Nonton Bareng G30S

Pengalamanku Nobar 'G30S PKI' Bareng Bocah-Bocah Kompleks

Bukan kebetulan jika di dekat rumah saya ada acara nobar film lawas G30S PKI. Saya mengikutinya dan mencatat tanggapan bocah-bocah setempat tentang film propaganda Orde Baru ini.

oleh Mirza Fahmi
02 Oktober 2017, 5:30am

"Ada saat-saat berfikir, ada saat-saat berbicara, dan ada saat-saat bertindak. Hari-hari besok adalah hari-hari tindakan," kata D.N. Aidit dalam film G30S. Semua foto oleh penulis.

Layar tancep warga selalu saya anggap sebagai puncak tertinggi apresiasi sinema. Lupakan 4DX dan 3D, karena belum ada yang sanggup menandingi pesona magis proyektor jebot yang mesti ditendang baru jalan, film-film silat/horor lawas yang rada syur, sound yang lari ke mana-mana terbawa angin, dan penonton yang selalu waspada akan gelagat turunnya hujan.

Di Tangerang Selatan, aktivitas layar tancep sudah jadi peristiwa langka. 15 tahun lalu, kalau di jalan ada macet misterius di atas jam 10 malam, kemungkinan besar karena di pinggir jalan sedang digelar layar tancep. Sekarang kalau macet paling banter juga karena ada angkot abis senggolan.

Spanduk undangan nobar di komplek perumahanku.

Akhir September lalu, kelangkaan itu berakhir. Di seluruh Indonesia, layar tancep tiba-tiba bermunculan bak penjual bunga di acara wisudaan. Semua berkat film tahun 1984 yang tersohor karena durasinya yang melelahkan: 217 menit alias 3½ jam lebih (versi lain bahkan mencapai 4 ½ jam). Judulnya: Pengkhianatan G-30-S/PKI.

Film inilah yang diputar tiap malam 30 September di semua stasiun televisi selama sebagian besar dekade 90-an. Film yang membuat kawan-kawan sebaya saya menderita karena disuruh guru membuat karya tulis berisi kesan-kesan usai menyaksikan dokudrama tak berujung tersebut. Pusing. Sebagai anak SD, kita mau nulis apa coba? "Ini film isinya rapat doang, kapan jedar-jedornya?" atau "akting Umar Kayam kaku banget bos udah kayak bocah SD nyoba pedekate"?

Kendati demikian, untuk sekali lagi merasakan teror itu, saya memutuskan untuk menghadiri salah satu pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI yang berlokasi paling dekat dari rumah saya di Bumi Serpong Damai, Tangerang Selatan. Biar semakin khusyuk mengenang, saya nonton pas di tanggal 30 September. Selain untuk sedikit bernostalgia, saya pun dibungkus rasa penasaran: bagaimana pendapat anak-anak sekarang mengenai film ini?

Tiba di lokasi sedikit lebih cepat dari jadwal pemutaran pukul 19:30, suasana masih lengang tapi layar putih 3x4 meter beserta infocus dan sound-system sudah terpasang rapi. Karena kedapatan sedang celingak-celinguk, satpam komplek menanyakan maksud kedatangan saya. Begitu dikatakan bahwa saya ingin ikut nobar G30S, seketika ekspresi mereka melunak.

"Paling baru pada datang jam 8" ujar Muslih, Kepala Satpam di wilayah tersebut. Saya lalu berseloroh bahwa acara "ginian" amat jarang terjadi di BSD - komplek menengah ke atas yang cukup asing dengan layar tancep. Apalagi layar tancep film G30S. Muslih turut mengamini. "Saya juga gak menduga orang komplek pada datang. Paling warga dari luar aja" katanya.

Sempat mengira bahwa ini adalah pemutaran film "Sertifikat Jamsostek"

Meski Muslih bagian dari panitia pemutaran, ia tak menjelaskan secara terang perihal siapa yang menjadi inisiator acara. "Ini mah inisiatif dari warga" katanya. Kendati demikian, spanduk acara di lokasi dan pantauan saya terhadap acara sejenis di sekitar Pamulang menjelaskan bahwa penyelenggaraan pemutaran ini tidak murni-murni amat dari warga. Lazimnya ia disertai dukungan dari Koramil, Babinsa Kelurahan dan Binmas setempat.

Polemik di media massa perihal pemutaran ulang G30S bergulir sejak Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo mengadakan program wajib agar prajurit menggelar Nobar di wilayah masing-masing. Setelah itu, pejabat silih berganti menimpali wacana ini. Sampai-sampai Presiden Joko Widodo pun merasa perlu ikut berseloroh. Puncaknya, ia juga ikut acara Nobar G30S dengan Panglima.

Di lain pihak, mereka yang kontra mempersoalkan unsur pemaksaan dalam perintah Panglima TNI, serta mempertanyakan faedah pemutaran film yang sarat dengan unsur kekerasan dan propaganda Orde Baru ini.

Dikatakan propaganda karena peristiwa tersebut masih menimbulkan banyak pertanyaan, sementara film hanya menampilkan alur cerita versi pemerintah Orde Baru saja. Banyak analisis yang kredibel menyatakan Partai Komunis Indonesia bukan aktor tunggal. Ben Anderson dan Ruth McVey dalam Cornell Paper (1971) menyebutkan "konflik internal angkatan darat" sebagai pemicu utama. Harold Crouch dalam The Army and Politics in Indonesia (1978) menjelaskan G30S sebagai persekutuan antara para perwira AD dengan PKI.


Baca juga artikel lain VICE seputar Tragedi G30S:

Tetapi keruwetan itu seakan terlupakan saat kita menyaksikan sosok Suharto yang ditampilkan bak superhero maha penolong. Ditambah dengan dramatisasi lebay seperti adegan penyiletan dan kastrasi yang sudah dibantah oleh kesaksian para dokter yang mengotopsi jenazah para jenderal. Akhirnya film ini adalah bagian dari upaya melegitimasi segala sepak terjang brutal rezim Orde Baru sebagai antitesis PKI yang (katanya) amoral-bejat, serta merevitalisasi– meminjam istilah John Roosa - dalih bagi pembantaian massal yang mengikuti peristiwa ini.

Diselimuti situasi perang dingin AS-Rusia, kengerian itu ditanam ulang setiap tahun di benak masyarakat, sekiranya agar kita tetap mewaspadai hantu 'kuminis' yang masih gentayangan dan agar kita tidak lupa berterima kasih terhadap rezim. Sebab itu, produk Orba ini mestinya tak punya tempat lagi di alam reformasi. Kecuali untuk di-dubbing ulang atau dicolong scoring-nya yang keren itu. Mestinya begitu.

Film dimulai, dan warga mulai memenuhi lokasi pemutaran

Prediksi Muslih jitu: jam 19:50 warga mulai memenuhi tempat pemutaran. Dan tanpa kata sambutan, ucapan selamat datang atau apapun, film tiba-tiba saja dimulai. Melihat sekeliling, mayoritas yang datang adalah suami-istri, lengkap membawa serta anak-anak mulai dari usia balita hingga SMP. Tak lama, para bocah mulai berlarian dengan sesamanya, bapak-bapak ngerokok dan Ibu-ibu sibuk mengomeli anaknya.

Saya melipir ke sebelah kiri layar dan menemukan tongkrongan anak-anak perempuan yang saking serunya mengobrol, para orangtua sudah menyerah mengomeli mereka. Selidik punya selidik, rupanya mereka sedang berdiskusi tentang.... pertandingan bola tadi sore. Betapa si "Chandra" saat jadi kiper mainnya "goblok banget" sehingga banyak kebobolan.

Tongkrongan mereka inilah yang rusuh membicarakan soal pertandingan bola tadi sore, alih-alih film yang sedang diputarkan

"Mau nonton apa ngerumpi!..." seorang anak laki-laki menghardik tongkrongan geng perempuan tadi. " Sirik aja luh..." balas mereka. Si bocah pun mengumpat karena omelannya dibalas mentah-mentah. Saya melirik ke arahnya. Ia tengah bersama kedua temannya, menonton dari balik layar. Mereka, yang menonton G30S secara terbalik ini, adalah kawan-kawan saya selama pemutaran.

Sesaat setelah duduk bareng trio bocah ini, saya menyadari bahwa mereka (ketiganya masih kelas 4 SD): (1) Datang tanpa didampingi orang tua, (2) Merupakan kritikus film yang serius. Untuk alasan keamanan privasi anak di bawah umur, kita sebut saja mereka dengan nama Rio, Adi dan Bowo. Mereka senantiasa mempertanyakan segala hal yang terjadi di layar, memutar otak untuk mencari tahu maksud dan tujuan adegan, serta terbahak-bahak setiap menemukan sesuatu yang janggal. Interaksi dengan mereka saya rangkum ke dalam 4 komentar utama:

3 bocah di pinggir kanan adalah Rio, Adi dan Bowo. Kawan-kawan saya selama berlangsungnya pemutaran.

1. " Bosenin sih..."
Rio, Adi dan Bowo mengingatkan saya pada Beastie Boys. Rio dan Adi dengan suara cempreng (Mike D dan Adrock), plus Bowo dengan suara yang agak berat untuk anak seusianya (alm. MCA). Ketiganya mengaku sudah nonton film ini sehari sebelumnya di Tv One. "Tapi banyak yang disensor" kata Rio. "Jadi nonton lagi biar bisa lihat yang gak disensor?" tanya saya. "Gak juga. Soalnya bosenin sih" jawabnya cengengesan. Oke, sepertinya pemutaran film ini hanya dalih untuk bisa kelayapan malam-malam. Mantap!

2. "Kapan paginya nih? malem terus
Kurang lebih komentar ini serupa dengan keluhan Ibu saya tatkala menyaksikan Batman & Robin (Joel Schumacher, 1997): "ini film kapan terangnya ya". Terang saja, bagian tengah film G30S diisi rangkaian adegan penculikan yang seakan tanpa akhir. Akibatnya, kawan-kawan baru saya ini mulai tak kerasan dan mengalihkan perhatian mereka pada geng perempuan seteru mereka yang sedang berfoto di mobil bak pengangkut sound system. "Ada penampakan mampus lu!" teriak Rio dan Adi.Lagi-lagi geng perempuan menyahut balik: "Ngefans lu ya!"

Bowo meminta saya untuk memotret mereka, "masukin instagram bang biar malu".Saya menolak karena tak mau terlibat perseteruan yang makin mendidih ini.

3. "...Berisik! Ada yang Bobo..."
Film sedang tegang-tegangnya kala rumah Jenderal Ahmad Yani disatroni. Saat pintu digedor-gedor oleh Tjakrabirawa, sekonyong-konyong Rio berteriak "berisik! ada yang bobo!". Gerrrr. Hadirin yang sama-sama berada di belakang layar tertawa terpingkal-pingkal. Adegan ikonik "Bapak diminta menghadap" jadi rusak oleh suara tawa. Akhirnya ada penonton lain yang mengomel dan menyuruh bocah-bocah ini diam kalau tak mau disuruh pulang.

4. " Ini gimana kejadiannya bang bisa Indonesia lawan Indonesia begini?..."
Pertanyaan ini jadi kalimat pamungkas Bowo yang sepertinya makin bosan. Setelah sebelumnya ikut ramai mengomentari film, dihadapkan dengan pertanyaan rumit ini lidah saya mendadak kelu. "Di sekolah gak diajarin?" tanya saya. "Belum sampai situ pelajarannya" ujar mereka.

Saya bingung harus mulai dari mana. Dari segitiga kekuasaan Sukarno, militer, dan PKI yang yang perseteruannya dengan kelompok lain bisa meletup kapan saja? Dari keberhasilan militer dan Orde Baru memenangkan perebutan kekuasaan? Atau dari kejanggalan bahwa setelah 19 tahun reformasi, saya masih harus memutar otak menjelaskan hal-hal yang seharusnya sudah dipelajari di sekolah secara terbuka?

Sepertinya saya seorang pendamping yang buruk.

"Balik yuk ah", Rio, Adi, dan Bowo menggantung pertanyaan terakhir itu dan memutuskan untuk pulang. Tongkrongan geng perempuan sudah bubar sejak 15 menit yang lalu. Jam menunjukkan pukul 21:46. Film belum setengahnya rampung. Yang lain juga mulai beringsut meninggalkan lokasi. Penonton yang tadinya mencapai 100-an orang menyusut jadi 30-an dalam sekejap.

Penonton semakin sepi, bahkan sebelum adegan lubang buaya dimulai

Menanggapi hal ini, Parno, salah satu satpam yang berjaga hanya berkomentar singkat: "saya sendiri juga bosen". Ditanya soal polemik pemutaran film, ia ringan saja menjawab "namanya film kan pasti ada rekayasa, kita terima aja asal gak kebawa berantem kayak yang di atas" tuturnya sambil menyapa mobil yang masuk komplek. "Pada akhirnya kita gak akan tahu sejarah yang sebenarnya".

Sepulangnya trio macan Rio, Adi, dan Bowo, saya sempat ingin bertahan sampai film selesai. Tapi setelah melihat yang tersisa tinggal bapak-bapak yang sibuk memperdebatkan apakah Aidit itu merokok atau tidak, untuk apa?

Dan film ini masih brutal dan menjemukan. Saat saya kecil maupun di mata bocah-bocah itu. Andai film ini dibikin ulang oleh Kemendikbud dengan menghimpun segenap sensibilitas kekinian, dengan Reza Rahadian yang memerankan ke tujuh pahlawan revolusi sekaligus Aidit, dan dilengkapi soundtrack musik skena kontemporer, propaganda tetaplah propaganda. Sebelum ada upaya serius dari kita sebagai bangsa untuk mempelajari periode kelam 1965 secara terbuka, ia selamanya akan jadi film propaganda.

Menonton layar tancep dari belakang layar, selama kita bisa menerima kenyataan bahwa gambarnya terbalik semua

Satu lagi film medioker yang akan diungkit-ungkit oleh politisi defisit gagasan, diramaikan oleh masyarakat yang surplus keberingasan, lalu membuat kita melupakan penggempuran KPK, konflik agraria di banyak daerah, serta kemenangan Papa Setnov di praperadilan.

Jam sudah di angka 22:30. Saya pamit pulang pada Parno. Di layar masih ada Suharto tengah memimpin rapat penumpasan G30S di markas Kostrad. Saya mengayuh sepeda menuju rumah, menjauhi lokasi layar tancep. Liputan barusan memantik khayalan di kepala perihal rencana menggelar acara nobar serupa. Tentunya kalau ada kesempatan bertemu si Trio Beastie Boys lagi, saya akan ajak mereka Nobar film yang lebih berfaedah: film silat syur.