Iklan
Lingkungan

Eksperimen Berusaha Enggak Nyampah Selama Seminggu, Bikin Aku Malu Jadi Manusia Modern

Aku bikin eksperimen puasa begini supaya siap menghadapi larangan pakai plastik sekali pakai di Jakarta yang berlaku Juli 2020. Kayaknya emang kita harus dipaksa biar bisa berubah demi lingkungan.

oleh Vania Evan
07 Februari 2020, 9:43am

Tiap beli gorengan harus ngingetin abangnya supaya ga pakai kantong plastik sekali pakai. Semua foto oleh Firman Dicho Rivan. 

Kantong plastik jadi momok menakutkan bagi pemerhati lingkungan—dan seharusnya bagi kita semua—lantaran memakan waktu satu abad untuk sepenuhnya terurai ini. Maka bisa dipahami, ketika tak lama lagi plastik sekali pakai akan dilarang penggunaannya oleh Pemprov DKI Jakarta.

Ini bukan kali pertama inisiatif serupa diluncurkan. Awal 2019, sempat ada inisiatif kantong plastik berbayar di sejumlah ritel minimarket yang tergabung dalam Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia. Beberapa toko tersebut di antaranya adalah Alfamart, Ramayana, SuperIndo, LotteMart, Alfamidi, dan beberapa lainnya yang tergabung dalam asosiasi yang sama.

Dengan dibebani biaya tambahan Rp200, kantong plastik sekali pakai dijadikan sebuah opsi setelah beberapa dekade dijadikan default setiap kali ada transaksi di minimarket. Sayangnya peraturan tersebut lebih layak disebut imbauan. Petugas-petugas di belakang kasir sejumlah toko ritel minimarket besar di Jakarta tanpa berpikir panjang mengeluarkan kantong plastik sekali pakai, seakan-akan sudah terprogram demikian.

Memang sih, di kantong plastik itu tercetak simbol pertanda bahwa plastik tersebut mampu terbiodegradasi. Realitasnya, penelitian membuktikan plastik yang katanya mampu terurai secara alami itu masih utuh setelah tiga tahun. Lebih parah lagi, plastik macam itu masih menyimpan bahaya untuk lautan.

Berbekal semua pengalaman tersebut, reaksi pertama saya mengetahui pelarangan plastik sekali pakai yang digagas oleh Pemprov DKI Jakarta adalah skeptis. Apakah yang kali ini juga akan jadi sebatas imbauan saja, seperti yang sudah-sudah?

Tternyata sanksi bagi yang melanggar tidak main-main. Seperti tertulis di Peraturan Gubernur DKI Nomor 142/2019, Pasal 22, ragam sanksi yang melanggar bervariasi. Mulai dari teguran tertulis, uang paksa, hingga pembekuan dan pencabutan izin usaha. Artinya pemerintah DKI punya kesadaran mendorong warganya diet kantong plastik.

Meski sanksi lebih condong tajam ke pihak pengusaha, kita sebagai konsumen tentu akan kena imbasnya. Dengan adanya unsur koersif tersebut, besar kemungkinan para pengusaha akan tunduk sepenuhnya pada aturan yang akan berlaku pada Juli 2020.

Selagi masih masa transisi sampai beleid gubernur berlaku, saya mencoba eksperimen seminggu mencoba puasa nyampah—tidak terkecuali sampah plastik. Hitung-hitung sebagai latihan sebelum peraturannya benar-benar berlaku.

Prinsipnya, saya benar-benar meminimalisir bahkan meniadakan sampah dalam bentuk apapun. Sampah ya tetap sampah, mau plastik atau tidak. Tidak pernah ada kasta di antara sampah-sampah, yang mengisyaratkan plastik berada di posisi terendah sehingga harus dikucilkan sedangkan sampah lain bebas berkeliaran kan? Jangan lupa, Indonesia tuh punya gelar lain sebagai penyumbang sampah makanan kedua terbesar di dunia setelah Arab Saudi.

Jadi beginilah perjalanan saya mencoba tidak menghasilkan sampah selama beraktivitas tiap hari:

H-1 | Belum Mulai Aja Sudah (Hampir) Gagal

Sebagai pengguna setia aplikasi pesan antar makanan daring, saya tahu betul seberapa banyak sampah yang dihasilkan meski cuma beli satu jenis makanan. Karena enggak mau kalah sebelum berperang dan tentu ogah mati kelaparan sehabis menyelamatkan lingkungan, terlintas ide membawa bekal hasil masakan sendiri supaya minim jajan. Pergilah saya ke supermarket terdekat, hanya untuk mendapati fakta bahwa….

....semua sayuran di supermarket dikantongi plastik. Jengjeng!!!

1581066917190-Screen-Shot-2020-02-07-at-161051
Isi belanjaan ini batal dibawa pulang deh.

Baru memasukkan dua bungkus tahu Jepang di keranjang belanja selama kurang dari sepuluh menit, saya tersadar akan fakta pahit ini lalu mengurungkan niat dan mengembalikan mereka kembali ke rak tempat mereka diambil.

Mungkin beda cerita jika saya pergi ke pasar tradisional ya. Namun karena saya baru berbelanja di malam hari, tidak banyak pilihan. Saya pun memasukkan kotak makan ke dalam tas dan bertekad untuk membeli makan dari kedai di sekitar kantor saja sambil harap-harap cemas. Akankah saya bertahan seminggu ke depan?

Hari Pertama | "Didn’t See That Coming"

Bawaan saya cukup banyak hari ini. Satu tas berisi barang saya sehari-hari seperti biasa, satu lagi berisi alat-alat perang untuk memerangi timbunan sampah di ibukota yang semakin menggunung. Mulai dari botol minum, kotak makan, masker penghalang debu-debu knalpot Jakarta, collapsible tumbler, dan yang paling tidak biasa buat saya pribadi: sapu tangan.

1581066975099-Screen-Shot-2020-02-07-at-160950
Amunisi untuk perang melawan kebiasaan nyampah seminggu ke depan.

Waktu jam makan siang, ada yang berbaik hati membawa nasi uduk untuk konsumsi satu kantor. Ini saatnya menggunakan kotak makan yang telah saya persiapkan. Ah, [puasa nyampah] enggak sesusah itu ternyata.

1581067018557-Screen-Shot-2020-02-07-at-160940
Makanan saya (atas) dan makanan teman kantor (bawah) yang menggunakan piring styrofoam.

Setelah makan siang, rutinitas yang harus banget dijalankan versi saya adalah ngopi, yang tentu saja biasanya pakai aplikasi pesan antar makanan daring. Eits, saya sudah siapkan tumbler karet untuk beli kopi. Cuma butuh niat untuk keluar dari kantor dan jalan kaki.

Saya udah senang duluan coffee shop yang saya datangi ternyata mengiyakan permintaan saya untuk menggunakan tumbler sendiri. Tapi nampaknya kesenangan itu tidak bertahan lama. Seperti yang terlihat di foto sebelah kiri, tumbler saya dibarengi dengan struk belanja, yang jelas merupakan sampah, meski memang bukan tergolong sampah plastik.

Tidak berhenti sampai di situ, saat saya menunggu kopi saya, panggilan alam memanggil. Tentu tanpa pikir panjang, saya masuk ke toilet di coffee shop tersebut kemudian menyadari bahwa….sapu tangan yang saya siapkan tertinggal di kantor. Mau tidak mau atas alasan kebersihan, saya tetap menggunakan kertas tisu dan menganggap dosa saya yang itu dapat dimaklumi.

Bagaimana pun, panggilan alam enggak pernah terjadwal kan?

1581067048582-Screen-Shot-2020-02-07-at-160920
Berhasil beli kopi tanpa plastik (kiri) namun tidak berhasil beli buku bebas plastik (kanan).

Malam harinya, saya pergi ke sebuah pameran buku murah di daerah Jakarta Selatan. Niat baik untuk memperkaya diri dengan ilmu pengetahuan ini ternyata tetap tidak bebas sampah. Seperti yang terlihat pada foto di kanan, semua buku terbungkus plastik.

Lagi-lagi, saya diberi struk belanja. Bukan cuma selembar, tapi dua lembar! Memang sih saya memilih opsi pembayaran dengan kartu debit. Sepertinya truk belanja akan menjadi musuh saya selama beberapa hari ke depan. Masa iya sih baru hari pertama aja udah gagal?

Hari Kedua | Masih Optimis

Saya bangun dengan semangat bahwa hari ini bisa berupaya lebih keras enggak nyampah plastik. Setidaknya saya harus lebih aktif memberi peringatan di awal agar tidak perlu mencetak struk belanja. Seharusnya dengan strategi ini, aman sudah!

Waktu mendekati pukul 12 siang. Kalau biasanya makan siang sesimpel mengangkat ponsel dan memencet beberapa tombol, kini saya harus keluar dari kantor demi menjalani misi ini. Kadang alasan memilih memesan makanan via aplikasi sesimpel karena jalan kaki di Jakarta secara umum cukup menantang dan perlu tingkat kewaspadaan yang tinggi.

Kalaupun ada trotoar, seringnya bersamping-sampingan dengan selokan, atau tiba-tiba jadi sedikit menanjak karena terpotong dengan tiang listrik. Itu pun sudah terlalu bagus. Seringnya, pejalan kaki sangat rentan diserempet kendaraan karena terlalu dekat dengan jalan raya.

Masih dalam optimisme bahwa manusia bisa baik-baik saja tanpa harus memproduksi sampah, saya menepis ketidaknyamanan berjalan kaki di Jakarta tersebut dan pergi mencari makan siang di Pasar Santa. Setelah mengelilingi pusat jajan di lantai atas berkali-kali, saya sadar satu hal.

Meski pembeli memilih makan di tempat, tidak semua toko menyediakan piring. Beberapa masih menggunakan wadah kertas sekali pakai atas dasar kepraktisan. Karena hal itu, radar anti segala-sesuatu-yang-sekali-pakai saya harus tetap dalam mode aktif. Saya enggak mau hari ini kecolongan lagi!

1581067231264-makan
Sayangnya, makan siang hari kedua masih belum bebas sampah.

Rupanya puasa macam ini tidak semudah yang saya kira. Setelah menjatuhkan pilihan pada sebuah warung nasi Manado karena melihat ada tumpukan piring di samping rice cooker, saya harus menerima kenyataan bahwa makanan saya datang dan tersaji di atas piring terbuat dari bambu yang beralaskan kertas.

Meski ada tumpukan piring di warung Ibu paruh baya tersebut, nampaknya atas dasar kepraktisan lagi, si Ibu memilih menggunakan piring bambu sehingga tidak perlu repot mencuci piring kotor. Sepertinya harus dimaklumi, melihat tidak terlihat ada tenaga bantuan di warung tersebut selain si Ibu seorang.

Misi hari kedua seharusnya berjalan mulus karena di sisa hari Selasa tersebut saya langsung pulang ke rumah dan tidak membeli apapun lagi. Apa boleh buat, mungkin beberapa orang memprioritaskan kepraktisan di atas segalanya, meski harus meninggalkan sedikit sampah.

Hari Ketiga | Pelajaran Penting: Jangan Berasumsi

Semua peralatan perang saya tertinggal—atau lebih tepatnya saya tinggal—di kantor. Tentu saja, karena alasan kepraktisan. Sulit dipungkiri kalau membayangkan ada tambahan satu tas yang sebenarnya tidak berat-berat amat untuk dibawa setiap hari cukup membuat saya kewalahan. Toh saya paling banyak menghabiskan waktu di kantor.

Rupanya, hari itu saya harus kerja remote karena ada hal yang perlu diurus. Tanpa amunisi kotak makan, tumbler, dan sendok garpu, mari kita lihat kegagalan hari ini.

1581067311853-makanan
Kali ini tidak ada skenario makanan tiba-tiba datang di piring bambu, meski sampah struk tetap jadi langganan

Permasalahan struk belanja yang jumlahnya berlebihan tidak usah kita bahas lagi. Saya belum ada niatan untuk berbaikan dan menghapusnya dari daftar yang perlu dimusuhi, terutama dalam perjalanan seminggu tanpa sampah ini.

Bukan berarti masalah selesai dan musuh saya tidak bertambah. Mungkin di hari ini saya tidak berpapasan dengan piring sekali pakai, gelas dan sedotan plastik lantaran saya makan siang di food court di Gading Serpong.

Permasalahan berikutnya, saya yang tidak suka makan sayur ini harus menerima kenyataan bahwa kebebasan saya dalam memilih apa yang saya makan juga ternyata berdampak bagi lingkungan. Sisa makanan, juga merupakan sampah kan? Ternyata saya turut berkontribusi dalam 13 juta ton sampah makanan tahunan yang diproduksi penduduk Indonesia.

Hari Keempat | Anggap Saja Hari Ini Berhasil

Sudah hari keempat. Kalau boleh jujur, saya merasakan nafsu makan turun drastis. Gimana enggak?! Tiap mau makan banyak sekali pertimbangan dan usaha yang harus dikeluarkan. Mikirnya jadi males duluan. Enggak ada deh ceritanya masak mi instan rebus pake telor tengah malam meski cuaca mendukung.

1581067379858-Untitled-design-72
Makan siang masih aman nih di hari keempat.

Nafsu makan memang menurun, tapi makan siang tetap tidak bisa dihindari. Untuk satu ini udah nggak perlu khawatir, saya merasa sudah tahu selanya. Benar aja, makan siang saya bebas dari plastik. Semua berkat mantra yang memang harus terus diucapkan setiap pesan segala sesuatu. Tidak usah diberi kantong plastik, semua sambal dan kuah langsung dicampur saja, dan tidak perlu bon.

Malamnya, saya janjian bertemu dengan kawan saya di salah satu third-wave coffee shop di bilangan Jakarta Selatan. Saya rupanya masih belum belajar dari hari sebelumnya untuk tidak berasumsi. Di pikiran saya, "ah, kebanyakan kedai kopi third-wave kan sudah aware dengan isu lingkungan yang menyebabkan mereka tidak lagi menggunakan sedotan plastik."

Saya tenang-tenang aja sampai minuman pesanan saya datang.

1581067456919-sedotan
Haduh, kenapa harus ada sedotan sekali pakai ini???

Yap, ternyata entah apa pun alasannya, kedai kopi ini masih melanggengkan pemakaian sedotan plastik. Merasa ini di luar kendali saya meskipun seharusnya saya memperingatkan mereka, saya setidaknya cukup puas melihat hari ini sampah yang saya hasilkan hanyalah satu sedotan plastik ini.

Cukup jauh perbandingannya jika dibandingkan dengan hari-hari saya sebelum menjalankan puasa ini. Boleh kah saya anggap hari ini berhasil?!

Hari Kelima | Kali Ini, Benar-benar Berhasil!

Saya menemukan problematika baru di hari kelima. Seakan tidak ada habisnya, saya baru sadar kalau tidak memesan makanan via aplikasi, saya harus siap siaga mengantongi uang tunai setiap saat. Tidak semua kedai maupun penjual makanan kaki lima menyediakan barcode untuk pembayaran uang elektronik. Untung ada mesin ATM di seberang kantor. Kalau tidak ada sih, terpaksa saya harus mengeluarkan jurus terakhir: berutang.

Yang unik hari ini bukanlah tentang makan siang saya, melainkan panggilan bakwan dan tempe goreng di gerobak abang-abang gorengan. Saya memang bawa kotak makan tapi kan sudah terisi dengan nasi dan tiga lauk lainnya. (Iya, saya makannya banyak, hehehe).

1581067512675-Ibu
Ibunya sempat bingung waktu saya mau pakai kotak makan, tapi akhirnya ia mengiyakan saja.

Abang tukang gorengan dengan cekatan memasukkan belanjaan saya ke kantong plastik, yang tentu saja saya tolak. Meski kotak makan saya sudah ada isinya, saya meminta tetap dimasukkan ke kotak makan saja.

Saya tidak ada niatan mengurangi jumlah gorengan yang saya ingin beli, karena panggilan tempe goreng begitu kuat. Tahu apa yang saya lakukan? Saya langsung makan tempe itu di tempat, sambil tatap-tatapan dengan abang tukang gorengan. Udah enggak terpikir deh untuk cuci tangan segala, gorengan tidak boleh diberi kuasa untuk menggagalkan puasa hari ini!!! Akhirnya, ada satu hari dimana saya benar-benar berhasil bebas dari kegiatan menghasilkan sampah.

Dua Hari Terakhir | Gagal Belajar dari Kesalahan

Akhir pekan saya dihabiskan dengan bermalas-malasan di rumah. Namun ketika dihadapkan dengan ajakan pergi oleh teman, saya sempat ada momen-momen dilema. Masa iya di akhir pekan saya juga harus membawa tas besar menampung peralatan-peralatan perang itu?

Ah sudahlah, saya akan ekstra hati-hati saja memilih tempat yang akan saya kunjungi hari itu.

Ternyata wadah makanan yang saya pesan tetap saja bentuknya sekali pakai yang juga datang dengan sendok sekali pakai. Meski pada sendok plastik itu tercetak tulisan compostable, saya masih skeptis dan mempertanyakan kebenarannya.

1581067564501-Yah
Keputusan makan di luar ini berakhir dengan penyesalan.

Apakah sistem dan infrastruktur manajemen sampah lokal sudah mendukung? Apa kabar kalau sampahnya terlanjur dicampur sehingga sudah menurun kualitasnya sehingga ia tak lagi bisa didaur ulang? Tantangan ini harus diakhiri dengan kegagalan. Bisa jadi memang tidak mudah, atau karena saya yang masih malas harus membawa banyak perabot kemana-mana.

Kesimpulanku Habis Puasa Enggak Nyampah Seminggu:

Butuh usaha superekstra supaya bisa meninggalkan kebiasaan kita bergantung dengan plastik dan barang-barang sekali pakai lainnya.

Butuh tenaga ekstra membawa barang-barang tambahan—serta tentu saja, mencucinya. Butuh waktu ekstra untuk mendatangi tempat makan yang sungguh akan jauh lebih terasa jika kita sudah pernah menikmati indahnya duduk diam kemudian makanan datang dengan sendirinya diantar oleh ojol. Di atas semua itu, butuh kemauan ekstra yang cukup kuat untuk mengalahkan segala pengorbanan dan usaha-usaha tambahan yang harus dikeluarkan.

Meski perjalanan saya seminggu mengurangi sampah ibukota sepertinya hanya berpusat pada sampah yang dihasilkan dari kegiatan mengisi perut, tentu saya sadar ada berbagai kegiatan lainnya yang menghasilkan sampah. Beruntung, sebelum menjalankan tantangan ini, saya sudah tidak membeli kapas dan cotton bud, serta beralih ke cleansing balm untuk rutinitas membersihkan wajah malam hari.

Beruntung pula siklus datang bulan saya sudah selesai persis sebelum tantangan ini dimulai. Bisa-bisa, sampah yang satu itu tidak bisa dihindarkan apapun alasannya. Enggak mungkin kan, saya seambisius itu sampai mengorbankan kebersihan dan kenyamanan saya sendiri dan orang lain?

Kebiasaan menggunakan barang sekali pakai, seperti tisu misalnya, memang bisa diminimalisir. Tapi apa kabar sampah-sampah yang memang ada di luar kendali kita? Bungkus makanan ringan, misalnya. Meski kehadiran bulk store sudah mulai menjamur, jika dibandingkan dengan harga barang-barang di supermarket biasa tentu masih relatif lebih mahal. Dan suka atau tidak, tidak semua kalangan masyarakat punya resource yang cukup untuk berbelanja di toko grosir.

Jika dibandingkan, mungkin belanja di pasar tradisional merupakan opsi yang lebih baik. Setidaknya, sayur-sayur hijau dan buah-buahan yang dijual tidak dibungkus plastik, seperti yang ada di supermarket. Namun perlu diingat, tidak semua barang dijual di pasar tradisional kan? Apa kabar kopi sachet, gula pasir, cabai bubuk, dan yang lebih krusial, mi instan?

Intinya, gaya hidup modern memang sejak awal mengandaikan kita semua bakal menghasilkan sampah. Kita hidup dan menghidupi sampah. Daripada cuma mengeluh, memang udah bagus sih kalau kita dipaksa untuk tidak nyaman sedikit. Sebab, dari pengalamanku, kenyamanan kita sebenarnya dihantui ribuan sampah tiap saat.

Tagged:
indonesia
Jakarta
Budaya
Sampah
Eksperimen Sosial
Plastik Sekali Pakai
Kantong Plastik