Gerakan Budaya Perlawanan Terpenting Abad Ini: Berhenti Internetan

Teknologi membikin manusia menderita, tapi kita belum menemukan solusinya. Siapa sangka, akhirnya muncul gerakan budaya perlawanan terbesar setelah punk dan vegetarianisme untuk era Internet.

oleh Angus Harisson; ilustrasi oleh Marta Parszinew
|
21 Februari 2018, 12:06pm

Kita akui sajalah: internet udah enggak seru lagi. Seperti hubungan percintaan, awalnya seru banget lama-lama boring. Dulu kita sering begadang dan tertawa bareng, sekarang internet cuma membantu kita berdebat setiap saat. Hari-hari yang tadinya dipenuhi meme lucu atau ngepo mantan gebetan sekolah, berubah jadi kelabu karena ada kampanye tolol soal poligami atau teman yang ribut gara-gara beda pilihan pas pilkada. Kita jadi kesulitan berkonsentrasi, kita tidak benar-benar “hadir”, kita tidak bisa tidur—kita bahkan udah enggak bisa lagi menyebrang jalan tanpa mata ini menatap layar telepon. Inilah alasan kita enggak kunjung menyelesaikan buku yang pengen dibaca, dan alasan banyak mal gulung tikar—ngapain juga, kalau orang bisa belanja modal klak-klik doang. Cuma mengingat hubungan manusia modern sama Internet mirip orang pacaran, terlepas dari kelelahan dan segala permasalahannya, kita enggak bisa putus begitu aja dong.

Inilah bagian yang lebih buruknya: kita semua sadar harus putus dari Internet. Kita enggak perlu baca buku atau judul berita seram, supaya tersadar kalau ketergantungan sama ponsel sudah menghancurkan hidup. Namun terlepas dari semua itu, kita tidak bisa membahas ini secara menyeluruh. Manusia modern sebetulnya sudah tahu akar permasalahannya, namun bagi generasi yang mendaku “woke” (pokoknya selalu dituduhkan sama millenials da gen-Z), kita ternyata kurang mahir menemukan solusi mengatasi permasalahan tersebut.

Kita tidak mampu mengatasi kecanduan Internet lantaran kita tidak tahu harus mulai dari mana. Generasi kita terlanjur menganggap internet seperti sistem utama pendukung kehidupan. Memutuskan melepas Internet dari aktivitas sehari-hari ibaratnya melempar kita dalam situasi merana dan kesepian. Kita tidak bisa kembali ke dunia nyata tanpan Internet. Tapi prospek menarik diri dari dunia yang penuh internet—misalnya menjalani hidup mirip orang Badui Dalam—rasanya kok enggak realistis ya? Kita bisa saja menghapus segala akun medsos, tapi bagaimana caranya kita tahu lagi diundang teman makan-makan pas ulang tahunnya atau kalau dia ngirim undangan nikah lewat Facebook?

Masalah sosial kecanduan internet ini memang tak terelakkan, tapi bukan mustahil dipecahkan. Kita harus ingat iPhone hanya berusia satu dekade dan internet berusia 25 tahun—sebetulnya belum lama-lama banget. Kuncinya sih kesadaran mau ngapain. Teknologi pasti membentuk masa depan, tapi kita juga paham kalau manusia sering kesulitan menetapkan peran teknologi dalam hidup kita.

Perubahan-perubahan kecil dan bermakna sudah mulai terlihat. Banyak pengambil kebijakan memperdebatkan perlukah ponsel pintar dibiarkan dibawa pelajar ke dalam kelas. Tak sedikit restoran-restoran melarang penggunaan ponsel di meja makan. Bejibun pula perusahaan menuntut ponsel dimatikan selama rapat. Pergulatan antara venue musik dan ponsel pintar lumayan panjang dan rumit—sampai-sampai perusahaan teknologi Yondr menciptakan casing ponsel yang akan mengunci ponselnya saat memasuki venue musik yang disebut “zona bebas ponsel.” Maret tahun ini, menyetir kendaraan sambil mainan ponsel dijatuhi denda lebih dari Rp3 juta bagi penduduk warga Inggris Raya. Di seluruh kehidupan publik, keberadaan teknologi yang ada di mana-mana sedang ditantang. Teknologi sedang coba diatur.

Tak heran bila di level individu, perlawanan terhadap Internet sudah dimulai. Gagasan “detoks digital” sedang ngetren, merujuk kembali hari-hari kejayaan Blackberry dulu. Banyak orang memamerkan gaya hidup beristirahat tanpa ponsel. Sebagian organisai ikut mempromosikan cara-cara membangun hubungan positif dengan teknologi di kehidupan sehari-hari. Saat saya mengontak Tanya Goodin, penggagas organisasi detoks digital Time To Log Off, dia bilang programnya yang dijuluki retret itu mirip rehabilitasi pecandu narkoba. Orang-orang yang gabung sadar mereka punya masalah dan ingin dapat pertolongan. “Setiap kami mengembalikan ponsel di akhir kegiatan retret, pasti ada satu orang yang bilang tidak menginginkannya lagi,” ujarnya sambil tertawa.

Yang penting bagi kesuksesan mereka adalah bagaimana detoks digital telah kawin dengan teknologi dan industri kesehatan. Dengan adanya aplikasi-aplikasi seperti Headspace, meditasi menjadi tren dan orang jadi sulit menjauh dari ponsel. Kini ada aplikasi yang dirancang untuk membantu orang menggunakan ponsel dan komputer mereka secara produktif—dari Self Control, yang mengizinkanmu ngeblok situsweb tertentu selama beberapa saat, sampai Stay On Task, yang akan mengingatkanmu untuk kembali fokus ke tugas. Silicon Valley juga mengarahkan hal ini ke segala penjuru, dengan memulai “Digital Sabbath” di mana para pegawai puasa teknologi selama akhir pekan.

Secara individu, kebijakan-kebijakan ini, tren-tren ini enggak mengarah pada revolusi appaun. Tapi mereka mengarah pada potensinya. Sejauh ini kita punya ide-ide yang terpencar, menunggu gerakan intelektual menggabungkannya. Namun mungkin tak semudah itu juga. Dulu, omongan akan menghapus Facebook biasanya muncul di kalangan anak SMA dan pelajar seni yang pengin offline terus supaya mereka bisa fokus dengarin musik dari player jadul orangtua mereka. Seiring menjadi normalnya topik-topik seperti kecanduan teknologi—seperti dibahas Guardian sampai media propaganda macam Breitbart, makin jelas saja media sosial berkaitan sama kesepian manusia modern. Karena kata kuncinya adalah melawan kesepian, maka meninggalkan media sosial, baik sementara atau selamanya, menjadi keputusan yang semakin menarik dan wajar bagi kalangan anak muda.

Kalau dulu ucapan “gue enggak main Facebook atau instagraman” barangkali dilabeli hipster, sekarang keputusan macam itu semakin banyak diambil—bahkan didukung. Pada 2013, survei global jumlah orang dewasa memutuskan berhenti main Facebook sebanyak 61 persen. Karena Facebook terus membuat orang jengkel dengan kebijakan privasinya, sekarang orang-orang jadi semakin terdorong meninggalkan media sosial. Makanya logis kalau kita sekarang menganggap aksi sadar meninggalkan media sosial sebagai bentuk budaya perlawanan baru. Tak beda jauh dari generasi bunga anti perang dekade 1960'an, munculnya komunitas punk pada dekade berikutnya, serta vegetarianisme yang marak pada akhir Abad 20.

Harus diakui menjadi anak muda di 2017 lalu mengabaikan ponselmu bisa mendatangkan masalah. Makanya dalam buku Solitude, penulis Michael Harris menempatkan hidup tanpa distraksi notifikasi ponsel sebagai kesadaran spiritual. Dia menetapkan ketenangan pikiran sebagai seni; semacam disiplin ilmu yang butuh dilatih terus. “Radikal adalah kata yang tepat,” ujarnya saat saya wawancarai lewat Skype. “Kamu harus nyaman dengan menghadapi ketidaksopanan kalau kamu mau menghilang dari budaya Internet.”

Buku Harris juga tidak bersifat mengkhotbahi. Buku tersebut justru merombak sedikit perubahan gaya hidup sebagai cara untuk merebut kembali identitas diri manusia modern. Misalnya, seperti dicontohkan Harris, dia akan mencoba menunda buka ponsel di pagi hari, memberikan dirinya waktu selama mungkin sebelum mengakses teknologi. Ini memang cuma kebiasaan kecil, tapi lumayan praktis untuk membuatmu lebih punya waktu buat diri sendiri. “Beginilah cara-cara untuk mengatur waktu kita,” ungkapnya. “Intensitas membuka ponsel menjadi indikasi level adiksi kita semua. Kamu tidak bisa sekedar melakukan detoks digital kemudian sembuh. Kita sudah terlanjur tenggelam di dalam budaya Internet, jadi kita harus berlatih melawannya setiap hari, bukan hanya untuk beberapa jam.”

Kunci lain keberhasilan gerakan perlawanan ini adalah perlunya masyarakat memikirkan penggunaan teknologi seperti isu kesehatan. Banyak pihak berusaha membuat subyek kesehatan mental menjadi bagian dari kurikulum di sekolah-sekolah; dan tentunya melawan kebiasaan impulsif menggunakan sosmed menjadi bagian dari kampanye utamanya.

Dr. Richard Graham adalah psikiater spesialis anak dan remaja. Sekitar 12 tahun yang lalu, dia mulai berhadapan dengan kasus remaja menderita gangguan mental sebagai akibat dari penggunaan teknologi berlebihan. Pada 2010, dia meluncurkan jasa menangani adiksi teknologi pertama di Inggris. Sejak itu dia telah menjadi pakar terdepan untuk ketergantungan dan rehabilitasi teknologi. Ketika saya berbicara dengannya lewat telepon, dia mengamini hubungan manusia dengan teknologi yang problematis, tapi belum yakin apakah kita sudah mencapai titik puncak masalah. “Kita belum tahu batas kecanduan Internet ada di titik seperti apa,” kata Graham. “Saya mulai beroperasi di era teknologi satu platform. Sekarang banyak teknologi yang dikenakan manusia. Semuanya saling terhubung, jauh lebih rumit.”

Dia mengingatkan bahwa generasi sekarang harus berpikir serius tentang hubungan masa depan kita dengan teknologi. Biarpun begitu, dia tidak merasa puasa teknologi adalah jawabannya, namun lebih bagaimana menyiapkan generasi berikutnya untuk “mengembangkan internet secara etis.” Setidaknya, Graham setuju bahwa pergeseran budaya mungkin saja terjadi di masa mendatang. “Saya menduga akan ada sekelompok orang yang mengarah ke situ,” ujarnya, “orang tua akan sengaja mencari sekolah yang menyita iPad dan ponsel siswanya selama pelajaran berlangsung.”

Ide macam ini sudah dikampanyekan semenjak lama. Detoks digital sejauh ini gagal menghasilkan perubahan yang berarti. Mengingatkan orang kalau terlalu sering bermain Twitter tidak baik belum menghasilkan reaksi signifikan. Beberapa tahun lalu, kerugian yang ditimbulkan dari penggunaan sosmed berlebih masih dinilai bersifat pribadi. Itu dianggap ketidakmampuan orang per orang mengendalikan diri. Belakangan, di berbagai negara, konteksnya mulai berubah. Orang perlahan sadar kalau Internet bisa merugikan. Mulai dari fakta terjadi upaya intelijen melanggar privasi kita, hingga kesadaran bahwa data pribadi dijual ke mana-mana. Hubungan obsesif kita dengan teknologi sudah mulai masuk ke ranah politik. Pengetahuan bahwa smartphone bisa dipakai menguping percakapan pribadi sudah sering terdengar. Perlahan-lahan, ketidakpercayaan terhadap teknologi berkembang semakin parah.

Kita pelan-pelan tahu betapa menakutkannya internet yang tidak diregulasi. Korporat sudah bisa menebak barang apa yang kamu ingin beli, bahkan sebelum kamu bahkan membuka google. Sedangkan dan pemerintah memiliki koleksi foto intim dari warganya yang didapat secara paksa. Semua itu pastinya bukanlah pengalaman yang kita harapkan ketika memutuskan bikin akun Facebook.

“Manusia modern dipaksa masuk ke dunia Internet yang tanpa regulasi dan pengawasan. Tidak ada diskusi dan kita tidak punya hak pilih sama sekali."

Manoush Zomorodi adalah pembawa acara dan editor dari Note to Self, sebuah podcast yang digambarkan sebagai “acara teknologi tentang apa artinya menjadi manusia.” Dia memahami situasi manusia saat ini sebagai kelumpuhan massal, semacam perasaan kolektif sesuatu yang buruk sedang terjadi tapi kita tidak tahu apa yang bisa dilakukan untuk menghentikannya.

“Kita suka kemudahan yang diberikan dunia online, tapi membenci perasaan tidak berdaya tentang kemana informasi pribadi kita dijual, siapa yang melihatnya, jadi kita merasa jijik terhadap diri sendiri,” jelasnya lewat Skype. “Kita mengklik ‘yes’ ke berbagai terms and service dan berpikir, ‘Duh bego amat, gak gue baca tadi,’ atau ‘iya udah baca, tapi bodo amat.’ Masa kita tiba di titik di mana mengunduh app saja bisa menimbulkan perasaan bersalah.

Kompromi ini, adalah apa yang disebut Zomorodi sebagai “paradoks privasi.” Ini adalah nama proyek yang diluncurkan Note to Self awal tahun demi demi memberikan pendengar peralatan dan informasi yang dibutuhkan untuk mengklaim kembali privasi pribadi di dunia di mana korporat dan pemerintah memiliki akses bebas ke manapun. “Kita masuk ke dunia tanpa regulasi dan pengawasan sama sekali,” lanjut Zomorodi, “dan tidak ada diskusi. Kita tidak bisa memilih apapun di sini.”

Seperti halnya Solitude, proyek The Privacy Paradox menawarkan langkah-langkah awal yang praktis guna menyelesaikan masalah yang lebih besar. “Saya kaget banyak yang tak tahu kalau tiap aplikasi punya pengaturan privasinya tersendiri,” ucap Zomorodi. “Salah satu pria yang menghubungi kami mengatakan, “Ya ampun, saya enggak tahu kalau aplikasi flashlight mengumpulkan lokasi saya, punya akses ke mikrofon ponsel dan semua nomor kontak yang saya punya!” harusnya kamu sudah curiga ketika sebuah aplikasi digratiskan atau cuma dijual 99 sen? Kemungkinannya cuma satu: aplikasi ini menjual data kita ke praktisi pemasaran.”

Namun, yang paling bikin Zomorodi terpengarah adalah banyak orang yang sudah siap menjalankan ide ini dan begitu cepatnya mereka memahami ide untuk mengklaim kembali privasi pribadi mereka. Segera setelah memahami bahwa data pribadi mereka adalah sesuatu yang bisa mereka kendalikan, mereka segera menuntut pemerintah dan media sosial yang selama ini bebas bertindak di ranah digital untuk lebih memperhatikan privasi mereka. “Ini adalah pergeseran budaya yang harus terjadi—kondisinya memang mengharuskan kita secara massal tak mengganggap pelanggaran privasi sebagai sesuatu yang lumrah,” ujarnya. “Kita harus mulai dari titik awal yang sederhana. Perlahan-lahan kita harus menegakkan otonomi kita. Jadi, kami mulai menggalang diskusi dan beberapa hal kecil lainnya serta menghapus aplikasi tertentu.”

Ternyata proyek ini membuahkan hasil. Zomorodi awalnya cuma mempredikisi hanya 200 orang yang bakal ikut serta proyek ini. Dugaannya meleset. Gelombang pertama proyek ini diikuti oleh 20.000 orang.

Di sisi inilah, potensi manusia meninggalkan, katakanlah media sosial, mulai terlihat. Semakin kita bisa menunjukkan jika media sosial, pemerintah dan korporasi memanipulasi data pribadi kita, keengganan orang memiliki akun Facebook, misalnya, akan makin bertambah. Artinya, salah satu cara untuk mengubah hubungan kita dengan teknologi adalah dengan menyeretnya ke ranah politik. Aplikasi pengiriman pesan terenkripsi seperti Signal mungkin belum begitu menarik saat ini. Aplikasi yang melindungi privasi penggunanya akan memainkan peran yang sangat penting dan memiliki makna baru ketika kesadaran publik sudah muncul. Ketika saatnya tiba, dalam sekejap, aplikasi yang sebelumnya belum begitu terkenal jadi senjata memerangi situasi kemapanan sekarang.

Apa yang sekarang kita alami menyangkut perkembangan teknologi informasi, mirip dengan apa yang dirasakan penganut vegetarianisme dari generasi ayah ibu kita. Kala itu, para pakar mulai menunjukkan bahwa mengonsumsi daging tak bagi kesehatan dan lingkungan. Masalahnya, kita sudah kadung terlalu terbiasa makan daging hingga kita kesusahan hidup tanpa menyantap daging. Lalu, perlahan-lahan, munculnya dokumenter mengerikan tentang industri pengelolaan daging, membuat vegetarianisme menjelma jadi sebuah gerakan counterculture. Berkaca pada perbedaan cara pandang menyangkut hubungan kita teknologi saat ini, kami menduga kalau perkembangan semacam itu akan berulang. Malah, perjuangan kita lebih mudah. Berbeda konsumsi daging yang sudah menjadi budaya selama berabad-abad, ketergantungan kita akan internet bisa dibilang baru tumbuh 20 tahun ke belakang.

Contoh lainnya adalah kampanye antirokok. Sekitar satu generasi lalu, merokok sambil mengunyah pizza di Pizza Hut adalah sebuah kewajaran. Kini, kita bahkan sudah agak emoh merokok di dalam mobil kita sendiri. Tentu, perubahan ini adalah buah dari edukasi dan persuasi yang sangat pelan namun persisten. Pada akhirnya terjadi perubahan pada budaya kita soal merokok. Lagipula, kita punya modal untuk membangun hubungan sehat dengan teknologi. Seperti kebiasaan merokok dalam ruangan yang memudar, bisa saja aturan melarang menyetir sambil menggunakan aplikasi pengirim pesan bakal mengubah hubungan kita dengan teknologi dalam kehidupan sehari-hari.

Seperti budaya perlawanan lainnya, detoks digital akan dimulai sebagai sebuah gerakan kecil, sederhana, tapi ujungnya adalah memerangi korporasi culas di bidang teknologi informasi. Apalagi orang tahu kalau raksasa TI makin mirip MacDonald yang jadi waralaba palugada menjual salad, burger, kentang, dan apa saja. Facebook, contohnya, mulai mengurasi outlet berita dan memastikan otentisitas sebuah berita demi menyikapi maraknya “hoax” di platform mereka. Tinggal tunggu waktu kecaman pada dominasi Facebook makin kencang di seluruh dunia.

Zomorodi sangat percaya diri menyongsong masa depan. Dia melihat podcast-nya makin banyak menerima respons orang. “Menurut saya sih, orang-orang ini mencari semacam komunitas supaya terbebas dari Internet,” ujarnya. “Mereka ingin mendapatkan semacam lampu hijau. Mereka ingin memahaminya. Bagi saya, ini adalah masa depan literasi digital. Melek digital tak selalu ada kaitannya dengan kemampuan coding. Yang penting adalah belajar memahami bagaimana piranti-piranti tersebut mengubah eksistensi budaya kita.”

Banyak penulis yang jauh-jauh hari memperkiran munculnya reaksi kelompok neo-luddite terhadap otomatisasi industri. Pada 2014, ekonom Paul Krugman menulis sebuah artikel berjudul "Sympathy for the Luddites" untuk surat kabar New York Times. Krugman berargumen bahwa kelas pekerja saat ini punya nasib serupa dengan pekerja tekstil di kawasan Leeds pada Abad 19. Keduanya menghadapi ancaman otomatisasi yang makin memainkan peranan penting dalam proses produksi—George Monbiot baru-baru ini menggunakan pendekatan sama dalam kajiannya tentang pendidikan.

Konflik antara kelas pekerja dan teknologi dipandang sebagai sesuatu yang sulit dihindari. Akan tetapi, di zaman data-mining dan kecanduan teknologi saat ini—saat garis batas antara produsen dan konsumen semakin tipis, kebutuhan menciptakan tegangan sosio-kultural agar kedua belah pihak setara makin mendesak. Pada hakekatnya, pandangan luddite tak sekadar mau bilang “teknologi itu jahat.” Sebaliknya, tegangan ini akan mempengaruhi bagaimana teknologi berkembang, atau lebih gampangnya, tegangan ini seharusnya mendemokratisasi perkembangan teknologi.

Kayaknya sih bukan sekadar angan-angan saja, membayangkan manusia bangkit dan mengenyahkan gawai mereka. Kesadaran menjauhi gawai ini tentu saja tak harus mewujud dalam insiden penghancuran Apple Stores atau menunggu muncul sekte anti teknologi muncul di masa mendatang.

Intinya, benih luddisme mulai tumbuh dengan subur dalam kesadaran kolektif manusia—seiring makin sadarnya umat manusia tentang apa yang mereka korbankan demi mendapatkan kenyamanan menggunakan gawai. Semakin banyak orang tersadar, makin besar pula peluang manusia menuruti refleks pemberontak dalam diri ini, lantas bangkit mengambil kendali atas privasi dan teknologi yang mereka gunakan.

Follow Angus Harrison on Twitter.