Youtube, atau di medsos, atau di forum-forum Internet dengan menyatakan The Beatles itu overrated. Kadang ada yang berusaha intelek mengemukakan argumen menyebalkan melawan arus tentang band legendaris asal Kota Liverpool itu. Tujuannya manusia model beginian cuma satu: bikin orang lain bete. Buat gue, orang macam ini hanya perlu ditanggapi dengan satu kalimat yang nyelekit. Kayak gini misalnya: "Diem njing. Udah lah jangan ngebacot mulu daripada elo tambah kelihatan gobloknya."

Gue ngerti banget apa yang mereka lakukan. Mereka ingin mengolok-olok dan merendahkan selera musik lawan bicaranya biar mereka terkesan lebih ngeh soal musik dan dianggap berwawasan luas. Kali lain, ketika sengaja njelek-njelekin Beatles, mereka cuma pengin lihat kita marah, lantaran band kesayangan kita dibilang enggak keren-keren amat. Gue sih enggak menyalahkan perilaku kayak gitu kok. Menjelek-jelekkan band favorit orang lain memang menyenangkan. Gue juga sering melakukannya.

Coba aja ngobrol bareng gue, terus kasih tahu gue apa band kesayangan kalian. Gue jamin bisa menemukan ratusan cara buat ngecengin band favorit elo itu. Lebih-lebih lagi jika anggota bandnya cowok kulit putih berambut gimbal. Gue udah punya 300 stok bahan ceng-cengan.

Tapi, kalau target yang elo cengin itu The Beatles? Yang bener saja bray. Kalian nyari mati kalau berani mengolok-olok band satu ini. Sori ya, gue enggak butuh argumen songong setengah-setengah yang bilang betapa kurang bertalentanya The Beatles; atau bahwa The Beatles mencuri karakter sound band-band lain sezaman; atau bahwa satu-satunya anggota yang punya talenta musik di The Beatles adalah John Lennon. Tiap dengar atau baca orang ngebacotin Beatles, bawaan gue penginnya cuma satu: nutup mulut kalian yang bau comberan itu.

Gue enggak berusaha berlebihan ngebelain The Beatles ya. Jujur, kuartet ini bukan band favorit gue. Masalahnya mereka itu—gimana ya ngomongnya—MEREKA ITU THE BEATLES, NJING. Rocker asal Liverpool ini meletakkan dasar bagi semua musik populer yang kita dengar sekarang.

Terus pasti ada yang nyeletuk iseng: "Tapi, apa cuma gara-gara itu karya mereka harus terus-terusan dibahas?"

Eh si anjing. Ya perlu dong, terutama buat mereka yang hobi ngejelek-jelekin The Beatles. Manusia sok beda sendiri gini pandirnya enggak ketulungan. Pendeknya, mengatakan The Beatles itu 'overrated' atau enggak penting dalam sejarah musik dunia, itu sama saja seperti berdiri di dalam rumah sendiri lalu bilang "kualitas semen rumah ini biasa saja deh. Kalau dipikir-pikir andil semen dalam berdirinya rumah ini terlalu overrated deh."

Konyol kan? Makanya daripada ngejelek-jelekin John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr, kalian semua mendingan mingkem aja woy hipster musik tai kucing.

Gue sih enggak paham apa yang diinginkan orang-orang yang hobi banget ngebacotin Lennon Cs. Gue enggak tahu apakah sebenarnya mereka pengin terdengar lucu atau emang tulus benci The Beatles? Intinya, gue berani taruhan, andai bisa duduk sekamar dengan salah satu dari pembenci Beatles dan menyetel “All You Need Is Love” atau “When I’m Sixty-Four,” dia bakal nangis sesenggukan karena pernah sok-sokan gak tersentuh sama lirik dan komposisi lagu ini.


Tonton dokumenter VICE menyorot bakat-bakat baru kancah musik Indonesia independen:


Percaya deh, ketika lagu “Here Comes the Sun” disetel pas elo baru melewati hari yang ngebetein, 10.000% kamu langsung bangkit karena dapat suntikan optimisme dosis tinggi. Tapi, kalau elo biasa saja, mungkin ada yang salah di dirimu atau emang songong aja, sok enggak suka lagu ini.

Plis deh, seandainya kalian butuh cara buat bikin orang keki tanpa harus terkesan sebagai orang brengsek dan pretensius yang hobinya cuman mencibir The Beatles, nih gue kasih berapa topik alternatif yang bisa kalian bacotin di internet ataupun dunia nyata:

Kasih tahu anak kecil kalau Sinterklas itu cuma khayalan.

Kunjungi Museum Holocaust dan bilang ke penjaganya, kalau Hitler itu sebenarnya punya ide yang cemerlang.

Berdiri di luar jendela tempat fitnes sambil ngemil burger.

Bilang ke beberapa cewek kalau kontrasepsi itu enggak penting-penting amat.

Bilang ke cowok, ditendang tititnya itu enggak sakit.

Bilang ke pendukung Prabowo kalau idola mereka cupu, Lakukan hal yang sama ke penggemar fanatik Jokowi.

Angka penjualan album The Beatles itu enggak sanggup ditandingi oleh angka penjualan band manapun. Mereka juga punya deretan lagu hits nomor satu paling banyak dalam sejarah musik. The Beatles itu band paling laku sampai sekarang. Intinya mah, The Beatles itu sudah semestinya jadi panutan semua musisi di... eh bentar deh, gue enggak mau masuk jebakan Batman.

Gue enggak membela The Beatles kok. Kalau gue kepancing, para pembenci The Beatles pasti bersorak dan punya alasan ngebacot lagi. Gue enggak mau mereka mendapatkan apa yang mereka mau.

Sebaliknya, gue mending meniru cara John Lennon dengan bilang: Wahai pembenci The Beatles, "Love is all your need." Kalian cuma butuh cinta. Makanya, mendingan berhenti ngejelek-jelekin Beatles terus coli aja sana, njing.


Dan Ozzi adalah contributing editor di Noisey. Dia ingin elo semua pada mingkem kalau ngebacotin band legendaris cuma demi cari sensasi. Sentil aja, atau ajak kelahi Dan sekalian, lewat akun Twitter @danozzi

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey