Musik

Menyelami Alasan Bars of Death Bubar Jauh Sebelum Merilis Kandidat Album Terbaik 2020

'Morbid Funk' menawarkan berbagai gagasan segar di kancah hip hop Indonesia, setelah Homicide masuk liang kubur. Kenapa kolektif menjanjikan ini langsung bubar (lagi)?
12 Mei 2020, 7:37am
Bars of Death album Morbid Funk album terbaik indonesia 2020
Tiga personel Bars of Death, kolektif hip hop asal Bandung. Foto dari arsip Grimloc Records

Lewat album Morbid Funk, grup hip hop asal Bandung Bars of Death meramu sound boom bap klasik dengan lirik kombinasi nostalgia, kontemplasi kehidupan, serta komentar sosial-politik yang mengingatkan kita pada kiprah dua personelnya di era Homicide yang bubar lebih dari satu dekade lalu. Pertanyaannya, apakah Morbid Funk menawarkan gagasan yang baru, atau ini sekedar proyek reuni Homicide dengan tajuk berbeda?

Kita bisa bilang, untungnya, ini bukan sekadar upaya Herry 'Morgue Vanguard' Sutresna dan Aszy 'Sarkasz' Syamfizie memoles kenangan penggemar mereka. Morbid Funk, berisi 9 track dan 1 remix yang pengerjaaannya dibantu Ridwan Gunawan a.k.a DJ Evil Cutz, menghadirkan turntablism, dekonstruksi soundtrack film lawas, ambient dan sampel lintas genre yang menawan. Semuanya dibalut rima kaya referensi—dari musik, politik, sastra dan lainnya—yang meloncat secara lincah antar periode waktu dan batasan geografis, mengharuskan pendengar untuk memasang telinga baik-baik agar tidak melewatkan detail narasinya.

Banyak dari elemen tersebut memang juga ditemukan di diskografi Homicide terdahulu, namun sejak track pembuka “Boombap Kanuragan” bergema hingga scratching keren menutup nomor Radio Raheem (remix) yang perlahan-lahan fade out, Morbid Funk terasa menyenangkan, sebuah kata yang mungkin tidak akan saya sematkan ke materi-materi Homicide.

Entah itu breakdown “Radio Raheem” berisikan liukan suling yang membuatmu ingin bergoyang, atau cuplikan audio Snoop Dogg mengolok-olok mumble rap di nomor “DJ Nazqul Dan Dansa Lidah Api” yang ditutup dengan Bars of Death tertawa-tawa saat menggunakan fitur autotune tanpa musik, atau skit lucu interogasi polisi blo'on terhada[ anak “anarco” (yang ajaibnya tempo hari jadi kenyataan). Ada banyak momen di Morbid Funk yang membuat pendengar tersenyum, bahkan tertawa. Di titik ini jelas, Bars of Death tidak berusaha selalu serius seperti Homicide.

Di departemen lirik, beberapa sisipan bumbu referensi kultur pop yang tersebar menggelitik dan efektif. Di nomor “Buckshot Riddim (feat. Blakumuh)” MC tamu Mr.EP berucap, “ Ini bukan Jaka Sembung Barry Prima rima / tapi episode Johnny Indo flow dengan gada Bima” sebelum ditutup oleh Morgue Vanguard di nomor yang sama, “kami fatbeats kolesterol, kalian hiphop sakarin / kami graffiti Banksy, kalian Instagram Awkarin.”

Di luar itu, diskusi sosial-politik khas Morgue Vanguard masih menjadi tema sentral Morbid Funk. "A.C.A.G", single pertama album yang sudah dirilis pada 2014 lewat kompilasi Memobilisasi Kemuakan, merupakan kritik keras terhadap aparat polisi yang melanggengkan kepentingan korporat di atas kepentingan rakyat dan seringkali menggunakan kekerasan. “Kredo agama komando dan lencana, pseudo bhayangkara, moral berseragam dengan tarif sesuai selera / serupa pabrik romusha yang membutuhkan centeng, demokrasi berada di tangan kami yang menggenggam beceng.”

Kemuakan Bars of Death terhadap aparat juga ditarik meluas ke tingkat negara dan kredo-kredo nasionalisme yang kerap digunakan sebagai alat untuk membenarkan kebijakan yang menguntungkan pihak tertentu lewat nomor berjudul tegas "Tak Ada Garuda Di Dadaku". Di bait pertama, Morgue Vanguard lantang berucap, “Di bawah pekik NKRI harga mati / Kami sebangsa bermarga di hadapan dampak inflasi”.

Tidak mau kalah, Sarkasz menutup bait kedua secara ganas, menghantam konsep nasionalisme, teroris berkedok agama, kapitalisme dan militerisme Indonesia dengan satu tarikan nafas, “Tak ada yang lebih idiot dari seorang die-hard patriot / Dengan level delusi paralel mereka yang meledakan Marriot / Sehingga sila lima tak berlaku bagi penghuni dasar piramid / Tanpa Hankam takkan ada bisnis beceng dan pasar dinamit / Tak ada anggaran militer tanpa isu ancaman palu arit / Kemanusiaan yang adil dan beradab di bawah bedil dan profit.

Morgue Vanguard, Sarkasz, dan DJ Evil Cutz, adalah nama-nama orang lama di kancah musik independen. Kolaborasi mereka bertiga tetap bertaji, menawarkan kesegaran yang bisa dinikmati penggemar musik berbagai generasi. Tidak terlalu prematur untuk bilang Morbid Funk merupakan salah satu kandidat album Indonesia terbaik 2020.

Menariknya menurut Morgue Vanguard, yang di keseharian lebih sering disapa Ucok, Morbid Funk hampir batal dirilis, dan proyek Bars of Death sebetulnya sudah usai jauh sebelum albumnya kelar. Untuk mendapat kejelasan, kami ngobrol bareng Ucok, memahami motivasinya memulai Bars of Death, bagaimana dia sebagai musisi menyiasati ekonomi yang lesu akibat pandemi corona, dan musik-musik baru yang menginspirasinya.

VICE: Bars of Death berisi orang-orang yang sama dengan Homicide. Gimana cara elo ngebedain pendekatan artistiknya?
Morgue Vanguard: Niatan awalnya itu bukan reuni Homicide. Pas gue sama Aszy (Sarkasz) sama si Iwan (Evil Cutz) ketemu lagi itu emang pengin bikin sesuatu yang baru, petualangan baru. Implikasinya cukup serius. Karena kita udah enggak peduli lagi dengan Homicide, sebetulnya. Jadi proses kreatif segalanya macemnya kita awali lagi, seolah kita bukan siapa-siapa. Dari situ semuanya beda, termasuk dalam hal musik. Gue yang nulis 99 persen musik di Morbid Funk udah enggak mikirin [karakter] Homicide sama sekali ketika menulis. Kalau ada yang tetap [terasa] Homicide, bisa jadi karena ada hal-hal bawah sadar gue secara estetika masuk ke sana, namanya juga orang yang sama yang bikin.

Single pertama "A.C.A.G" dirilis lima tahun lalu, tapi album Morbid Funk baru dirilis tahun ini. Apa yang bikin produksinya lama?
Kita itu ketemuan 2011, manggung-manggung, terus 2013 mulai niat bikin proyek. Materi-materi itu mulai jadi 2014. Nah [kompilasi] Memobilisasi Kemuakan [rilis] 2014. Gue inget karena itu pemilu pertama copras capres Prabowo-Jokowi. Dari situ kita bikin materi terus, seiring waktu. Seperti biasa, yang bikin lama si Aszy. Ternyata susah luar biasa buat dia bikin materi baru. Untuk nge-take, eksperimen lirik, dia lama banget. Ngilang dulu segala macam. Itu alasan lebih banyak single-single Bars of Death yang kita keluarin. Ada kompilasi kita masukkin, gitu. Sebenarnya materinya sudah kelar beberapa, tinggal sikat aja. Jadi sama ketika Homicide dulu, pada akhirnya cuma gua doang sama Iwan, karena Aszynya tengah jalan kumat. Intinya gitu sih.

Situasi swakarantina akibat pandemi corona berpengaruh pada kehidupan banyak orang, termasuk seniman. Gimana dampaknya ke elo sebagai musisi sekaligus pemilik label rekaman [Grimloc Records], dan teman-teman komunitas kreatif Bandung?
Mungkin kota lain lebih parah dari Bandung, atau Bandung lebih parah dari kota lain. Ada beberapa proyek yang lagi proses kemudian tertunda. Bahkan ada yang baru mau mulai akhirnya ditunda sampai tahun depan. Grimloc sejak April udah tutup, jadi cuman online order doang dan dikirim seminggu sekali. Itu berpengaruh signifikan.

Kalau proses kreatif ada beberapa band yang lagi rekaman, kayak Taring itu sebetulnya tinggal vokal sama bass. Jadinya harus nunggu, belum bisa nerusin rekaman. Albumnya Eyefeelsix udah berapa persen, kemudian ditunda juga. Karena pada kerja di rumah, alat-alat pada dibawain pulang. Studio enggak bisa dipake untuk sementara. Kita masih beradaptasi, ke depannya jadi semacam new normal. Kita lagi nyiasatin bakal seperti apa nih, termasuk dalam hal produktivitas. Ngeri juga soalnya. Ada beberapa proyek yang gue cancel. Dengan kondisi sekarang proses produksinya vinyl Mesin Tempur enggak memungkinkan banget dengan dollar dan Pound Sterling hampir Rp20 ribu. Udah gak make sense, nanti datang barangnya, terus harus jual berapa? Dengan harga normal aja gue enggak tau bisa ngejual atau enggak di tengah resesi seperti sekarang. Apalagi dengan harga yang dinaikin lagi karena proses produksinya naik. Gila juga.

Apakah Bars of Death bakal ada kelanjutannya? Abis ini elo mau ngapain lagi nih?
Sebenernya proyeknya udah kelar sih. Bars of Death sudah berhenti di 2018. Gue berhentiin karena gak beres-beres gitu. Dan awalnya juga itu album gak akan gue rilis. Ya udahlah, gue simpen aja gitu. Tapi kemudian belakangan diskusi sama Iwan ya udah kita rilis aja seadanya, gak nambah track. Kemudian dimixing aja. Akhirnya kita rilis gitu aja. Proyeknya tapi udah selesai di 2018. Semenjak Aszy ngilang, udah gue berhentiin. Jadi whats next buat Bars of Death ya enggak ada. Itu juga gue rilis cuman buat pengarsipan aja. Gue udah balik fokus ke hal-hal lain. Meskipun kayaknya masih lama. Gue dari dulu nyicil buat album solo, tapi kayaknya ke-pending. Kayak gue baru beresin tiga lagu terus tiba-tiba mood berubah, malas nerusin. Paling yang lagi gue kerjain itu proyek band. Gue bikin unit punk sama beberapa teman dari band-band bandung juga. Kemaren udah nulis delapan lagu, udah tinggal masuk studio. Tapi keburu pandemi, jadi harus di-hold.

Musik baru yang sekarang lagi elo dengerin apa Cok? Apakah masih banyak musik dari generasi yang lebih muda tetap meng-influence elo dalam berkarya hingga sekarang?
Selalu sih kalau perkara itu. Gue selalu mengupayakan diri gue terbuka untuk inspirasi baru, gak peduli datangnya dari mana. Termasuk dalam hal hip-hop. Bukan alasan juga kalo gue cuman dengerin yang lama doang, karena yang baru juga banyak yang bagus. Tergantung memang yang barunya itu punya progress seperti apa, kayak gitu sebenarnya. Kadang orang-orang suka ketuker antara perkara old school vs new school. Yang bagus old school, kalo new school gak bagus. Itu cuma perkara tentang waktu.

Ada anak-anak baru yang mainin musik-musik estetika boom bap old school, dan belum tentu bagus juga. Malah ada yang beberapa meski rootsnya boom bap tapi udah sama sekali baru, enggak kayak dulu. Misalnya Eto. Eto itu bagus banget, apalagi yang kemaren kolab sama DJ Muggs. Secara musikal banyak juga yang rootsnya boom bap lama tapi eksperimentasi dengan sedemikian rupa. Yang terakhir gue dengerin itu Dueling Experts. Itu anak-anak baru 2010'an, dan buat gue unik banget. Mereka mainin corak boom bap kayak WuTang tapi teksturnya raw banget, kayak dari kaset. Luar biasa lah. Bahkan ketika jaman dulu pun belum ada yang bikin kayak gitu. Intinya gue dengerin juga yang baru-baru. Banyak malah.

Adakah perubahan yang elo usung ke Bars of Death? Dari sisi lirik, sepertinya masih enggak beda jauh dengan Homicide. Ironisnya setelah satu dekade, lirik-lirik Homicide masih terasa relevan. Elo merasa itu problem?
Progresnya buat gue pribadi adalah ngubah flow, terutama yang signifikan sih flow. Kalo dari lirik iya sih, gak terlalu banyak gimana-gimana, tapi apa namanya, secara teknikal aja beberapa hal yang berubah. Kayak permainan word play, multi-silabel dan lain sebagainya. Gitu juga dengan si Aszy. Tapi flow dia tetap sama. Tapi kalo ngomongin relevansi lirik sih, itu sial. Buat gue ngeliatnya, kalau sesuatu hal yang kita kritik di 2000an dan 90an akhir masih relevan sampai sekarang, artinya ada yang gak beres dari dulu, enggak berubah-ubah. Menunjukkan betapa sialnya kita di Indonesia sih sebenarnya.


Morbid Funk bisa dibeli online via Grimloc Records

Wawancara ini telah disunting agar lebih ringkas