Pengakuan Palang Hitam, perawat RSPI, dan Pengurus Jasad Pasien Corona di Jakarta
Proses pemakaman jenazah pasien terduga corona di TPU Tegal Alur, Jakarta Barat. Semua foto oleh Muhammad Ishomuddin/VICE
Melawan Pandemi

'Kami Lebih Dekat Dengan yang Mati': Kisah Palang Hitam & Pengurus Jasad Pasien Corona

VICE mengikuti pengemudi mobil jenazah hingga petugas pemakaman umum sepekan terakhir. Mereka tetap di garis depan, ogah berlutut di hadapan salah satu pandemi terburuk dalam sejarah Indonesia.
07 April 2020, 10:30am

Artikel ini adalah bagian pertama liputan VICE tentang pejuang di garis depan pandemi corona dari sudut pandang Palang Hitam dan pekerja TPU Tegal Alur. Cerita kedua menyorot perjuangan perawat di RSPI Sulianto Saroso.


Kesehatan Maruf bin Khasan tiba-tiba anjlok, Sabtu sore di penghujung Maret lalu. Pria 63 tahun tersebut mengeluh sakit pada dada, lantas kesulitan bernapas. Putranya yang berusia 30 tahun, Satria, bergegas memesan taksi, membawa bapaknya ke Rumah Sakit Hermina Daan Mogot, Jakarta Barat.

Maruf mendapat pertolongan pertama di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD). Berdasarkan pemeriksaan awal, kondisi Maruf menunjukkan gejala pneumonia. Dari riwayat kesehatannya, Maruf punya masalah paru-paru sejak lama, dan sempat beberapa kali menjalani rawat inap.

Sesak napas adalah gejala umum ketika seseorang terjangkit Covid-19. Dalam kasus parah dan tanpa penanganan, sesak nafas tersebut bisa berujung pada hypoxemia (kadar oksigen rendah dalam darah) dan yang terburuk kematian. Dalam kasus hypoxemia, paru-paru terlalu lemah untuk berfungsi normal. Manusia biasanya menggunakan otot perut untuk mengambil oksigen. Ketika asupan oksigen kelewat rendah, hasilnya adalah bibir dan kulit membiru, seperti yang dialami Maruf.

Dia kemudian menjalani rawat inap dan berstatus pasien dalam pengawasan (PDP). Selang oksigen terpasang di hidungnya. Antibiotik diinjeksi dalam darahnya. Kondisi Maruf tetap memburuk. Dua hari setelah dirawat inap, pada Senin sekira pukul 16:00, Maruf mengembuskan napas terakhir. Dia meninggal tanpa pernah menjalani tes virus corona.

"Bapak memang sudah lama punya sakit paru-paru," kata Satria kepada VICE. "Sampai sekarang kami tidak tahu apakah kematiannya disebabkan coronavirus atau penyakit bawaannya."

1586255193832-DSC01601

Jenazah terduga pasien corona pun harus tetap dibungkus plastik berlapis.

Karena memiliki gejala terinfeksi virus corona, jenazah Maruf harus ditangani dengan protokol penanganan standar terduga Covid-19. Jasadnya dibungkus plastik sebelum dimasukkan ke dalam peti yang dilapisi kantongtambahan di bagian dalam. Peti tersebut kemudian dibungkus berlapis-lapis plastik lagi.

Penanganan jenazah dengan protokol Covid-19 tersebut begitu cepat hingga Satria dan keluarganya tak sempat memandikan, mengafani, atau mengantarnya ke peristirahatan terakhir. Ketika Satria tengah mengurus semua dokumen kematian yang dibutuhkan, ambulans bergegas membawa jenazah ayahnya ke pemakaman umum.

"Bahkan buat sekedar berpamitan atau mendoakan di sampingnya pun tak sempat," kata Satria dengan nada bicara bergetar. "Kami tak pernah menduga bapak akan pergi seperti ini."

Dengan langkah kaki gontai Sofyan menuruni tangga yang menghubungkan kantor Pelayanan Mobil Jenazah di Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta dengan tempat parkir mobil. Sedikit enggan dia menyeret sepatu bot kuningnya.

Tangan kirinya membawa setumpuk dokumen, sementara tangan kanan menggenggam nasi bungkus dan air mineral. Hari juga belum beranjak siang, tapi masker N95 dan penutup rambut yang dikenakan tak bisa menyembunyikan wajah letihnya. Seragam hitam berkelir oranyenya lusuh. Keringat mengucur deras.

"Ini mau menjemput jenazah lagi. Sudah ditungguin," kata Sofyan sambil berjalan menuju mobil jenazah putih keluaran Hyundai milik Pemprov DKI. "Ini baru yang kedua. Mau makan sebentar pun enggak bisa. Jadi sambil nyetir nanti."

Sofyan adalah pengemudi mobil jenazah di bagian Pemulasaraan dan Pemakaman, biasa disebut Palang Hitam. Sudah lebih dari satu dekade dia menggeluti profesi tersebut. Selain Sofyan, 48 orang lain di kantornya kini bekerja nyaris nonstop saban hari.

Ruang kantor itu cuma berukuran 6x7 meter. Terletak terpisah di bagian depan gedung utama. Cuma ada tiga meja besar dan tiga kursi panjang di kantor itu. Beberapa karton berisi alat pelindung diri (APD) seperti masker, penutup kepala, dan sarung tangan tertumpuk di sudut kiri. Sementara dokumen pemakaman berserakan di meja kayu utama. Telepon berdering dalam interval berdekatan sepanjang hari. Isi percakapannya sama: meminta pelayanan pemulasaraan jenazah.

Palang Hitam, konon, telah ada sejak masa kolonial Belanda dalam bentuk organisasi swasta. Di masa Gubernur Ali Sadikin, Palang Hitam diambil alih oleh Pemprov DKI Jakarta hingga sekarang.

1586254797740-DSC01805

Sofyan bersiap sebelum menjemput jenazah lain yang diduga meninggal akibat virus corona.

Palang Hitam memberi pelayanan pemulasaraan jenazah gratis kepada masyarakat. Mereka mengurus segala jenis kematian; korban pembunuhan, kecelakaan, meninggal karena sakit, hingga mayat tak dikenal. Mereka bertugas memandikan, mengafani, hingga mengantar ke pemakaman.

Sejak pandemi corona merebak di DKI Jakarta pada awal Maret, tangan Sofyan seolah tak pernah lepas dari kemudi. Dalam sehari dia bisa membawa 6-8 jenazah dari rumah sakit ke pemakaman. Itu sebuah lonjakan signifikan dari hari-hari biasa sebelum pandemi. Tak jarang dia pulang tengah malam, sebelum kembali bertugas keesokan harinya. Liburnya cuma sehari dengan upah standar UMR plus tunjangan.

Sofyan terbiasa menginjak pedal gas dan memacu mobil jenazahnya. Dia harus berpacu dengan waktu sebab sesuai protokol Covid-19, jenazah wajib dikuburkan dalam kurun empat jam. Jenazah-jenazah tersebut dibawa ke dua pemakaman umum khusus pasien positif/suspek coronavirus: TPU Tegal Alur, Kalideres, Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur.

"Sekali memulasara jenazah bisa memakan waktu hingga empat jam, itu mulai dari jalan, di rumah sakit, sampai ke pemakaman. Kita butuh cepat kalau mengurus jenazah standar coronavirus, jadi tak ada waktu terbuang. Hidup saya di jalanan sekarang," kata Sofyan.



Dalam konferensi pers akhir Maret, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan pemprov telah memakamkan 283 jenazah dengan protokol Covid-19, bagi mereka yang positif maupun baru terduga selama kurun 6 Maret hingga 29 Maret. Sementara hingga 6 April, jumlah kasus positif coronavirus di DKI Jakarta mencapai 1,151 orang. Dengan 123 pasien positif meninggal dunia dan 64 pasien sembuh. Rata-rata angka kematian di DKI Jakarta adalah 10,68 persen, tertinggi se-Asia Tenggara.

Permintaan terhadap peti jenazah juga seturut tingginya angka pemakaman berprotokol Covid-19. Tri Nurcahya, salah seorang petugas pemulasaraan yang tengah sibuk membuat peti jenazah, mengatakan sepanjang hari pihaknya bisa membuat lebih dari 30 peti, tanpa hari libur. Permintaan begitu tinggi sampai mereka sempat kehabisan penutup peti jenazah. Peti terbuat dari kayu cor yang mudah lapuk dan dicat coklat. Bagian dalamnya dilapisi lembaran nylon berwarna oranye yang jamak dipakai sebagai kantong jenazah.

1586254837876-DSC01843

Tumpukan peti mati yang disiapkan pemprov DKI untuk jenazah pasien corona.

"Kami masih ada stok dua lusin di gudang belakang. Tapi tak sampai minggu depan stok sudah pasti habis," kata Tri. "Kami sudah meminta ke dinas [pertamanan dan kehutanan] untuk menambah bahan baku."

Pada 28 Maret, Anies mengirim surat permohonan untuk menerapkan karantina wilayah kepada pemerintah pusat, sebab pergerakan masyarakat keluar-masuk Jakarta berpotensi memperburuk pandemi. Setelah maju mundur, pemerintah pusat, lewat Kementerian Kesehatan, akhirnya menyetujui pembatasan sosial skala besar (PSBB) di Ibu Kota, mulai 7 April 2020.

Bagi para petugas pemulasaraan seperti Sofyan, beleid pemerintah tak mengubah apapun. Risikonya terpapar corona terus mengancam sekalipun pembatasan sosial diterapkan. Kendati dilengkapi dengan APD dan standar ketat dalam penanganan jenazah dalam tugas sehari-hari selama pandemi, Sofyan selalu dihinggapi rasa takut.

Ketakutan itu beralasan. Pertempuran di garis depan melawan pandemi corona kadung makan korban. Ketika artikel ini dilansir, Ikatan Dokter Indonesia menyatakan 19 dokter dari berbagai kota meninggal akibat tertular Covid-19, sementara enam perawat turut mengembuskan napas terakhirnya selama merawat pasien corona. Presiden Joko Widodo menuntut kementerian kesehatan memastikan keselamatan tenaga medis di garis depan. Untuk yang gugur, pemerintah berjanji memberi santunan Rp15 juta hingga Rp7,5 juta.

1586255081624-DSC01559

petugas TPU Tegal Alur kini harus selalu disemprot disinfektan setelah bertugas dan berganti baju baru.

"Di saat orang seharusnya [menerapkan] social distancing seperti ini, kami lebih dekat dengan yang mati daripada yang hidup," kata Sofyan, yang menilai uang santunan berapapun tak ada artinya ketika dia harus masuk kubur. "Risikonya tetap sama."

Dia membuka pintu mobil jenazah, meletakkan dokumen dan nasi bungkusnya di kursi sebelah, sebelum meluncur menembus jalanan yang lengang, kembali menjemput jenazah lainnya.

Di TPU Tegal Alur, mobil jenazah lalu lalang dalam jeda relatif pendek. Asep, seorang penggali kubur, bersama lima rekannya selalu bersiap setiap waktu. Lokasi pemakaman coronavirus terletak cukup jauh dari kompleks pemakaman umum, di sebuah lahan sekira satu hektar. Pihak TPU Tegal Alur sempat mendapat penolakan dari warga sekitar. Padahal, mereka telah memenuhi standar pemakaman yang berjarak minimal 500 meter dari permukiman.

Eskavator berwarna biru terus menggali tanah. Pukul 1 siang, sudah ada 10 lubang tergali. Dalam sehari Asep dan kawan-kawannya bisa mengubur satu lusin jenazah. Hari itu ada 56 makam di lahan itu, hampir semuanya tak memiliki nisan atau sekedar papan pengenal. Asep mengatakan meski tak ada nisan atau pengenal, pihaknya memiliki catatan nama jenazah dan letak makam. "Kalau enggak dicatat, nanti keluarga bisa keliru mendatangi makam," kata Asep

1586255250502-DSC01792

Keluarga mendiang pasien corona hanya bisa berfoto di sekitar pusara, setelah jenazah orang yang mereka cintai selesai dikuburkan.

Siang itu sebuah mobil jenazah mendekat ke areal pemakaman. Asep dan keempat rekannya bersiap mengenakan setelan APD lengkap berwarna putih. Jika APD habis mereka kadang memakai jas hujan plastik tipis. Sejurus kemudian seorang petugas desinfektan menyemprot seluruh tubuh mereka.

"Kami menggunakan pemutih baju Bayclin atau karbol lantai buat desinfektan," kata Asep, saat ditanya kandungan desinfektan yang dipakai. "Yang dikasih dinas kadang cepat habis."

Keempat rekan Asep dengan sigap mengeluarkan peti jenazah dari mobil. Peti tersebut dilapisi plastik. Hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk menguburkan. Tak ada keluarga yang mendampingi jenazah. "Ini pemakaman yang sepi," kata Asep.

Sesaat kemudian telepon genggamnya berdering. "Wah, enggak bisa bos, udah penuh hari ini," Asep menjawab suara di ujung telepon. "Kan lu tahu sendiri. Paling entar malam bisa."



Sebanyak 40 penggali kubur yang dibagi dalam delapan tim di TPU Tegal Alur—yang memiliki luas sekitar 50 hektar. Mereka menggali siang-malam sejak 20 Maret, ketika korban meninggal terus bertambah. Lahan khusus coronavirus pun semakin menyempit. Di lahan yang kini dipakai, Asep memprediksi bakal habis sebelum akhir April. Pihaknya kini tengah mencari lahan lain. "Kami masih menunggu arahan dari dinas pemakaman," kata Asep yang telah bekerja sebagai penggali kubur sejak 2010.

Saat sore menjelang, Satria datang ke TPU Tegal Alur menggunakan sepeda motor bebek, mencari kuburan ayahnya, Maruf bin Khasan. Setelah berbicara dengan Asep sebentar, Satria menuju pusara bapaknya yang belum diberi nisan. Badannya juga disemprot desinfektan. Satria sejenak mengambil gambar di ponselnya, kemudian khusyuk berdoa.

Sejak wabah merebak, kerumunan orang sangat dibatasi, termasuk ibadah. Banyak jenazah berprotokol Covid-19 yang dikubur tanpa didampingi keluarga, sebagaimana umumnya. Itu juga berarti Satria dan keluarganya tak bisa menggelar upacara pemakaman ataupun tahlilan selama tujuh hari, seperti tradisi yang jamak di masyarakat.

"Mungkin nanti setelah pandemi selesai kami akan menggelar tahlilan di rumah," kata Satria. "Sementara kami hanya bisa mengirim doa."