Iklan
Seni

Yuk Kenalan Sama Lima Seniman Perempuan Muslim yang Karyanya Amat Menakjubkan

Kita semua wajib mendukung seniman-seniman ini sepenuh hati.

oleh Leila Ettachfini
29 Maret 2019, 6:12am

Morehshin Allahyari. Foto oleh Sarah Wang

Bagi para pengagum dekorasi dinding keramik atau ukiran di langit-langit masjid, mereka pasti memahami bahwa seni sudah lama memiliki tempat khusus di kalangan umat Muslim di seluruh dunia. Dari Casablanca hingga Malaysia, tempat ibadah ini diakui sebagai karya seni baik bagi orang Islam maupun non-Muslim.

Namun, masjid bukanlah satu-satunya tempat untuk memamerkan bakat kesenian kami. Seniman Muslim seperti Sughra Rababi dan Lubna Agha bisa terkenal karena menjadikan keyakinan dan komunitasnya sebagai inspirasi. Dewasa ini, para seniman perempuan Muslim dari seluruh aspek terus menciptakan, berkembang, dan menginspirasi orang lain.

Untuk memperingati Hari Perempuan Muslim yang bertepatan pada 28 Maret, kami ingin memperkenalkan lima seniman Muslim perempuan yang karyanya wajib kalian ketahui dan dukung.

Yumna al-Arashi

Yumna al-Arashi adalah seorang fotografer, filmmaker dan penulis yang tinggal di London. Dia mengangkat feminisme dan seksualitas dalam karyanya. Dia sering menghubungkan kedua tema itu dengan Timur Tengah. Arashi, yang keluarganya berasal dari Yaman, merasa “ sangat jijik” dengan stereotip perempuan Arab dan Muslim yang digambarkan oleh media. Oleh karena itu, dia menggunakan karyanya untuk menyoroti betapa kompleksnya mereka.

Ejatu Shaw

Sama seperti Yumna, seniman bertalenta Ejatu Shaw juga tinggal di London. Dalam fotografinya, Shaw berusaha mengekspresikan perasaan modelnya. Sementara itu, karya editorial dan dokumenternya memanfaatkan garis dan warna kuat yang mampu menarik perhatian siapa pun yang melihat.

Ayqa Khan

Ayqa Khan, seorang seniman visual sekaligus fotografer di NYC, menggunakan pacar kuku, cat atau kamera untuk menciptakan karya yang menghormati latar belakang budayanya. Seluruh ilustrasinya menggunakan warna-warna cerah untuk menggambarkan setiap kegiatan perempuan, seperti bersantai dalam balutan perlengkapan BDSM dan berdisko sambil mengenakan hijab. Terlepas dari pekerjaan pribadinya, Arya turut mengurus akun Instagram yang mempromosikan seniman Asia Selatan.

Safia Elhillo

Penyair Sudan-Amerika Safia Elhillo mengeksplorasi identitas dan kolonialisme dalam karyanya. Buku puisinya yang bertajuk The January Children mengungkapkan emosi yang berasal dari perjuangan mempertahankan identitas Sudan setelah pendudukan Inggris. Saat ini, Elhillo sudah pergi keliling dunia untuk membacakan puisinya di hadapan penonton. Dia juga berbagi panggung dengan penyair ternama seperti Sonia Sanchez.

Morehshin Allahyari

Sang seniman, aktivis, pendidik dan kurator Morehshin Allahyari menggunakan teknologi untuk mengomentari perjuangan politik dan sosial. Karya Allahyati telah dipamerkan di Tate Modern, Museum of Contemporary Art di Montreal, dsb. Saat ini, dia sedang sibuk menggarap proyek yang berfokus pada “‘re-Figuring’ makhluk mitologi Islam sebagai praktik feminisme dan dekolonialisme”. Proyeknya dilakukan menggunakan pencetakan 3D.

Artikel ini pertama kali tayang di Broadly