Trump

Ada Restoran Bernama Trump di Suriah, Cuma Menjual Satu Menu Makanan

Trump ternyata dicintai sebagian warga Suriah dan Irak. Belum jelas nasib bisnis restoran itu setelah Presiden AS memerintahkan serangan 50 misil ke pangkalan udara Suriah pekan lalu.

oleh Jelisa Castrodale
10 April 2017, 5:17am

Artikel ini pertama kali tayang di MUNCHIES.

Di restoran Trump Grill, salah jenema resto dalam Trump Tower, santapan yang bisa kita pesan mencakup filet mignon seharga $34 (setara Rp452 ribu), Platinum Label Burger yang dibandrol $22 (setara Rp293 ribu), serta Mar-A-Lagu Sandwich yang dipatok di harga $21 (setara Rp279 ribu). Bandingkan harga-harga tadi dengan sebuah restoran bertema Trump di Kota Kobani, Suriah. Menu restoran terdiri dari sandwich falalel dan…..sandwich falalel.

Kami tidak sedang bercanda. Ini beneran loh. Waleed Shekhi, warga negara Suriah dari etnis Kurdi yang baik hati (serta mungkin sedikit kurang informasi) menamai restorannya sama seperti sosok Presiden Amerika Serikat ke-45. Harapannya sederhana saja: agar bisnisnya moncer. Pada sebuah surat kabar Kurdi dia mangaku cuma ingin berterimakasih pada AS atas bantuan yang mereka berikan pada suku kurdi dalam perang melawan Negara Irak dan Syam (ISIS).

"[Donald Trump] adalah pemimpin Amerika Serikat, negara paling keren di dunia," ungkap Shekhi pada ARA News. "Kami suku Kurdi sangat mencintai Amerika, jadi kami juga mencintai Donald Trump. Makanya, restoranku diberina Trump."

Video berisi pengakuan Shekhi ini dimuat pada bulan Januari lalu. Jadi, tak jelas nasib toko unik ini semenjak AS meluncurkan lebih dari 50 rudal Tomahawk ke Suriah awal minggu ini.

Shekhi mengatakan pada situs Kurdistan24 bahwa restorannya adalah salah satu dari beberapa bisnis yang dilakoni beberapa tahun belakangan. Kobani berusaha bangkit dari terpaaan konflik yang berjalan selama beberapa tahun. Shekhi membuka restoran Trump tepat dua tahun setelah pasukan Unit Pelindung Warga (YPG), Tentara Pembebasan Suria dan pejuang Peshmerga, bersatu membebaskan Kobani dari cengkeraman ISIS. (Angkatan Udara AS baru-baru ini meluaskan pangkalan udaranya agar lebih dekat dengan Kobani, yang terletak di kawasan utara Suriah, tak jauh dari perbatasan dengan Turki.)

"Operasi besar-besaran telah dilakukan membersihkan jalan, namun pasokan air dan listrik belum benar-benar pulih," demikian dikutip dari laporan tentang Kobani yang diturunkan The Atlantic. "Meski roda perdagangan perlahan bangkit (beberapa toko telah memasang kembali kaca depannya), hampir setengah bangunan di Kobani masih berupa puing-puing semen."

Restoran Trump salah satu unit bisnis yang bangunannya sudah utuh, bahkan punya kaca. Masih banyak toko-toko lain di Kobani yang buka seadanya. "Aku berharap bisa memperoleh untung dari restoran kecil ini karena aku dan istriku yang membuat santapannya langsung dan lagi namanya restorannya kan menarik," ujar Shekhi. Menurut data Divisi Statistik Perserikatan Bangsa-Bangsa, rata-rata penghasilan penduduk Suriah dalam setahun mencapai $1.820 (atau sekitar Rp24 juta). Dengan rerata pendapatan seperti ini, untuk bisa memesan fillet Mignon di Trump Grill, Shekhi harus bekerja selama satu minggu.

Restoran Trump milik Shekhi bukan restoran bertema Donald Trump pertama di Timur Tengah. Desember lalu, Trump Fish menjadi restoran paling populer di Duhok, sebuah kota di wilayah Kurdistan, Irak. Letaknya 579 km dari Kobani. Siapa tahu kalian ingin membandingkan mutu kedua restoran bertema Trump tersebut.

Seperti restoran milik Shekhi, Trump Fish hanya menawarkan satu santapan dalam menu mereka: masgûf , ikan karper yang dibakar pakai api dari kayu. Masgûf dianggap sebagai santapan nasional Irak. Nedyar Zawity, pria 31 tahun pemilik Trump Fish, mengaku pada Kantor Berita Reuters bahwa ia sangat mencintai Donald Trump. Dia berharap bisa membuka restoran bertema Trump keduanya di Negeri Paman Sam suatu saat nanti. "Kasih gue Visa. Besok ane langsung berangkat ke AS," ujarnya.