sains dan teknologi

Matahari Diyakini Sebagian Ilmuwan Cuma Hibernasi, Kalau Bangun Memicu Kiamat

Para ilmuwan mendeteksi Suar Matahari kelas M terkuat dalam tiga tahun terakhir. Bumi berpotensi mengalami badai matahari jika Matahari aktif kembali. Jadi inget film 'Knowing'.
03 Juni 2020, 6:43am
Suar Matahari pada 28 Mei (kiri atas). Gambar: NASA/Solar Dynamics Observatory/Joy Ng
Suar Matahari pada 28 Mei (kiri atas). Gambar: NASA/Solar Dynamics Observatory/Joy Ng

Matahari baru saja mengeluarkan solar flare atau suar terbesar sejak 2017, menandakan bintang di pusat tata surya ini akan bangun dari fase kurang aktif. Walaupun Suar Matahari meletus di sisi berlawanan Bumi, Solar Dynamics Observatory NASA berhasil mendeteksi pancarannya dari atas permukaan Matahari (bisa dilihat di bagian kiri atas gambar sampul).

Suar Matahari adalah ledakan tiba-tiba yang terjadi di Matahari, dan terkadang muncul bersamaan dengan lengkungan plasma panas. Kilatan ini biasanya muncul di area yang sama dengan bintik Matahari, atau bercak gelap dari permukaan Matahari yang lebih dingin.

Matahari memiliki siklus yang berlangsung sekitar 11 tahun dan dihitung berdasarkan jumlah bintik yang tampak di permukaan. Matahari berada dalam kondisi aktif jika menunjukkan banyak bintik dalam satu siklus, dan sedang hibernasi jika tidak ada bintik Matahari yang tampak. Siklus terakhir dimulai pada 2008, dan menghasilkan badai Matahari besar pada 2012.

Aurora Borealis (Northern Lights) dan Australis (Southern Lights) bisa muncul karena badai Matahari. Limpahan partikel bermuatan dari Matahari yang sangat aktif akan menerangi langit.

Namun, insiden masa lalu menunjukkan suar dan ejeksi sangat hebat—yang meledakkan gelombang sinar-X dan radiasi UV kuat—dapat merusak sistem satelit dan menyebabkan kegagalan energi di Bumi. Contohnya seperti pemadaman massal yang terjadi di Québec pada Maret 1989.

Bumi cukup beruntung bisa keluar dari “garis api” pada badai Matahari 2012, tapi para ilmuwan melihat ini sebagai peringatan apa yang mungkin terjadi jika badai Matahari menghantam planet di masa depan—termasuk Solar Cycle 25.

Matahari sudah tahunan hibernasi, dan ledakan tersebut mungkin menunjukkan kebangkitannya. Matahari akan melontarkan partikel dan radiasi berbahaya jika aktif kembali. Ledakan yang terjadi pada 29 Mei masuk kategori kelas M (M-flare). Itu berarti ledakannya bersifat sedang dan tidak menimbulkan risiko besar bagi Bumi jika dihantam. Suar Matahari kelas X (X-flare) adalah jenis paling kuat. Sudah dua tahun X-flare atau M-flare terdeteksi.

Matahari mengalami dua masa aktif—dikenal sebagai solar maximum—pada 2011 dan 2014, sebelum akhirnya tidak menunjukkan bintik sama sekali. Mengingat siklus ini dimulai pada 2008, M-flare terbaru menandakan Matahari sesuai dengan jadwal siklus 11 tahunnya.

Dengan demikian, belum bisa disimpulkan Matahari sudah bangun karena solar minimumnya adalah titik terendah absolut bintik Matahari dalam siklus. Menurut NASA, para ilmuwan harus terlebih dulu membuktikan bintik Matahari bertambah banyak selama beberapa bulan ke depan sebelum dapat mengidentifikasi kapan solar minimum terjadi.

Meski bisa merusak infrastruktur, perkiraan terjadi badai Matahari pada dekade berikutnya relatif rendah, berkisar antara satu hingga 10 persen. Jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkan ini.

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard