Iklan
Hak Perempuan

Ironi Dari Pencabutan Larangan Perempuan Mengemudi di Arab Saudi

Sulit merayakan kebebasan mengemudi bagi perempuan Arab di saat pelopor gerakan ini dipenjara karena memperjuangkan hak mereka.

oleh Leila Ettachfini
28 Juni 2018, 7:34am

Esraa Albuti, memamerkan SIM-nya. Dia menjadi salah satu perempuan pertama yang mendapat izin mengemudi sesudah aturan seksis itu dicabut kerajaan. Foto dari arsip Kerajaan Saudi. 

“Saya terakhir kali mengemudi waktu tahun 2014,” ujar Aziza al-Yousef, aktivis pembela hak perempuan di Saudi, saat saya menghubunginya dua tahun lalu. “Saya ditahan karena mengemudi. Saya harus menandatangani surat persetujuan kalau saya tidak akan mengemudi sampai diizinkan di Arab Saudi.”

Akhir pekan ini, perempuan Arab akhirnya mendapatkan haknya untuk mengendarai mobil. Arab Saudi menjadi negara terakhir yang membebaskan perempuan menyetir, maka tidak heran kalau semua orang merayakan hari bersejarah tersebut. Sayangnya, al-Yousef tidak bisa turut berpartisipasi. Al-Yousef dan berbagai aktivis lainnya, seperti Loujain al-Hathloul dan Eman al-Nafjan, sudah ditahan sejak Mei dan dicap sebagai “pengkhianat” oleh media yang pro-pemerintah.

Para penggiat hak perempuan tersebut diberi hukuman penjara selama 20 tahun, dan sebagian besar dari mereka akan segera diadili di Pengadilan Pidana Khusus Arab Saudi atas tuduhan berikut:

  • Bersekutu dengan pihak yang melawan Kerajaan Saudi
  • Merekrut orang-orang di lembaga pemerintahan untuk mendapatkan informasi rahasia yang bisa merugikan Kerajaan
  • Mendanai dan mendukung pihak asing yang mencurigakan.
Perempuan memakai alat simulasi mengemudi di sebuah pameran Ibu Kota Riyadh. Foto oleh the Center for International Communication, Kerajaan Arab Saudi.

Keputusan Putra Mahkota Mohammed bin Salman untuk mencabut larangan mengemudi bagi perempuan sangat ironis. Di satu sisi, ini menjadi tanda keberhasilan bagi perempuan Arab dan aktivis yang telah mempertaruhkan nyawa memperjuangkan hak mereka untuk mengemudi. Namun, di sisi lain, para pelopor kampanye tersebut dipenjara karena hal yang sama dan keputusan pangeran Arab ini tampaknya didasari oleh keinginan mereka untuk menguntungkan sektor ekonomi dan hubungan internasional Arab Saudi.

“Saya khawatir dengan apa yang sedang terjadi,” tutur Rothna Begum, peneliti di Human Rights Watch (HRW) yang sudah mempelajari hak-hak perempuan di Arab Saudi selama sepuluh tahun terakhir. “Seharusnya, pencabutan larangan berkendara ini menandakan masa depan yang lebih baik bagi perempuan Arab.”

Sebaliknya, Begum menganggap penahanan ini sebagai peringatan bagi aktivis dan warga lainnya kalau mereka juga bisa ditangkap apabila menentang kerajaan. “Pihak berwenang telah menunjukkan bahwa mereka tidak bersedia memberikan kebebasan seutuhnya bagi perempuan dengan menjebloskan aktivis perempuan paling penting di Arab ke penjara. Kita tidak bisa berharap lebih.”

Sebagian peringatan ini sudah berjalan efektif. Manal al-Sharif, penulis Daring to Drive: a Saudi Woman's Awakening dan salah satu aktivis paling terkenal di Arab Saudi, berencana pulang ke Arab Saudi dari rumah barunya di Australia bulan ini untuk merayakan momen berharga ini dan mengendarai mobil untuk pertama kalinya di kampung halamannya. Di masa lalu, ia dipenjara karena mengemudikan mobilnya sebagai aksi protes. Namun, penangkapan aktivis perempuan Arab—tiga di antaranya teman al-Sharif—yang baru-baru ini terjadi menyadarkan al-Sharif kalau ini bukan waktu yang tepat untuknya pulang ke Arab Saudi.

“Saya sedih karena harapan dan impian saya hilang begitu saja,” tulisnya di Washington Post bulan lalu.

Pangeran Mohammed bin Salman tidak patut dielu-elukan sebab ia telah menahan para aktivis penting di balik kampanye hak mengemudi. Yang perlu kita hargai sebenarnya adalah mereka yang saat ini ada di penjara karena telah ‘menentang’ kerajaan.

“Pihak berwenang Saudi harusnya berterima kasih kepada mereka karena telah menciptakan perubahan besar di Arab. Tapi yang mereka lakukan malah menahannya,” kata Begum.

“Berkat mereka [para aktivis], perempuan Arab bebas mengendarai mobilnya sekarang. Mereka cinta tanah kelahirannya, tapi dipenjara karena membangkang dari kerajaan,” kata al-Sharif mengingatkan.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly