Iklan
Easy Riders

Tempat Terbaik Berburu Pakaian Keren Yang Selalu Ngetren Bukanlah di Mal

Kami membuktikannya sendiri setelah memperoleh jaket oke murah meriah di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

oleh Adi Renaldi
21 September 2017, 1:00am

Semua foto oleh Muhammad Ishomuddin.

Pasar Senen memang enggak ada matinya. Deretan bekas kios yang menghitam menyambut saya ketika sampai di Pasar Senen, Jakarta Pusat. Tapi ribuan orang hari itu sibuk dengan aktivitas jual beli, tak peduli dengan kondisi pasar yang awal tahun ini dilanda musibah kebakaran.

Pasat tradisional yang sejak lama menjadi tempat berkumpulnya pedagang pakaian ini sudah enam kali terbakar habis sepanjang kurun tiga dasawarsa. Malah, 10 tahun terakhir sudah terjadi tiga kali kebakaran hebat. Insiden terakhir pada 19 Januari lalu, melalap lebih dari 1.600 kios yang penuh kain dan busana di Blok I. Tapi, didukung semangat juang para pedagangnya, pasar ini menolak menyerah. Kurang dari setahun, pasar ini sudah ramai kembali. Sebagian pedagang menjajakan barangnya di pinggiran pasar. Sementara yang lainnya direlokasi ke Blok V, persis di belakang blok yang tempo hari dihajar si jago merah.

Berbeda dari Tanah Abang, Pasar Senen merupakan sentra pakaian bekas. Inilah ciri khas Senen dibanding pasar-pasar busana lainnya. Itu pula tujuan saya mampir ke sini. Ke mana lagi mencari baju bekas bermerek, dengan harga di bawah Rp 100 ribu, kalau bukan di Pasar Senen?

Satu-satunya faktor yang bisa membuatmu gagal mendapat pakaian second-hand berharga miring hanyalah kesabaran. Jika jeli dan mau terus berkeliling, bisa dipastikan kalian bakal menemukan harta karun. Di Blok V, yang saya datangi, ada lebih dari 400 kios buka hari itu. Masing-masing punya spesialisasi baju bekas tertentu. Mau sortiran seragam atau jaket corak militer? Ada. Kemeja oxford? Bejibun. Gaun? Keliling tak sampai lima kios juga pasti ketemu. Bahkan, baju dalam bekas pun juga ada (walaupun rasanya agak males juga beli lingerie atau sempak bekas).

Setelah puas berkeliling sekian menit, saya menyambangi kios Jack Sitanjak. Dia pedagang baju bekas asal Medan, Sumatra Utara. Dibanding beberapa pedagang lain, yang sama-sama jadi korban kebakaran, Jack beruntung masih bisa menyewa kios dalam Blok V, blok yang dibangun paling belakangan. Jack sempat ogah menyewa kios di dalam. Tapi sekarang, dibandingkan ngotot berjualan di pinggir jalan yang panas dan sumpek, kios dalam gedung tentu lebih representatif.

"Awalnya saya menolak berjualan di sini," ujar Jack Sitanjak. "Lokasinya terlalu di belakang. Tapi engga ada pilihan lain. Keluarga harus tetap makan."

Dia hijrah ke Jakarta pada 1997 menjadi buruh kasar. Pada 2002, Jack memutuskan berbisnis pakaian bekas setelah diajak seorang kawan. Meski tak ada keahlian berbisnis, Jack nekat terjun langsung mencari supplier dan menyewa kios. Nyatanya sekarang dia bisa bertahan di tengah ganasnya persaingan Pasar Senen.

Kios berukuran 1x2 meter tersebut disewanya Rp 120 ribu per bulan. Sebenarnya sempit dan agak mahal. Tapi Jack tak mau mengeluh. Ongkos sewa itu sepadan dengan apa yang didapatnya.

Kebanyakan barang dagangan Jack berupa jaket training dan sweater bertudung. Dua barang tersebut yang paling banyak dicari anak muda, katanya.

"Nah, ini bang coba difoto ini barang, siapa tahu bisa sekalian promosi kan?" kata Jack memamerkan jaket hitam merek Nike ketika saya mengambil gambar kiosnya.

Busana second-hand di Pasar Senen benar-benar asli, bukan merek KW. Lantas, dari mana sih datangnya? Kenapa setiap pedagang di sana bisa memperoleh celana, kemeja, hingga jaket asli dari merek terkenal luar negeri? Rupanya rata-rata pedagang memperoleh pasokan baju dari kenalan mereka di mancanegara. Khususnya negara-negara Barat, yang mana konsumennya hanya ingin memakai fast-fashion tak lebih dari setahun.

Inilah keunikannya. Pasar Senen merupakan antidot terhadap budaya mal di Jakarta yang terlalu gegas dan sangat konsumtif. Mal yang bejibun itu menawarkan busana dari gerai internasional, di ruang ber-AC, tapi sejak awal dirancang untuk dipakai beberapa kali saja. Sebaliknya, baju yang sudah dianggap lewat masa popularitasnya, tapi masih keren, akan berakhir di Pasar Senen. Hasilnya, orang yang datang justru akan mendapat banyak pilihan busana yang tak harus dipatok tren tertentu.

Buyung, pedagang di kios sebelah Jack, menyatakan bisnis baju bekas bahkan punya daya tahan tak kalah dibanding mal atau distro sekalipun.

"Lihat saja di Pasar Senen itu dulu juga ada department store, tapi buktinya los pakaian ada saja yang belanja," ujar lelaki kelahiran Padang, Sumatera Barat ini.

Tidak semua pihak mendukung pola bisnis Pasar Senen. Omzet bisnis baju bekas digadang-gadang mencapai miliaran sepanjang 2016. Pemerintah yang tak menyangka bisnis tersebut bakal terus berkibar, akhirnya melarang segala bentuk impor atau jual beli busana bekas lewat peraturan Kementerian Perdagangan.

Kenapa? Bisnis pakaian bekas bisa mengancam industri pakaian jadi nasional. Belum lagi alasan kesehatan. Pakaian bekas disebut-sebut menjadi sarang bakteri Escherichia coli, Staphylococcus aureus, hingga jamur yang salah satunya bisa menyebabkan infeksi kulit.

Jack mengakut tak ambil pusing soal peraturan dari pemerintah. Dia mengatakan masih mudah mencari barang dagangan. Pakaian bekas dagangannya didapat dari bandar mengimpor busana bekas gelondongan dari Korea dan Jepang.

Jack membelinya per bal (satu karung) berisi sekira seratusan baju. Modal kotornya harga Rp 5 juta. Sang bandar, katanya lagi, bisa mendatangkan pakaian bekas hingga beberapa kontainer. Tentu saja, tidak semua bermutu baik. Untuk pedagang kecil macam Jack, ongkos per bal itu makin mahal saja.

"Barangnya kadang banyak yang jelek. Ini bener-bener beli kucing dalam karung," keluh Jack. "Dulu harga per bal sekitar Rp 2 juta. Kami engga bisa asal menaikkan harga."

Jack tidak bohong. Sulit sekali menjaga margin keuntungan, ketika modalnya lebih besar dari Rp5 juta. Saya langsung terbayang akrobat kalkulasi pedagang macam Buyung atau Jack. Rata-rata kaos bekas di Senen dijual di harga Rp5 ribu. Kalau kualitasnya bagus, kemeja atau jaket bisa dipatok Rp80 ribu. Namun, lagi-lagi, di sinilah letak keunggulan Pasar Senen dibanding mal. Karena sifatnya adalah pasar tradisional, maka penjual dan pembeli benar-benar berinteraksi.

Yang jelas hari itu saya berbahagia. Lepas dari kios Jack dan Buyung, mata saya terpaku pada sebuah sweater warna abu-abu dengan logo Air Jordan di dada kiri. Segera saja jaket tadi saya beli tanpa nego lagi. Lumayan buat bergaya di Instagram, tanpa harus bikin dompet jebol.

Tagged:
Travel
Fashion
indonesia
Tekstil
fesyen
Jalan-Jalan
VICE x UBER
Jakarta Pusat
Pasar Senen
Baju Second
Baju Bekas