Travel

Berikut Panduan Menghina dan Ngajak Ribut Orang Dalam Sembilan Bahasa Asing

Rekan kantor redaksi VICE di seantero Eropa berbagi tips yang menarik soal linguistik makian. Misalnya pengin ngajak ribut orang Serbia, pakai saja hinaan soal meniduri keluarga mereka.

oleh VICE Staff
11 September 2018, 6:15am

Ilustrasi oleh Timo ter Braak. 

Tidak peduli berapa jam kamu habiskan buat latihan yoga dan bermeditasi, kadang satu-satunya cara memperbaiki emosi adalah mengumpat sampai puas. Ketika jari kelingking kaki enggak sengaja tersandung meja, ketika kemaluanmu tergores ritsleting celana, atau ketika kamu tak berdaya duduk dalam mobil akibat kemacetan yang parah, rasanya hanya ada satu solusinya: Mengumpat.

Kadang kita ingin menyalahkan orang lain atas nasib buruk kita, tapi kekerasan fisik bukanlah jawabannya. Kadang umpatan yang nyelekit bisa lebih menyakitkan.

Manusia dari bangsa manapun terbiasa mengumpat. Makian adalah satu dari sedikit hal yang mempersatukan kita semua sebagai manusia. Namun pastinya setiap negara memiliki metode mengumpat yang berbeda-beda.

Kami bertanya ke awak redaksi VICE di seantero Eropa tentang tradisi mereka mengumpat, mencaci dan menghujat satu sama lain. Nah, tiap editor biro akhirnya membuat rangkuman makian paling efektif untuk memancing emosi orang dari negara masing-masing. Lumayan, siapa tahu kalian pengin ngajak ribut orang Prancis, Serbia, atau Jerman di masa depan, pakai saja panduan yang kami susun. Minimal, artikel ini bisa menambah perbendaharaan makian kalian jadi lebih kaya dengan khazanah asing.

ITALIA

Hal paling menarik dari umpatan khas Italia adalah betapa kayanya kosakata mereka, sampai-sampai kamu bisa menyelesaikan percakapan dan langsung adu fisik cukup bermodal kata-kata kasar. Kata umpatan di Italia sebetulnya woles kok, biasanya dipakai sebagai kata seru atau kalimat seruan merangkap beberapa emosi yang berbeda: “cazzo” atau “minchia” (kontol), “merda” (tai), sampai “figa” (meki). Mulai dari kekecewaan, terkejut, hingga rasa puas bisa diekspresikan dengan makian berbasis alat vital. Kalau kamu berniat menghina, kebanyakan umpatan bahasa Italia ditujukan ke anggota keluarga: “figlio di puttana” (dasar anak perek) atau “mortacci tua” (mengejek anggota keluarga yang sudah meninggal).

Menghina Tuhan atau Bunda Maria juga sering sekali dilakukan, dengan cara memasangkan nama-nama suci tersebut bareng sama umpatan, nama keluarga lawan bicara, atau jenis binatang. Berbeda dari bentuk umpatan Italia lainnya, jenis cacian melibatkan Tuhan lebih rumit, terartikulasi, dan panjang—makin panjang, makin baik.

Namun, umpatan terbaik dalam bahasa Negeri Pizza datang dari kawasan tengah Italia: "Li mortacci tua, de tuo nonno, de tua madre e dei 3/4 daa palazzina tua," yang kurang lebih berarti, “Tunggu aja ntar gue ngentot sama keluarga elo, termasuk kakek elo, nyokap elo, dan sekalian semua tetangga elo juga.”

—Alice Rossi

Semua ilustrasi oleh Timo ter Braak

SERBIA

Serbia bukan negara terkaya di Eropa, tapi setidaknya bangsa ini tidak pernah kekurangan stok umpatan. Ahli bahasa Serbia, Vuk Karadzic, berjasa mereformasi bahasa Serbia dan menulis kamus dan mengalihbahasakan Perjanjian Baru dalam bahasa ini. Ia sekaligus orang pertama yang menyusun daftar semua kata umpatan rakyat Serbia.

Orang-orang terdekat kitalah yang biasanya menjadi obyek umpatan: keluarga, terutama ibu. “Jebem ti mater” atau “Gue ewe ntar nyokap elo” adalah rajanya semua umpatan. Sisanya merupakan derivasi dari makian soal meniduri ibumu. Banyak dari kata umpatan bangsa Serbia ada hubungannya sama vagina: “Pizda ti materina,” misalnya, yang diterjemahkan menjadi “Gue ewe memek busuk nyokap elo.” Variasi dari tema ini adalah “Gue ewe bayi elo dalam memek” dan “Biar anjing ngeewe nyokap elo.” Kalau kamu ingin menghina kejantanan seseorang, kamu harus menggunakan kalimat yang agak homofobik, “Elo tuh jijik sama meki dan doyan kontol.” Memanggil seseorang “toket bau” juga bisa digunakan.

Tapi kalau kamu ingin menghina dengan maksimal, kamu harus mencaci seluruh keluarga seseorang, “Gue ewe semua almarhum keluarga elo, anak-anak elo dan nenek moyang elo.” Versi lebih berkelas sedikitnya: “Gue ewe darah, benih, dan suku elo,” atau “Gue ewe semua orang di baris depan pemakaman elo.”

Yang lebih sopan tapi tetap efektif adalah “Gue berakin mulut elo” atau “Gue berakin punggung elo.” Namun satu umpatan paling luar biasa dalam bahasa kami adalah: “Gue ewe kontol elo dalam meki.” Banyak ahli sudah berusaha memahami apakah makian terakhir itu mungkin dilakukan di dunia nyata. Sampai sekarang belum ada yang bisa menemukan jawabannya.

—Magda Janjic

PRANCIS

Kata umpatan bangsa Prancis masa sekarang sudah tidak seseru zaman Abad Pertengahan. Di masa itu hingga Abad 18, semua orang mulai dari petani hingga aristokrat gemar meneriakkan kata-kata seperti “gourgandine” (pelacur), atau “sacrebleu,” yang sulit untuk diterjemahkan—karena makian tersebut adalah kata kuno dan kurang lebih artinya mirip sama frasa “Luka Tuhan” yang zaman dulu dianggap ofensif karena menistakan Kristus. Era pertengahan sangat seru, dan warga Prancis kerap meneriakkan kata “jean-foutre” ke satu sama lain, yang artinya kurang lebih “dasar hina lu.”


Tonton dokumenter VICE mengenai tradisi balas dendam berdarah antar keluarga di Serbia:


Orang Prancis modern rasanya sudah tidak terlalu kreatif ketika mengumpat. Mereka hanya menggunakan cercaan homofobik seperti “fiotte,” “tarlouze,” atau yang lebih basic seperti “connard” (brengsek), “pute” (perek), atau “salope” (jalang). Untungnya, orang Prancis masih menggunakan beberapa ekspresi yang lebih keren seperti “va te faire mettre”—yang apabila diterjemahkan berarti “sono entot diri elo sendiri” dan biasanya digunakan ketika kamu ingin mengusir orang.

—Julie Le Baron

RUMANIA

Budaya mengumpat di Rumania dibangun berdasarkan tiga pilar: seks oral, ibu, dan menghina Kristus. Kata umpatan paling umum di Rumania adalah “muie” yang kurang lebih diterjemahkan menjadi “sepong gue dong.” Kami juga menggunakan “kontol gue” untuk menekankan hal-hal dalam percakapan normal, sama seperti orang Polandia menggunakan “kurva” atau “perek.”

Kata umpatan paling kreatif di Rumania adalah "Să mă fut în mă-ta," yang artinya “Gue pengen ngentotin diri gue sendiri dalam nyokap elo.” Tidak heran kalau menurut statistik PornHub Rumania, “Ibu/nyokap” menjadi salah satu frasa paling sering dicari dalam situs tersebut.

Umpatan Rumania yang paling kontroversial melibatkan agama. Biarpun 81 persen warga Rumania mengaku sebagai Kristen-Ortodoks, kebanyakan orang tak ragu menggunakan umpatan "futu-ți Cristoșii și Dumnezeii mă-tii," yang diterjemahkan menjadi “Gue ewe semua Tuhan nyokap elo.” Itu bukan typo ya, tapi kalau diterjemahkan si tukang memaki bener-bener ngomong “semua Tuhan”. Plural.

—Mihai Popescu

BELANDA

Kontras dengan kebanyakan negara-negara Eropa timur dan selatan, mengejek ibu seseorang bukan hal yang menghina bagi orang Belanda. Bangsa kami memilih pendekatan yang lebih langsung, mendoakan berbagai macam penyakit mematikan menimpa sasaran cercaan. Dalam beberapa tahun terakhir, umpatan dan kata dianggap kasar melibatkan “klere” (kolera), “pest” (wabah pes), “tyfus,” “tering” (TBC), dan “pokke” (cacar air). Semua makian itu sangat populer.

Baru-baru ini, “kanker” (kanker) telah menjadi kata umpatan favorit di Belanda. Fenomena ini menjadi hal yang kontroversial, mengingat kanker adalah penyakit yang lebih mematikan sekarang dibanding pes. Kanker adalah kata umpatan yang serba guna, dan bisa digunakan ketika kamu tidak sengaja mengunci pintu rumah dan meninggalkan ponsel di dalam (“kanker!”), tapi juga bisa dikombinasikan dengan kata-kata lain. Pada lelaki yang kamu benci kamu bisa katakan “kankerlul” (kontol kanker lu) dan pada perempuan “kankerhoer” (dasar perek kanker).

Penyakit-penyakit ini juga bisa digunakan secara positif. Ketika kerjaan ga kelar-kelar, kamu bisa bilang “teringdruk” (duh sibuk banget kayak TBC). Sementara kalau kamu menikmati waktu dengan seseorang, kamu bisa bilang “kankergezellig” (seru kayak kanker).

—Twan Stoffels

AUSTRIA

Di Austria, ketika terjadi sesuatu yang membuat kami sangat kesal, kami akan berteriak “hure!” yang arti sebetulnya adalah perek tapi digunakan mirip dengan kata “ngentot.”

Kategori penting dalam umpatan Austria adalah penggunaan organ tubuh. Kadang kami memanggil orang sebagai “beidl”—yang artinya peler/penis—dan sama seperti banyak negara di dunia, kami mencerca orang dengan kata pantat dan lubang pantat (intinya: dasar brengsek lu).

Banyak penduduk Austria memanggil orang yang tidak mereka suka pakai “schwuchtel” atau “mongo”—umpatan untuk orang gay dan cacat. Tapi dua kata tadi juga bisa digunakan untuk berbagai situasi. Jahat bener yak? Kalau ketemu orang Austria, jangan lupa bilang: "Geh scheißen!" (Berak sono gih!)

—Markus Lust

DENMARK

Semua umpatan di Denmark tak jauh-jauh dari imajinasi dimangsa hal-hal yang mengerikan. Contohnya, "satanedme" (Setan memakan saya) atau "kraftedme" (kanker makan saya). Konyol ya kedengarannya. Misalkan kamu ditabrak seseorang pas sedang enak-enaknya jalan, dan buku kumpulan dongeng H.C. Andersen kesayanganmu sampai jatuh, kamu bisa mengumpat seperti ini: “Wah ini sih kebangetan, setan makan saya sampai habis.”

Yang lebih konyol lagi adalah kami punya sekumpulan umpatan menyedihkan disadur dari umpatan bahasa Inggris seperti yang kami temui di subtitle film. Yang termasuk umpatan jenis ini adalah "skidespræller" (shit wriggler), "kors i røven" (a cross up the ass), and "røvbanan" (ass banana). Sayangnya, umpatan-umpatan tersebut adalah padanan terdekat dalam bahasa Denmark untuk kata-kata macam “ngentot,” “tai,” dan “brengsek!”

Kami benar-benar butuh bantuan, Jadi, jika kalian yang hidup di luar Denmark dan kebetulan terbiasa mengumpat, tolong kirimi kami kata-kata umpatan yang lebih berkualitas. Bukan apa-apa sih, kami cuma khawatir anak-anak muda Denmark di masa mendatang malas berkreasi, lalu pilih menerjemahkan makian legendaris di film Die Hard line "Yippee ki-yay, motherfucker!" sebagai "Terimakasih dan sampai jumpa lagi, dasar brengsek.” Makanya, please tolong kami ya. Bangsa kami kekurangan makian berkualitas.

—Alfred Maddox

YUNANI

Bangsa Yunani dan umpatan memang berjodoh banget. Umpatan paling populer di Yunani adalah “malakas” yang bisa diartikan sebagai “wanker” alias tukang coli. Dalam pergaulan sehari-hari, ‘malakas” digunakan sebagai penggati kata “bro” atau “dude.” Umpatan agak lebih nyelekit dari malakas adalah “gue bokerin juga kuburan lo” yang harus digunakan dengan hati-hati, sebab salah-salah bisa memicu perkelahian.

Umpatan lain yang lazim diucapkan orang Yunani adalah “mendingan buat bayar dokter.” Konteksnya adalah saat kita mau beli sesuatu di toko tapi harganya kelewat mahal. Nah, dalam kondisi ini, si tukang memaki akan menghampiri pemilik toko—ideal kalau ada pengunjung lain—dan bilang kalau dia sebaiknya nabung buat bayar dokter supaya kegilaannya masang harga segitu tingginya sembuh kelak. “Na se pane tesseris" juga umum dilontarkan orang Yunani. Frasa ini agak susah diterjemahkan, tapi kurang lebih merujuk pada momen ketika jenazah kita dibaringkan di sebuah peti mati yang sedang ditandu menuju liang lahat. Gampangnya, ungkapan itu secara bebas diartikan sebagai “mati aja lo!”

Dan satu lagi, ada ungkapan dalam bahasa Yunani yang mungkin terasa pedas pada dekade ‘80an dan ‘90an. Ungkapan itu kira-kira berbunyi “semoga VCR-mu hangus terbakar.” Kalau kamu bertanya-tanya kenapa kalimat macam ini bisa jadi umpatan mematikan dua sampai tiga dekade lalu, kamu pasti enggak tahu semahal dan sekeren apa VCR di zaman itu.

—Pavlos Toubekis

JERMAN

Orang pasti menyangka kalau bahasa Jerman punya koleksi umpatan yang banyak, sebab suara penutur bahasa Jerman itu udah kayak orang marah-marah. Praktiknya enggak gitu kok. Dalam urusan umpat mengumpat, bahasa Jerman cenderung membosankan dan jinak. Bahkan, umpatan klasik bahasa kami saja terdengar seperti anak yang mau ngomong kasar tapi enggak tahu caranya. Contohnya “Dumme Kuh" (sapi goblok) atau "Pissnelke" (yang bisa diartikan sebagai dandelion atau cewek munafik yang membosankan), atau "Flachzange" (yang berarti pandir).

Dibanding bahasa lain, celaan bahasa Jerman lebih fokus pada kotoran tubuh dan pantat daripada aktivitas seksual. Umpatan pertama yang biasanya dipelajari orang asing dari budaya Jerman adalah "Scheiße" (tai) atau "Arschloch" (brengsek) yang juga lumayan populer.

Belakangan, umpatan-umpatan terbaik dalam bahasa Jerman diperkenalkan lewat musik rap lokal. Rapper-rapper memperkenalkan konsep saling meniduri ibu satu sama lain dengan umpatan macam "Hurensohn" (anak sundal) dan "Ich ficke deine Mutter" (gue entot nyokap lo). Mereka membawa umpatan sopan versi Jerman ke level yang lebih tinggi dengan frasa "Du Lauch!" (dasar daun bawang). Ya, daun bawang adalah ungkapan yang bikin kuping merah di negara kami. Jangan tanya kenapa.

—Barbara Dabrowska

SPANYOL

Sesudah Tuhan Yesus dilahirkan, Spanyol segera menjadi bangsa yang saleh. Jadi, tak aneh kalau makian dalam bahasa Spanyol berputar-putar di sekitar aktivitas mengencingi Tuhan, Yesus dan Bunda Maria, beserta rombongannya. Pokoknya yang menistakan agama lah. Sekarang sih, umpatan-umpatan macam ini mulai kurang populer di kalangan anak muda. Penduduk Spanyol sekarang sok politically correct. Cuma kalau kamu beruntung, kami masih bisa mendengar orang-orang tua mengumpat "Me cago en la puta madre de Jesús, en su padre, y en toda su jodida corte celestial" (Gue beraki ibu sundal Yesus, ayahnya dan rombongan mereka di surga). Saya malah masih ingat kakek pernah memaki, "Me cago en su corazón" (gue beraki hati suci tak bernoda itu). Sampai sekarang, kenangan mendengar kakek memaki kayak gitu masih bikin saya ciut.

Pendeknya, kalau kamu ingin memaki dalam bahasa Spanyol, kamu harus memberaki atau berak di dekat sosok-sosok suci dalam tradisi agama Nasrani. Semoga bermanfaat!

—Juanjo VIllalba