Turis Modal Nekat

Bali Tak Lagi Toleransi Turis Bule 'Begpacker', Nekat Ngemis Bakal Dikirim ke Kedutaan

Fenomena begpacker asal Barat emang ngeselin sih. Mumpung Indonesia bebas visa, mereka modal nekat ke sini. Sebaliknya, WNI harus ngurus visa dan punya duit bejibun buat berangkat ke negara mereka.
04 Juli 2019, 7:42am
Bali Tak Lagi Toleransi Turis Bule 'Begpacker', Nekat Ngemis Bakal Dikirim ke Kedutaan
Kolase ilustrasi 'begpacker' di kawasan turis. Screenshot bule mengamen via YouTube [kiri]. Polisi amankan bule kehabisan duit di Pekalongan via Twitter [kanan].

Kantor Imigrasi Bali tak mau lagi bersikap toleran. Turis-turis 'begpacker', yang berlagak gembel lalu mencari uang di jalanan karena tak punya uang membiayai hidupnya di Bali, akan segera dikirim ke Kedutaan besarnya masing-masing. Haduh, coba dari dulu dong begitu Pak!

Kebijakan itu disampaikan langsung Kepala Bidang Intelijen dan Penindakan Keimigrasian Kantor Imigrasi Kelas I TPI Ngurah Rai, Setyo Budiwardoyo. Dia mengatakan di Bali sekarang makin banyak bule yang "pura-pura gila" karena kehabisan ongkos pulang.

"WNA yang enggak punya duit atau pura-pura gembel kita kirimkan orang itu ke kedutaannya atau minta perlindungan ke kedutaannya yang notabene harus melindungi warga negaranya yang di sini banyak," kata Setyo saat dihubungi media.

Pihak imigrasi tak mau lagi memberi celah bagi turis asing yang hendak menggalang dana, atas alasan apapun, sebab terlalu banyak perliaku sejenis terjadi di Bali. Sebelumnya imigrasi kerap kali menampung turis-turis modal nekat macam itu dan akhirnya menguras anggaran pemerintah.

"Kita cenderung kalau kita tampung harus memberi makan. Dari segi anggaran, saya kurang sreg harus kasih makan ke orang yang bersandiwara. Kami cenderung lebih memberikan surat dan bertelepon ke kedutaannya bahwa ada warga negara Anda yang butuh perlindungan," ujarnya. "Jadi warga asing mana yang bermasalah di sini penanggungan biaya hidupnya atau makannya diserahkan ke kedutaan."

Fenomena demikian tak jarang terjadi di Indonesia. Tahun lalu ada Toto, turis Bulgaria yang mengais sampah di Bali demi menghemat uang makan dan tempat tinggal supaya bisa beli tiket balik ke negaranya. Ada juga Ian, bule asal Inggris yang luntang-lantung di Tangerang selama empat bulan. Dia sering ditraktir kopi oleh warga setempat. Ada juga turis asal Ceko, Nedomelel Petr dan Bratska Jara asal Slovakia yang kehabisan ongkos dan enggak mampu bayar penginapan. Ujung-ujungnya biaya hotel malah digratiskan dan polisi Pekalongan malah bergantian mengongkosi mereka.

Salah satu penyebab begpacker nekat melakukan aksinya adalah budaya warisan era kolonial. Masih banyak orang-orang di Indonesia menganggap semua turis berkulit putih otomatis berkantong tebal dan pasti bisa menghidupi dirinya di Indonesia. Tak jarang orang Indonesia malah balik kasihan dan memberi berbagai hal cuma-cuma bagi backpacker yang cuma bermodal kata-kata manis, "your country is so beautiful, i want to explore your country more" :P

Indonesia selama ini berada di peringkat ke-17 negara paling terbuka bagi turis asing. Sebaliknya, Warga Negara Indonesia seringkali mengalami akses berlapis untuk bepergian, terutama ke negara-negara "maju" di benua Amerika Utara dan negara-negara anggota Uni Eropa.

WNI harus menjalani proses pengajuan visa yang rumit, ditambah lampiran bukti rekening (baca: doi nih punya duit atau rentan jadi buruh migran ilegal), serta tentu saja kepastian tiket pulang. Bahkan walau dilengkapi semua modal tadi, penduduk Indonesia—termasuk yang sebetulnya tajir dan sedang pelesir—masih sering disangka “imigran gelap”, “pekerja ilegal”, atau bahkan “teroris”.

Masalah begpacker dan ketidakadilan kebijakan soal visa/migrasi antar batas negara ini tentunya bukan hanya dialami Indonesia. Thailand, sebagai salah satu negara utama tujuan turis di Asia Tenggara, kerap menghadapi masalah serupa.

Bule brengsek asal Jerman, Benjamin Holst, salah satu yang paling terkenal karena menipu banyak warga Thailand. Dia berpura-pura cedera kaki dan mengemis di jalanan. Ia bahkan berhasil merebut simpati orang Thailand, tampil di acara televisi lokal, sampai meraih donasi 50 ribu Baht. Bukannya pulang, uang tersebut malah dipakai Holst berpesta di kawasan Pattaya. Kepergok gitu, bule ndableg ini sempat kabur ke Indonesia walau akhirnya dideportasi dari Surabaya. Di Kota Pahlawan, perjalannya jalan-jalan sambil mengemis berakhir.

Strategi Indonesia membuka akses seluas-luasnya bagi wisatawan asing memang bisa berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, kita harus ingat bahwa kebijakan yang terlampau longgar seringkali dimanfaatkan turis-turis enggak jelas yang bahkan sejak awal sebenarnya mustahil mampu membiayai hidupnya selama pelesir di Tanah Air.

Artinya, langkah imigrasi Bali sudah benar. Jangan kasih kendor!

Iklan