Film

Saya Delapan Jam Nonton Film Steven Seagal Untuk Memahami Budaya Amerika

Apa makna yang bisa dipetik dari ucapan ikonik seorang bintang film laga kelas C dekade 90-an, tentang hubungan saya dan Amerika Serikat?

oleh Jordan Foisy
25 Oktober 2016, 6:50pm

'Steven Seagal: Lawman' film ini dulu pernah populer. Foto via 'Steven Seagal: Lawman'

Kita tinggal di dunia yang penuh dengan kekerasan. Mulai dari terorisme, pengeboman menggunakan pesawat drone, kejahatan berdasarkan kebencian dan ujaran-ujaran rasis yang konstan dilontarkan oleh para pendukung Donald Trump. Ini tentunya mengancam kebudayaan dan peradaban manusia. Bagaimana kita bisa mengerti semua kekerasan ini? Menurut saya, kalau anda benar-benar ingin memahami kekerasan, hanya ada satu orang yang bisa menjawabnya: Raja pematah pergelangan tangan, Steven Seagal.

Salah satu memori saya yang paling bahagia adalah ketika saya sakit pada hari sekolah dan harus tinggal di rumah. Ayah juga sedang sakit dan tidak masuk kantor. Lalu, kami berdua memutuskan bahwa cara nongkrong terbaik tanpa harus banyak bicara adalah dengan menonton film secara maraton. Berhubung kami berdua tipe cowok macho, kami memilih film laga. Pahlawan laga kami berdua adalah Steven Seagal. Dia tiada duanya. Kenapa? Dia tidak jago akting, tidak pandai melucu, atau bahkan bercerita dengan baik. Namun, dalam urusan menghajar orang, dia ahlinya.

Memuaskan dahaga aksi kekerasan adalah keahlian Steven Seagal. Dia juga contoh yang tepat tentang pria yang membalas dendam terhadap dunia yang curang dan tidak adil. Mungkin dengan meresapi film-film Seagal, saya akan memahami kenapa kekerasan begitu menarik bagi saya dan banyak laki-laki lainnya di seluruh dunia. Saya memutuskan untuk menonton empat film Steven Seagal secara beruntun untuk mencari tahu apa yang menonjol—seperti apa yang terjadi ke tulang paha setelah ditendang secara brutal. Empat film yang saya pilih merupakan tulang punggung dari karir Seagal sebagai bintang laga. Mereka juga cocok dengan iklim politik saat ini yang bertemakan pemberontakan.

Berikut film-film pilihan saya:

Hard To Kill (1990)

  • Film awal karir Seagal. Ia memerankan seorang aparat kepolisian bernama Mason Storm yang bangkit dari koma selama tujuh tahun dan berusaha membalas dendam seorang senator korup yang bertanggung jawab atas kematian istri Mason dan menyebabkannya koma. Ini merupakan salah satu film hit awal Seagal. Artinya, skill akting Steven Seagal yang tebatas—dan memang tidak pernah bagus—terwujud dalam satu cara: menyipitkan mata. Ketika Seagal menyipitkan mata dengan santai, artinya dia sedang mengekspresikan emosi yang positif. Ketika ia menyipitkan mata dengan intens, artinya dia sedang marah. Kalau dipikir-pikir, film ini terlihat dan terasa seperti film semi-porno. Film ini juga memiliki line film laga buruk yang paling keren di filmografinya. Ketika membalas slogan kampanye si senator—musuhnya di film ini—yang berbunyi, "You can take that to the bank," Seagal berkata, "I'm going to take you to the bank...the blood bank." Ia juga mengucapkan line ini saat menonton iklan di TV ketika sedang duduk sendiri. Ini merupakan sebuah momen sinematik paling monumental, momen harum Seagal.

Under Siege (1992)

  • Film mahakarya Seagal. Di film ini, Seagal memerankan Casey Ryback, mantan Angkatan Laut yang bekerja sebagai koki di kapal induk USS Missouri. Dia 'diturunkan' jabatannya setelah meninju seorang atasan. Steven Seagal gak bisa disuruh-suruh woy! Ketika kawanan teroris mengambil alih kapal, Ryback menjadi satu-satunya harapan untuk mencegah bencana nuklir terjadi. Ini adalah film blockbuster, film yang mengubah segalanya dan juga satu-satunya film "bagus" Seagal yang dibuat secara kompeten. Ini berkat campur tangan sutradara The Fugitive, Andrew Davis dan Tommy Lee Jones yang memerankan tokoh penjahat di film tersebut. Tokoh antagonis yang diperankan Tommy merupakan cetak biru penjahat anarkis eksentrik 16 tahun sebelum Heath Ledger memerankan Joker yang gemar membakar tumpukan uang.

On Deadly Ground (1994)

  • Film "kreatif" Seagal yang jeblok. Film box office gagal ini disutradarai oleh Seagal sendiri. Bukannya memberikan penonton apa yang mereka harapkan dari sebuah film Seagal, ia memutuskan untuk membahas isu lingkungan, kekerasan dan sifat manusia (beneran ini). Seagal memerankan pemadam kebakaran bernama Foresh Shaw yang mengungkap praktik mencurigakan perusahaan minyak tempat ia bekerja. Shaw mendapat pencerahan dari seorang tetua Inuk bahwa ia merupakan perwujudan roh beruang. Ia kemudian berkelana mencari jati diri. Film ini berakhir dengan sebuah monolog dan montase yang mengutuk perusakan lingkungan yang disebabkan oleh perusahaan-perusahaan besar dan mengatakan bahwa mesin pembakaran dalam sudah ketinggalan jaman. Ini film sama edannya dengan film An Inconvenient Truth karya Al Gore. Bedanya, Al Gore gak tahu cara menggunakan pistol.

The Patriot (1998)

  • Awal dari akhir karir Seagal. Di film ini, Seagal memainkan seorang dokter (bukan sembarang dokter. Ia spesialis penyakit menular terbaik di dunia loh) yang bertugas menciptakan penangkal virus yang disebar oleh milisi sayap kanan ekstrem (cetak biru pendukung Trump). Saking jeleknya, film ini bahkan tidak diputar di bioskop. Film ini juga akhirnya menggambarkan karir Seagal selama 2 dekade ke depan: 1) film-filmnya tidak diputar di bioskop dan langsung diproduksi dalam bentuk video (VCD,DVD, sekarang jasa streaming) 2) film Seagal juga dinilai berkualitas rendah dan mempunyai plot yang malas 3) tubuh Seagal membengkak dan membuatnya terlihat seperti anggur kelewat matang dengan jenggot kambing. Film ini melakukan kejahatan terburuk yang bisa dilakukan sebuah film Seagal: film ini membosankan.

Hal pertama yang saya tangkap dari film-film Seagal adalah besarnya ego yang dipamerkan. Semua film dia merupakan monumen kebesaran Seagal, bukti kompetensinya yang sulit diungkap dengan kata-kata. Di film-film ini, tidak terucap satu hal burukpun tentang Seagal. Justru sebaliknya, di setiap film Seagal, karakter-karakter pendukung selalu memuja-muja kecemerlangan Seagal.

Di film Hard To Kill, teman Seagal mendorong seorang rekan polisi yang berani mengkritik Seagal dan meludahi mukanya sambil berteriak, "Mason Storm adalah polisi terbaik dan terhormat di dalam pasukan." Sedangkan pada Under Siege, banyak karakter meributkan latar belakang Seagal, bagaimana terlatihnya dan berbahayanya dia. Adegan favorit saya bisa ditemukan melalui On Deadly Ground yang disutradarai Seagal sendiri. Di awal film ini, karakter Seagal bernama Forest Shaw berusaha memadamkan api di sebuah kilang minyak. Ketika dia muncul, sebuah sorakan tiba-tiba terdengar dan terdengar suara off-screen berteriak, "Forest sudah di sini! Apinya pasti akan padam!" Keren banget gak sih? Bahkan di proses post-produksi film, saya bisa membayangkan Seagal berpikir, "Wah kayaknya masih kurang line tentang bagaimana jagonya gue madamin api, masukin di mana lagi ya?"

Memang, pamer ego di film-film ini penting karena inilah yang membuat karakter Seagal sebagai jagoan yang hebat jadi mudah dipercaya. Seagal jelas tidak mempunyai fisik kekar macam Arnold atau Van-Damme. Tubuh Seagal mengalami transformasi dari tubuh yang kurus, tidak kekar, dan terlihat seperti penjaga toko buku di era awal film-filmnya hingga akhirnya lambat laun membengkak dan bertambah ancur seiring waktu berjalan. Kini, ia terlihat seperti bos gembong penjahat bertubuh seperti anjing laut dengan kumis baplang.

Bahkan ketika Seagal sedang melakukan adegan perkelahian, ia tak pernah terlihat keren. Kalau tendangan memutar Van-Damme terlihat bisa melesatkan semangka menembus gedung, tendangan Seagal terlihat seperti orang yang berusaha membuka pintu tapi tangannya penuh. Namun jangan salah, gerakan memutar lengan Seagal ketika dia berkelahi melawan seseorang yang menggunakan pisau selalu terlihat keren. Cuma ya tolong diingat, ini opini seseorang yang menganggap aksi anggota geng di West Side Story yang kerap menjentikkan jari mengerikan. Intinya, kita semua yakin Seagal akan membuat semua musuh dalam ruangan babak belur karena dia dan semua orang percaya bahwa ini akan terjadi.

(Perlu saya informasikan bahwa sepanjang saya menulis artikel ini, banyak penggemar Seagal yang memberi tahu saya bahwa dari semua bintang laga yang saya sebutkan sebelumnya, Seagal lah yang sebetulnya benar-benar bisa berkelahi. Seagal merupakan pria kulit putih pertama yang mengajar di sebuah dojo di Jepang. Dia juga pernah melatih petarung UFC macam Anderson Silva untuk menyempurnakan teknik tendangan depan mereka. Sayangnya, di sini saya hanya membahas film-filmnya, dan bukan kehidupan nyata Seagal. Dan jujur, di depan kamera, kebugaran fisik Seagal setara dengan seorang bapak-bapak yang ngos-ngosan memanjat tangga untuk memperbaiki genteng.)


Siapapun peran yang ia mainkan, semua karakter Seagal mempunyai satu kesamaan: mereka semua bajingan. Semua line yang ia lontarkan terasa merendahkan. Seakan-akan dia sendiri kesal dengan kamera yang sedang berusaha merekam kekerenan dirinya. Di film-film ini, dia selalu brengsek. Dia selalu sarkastik dan jahat terhadap teman-teman dan musuhnya. Dia juga senang memerintah orang secara arogan. Buktinya, dalam film Under Siege, ia memperlakukan kekasihnya seperti seorang idiot hanya karena si kekasih tidak mahir membuat bom seperti Seagal.

Dari mana asalnya kemarahan terhadap orang lain ini (dengan asumsi bahwa ini bukan hanya karena emang dia sebetulnya brengsek di dunia nyata yang akan membuat kasus ini kurang menarik)? Seni bela diri pilihan Seagal adalah aikido. Filosofi dari aikido adalah keharmonisan, menggunakan momentum musuh anda untuk menghentikan serangannya tapi tanpa harus melukainya. Seagal, sebagai ahli dari seni bela diri ini, pasti frustrasi menghadapi dunia yang tidak harmonis. Ia ingin dunia yang ideal, namun terus-terusan diganggu dan diserang oleh senator korup, jenderal yang tidak kompeten, perusahan-perusahan besar, orang-orang udik dan orang-orang bego. Karena inilah dia menarik diri dari dunia setiap kali ia merasa ruang pribadinya diusik.

Sejak Under Siege, muncul tradisi karakter utama yang diperankan Seagal biasanya selalu enggan turut campur suatu masalah. Tokoh-tokoh film Seagal berusaha meninggalkan masa lalu yang penuh kekerasan, dan kini fokus menjadi seorang koki, pemadam kebakaran kilang minyak, atau seorang spesialis penyakit menular (pastinya). Faktanya, ketegangan di film-film Seagal selalu dipicu oleh usahanya untuk tidak berkelahi. Sebagai seorang protagonis, Seagal tidak pernah terancam. Tidak pernah sedikitpun saya kepikiran bahwa musuhnya dapat mengalahkan Seagal. Boro-boro ada T-1000 (robot jahat dalam Terminator) atau Tong Po (tokoh antagonis dalam Kickboxer), musuh Seagal hanyalah segerombolan idiot dan pengecut yang membuat kesal karakter Seagal yang pemberang.

Menjelangi titik klimaks di On Deadly Ground, Seagal menegur seorang wanita Inuk yang menemaninya. Seagal mengatakan bahwa berdoa ke dewa-dewa dan protes terhadap perusahaan minyak tidak akan pernah cukup dan bahwa kekerasan adalah jawabannya. Ini adalah satu-satunya masalah yang dipikirkan para penonton—apakah Seagal akan melupakan idealisme, rasa cinta damai dan perasaan menyesalnya dan melakukan tindakan kekerasan yang kita semua dambakan. Apakah para penjahat itu akan mendapat ganjaran yang mereka pantas dapatkan?

Mungkin inilah daya tarik dari Seagal. Dia adalah pahlawan laga penuh dendam. Misinya membalas dendam mempunyai daya tarik yang serupa dengan kelakuan Donald Trump. Ada rasa dendam dan benci terhadap dunia yang tidak mau mendengar dan mengikuti kemauannya, padahal Seagal sangat cerdas, pekerja keras dan toh tahu cara menciptakan keharmonisan. Semua pukulan karate dan pelintiran pergelangan tangan yang dilakukan Seagal merupakan bentuk balas dendam atas egonya yang terlukai. Moralitas, isu lingkungan dan filosofi First Nation (suku aboriginal Kanada)—yang menghiasi film-filmnya yang kacrut seperti hiasan kepala menghiasi festival-festival musik—hanyalah sebuah selubung yang menutupi raungan eksistensial Seagal tentang perilaku seorang pria. Mitos-mitos maskulinitas telah menjanjikan pria untuk dapat berlaku seperti ini, namun kompleksitas yang muncul ketika harus hidup berdampingan dengan manusia-manusia lainnya membuat hal semacam ini sulit terwujud.

Momen favorit saya dari semua film Seagal ada di film On Deadly Ground. Di film ini, Seagal berkelahi dengan para pekerja kilang minyak yang mengeroyok seorang pria First Nation yang sedang mabuk di sebuah bar (hebat ya kemampuan Seagal milih sekutu.) Setelah meluluhlantahkan gerombolan pekerja ini, Seagal memukuli pemimpin mereka. Dia berhenti sesaat dan bertanya kepadanya, "Apa yang dibutuhkan buat mengubah jati diri seseorang?"

Musuhnya yang bersimbah darah dan setengah sadar menjawab, "Waktu. Saya...saya butuh waktu untuk berubah."

Seagal kembali menjawab, "Saya juga."

Saya suka sekali bagian ini karena, satu, adegan itu absurd. Dua, karena ini adalah sebuah pertanyaan yang selalu saya tanyakan ke diri sendiri—apa yang dibutuhkan agar saya berubah? Menonton film-film Seagal membuat saya sadar betapa banyak kebencian yang telah merasuk ke diri saya, seberapa sering saya iri dengan teman yang sukses, seberapa banyak hari yang saya habiskan mengasihani diri sendiri karena saya tidak mendapatkan sesuatu yang saya pantas dapatkan. Saya cerdas dan pintar dan dunia itu bodoh karena tidak bisa melihat kejeniusan saya.

Saya takut memikirkan keinginan balas dendam yang kerap menempel ke rasa benci ini. Keinginan untuk menunjukkan ke orang-orang yang meragukan dan membenci anda bahwa mereka semua salah dan andalah yang akan tertawa terakhir. Inilah kenapa ego kita sangat berbahaya. Bahkan ketika anda benar, atau punya kemampuan, atau suci, tidak ada jaminan bahwa semua akan terjadi sesuai keinginan anda. Dan kemampuan anda menghadapi ekspektasi anda sendiri merupakan ujian sesungguhnya.

Apakah anda akan menuruti ego anda dan berharap roh balas dendam Seagal akan datang menghampiri atau akankah anda akan tetap sabar dan legowo? Belajar dari betapa mengerikannya dunia nyata dan ujung karir Seagal, opsi kedua adalah pilihan yang tepat. Untuk bisa mengubah jadi diri seseorang, dibutuhkan banyak waktu. Seperti seorang praktisi aikido, satu-satunya cara untuk mengubah jadi diri seseorang adalah untuk keluar dari dunia anda sendiri.

Follow Jordan Foisy di Twitter.