Iklan
Politik Internasional

Pelajaran Berharga yang (Mungkin) Bisa Dipetik Jika Kita Sukses Mencuri Tinja Kim Jong-un

Diktator Korea Utara Kim Jong Un ke mana-mana selalu bawa toiletnya sendiri. Kami minta dokter spesialis menjelaskan eek sang diktator itu mengandung info apa saja. Rupanya emang bahaya kalau jatuh ke tangan intelijen lawan politik.

oleh Jesse Hicks
30 April 2018, 11:00am

Foto Kim Jong-un oleh Getty Images.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic

Rasanya tidak berlebihan menyebut pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un sebagai sosok diktator paling unik di muka bumi. Sudah banyak media melaporkan kalau pemimpin Korut ini tidak pernah menggunakan toilet umum, dan selalu bepergian membawa sebuah toilet pribadi untuk mencegah tinjanya yang (kayaknya) berharga jatuh ke tangan orang jahat. Lee Yun-keol, bekerja untuk unit Komando Pasukan Khusus Korea Utara hingga 2005, saat diwawancarai surat kabar Washington Post mengatakan, “tinja pemimpin kami mengandung informasi tentang status kesehatannya, sehingga tidak bisa dibiarkan tercecer begitu saja.”

Kebijakan macam ini adalah paranoia absurd yang barangkali memang hanya bisa muncul seorang diktator Korea Utara—negara yang sengaja mengisolasi diri dari seluruh dunia. Tapi apa juga sih yang kita bisa pelajari andai bisa memperoleh sebagian beraknya Kim Jong-un?

Tahinya pemimpin Korut kemungkinan besar tidak akan mengungkap rahasia penting negara, menurut Colleen Kelly, gastroenterologis sekaligus ahli mikrobiome dari American Gastroenterological Association.

Beraknya Kim Jong-un tidak akan memberi intelijen petunjuk tentang program nuklir Korut, misalnya—biarpun bisa saja kita belajar satu dua hal tentang kesehatan umum sang pemimpin. Tapi, pakar memang sepakat tinja doang dapat memberi petunjuk menarik mengenai kehidupan pribadi seseorang. Info yang berharga, apalagi kalau itu tahinya diktator yang bikin dunia ketar-ketir lima tahun terakhir karena rutin menggelar uji coba senjata nuklir.

Mari kita mulai dengan pemeriksaan visual sedergana. Kelly menjelaskan feses manusia terdiri dari 75 persen air, sisanya massa padat, kebanyakan bakteria dan makanan yang belum tuntas dicerna. Rata-rata manusia mengeluarkan 120 gram tinja sehari. Diet berserat tinggi akan menghasilkan jumlah makanan belum dicerna yang lebih tinggi—orang yang mengadopsi diet berserat tinggi bisa menghasilkan tinja tiga kali lebih banyak daripada takaran rata-rata. “Melihat tinja seseorang bisa membantu kita menentukan konten serat dari diet mereka,” ujar Kelly, yang juga menjabat sebagai guru besar Fakultas Kedokteran di Brown University.

Tentunya yang barusan dia jelaskan bukan ilmu mata-mata kelas tinggi. Apabila ditemukan darah di tinja, itu artinya sudah pasti orang tersebut mengalami pendarahan dalam—isu yang serius. “Berapapun umurmu, apabila ada darah ketika kamu buang air besar, itu tidak normal,” ujarnya. “Jangan pernah anggap enteng darah di tinja.” Dia menyebutkan tingginya angka penderita kanker kolorektal di berbagai negara, bahkan di antara orang-orang muda berumur 20'an hingga 30'an, adalah indikasi yang harus membuat kita serius memperhatikan tinja masing-masing.

Tingkat konsistensi tinja juga bisa mengungkap beberapa fakta tentang sistem pencernaan seseorang. Kelly bilang Tinja keras berbentuk bongkahan berarti usus besar menghabiskan lebih banyak waktu memproses, sehingga airnya habis. Ini bisa menyebabkan konstipasi. Sementara tinja yang lebih berair berarti proses pencernaannya lebih cepat terjadi. Sisa-sisa makanan di tinja dan perubahan warna bisa berarti pelaku melakukan diet. (Ubi merah bisa menghasilkan tinja kemerahan, misalnya, sementara kandungan zat besi bisa membuat tinja berwarna hitam.)

“Kalau ada semua variasi tersebut di tinjamu, maka itu masih terhitung normal,” ujar Kelly.

Di luar pemeriksaan visual mendasar, para ahli juga bisa memeriksa kandungan bakteria dalam tinja Kim untuk mencari tahu apa saja yang masuk ke saluran pencernaannya—lewat mikrobiomenya. Ketika mikrobiome sedang terganggu, atau terjadi kekurangan jenis bakteri dalam ususu, kondisi ini disebut ilmuwan sebagai dysbiosis. Berbagai gangguan kesehatan lainnya sebenarnya dipicu kondisi macam itu. Dalam kasus Kim Jong-un, kita mungkin bisa mengaitkan obesitasnya dengan kondisi tinjanya, kata Kelly, karena hal ini terkait dysbiosis.

Apa yang dijabarkan Kelly sebenarnya bukan analisis canggih atau mengagumkan. Tapi mikrobiome juga bisa mengindikasikan hipertensi, diabetes, penyakit autoimun, dan berbagai penyakit lainnya terkait dengan dysbiosis. “Kita tidak bisa mendiagnosa penyakit individual hanya dengan melihat tinja seseorang,” ujar Kelly, “setidaknya pola bakteria bisa saja mengindikasikan kondisi tertentu.” Kita bisa tahu apakah pelaku banyak mengkonsumsi sayuran atau lebih banyak daging. Kan kita bisa tahu apakah Kim Jong-un seorang perokok atau bukan. (Jawabannya: iya).

Lebih serius lagi, menemukan DNA kanker dalam tinjanya bisa mengindikasikan polip tingkat lanjut atau bahkan kanker usus besar. Kelly menganjurkan semua orang agar setidaknya sekali seumur hidup menjalani kolonoskopi. Minimal, cobalah lakukan pengujian kanker kolon dari rumah dengan cara mengirim sampel tinjamu ke laboratorium.


Tonton liputan investigatif VICE terhadap praktik perbudakan modern ala pemerintah Korut terhadap buruh migran mereka di Polandia:


Jadi sepertinya mata-mata musuh tidak akan menemukan rahasia apapun dari menggali tinja Kim Jong-un. Tapi ini bukan berarti tidak pernah ada yang mencoba metode ini. Diktator Uni Soviet, Joseph Stalin. kabarnya pernah menyuruh intelijennya mencuri sampel tinja dan urin dari banyak pemimpin dunia. Dia bahkan mendesain toilet khusus agar bisa diam-diam mencuri tinja Mao Zedong—rivalnya sebagai pemimpin komunisme global pada masa itu. Kabarnya Mao, pemimpin RRC, menghabiskan sepuluh hari makan, minum, dan menyediakan tinja untuk diperiksa oleh tim analis Soviet.

CIA dan MI-6 dari Inggris juga dilaporkan berusaha menganalisis urin maupun tinja pemimpin dunia dari Blok Timur, biarpun gagal. Salah satu yang berhasil diperoleh intel Barat adalah sampel tinja Mikhail Gorbachev, pemimpin Soviet menjelang keruntuhan negara komunis itu di penghujung dekade 80'an.

Tentu saja banyak dari cerita-cerita tersebut diragukan kebenarannya. Tapi bisa saja laporan macam itu adalah kisah nyata kegilaan mata-mata dunia pada era Perang Dingin. Tidak jelas apakah tinja bisa dianggap sebagai aset intelijen berharga, tapi para ilmuwan melihat potensinya ke arah sana untuk memeriksa kesehatan seseorang.

Seorang peneliti Harvard tengah mempelajari tinja para atlet olahraga juara dunia. Sementara Kelly tengah mengerjakan American Gastroenterological Association Fecal Microbiota Transplantation National Registry, sebuah studi pasien jangka panjang yang pernah menjalani FMT—pencangkokan feses yang digunakan untuk mengubah mikrobiome mereka.

Para peneliti penasaran: Apakah ada efek tersembunyi dari mengubah bakteria pencernaan seseorang? Apabila seorang pasien bertubuh kurus menerima cangkok dari seorang donor gemuk, misalnya, apakah ini akan menyebabkan kenaikan berat badan? Atau sebaliknya?

Kita belum bisa yakin, lantaran mikrobiome masih mengandung banyak rahasia. Masalahnya, kalau bisa diteliti, hasilnya mungkin bukan jenis rahasia yang dicari para mata-mata dunia.