Iklan
Sensor Televisi

Sanksi Tayangan SpongeBob, KPI Memang Hobi Mempersatukan Netizen

Setelah sensor Sandi Tupai, kritik KPI atas muatan "kekerasan" di kartun SpongeBob Squarepants mempersatukan netizen Indonesia. Medsos sedang terpecah karena banyak isu, KPI siap menyatukannya kembali.

oleh Adi Renaldi
16 September 2019, 9:24am

Cuplikan gambar VIA NICKELODEON/IMDB

SpongeBob Squarepants, animasi produksi Nickelodeon yang dibuat mendiang Stephen Hillenburg kena teguran resmi Komisi Penyiaran Indonesia (KPI). Kartun itu, yang sekarang ditayangkan Global TV, kena teguran lantaran dianggap penuh muatan kekerasan yang tak layak buat penonton anak-anak. Tapi seperti yang sudah-sudah bukannya menuai simpati, KPI malah banjir kecaman netizen.

Sebab KPI memberikan sanksi buat SpongeBob adalah dua episode yang tayang pada 6 dan 22 Agustus. Dalam surat bertanggal 5 September yang dilayangkan, KPI berpendapat dalam episode Rabbids Invasion "terdapat adegan seekor kelinci melakukan tindakan-tindakan kekerasan terhadap kelinci lain yakni, memukul wajah dengan papan, menjatuhkan bola bowling dari atas sehingga mengenai kepala, melayangkan palu ke wajah, serta memukulkan pot kaktus menggunakan raket ke arah wajah.” Di episode lain, SpongeBob ditegur cuma gara-gara "melempar kue tart ke muka dan memukul menggunakan kayu."

Komisi tersebut akhirnya menjatuhkan sanksi administratif ke stasiun televisi yang menyiarkannya. Belum jelas apakah SpongeBob bakal menghilang dari layar kaca atau tidak. Ada 14 tayangan lain yang juga kena teguran KPI, rata-rata reality show dan sinetron.

Wakil Ketua KPI Pusat, Mulyo Hadi Purnomo dalam rilisnya mengatakan, jenis pelanggaran yang ditemukan terkait adanya muatan kekerasan, adegan kesurupan, adegan horor, pemanggilan arwah, konflik pribadi, dialog dan gerakan sensual, privasi, dan pelecehan status kelompok tertentu.

"Lembaga penyiaran harus memperhatikan ketentuan soal pelarangan dan pembatasan program siaran bermuatan seksual. Siaran dilarang menampilkan muatan yang mendorong remaja belajar tentang perilaku yang tidak pantas atau membenarkan perilaku yang tidak pantas sebagai hal yang lumrah," kata Mulyo.

Pernyataan KPI itu tentu saja segera mengundang kecaman pengguna Internet di Tanah Air. Bukan sekali ini saja lembaga tersebut menyerang tayangan kartun SpongeBob Squarepants. Sebelumnya, netizen sudah mengeluhkan arahan KPI yang "memaksa" stasiun televisi mem-blur bikini karakter Sandi Tupai di acara itu.

SpongeBob Squarepants, yang berulang tahun ke-20 Mei lalu, sudah kenyang kritikan kaum moralis jauh sebelum KPI bersuara. Pada 2005 misalnya, kelompok konservatif Kristen di AS Focus on the Family mengecam kartun SpongeBob karena menjadi ‘alat propaganda pro-gay.’ Spekulasi kemudian muncul terkait orientasi seksual SpongeBob. Dua tahun kemudian, kreator Stephen Hillenburg mengatakan bahwa SpongeBob sebenarnya adalah aseksual.

Sebuah studi yang diterbitkan University of Virginia pada 2011 lewat jurnal Pediatrics menyebutkan setelah 9 menit menonton tayangan SpongeBob, kemampuan kognitif anak-anak berusia empat tahun secara signifikan dapat terganggu dibandingkan dengan bocah seumuran yang menikmati tayangan lain.

Temuan tersebut dengan cepat disanggah Nickelodeon, yang menyatakan bahwa anak-anak bukanlah sasaran audiens tayangan SpongeBob. Nickelodeon sembari mengatakan bahwa temuan tersebut menggunakan “metodologi yang diragukan.”

Masih banyak lagi tudingan kontroversial yang dialamatkan ke SpongeBob, misalnya ia dituduh melakukan demonisasi terhadap korporasi besar dan mendukung gerakan kiri.

Sayangnya semua kritik tersebut melupakan sesuatu hal mendasar kenapa SpongeBob tetap digemari jutaan penonton di seluruh dunia. Dia menampilkan optimisme tentang dunia yang semakin ruwet sambil seolah mengatakan "imajinasi adalah satu hal yang kita miliki jika dunia ini telah kelewat ambyar."

Kita tahu miskin imajinasi adalah hal yang berbahaya. Saat debat capres 2019 contohnya, kita menyaksikan bagaimana dua paslon tak menawarkan gagasan apapun karena kurangnya imajinasi. Gampangnya, kalau enggak ada gagasan yang menggebrak bagaimana bangsa ini mau maju? Sebuah penelitian di Universitas Harvard juga bilang, orang dewasa yang miskin imajinasi bakal kesulitan untuk memproyeksikan dirinya di masa mendatang. Akhirnya hidup cuma gitu-gitu aja.

SpongeBob memang terkesan konyol. Tapi dia sarat kritik ketika lingkungan sudah semakin rusak akibat ulah manusia. Di episode The Monster Who Came to Bikini Bottom misalnya tokoh monster Rrarrg adalah hasil mutasi biota laut karena limbah beracun. Goo Lagoon, pantai tempat nongkrong Larry si Lobster, sebenarnya bukan air laut, melainkan limbah beracun. Lantas dari mana nama Bikini Bottom berasal? Dia terinspirasi dari nama Bikini Atoll, tempat pemerintah AS melakukan uji coba bom nuklir selama 12 tahun.

Nama SpongeBob juga menginspirasi temuan spesies biota laut beneran juga kok. Pada 2011, peneliti menemukan spesies jamur laut yang memiliki tubuh mirip spons berwarna oranye di Malaysia. Sekelompok peneliti itu menamakan spesies baru itu Spongiforma squarepantsii.

Apapun pro dan kontra yang mengiringi SpongeBob, tayangan tersebut jelas punya konten positif dan cerdas. Bagaimana dengan acara charity show yang menjual kemiskinan seperti Bedah Rumah dan Uang Kaget di stasiun TV yang sama? Dua acara tersebut justru lolos dari ‘gunting teguran’ KPI.

Survei Nielsen Media Research (NMR) di Indonesia pada pertengahan tahun 2005 mencatat charity show Uang Kaget dan Bedah Rumah sebagai acara dengan rating tertinggi, dengan indikator rating dan share. Padahal jika ditilik lebih lanjut, kedua acara itu hanya menampilkan kekayaan semu. Seolah dengan uang, sekejap semua permasalahan hilang. Seolah kemiskinan bisa tuntas dengan segepok uang.

Tapi ya wajar lah KPI menegur. Sebab komisi tersebut memang berfungsi sebagai polisi moral di republik ini. Pada 2016, KPI melarang semua lembaga penyiaran untuk mengkampanyekan sosok LBGTQ. Jadi semua stasiun TV dan radio yang menampilkan karakter “kebanci-bancian” bisa kena sanksi. KPI kemudian mencari celah apapun yang bisa disensor, dengan rencana mengawasi Netflix dan YouTube, meski belakangan mereka sadar tak memiliki wewenang buat mengawasi konten daring.

Sebagai penonton setia SpongeBob, saya sebenarnya berharap semua komisioner KPI lebih rajin menonton setiap episodenya. Supaya komisi tersebut tidak miskin imajinasi seperti sekarang.

Tagged:
indonesia
spongebob squarepants
Views My Own
Kartun
Animasi
Opini
Kepanikan Moral
Komisi Penyiaran Indonesia
Rezim Moral
Tayangan kekerasan