puncak dunia

Simak Obrolan Kami dengan Dua Mahasiswi yang Hendak Taklukkan Puncak Everest

Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari, dua pendaki dari Mahitala Unpar, telah mempersiapkan diri selama tiga tahun untuk menapak puncak tertinggi dunia. Tetap berangkat meski belum pegang dana untuk beli tiket pulang ke Indonesia.

oleh Vincent Fabian
31 Maret 2018, 9:17am

Hilda dan Deedee. Foto: dokumentasi Mahitala Unpar

Kamis 29 Maret kemarin duo pendaki gunung dari organisasi pecinta alam Mahitala Unpar, Fransiska Dimitri Inkiriwang dan Mathilda Dwi Lestari berangkat ke Nepal untuk menaklukkan Everest, puncak tertinggi dunia. Mereka berdua akan menjalani ekspedisi selama 57 hari untuk menuntaskan misi pendakian tujuh puncak dunia yang telah mereka mulai sejak tiga tahun lalu. Pencapaian yang kelewat gokil mengingat mereka berdua saat ini berumur 23 tahun pun masih duduk di bangku kuliah.

Jika berhasil mencapai puncak Everest nanti, Fransiska Dimitri (dipanggil Deedee) dan Mathilda (alias Hilda) akan jadi perempuan kedua yang berhasil mencapai puncak Everest. Atau malah bisa jadi yang pertama. Soal urut-urutan perempuan Indonesia yang pertama mencapai Everest ini memang agak sumir nyerempet-nyerempet kontroversial. Dulu, ada pendaki Clara Sumarwati yang menyatakan dirinya pernah menapak puncak Everest pada 1996. Tapi masalahnya ia tak bisa membuktikan klaimnya itu. Jadi sekarang agak gagu untuk menyebut siapa pertama dan siapa kedua.

Deedee dan Hilda punya tekad besar kendati banyak yang berjalan tak sesuai rencana. Mereka belum beli tiket pulang karena dana yang terkumpul sejauh ini belum cukup untuk menutup seluruh kebutuhan. Tim pendukung yang seharusnya mengantar dan meringankan pendakian mereka di Everest batal ikut juga karena masalah dana. Tapi mereka sudah berencana untuk tetap jalan apapun yang terjadi.

Lebih sebulan sebelum mereka berangkat, tepatnya Jumat 9 Februari lalu, kontributor VICE Vincent Fabian Thomas mewawancarai Deedee dan Hilda di sekretariat Mahitala Unpar, Bandung. Dua pendaki yang tergabung dalam tim Women of Indonesia’s Seven Summits Expedition Mahitala Unpar (Wissemu) bercerita banyak soal persiapan dan pengalaman mereka mendaki puncak-puncak tertinggi dunia. Berikut petikan obrolan kami dengan mereka:

foto: dokumentasi Mahitala Unpar

VICE: Pendakian tinggal sebulan lagi, apa saja persiapan kalian?
Deedee: Jadi kalau persiapan itu kami jalaninnya dari awal kami ekpedisi. Karena kami sebagai orang Indonesia tidak punya kemewahan menjajal gunung-gunung es, jadi kami menjadikan gunung-gunung yang sebelumnya itu sebagai latihan untuk mendaki gunung berikutnya.

Di Gunung Carstenz kami latihan untuk daki Gunung Elbrus. Kalau dari Elbrus, kami latihan untuk Kilimanjaro. Gitulah strateginya. Jadi kalau dibilang persiapannya gimana, ya itu udah jauh dari tahun 2014 yang lalu.

Menu latihan kalian setiap minggu seperti apa sih?
Dee: Dalam persiapan itu, kami membagi dalam tiga hal. Ada fisik, mental, dan alat. Kalau fisik, kami berlatih selama enam hari dan harus ada istirahat dalam 1 minggu. Cuma kalau dimaksimalin kami latihannya kayak simulasi naik gunung.

Salah satunya, naik Gedung 9 (Gedung Fakultas Ekonomi Unpar yang punya delapan lantai). Kami bawa Carrier dengan berat 25-29 kg yang dihitung dari 1/3 berat badan +10 kg terus harus naik turun 8-9 lantai sampai 10 kali. Itu sebenarnya buat latihan aja kan. Kalau di atas kami kan gak akan bawa beban banyak. Kami melatih itu karena kami gak punya kemewahan buat ngerasain medan es dan gunung-gunung yang oksigennya tipis, jadi latihan di sini dibikin lebih berat.

Terus abis itu kami lari juga di Puncak Ciumbuleuit (Punclut) terus ada latihan Yoga juga. Kami fitness juga dan kalau butuh relaksasi ya berenang. Kalau weekend, kami biasanya naik gunung.

Ketika akan naik ke Everest nanti, apa aja sih yang kalian akan bawa apa aja? Ada alat-alat yang aneh?
Hilda: Alat-alat di medan yang tropis dan di gunung es jelas beda ya. Jadi ada Down Jacket, jaket yang di dalamnya ada bulu angsa untuk menghangatkan, tapi kalau dipakai di sini akan gerah banget. Terus ada lagi namanya Crampon, semacam besi-besi yang dipasang di sepatu, biar kami lebih stabil waktu kami jalan di es.

Terus ada Ice Axe, semacam kapak es itu yang bisa dijadiin pengaman kalau lagi jalan bersama-sama. Itu alat-alatnya kebanyakan gak dijual di Indonesia dan memang sama sekali gak dijual di sini.
Jadi salah satu kesulitannya itu, bagaimana cara kami membeli dari luar tapi tetap bebas pajak karena kalau sama pajak jadi mahal banget. Kami sempet itung-itung kalau ngirim barang-barang itu dari luar negeri kan dianggap barang mewah. Jadi pajaknya pun bisa seharga barang itu sendiri yang kisarannya 75% sampai 100% dari harga barang.

Kalian kan bakal naik gunung tertinggi di dunia, kalian masih ngerasa takut-takut enggak sih? Apa yang paling menakutkan?
Hilda: Rasa takut itu bikin kami waspada. Kalau dibilang gak takut, ya takut jugalah misalnya takut mati. itu memang taruhan yang paling besar tapi ya udahlah... hahaha...

Deedee: Terus yang bikin takut itu ya ada sih takut mati tapi amit-amit. Kami gak ngerasain apa-apa kan. Tapi ya kalau di everest kan kami kalau jalan-jalan akan ketemu mayat karena di situ kalau ada mayat, enggak dievakuasi, jadi bisa aja lagi jalan terus tiba-tiba lihat mayat. Yaaa Tuhan.. hahaha… Tapi mau gak mau kan mesti dilewatin kan. Tapi udah kebayang sih kan gua pasti bakal diem dulu, bengong dulu ngeliatin itu terus baru lewatin.

Apa saja kesulitan dan tantangan yang sudah dihadapi dari enam pendakian kemarin?
Deedee: Banyak banget. (Untuk kemudahan pembaca, jawaban Deedee dan Hilda kami pilah satu-satu)

*Carstensz , Puncak Jaya, Papua - 4.884 mdpl
Mulai dari pendakian pertama, medannya itu bentuknya tebing jadi kami harus menguasai skill tali temali, fix rope. Abis itu batunya tajem-tajem jadi kayak mau pegangan juga malah bikin tangan sakit. Korbannya misal rain coat bolong, celana pada bolong karena duduk di batu dan tajem-tajem permukaannya.

Di Carstensz kami mempraktikkan teknik yang namanya tyrolean. Itu namanya metode penyeberangan saat pendakian. Ada tali dibentangkan dari satu tempat ke tempat yang lain. Apapun la ya yang harus diseberangin. Kita harus nyatuin pengaman di tali itu terus abis itu kita jalannya begini (memeragakan gaya tiduran dengan tangan di atas dan betis menggantung di tali). Terus ke bawahnya itu jurang yang jauhnya 700-an meter.

*Elbrus, Rusia - 5.642 mdpl
Kalau Elbrus itu gunung es pertama. Pertama kali main di es dan kami gak tau caranya.

*Kilimanjaro , Tanzania - 5.895 mdpl
Kilimanjaro itu gunung yang paling enak. Kami harus pakai porter karena kebijakan pemerintah sana. Siapapun yang mau daki gunung harus pake porter dan guide sana untuk memberdayakan masyarakat sekitar.

*Aconcagua , Argentina - 6.962 mdpl
Aconcagua itu tantangannya karena dia gunung tertinggi kedua sebelum Everest dalam rangkaian Seven Summits. Di situ kami juga bawa logistiknya sempet ada porter tapi kami harus bangun tenda sendiri, masak sendiri, jadi beneran kayak ekspedisi. Kalau sebelumnya Kilimanjaro udah ada porter, udah ada yang bangunin tenda, dan masakin. Di Elbrus juga ada basecamp-nya pas kita mau naik ke puncak itu tinggal jalan dari basecamp aja yang udah ada tempat makan dan orang yang masakin juga.

Nah di Aconcagua, kami waktu itu harus masak sendiri terus udah gitu cuacanya ekstrem. Belum lagi Caro (Anggota ketiga tim Wissemu yang tak melanjutkan ekspedisi sisanya karena faktor ketahanan fisik) kena penyakit karena tinggi banget dan mungkin dia belum bisa mengaklimatisasi diri dengan baik. Waktu itu kami harus berhenti karena cuaca dan ketahan 5 hari di basecamp.

Karena itu, kami harus ngatur ulang lagi logistiknya gimana. Terus abis itu kami ngadepin angin badai yang kecepatannya bisa 50 km/jam. Semua itu masih di Aconcagua sementara tantangannya masih banyak banget.

*Vinson Massif, Antartika - 4.892 mdpl
Hilda: Vinson Massif itu yang susah izinnya. Karena dalam 1 season cuma bisa 200 orang yang masuk. Jadi kasarnya siapa duluan yang bayar DP dia duluan lah yang masuk karena terbatas kuotanya dan cuma beberapa orang yang bisa masuk. Dia cuacanya juga paling ekstrem. Benuanya ter dibanding benua-benua lainnya yaitu paling dingin, kering, dan bersih.

*Denali, Alaska - 6.190 mdpl
Denali bikin gua takut tiap hari. Medannya curam, terus logistik harus kami bawa sendiri karena gak ada porter sama sekali. Medannya glasier dan ada namanya crevasse yaitu ketika antara glasier satu dengan yang lainnya itu gak nyambung. Semacam jurang es. Kalau di musim dingin itu ketutup semua. Dan kita gak tau mana yang bolong kecuali orang yang dah sering main di gunung es.

Sejauh ini gunung yang paling susah buat kalian?
Deedee: Aconcagua itu paling parah damage ke kami, tapi yang paling macu adrenalin tuh Denali.

Pernah hampir jatuh?
Hilda: Pernah waktu di Denali. Kami waktu itu berenam, tiga guide dari Indo sama satu dari Denali. Mereka berempat udah kena hampir jatuh di sana. Kami doang yang beruntung. Saya pernah hampir jatuh di medan glasier ini. Karena saljunya bentuk powder, jadi lebih rentan kalau diinjek. Kami jadi harus pake snowshoes kayak raket supaya kakinya gak kelelep.

Waktu itu hampir jatuh saat mau ngelewatin crevasse. Kan ada jurang tuh, terus gua lagi ngelangkah tapi snowshoes yang kaki belakang nyangkut jadi kaki semi ngelebar dan gua gak bisa narik diri ke sebrang padahal di bawahnya jurang. Terus gua kayak “Woi ini harus kayak gimana” tapi untung kami nyambung ke tali gitu kan. Akhirnya, gua sepersekian detik panik, tapi akhirnya ditarik pake tali dan bisa nyebrang.

Untuk perjalanan ke Everest, berapa total biaya yang dibutuhkan? Apakah kalian masih pakai uang sendiri atau sudah ditutupi sponsor?
Deedee: Berhubung pendakian ke Everest itu yang terakhir dan lama jadi kami bakal naik gunung itu selama 57 hari. Kami berencana membawa tim support dari Bandung. Kalau digabung kita berdua sampai ke puncak dan tim support sampai di basecamp itu kurang lebih Rp4,9 miliar.

Hilda: Kami selama ini selalu sponsor sih. Buat Gunung Carstenz kemarin ada dana dari UNPAR dan dibantu dari PT. Freeport. Untuk Gunung Aconcagua, UNPAR danai full. Sisanya Gunung Vinson Massif dan Gunung Denali kemarin itu dari BRI karena Vinson itu udah 1,4 M rupiah. Karena biayanya gede banget, kami harus berusaha cari sponsor dan kebetulan dapet Bank BRI.

Nah kalau buat Gunung Everest ini, sekarang kami masih struggling juga buat cari sponsor karena...
Dee: Sebulan lagi kami berangkat tapi kami belum pegang uang di tangan, hahaha… tapi pokoknya kami harus berangkat.

Kalau dibandingin mendaki seven summits dan lulus kuliah mana yang lebih sulit?
Hilda : ya daki gunung lah daripada lulus kuliah.

Deedee:Walaupun kami belum lulus nih. Kami gak bisa bilang kalau itu gampang, tapi Seven Summits itu memakan waktu tenaga. Semua orang bisa lulus kuliah, emang, tapi belum tentu naik Seven Summits. Sekarang sih lagi susah sih buat skripsi tapi kita yakin gak akan lebih sulit dibanding Seven Summits. Setuju hil?

Hilda : Kalau lu kuliah kan cuman kuliah, tapi kalau Seven Summits kan lu harus tetep kuliah juga dan bagi waktunya susah.

Setelah kalian mencapai Everest nanti apa sih yang mau kalian lakukan untuk mendorong mahasiswi pecinta alam lainnya untuk mengikuti jejak kalian?
Hilda : Perempuan itu bisa apa aja. Dia bisa ngelakuin apa aja yang masih orang pandang sebelah mata. Pendaki kan kebanyakan didominasi pria, jarang liat cewek-cewek untuk bisa sama sejajar dengan mereka. Jadi kita harus bisa ngelakuin apa aja. Stereotipe yang kesannya masih menjatuhkan perempuan itu gak ada. Kita semua sama.

*Wawancara telah diringkas agar lebih enak dibaca