Iklan
Memindah Ibu Kota

Bikin Simulasi Memindah Ibu kota ke Palangkaraya Pakai SimCity, Membuatku Nyaris Gila

Pengamat perkotaan sudah mengingatkan prosesnya enggak bakal gampang. Jadi pemimpin ibu kota lewat game aja susah, gimana entar di dunia nyata?

oleh Katyusha Methanisa
28 September 2017, 6:55am

Ilustrasi oleh Diedra Cavina Rahmadina.

Pemerintah masih belum bisa move on dari ide memindahkan ibu kota. Elit-elit politik di negara kita terus mendambakan lokasi ibukota yang baru dengan padang rumput hijau yang luas, sekalipun gagasan macam itu kurang realistis. Sialnya, banyak orang yang mendukung.

Penduduk kawasan Jakarta dan kota-kota penyangganya, berjumlah lebih dari 10 juta jiwa, kebanyakan berfantasi merasakan jalanan bebas macet jika ibu kota pindah. Fantasi yang kadang ironis. Sebab kemacetan kadang disebabkan iring-iringan mobil politisi yang hendak lewat, orang yang sama seperti kita semua, semangat banget sama wacana memindahkan ibu kota.

Presiden Joko Widodo tentu saja, termasuk yang ingin memindahkan ibu kota ke wilayah baru. Sejauh ini, belum ditetapkan calon wilayah resmi, tapi kandidat yang paling sering disebut-sebut di media adalah Palangkaraya, ibu kota Provinsi Kalimantan Tengah.

Kenapa Palangkaraya? Selain karena lokasinya tepat di tengah-tengah kepulauan Indonesia, kota tersebut juga memiliki banyak lahan yang bisa dimanfaatkan. Palangkaraya itu lima kali lebih besar dari Jakarta (kotanya ya, bukan area metropolitan karena realitasnya memang belum ada kawasan perkotaan sebesar Jawa di sana). Kira-kira kalau wacana tadi direalisasikan, akan seperti apa bentuk ibu kota Indonesia nanti? Lebih jauh lagi, apa saja sih yang dibutuhkan saat membangun sebuah ibu kota ideal?

Tanpa pikir panjang, saya beralih ke sarana yang bisa memberi gambaran sekilas: SimCity. Game strategi pembangunan kota ini adalah wahana yang lumayan pas buat menguji kebijakan para perencana tata kota. Plus, berbagai cheat yang disediakan di game tersebut membuat kita bisa melakukan simulasi apakah ibu kota baru itu bakal berkembang dalam kondisi ideal.

Namun sebelum mulai asyik membangun kota dalam imajinasi tadi, saya perlu tahu dulu apa sih faktor-faktor yang membuat sebuah kota jadi ideal? Di sinilah peran analis data perkotaan, Ramda Yanurzha, dibutuhkan. Saya menjelaskan proyek simulasi tersebut kepadanya dan mencari tahu apa definisi 'ibu kota' yang ideal.

Ternyata hanya satu hal yang dibutuhkan menuurt Ramda: pengesahan resmi dari pemerintah bahwa suatu daerah didaulat sebagai ibu kota. Oke deh. Tapi terus apa lagi? "Konektivitas itu penting," kata Ramda.

Tapi sebetulnya, merancang konektivitas sampai jungkir balik gak perlu-perlu banget kok. Signifikansi ibu kota cenderung terbentuk dengan sendirinya nanti. Aktivitas ekonomi akan tercipta di sekitar kegiatan pemerintah, seiring masuknya berbagai layanan barang dan jasa untuk kepentingan para PNS dan keluarganya. Jadi konektivitas seandainya mau diabaikan dari awal juga bukan masalah serius.

Lalu, ini faktor lain yang harus aku pahami. Ibu kota biasanya akan menyumbang persentase besar dari Produk Domestik Bruto sebuah negara. Faktor kue ekonomi dan peredaran uang inilah yang biasanya menarik orang untuk tinggal di sana. Makanya banyak penduduk Indonesia rela tinggal di Jakarta dalam kondisi berdesak-desakan dengan kondisi kurang layak. Faktanya memang DKI Jakarta tidak bisa memenuhi kebutuhan dasar mayoritas warga, seperti air minum yang bersih dan sistem sanitasi memadai.

Ah ngeluh aja bisanya. Emangnya elo bisa bikin kota yang lebih baik? Makanya gue bikin simulasi ini coy. Ayo dicoba dulu.

Mari mulai uji cobanya. Saya masuk ke God Mode di SimCity 4. Tanpa buang waktu, saya menciptakan versi pertama Palangkaraya yang coba dibayangkan sudah resmi ditunjuk jadi ibu kota baru Indonesia. Versi pertama ini dibuat tanpa cheat. Sebisa mungkin saya ingin menampilkan Palangkaraya sebagaimana kota ini dalam kondisi riilnya sekarang, hanya dilengkapi tambahan kompleks gedung pemerintah. Harapannya, lewat simulasi di SimCity, kota tiruan ini juga bisa berkembang secara alami (semoga menggambarkan kira-kira yang akan dialami ibu kota baru di dunia nyata nantinya enggak jauh meleset dari situ juga). Mulia sekali bukan?

Saya berusaha membuat kota ciptaan saya serealistis mungkin. Saya membentuk lanskap sedemikian rupa agar kota ini terpotong oleh satu sungai besar di tengah, dengan lanskap kontur tanah relatif datar. Setelah puas, saya keluar dari God Mode dan mulai membangun. Enak juga rasanya berperan jadi wali kota Palangkaraya walaupun cuma lewat game.

1506576026144-02

Saya mulai membangun jalanan, tapi hasilnya ancur mulu. Akibatnya saya menghabiskan banyak Simoleon (mata uang di game ini). Untungnya saya pantang menyerah. Saya terus membangun sampai rangkaian jalanan terlihat lumayan tertata, dan akhirnya bisa mulai membangun infrastruktur yang lain.

1506576070661-03
1506576178894-04

Tak lama, saya segera dapat notifikasi dari penasehat kota dalam SimCity supaya mengurangi belanja infrastruktur. Katanya kalau boros banget kota yang saya bangun bisa terbengkalai. Ah bodo amat, kan gue bosnya.

Karena anggaran belanja sengaja diabaikan, saya nekat membangun komplek pemerintahan di tengah kota, sesuai nasehat Ramda. Kemudian saya menyebar area pemukiman dan komersial mengelilingi kota, mengingat komplek perumahan yang tertatap rapi sesuai zonasi realitasnya saat ini belum lazim ditemukan di Palangkaraya.

1506576215754-06

Semuanya berjalan baik seiring gedung-gedung komersil dan perumahan hampir kelar dibangun. Progres bar yang mengukur kesuksesan (atau kegagalan) pembangunan menunjukkan warna hijau, tapi kota saya boros banget dari sisi pengeluaran. Tidak mungkin rasanya bisa menutup kerugian kas negara (lebih tepatnya kas akun saya di game itu sih).

1506576252125-08

APBN (pura-puranya gitu ya) jebol baru satu masalah. Saya belum bilang, walau sudah menggelontorkan dana gila-gilaan aja, sebenarnya masih banyak elemen-elemen dasar kota ideal yang belum dibangun.

Palangkaraya buatan saya belum mempunyai sistem sanitasi kota terpadu. Sementara simulasi kota SimCity saya juga tidak cukup padat untuk bisa membangun sistem yang bisa mendekati dunia nyata. Di Palangkaraya sampai sekarang juga tidak ada transportasi publik. Hanya ada beberapa angkot. Lebih mudah untuk bepergian menggunakan motor atau mobil, jadi saya membangun banyak jalanan. Masalahnya, tidak ada bus atau stasiun kereta di kota ini.

Ramda mengatakan pada saya, pembangunan Palangkaraya di dunia nyata sudah sangat massif, tapi bukan untuk infrastruktur penunjang. Pusat kegiatan ekonomi di sana adalah Indomaret. Tragisnya, skema jalanannya dibangun untuk bisa menangani kemacetan satu juta mal (karena pemerintah Palangkaraya tampak terobsesi pada memperbanyak pusat belanja). Mengingat tidak ada pilihan "mini-market" di menu game, saya membangun area komersial dan pasrah berharap pencipta SimCity menyediakan pilihan mini-market nantinya.

Tidak berapa lama kemudian, saya menerima notifikasi ini:

1506576278878-11

Hmmm… aneh. Apa ini artinya saya perlu menghancurkan Tol Trans-Kalimantan yang baru saya buat? Eh, enggak juga ternyata. Lagi pula, Trans-Kalimantan bukan satu-satunya pembangunan infrastruktur yang sia-sia di Indonesia, kan? Bandara Kertajati kayaknya lebih tragis nasibnya, hehehe...

Saya memilih berpura-pura merasa segalanya baik-baik saja dan melanjutkan tugas sebagai wali kota virtual: menghancurkan lingkungan untuk membangun lebih banyak gedung.

1506576308295-13

Setelah beberapa hari main, saya terpaksa menyerah dan tidak meneruskan proyek ini. Kalau pakai versi normal, membangun ibu kota ideal di game butuh duit banyak banget. Terlalu banyak pembangunan yang harus dijalankan. Itulah kenyataan yang bakal dihadapi pemerintah jika mengubah Palangkaraya jadi ibu kota baru.

Kota simulasi saya penduduknya belum banyak. Saat saya menyerah, ada sekitar 100 penduduk di ibu kota virtual ini.

Hidup saya udah ribet, enggak perlu tambah ribet sama urusan game beginian.

1506577500911-12

Saya menutup kota pertama yang saya bangun. Tapi saya enggak mau menyerah langsung lalu ninggalin proyek simulasi yang sama.

Saya memulai membangun kota kedua. Tapi saya pakai akal sekarang. Buat versi ini, saya menggunakan cheat code, supaya uang saya enggak ada serinya. Harusnya sih sekarang gampang kalau mau ngapa-ngapain. Tapi tambang batu bara di pinggir kota langsung kebakaraan sesaat setelah dibangun.

1506576410837-2-01

Untungnya, kota saya yang kaya raya ini punya petugas pemadam kebakaran. Habis itu saya mulai membuat zona industri di bagian ujung luar kota, supaya tidak berdekatan dengan zona komersial dan hunian. Belajar dari kesalahan terdahulu, saya menambahkan bangunan-bangunannya dulu, baru menggabungkannya dengan jalanan dan tol.

1506576437369-2-04

Mengikuti saran Ramda, saya membangun area hunian di dekat area komersial, lalu berimprovisasi menambahkan ruang-ruang hijau seperti taman dan pusat komunitas di pojokan-pojokan. Bahkan ada taman skateboard di pusat kota, jejer sama SMA terbaik di Palangkaraya versi game ini.

Saya memasukkan bandara udara di sisi selatan, alih-alih di bagian timur seperti kenyataan di Palangkaraya sekarang. Palangkaraya versi saya tumbuh sangat pesat sampai-sampai penduduknya banyak yang meminta izin membangun rumah ibadah. Eh-eh, saya barusan udah ngapain ya? Apa saya tanpa sengaja menciptakan agama baru?

1506576459930-2-06

Seiring perkembangan kota virtual, permintaan untuk layanan publik semakin meningkat. Tapi itu bukan masalah. Soalnya saya punya uang tak terbatas. Saya membangun Tempat Pembuangan Akhir dan pusat daur ulang sampah untuk mengolah segala limbah warga.

1506576554726-2-13


Ya, kelihatannya simulasi kedua mengarah jadi kota yang sukses. Populasi penduduk terus bertumbuh dan mereka nampak gembira. Saya rasa tugas sebagai wali kota sudah tercapai.

1506576484191-2-07

Jadi, skenario yang mana yang berhasil dari simulasi SimCity? Apa pelajaran yang saya petik? Tentu saja jawabannya dari kota kedua, yang uangnya enggak berseri. Gampang banget sih.

Sayangnya, kehidupan nyata enggak berjalan seperti itu. Enggak ada cheat codes di dunia nyata. Saya membayangkan pemerintah pusat sudah tahu juga konsekuensinya. Mereka pasti sudah menyisihkan ratusan triliun rupiah (asumsinya gitu ya) kalau memang serius memindahkan ibu kota. Semoga itu modal yang enggak kalah dari cheat di kota versi SimCity saya.

1506576627102-2-10

Mungkinkah penduduk akan segera pindah ke Palangkaraya seandainya rencana ini diseriusi pemerintah pusat? Sayangnya, semua indikasi rasional mengatakan "tidak."

Orang Indonesia tidak terbiasa berpindah tempat tinggal sesering, misalnya, penduduk Amerika Serikat. Mungkin itu berhubungan dengan fakta bahwa selama merdeka kita hanya punya lima kota besar dan orang-orang cenderung enggan pindah ke kota kecil di mana gaya hidup mereka harus berubah drastis. Jadi bahkan dengan segala dukungan uang dari pemerintah, saya ragu warga Jakarta akan tertarik pindah ke Palangkaraya (lagi-lagi, kalau rencana ini benar bakal dilaksanakan).

Tampaknya dibutuhkan waktu sekitar 10 tahun sampai kota baru ini bisa semaju Jakarta. Sampai momen itu tiba, pindah ke sana bisa terlihat seperti penurunan kualitas hidup. Menurut Ramda, secara teori, memindahkan pusat pemerintahan enggak sulit. "Kita hanya membutuhkan lahan, bangunan, dan perumahan untuk seluruh anggota pemerintahan dan sistem pendukungnya," ujarnya.

Hanya saja, kebijakan yang maksa begini bukan tanpa risiko. "Seluruh bisnis yang mengandalkan akses dekat dengan pemerintah juga harus pindah," kata Ramda.

Yang bikin lebih surem lagi adalah satu fakta berikut: ketika ibu kota benar-benar dipindah, ketika infrastruktur Palangkaraya jadi lebih bagus supaya orang mau pindah, tetap saja Jakarta memiliki masalah kelebihan penduduk. Tidak semua orang yang tinggal di Jakarta bekerja di sektor pemerintahan. Memindahkan kantor pemerintah saja bukan berarti orang-orang akan ikut pindah.

Terang saja, ada banyak aspek kehidupan di Palangkaraya yang tidak bisa disimulasikan di SimCity. Contoh tergampang, tidak ada pilihan menciptakan kebakaran hutan dan menutupi seluruh kota dengan asap beracun gara-gara kebakaran itu.

Jadi, apa yang saya pelajari dari game ini? Apakah memindah ibu kota ke Palangkaraya merupakan ide bagus?

Susah juga menjawabnya. Saya cuma jadi wali kota selama seminggu. Kalau ada aspek yang berhasil dari pembangunannya, itu semua karena saya pakai cheat codes. Jadi apa saran saya buat pemerintah? Kalau niatnya pembangunan infrastruktur ibu kota baru langsung sukses dan tak ada protes dari masyarakat, bikin cheat codes di dunia nyata dulu deh.