Sains

Sori Ya, Pandemi Corona Kata Ilmuwan Gak Bikin Polusi Berkurang di Planet Kita

"Listrik masih hidup 24 jam, penggunaan internet makin tinggi, dan pembangkit listrik menyumbang sepertiga emisi karbon."
23 Maret 2020, 10:12am
Foto: Win McNamee via Getty Images
Foto: Win McNamee via Getty Images 

Pandemi virus Corona yang telah menyebar ke seluruh dunia melumpuhkan berbagai negara dan pertumbuhan ekonominya. Akan tetapi, krisis kesehatan global justru menurunkan tingkat polusi. Akibatnya, banyak orang beranggapan tragedi ini ada bagusnya buat planet.

Kanal Venesia kembali bersih. Saking jernihnya air di sana, kita sampai bisa melihat ikan berenang. Selain itu, gambar satelit menunjukkan penurunan dramatis emisi nitrogen oksida (NOX)—penyebab kabut asap—di banyak daerah metropolitan. Semua ini bisa terjadi berkat upaya pembatasan aktivitas di luar rumah untuk mencegah penularan.

Sayangnya, walaupun coronavirus berhasil mengurangi konsumsi dan emisi kita, para ilmuwan berpendapat pandemi global takkan mampu mengembalikan manfaat lingkungan, terutama dalam hal menekan perubahan iklim.

Ketika dihubungi lewat telepon, Gavin Schmidt selaku ilmuwan iklim dan direktur NASA Goddard Institute for Space Studies di New York meminta kita tidak terlalu cepat menarik kesimpulan tentang manfaat virus terhadap lingkungan. “Berkurangnya polutan berumur pendek sebagian besar berasal dari kendaraan. Listrik masih nyala, penggunaan internet makin tinggi, dan pembangkit listrik menyumbang sepertiga emisi karbon.”

Emisi gas rumah kaca di sektor tertentu mungkin turun, tapi ada peningkatan di sektor lain karena dunia masih menyesuaikan diri dengan pembatasan terkait COVID-19.

“Kita menggunakan banyak energi selama di rumah, lebih banyak daripada biasanya. Saya melihat perubahan emisi dari komersial ke perumahan,” K. Max Zhang, ilmuwan polusi udara dan iklim di Cornell University, memberi tahu VICE via telepon.

Berhubung situasi saat ini dipenuhi ketidakpastian, sulit rasanya memprediksi akan seperti apa dampak pengubahan sumber emisi dalam beberapa bulan mendatang. Pengendalian virus yang menghabiskan waktu bulanan akan sangat berbeda dari pengendalian yang memerlukan satu tahun atau lebih untuk kembali ke pola konsumsi “normal”, jika memungkinkan.

Bahkan jika emisi tahunannya berkurang drastis, Schmidt mengatakan dampaknya pada perubahan iklim takkan berarti besar. “Siklus karbon akan bertahan ketika kita menambahkan sesuatu,” terangnya. “Ibaratnya kayak bathtub: Akan semakin banyak jika terus diisi.”

“Begitu pula dengan karbon dioksida. Atmosfer, biosfer dan lautan akan penuh karbon jika terus diisi,” lanjutnya. “Bahkan ketika dikecilkan sekalipun, masih terisi juga.”

Seandainya emisi karbon turun seperlima tahun ini, berarti yang awalnya 10 gigaton pada 2019 menjadi delapan gigaton pada 2020. Bumi hanya mampu menampung dua gigaton setahun, sehingga pengurangan tadi tidak ada artinya.

Faktanya, lockdown dapat meningkatkan sedikit pemanasan global. Polusi aerosol yang disebabkan oleh asap mobil atau pembakaran batu bara akan hilang dari atmosfer dalam hitungan hari.

Penurunan aerosol yang cepat menjadi alasan kenapa kualitas udara di kota-kota yang diisolasi membaik, tapi hal ini dapat menaikkan suhu global dalam jumlah kecil. “Rata-rata, aerosol mendinginkan planet karena memancarkan sesuatu yang reflektif, sehingga hanya sedikit sinar matahari yang sampai ke Bumi dan lebih banyak sinar matahari yang dipantulkan,” jelas Schmidt.

Namun, bukan berarti polusi aerosol memiliki nilai positif, apalagi jika mengingat betapa besar dampak negatif kabut asap bagi kesehatan masyarakat. Udara yang tercemar diperkirakan menyebabkan jutaan kematian dini setiap tahunnya. Menurut Schmidt, dampak mendinginkannya juga sebatas 0,5°C, sehingga pemanasan dari turunnya aerosol dapat memengaruhi tren perubahan iklim yang lebih besar.

Akan tetapi, perbedaan antara emisi karbon dan polutan berumur pendek menunjukkan bahwa manusia menempatkan tekanan kompleks pada sistem iklim, yang menyulitkan kita untuk memprediksi bagaimana penutupan dan penurunan ekonomi diperhitungkan dalam skala global.

Dengan begitu, ilmuwan memantau semua perubahan ini dan dapat menggunakan datanya untuk membuat keputusan lebih baik di masa depan. Pengurangan partikel asap dari sektor transportasi, atau jejak putih pesawat terbang akan sangat berguna karena perubahannya lebih dramatis dan nyata bagi orang-orang.

“Kita bisa mengamati apakah kualitas udara membaik, yang juga memiliki manfaat kesehatan, dan bagaimana penampakannya jika dibandingkan dengan coronavirus,” kata Zhang. “Kami biasanya menyebutkan orang-orang menghabiskan 80 persen waktunya di dalam ruangan, tapi sekarang jadi 100 persen. Seperti apa pengaruhnya pada kesehatan manusia?”

“Ilmuwan pada dasarnya oportunistik,” imbuhnya. “Sejumlah penelitian terdahulu memanfaatkan episode semacam ini untuk mengkalibrasi model atau menyaksikan bagaimana perkiraan emisinya dibandingkan dengan kenyataan.”

Schmidt mencatat perubahan jangka pendek semacam ini dirasakan masyarakat dan ilmuwan, sehingga dapat memicu orang untuk menilai kembali bagaimana gaya hidup normal masing-masing yang berlebihan dapat memengaruhi kesehatan publik.

“Kalian sudah terbiasa dengan tingkat polusi tinggi,” ujarnya. “Sehingga ini mengatur ulang baseline semua orang. Kalian akhirnya berpikir, ‘Oh begini ya rasanya punya udara dan air bersih.’”

“Dan ketika semuanya kembali kotor, mereka diharapkan dapat menyadari seberapa besar masalahnya,” Schmidt menambahkan. “Saya rasa akan ada semacam reset dari pergeseran baseline ketika kita keluar dari situasi ini.”

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.