Di Balik Panggung Konser

Menyusun Poster dan Daftar Bintang Tamu Festival Musik Ternyata Ada Teknik Rahasianya

Kami ngobrol bareng booker dan pengelola konser kawakan, membahas alasan ukuran font sangat berpengaruh dalam poster festival musik.

oleh Danny Wright
17 Februari 2019, 8:30am

Penonton memadati panggung kecil di Festival Musik Lost & Found festival 2017. Foto oleh Matt Eachus

Bagi saya momen menarik yang bisa dipelajari dari dokumenter baru Netflix, Fyre Festival, bukan semata saat penonton melacak apa saja ketidakbecusan EO yang membuat konser menyasar anak-anak orang kaya itu gagal total. Momen tak kalah penting muncul ketika Samuel Krost, panitia yang berumur 22 tahun ditugaskan menghubungi para penampil acara. Dia tidak memiliki pengetahuan yang cukup soal manajemen konser, dan berbicara dengan seorang agen musisi tenar di telepon. Sambil menghela napas, dia bersungut, "Kan cuma masalah ukuran font aja itu bos."

Aduh, Samuel, Samuel.... Dasar kamu naif. Bagi orang awam, poster festival musik—yang biasa menampilkan nama BINTANG TAMU UTAMA YANG BESAR di bagian atas poster, sebelum hurufnya sedikit demi sedikit mengecil hingga nama-nama sulit dibaca di ujung bawah poster—mungkin enggak dianggap penting. Faktanya ada pertimbangan estetika, keputusan ilmiah, juga seni diplomasi di balik pengaturan nama 50 atau 60 musisi yang tampil di festival yang sekelas Soundrenaline, Coachella, atau Summer Sonic.

Membahas peletakan dan ukuran font mungkin terdengar konyol, tapi ada alasan-alasan nyata kenapa penampil dan agen yang mewakili mereka sangat mementingkan hal tersebut. Posisi penampil dalam sebuah poster festival bisa mempengaruhi posisi mereka di poster berikutnya.

Semua ini bisa berpengaruh terhadap faktor-faktor penunjang sebuah konser. Misalnya hype yang menyelimuti bintang tamu, hingga fee yang bisa diminta musisi ke promotor lain di masa depan. Semua hal-hal ini membuat hari-hari menjelang pengumuman line-up sebuah festival menjadi menegangkan. Dalam proses penyusunan daftar musisi di poster sebuah festival musik, banyak ego dan tenggat waktu bertubrukan.

Untuk mendalami seni merancang poster festival musik, kami ngobrol bareng beberapa booker (orang yang tugasnya memesan dan mengamankan jadwal tampil musisi) festival, untuk memahami negosiasi rumit, yang tidak jarang diwarnai perdebatan perihal urutan nama penampil di festival. Kami juga pengin tahu prinsip desain poster, dan tentunya ukuran font kayak gimana yang menarik untuk poster tersebut.

Seorang booker dipaksa oleh tim mereka agar tidak berkomentar kepada Noisey. Bagi booker yang lain, seperti Adam dari The Great Escape di Brighton, wawancara kami lancar-lancar saja. Empat booker festival lainnya bersedia membuka mulut, tapi tiga di antaranya memilih anonim—jadi biar gampang mari kita sebut mereka Booker Festival X, Y dan Z.

Berikut bocoran-bocoran dari mereka:

"Ada masa-masa ketika kami membuat nama penampil sulit dibaca, agar mereka bisa naik satu baris."

"Kami mempertimbangkan banyak hal ketika menentukan urutan nama penampil: siapa yang paling bisa menarik penonton di kota sekitaran tempat kami menggelar konser, siapa penampil yang paling penting bagi audiens sasaran kami, berapa fee mereka, siapa yang sedang paling ngehits, siapa yang sedang naik daun, dan jam berapa mereka tampil di festival.

Kami sempat diminta menambah kerning (jarak antar karakter font) di poster agar penampil bernama pendek mendapatkan ruang yang sama dengan mereka yang bernama lebih panjang. Ada masa-masa kami membuat nama penampil semakin tidak terbaca agar mereka bisa naik satu baris. Ada juga agen yang mengaku-ngaku penampil lain tidak keberatan diturunkan namanya agar nama kliennya bisa naik lebih tinggi."

Y, Booker Spesialis Festival Musik Gede dari London

"Ada orang yang tugasnya menukar nama-nama penampil di medsos setiap harinya."

"Kami melakukannya sesuai urutan alfabet biar lebih gampang dan enggak usah bertengkar dengan agen soal posisi penampil mereka. Jadi kalaupun ada agen yang bersiteguh mereka ingin menduduki posisi puncak, kami tinggal bilang ‘Sori, kebijakan kami seperti itu’ dan biasanya 99 persen musisi bisa menerima keputusan tersebut.

Kebanyakan penampil yang pernah bekerja bareng kami, untungnya mereka lebih mementingkan mereka main bareng siapa alih-alih soal posisi nama mereka di poster. Kami tidak punya satu penampil puncak, dan itu adalah keputusan yang sengaja diambil karena kami tidak mau semua orang hanya datang untuk satu penampil—prinsipnya, semua orang setara. Tidak ada yang diprioritaskan.

Sebelum pengumuman dikeluarkan, desain poster harus dikirim ke para agen. Kalau di poster kamu ada 50 penampil, pastinya butuh waktu untuk mendapatkan feedback. Kamu harus memastikan semua orang puas. Kadang ada hal-hal yang terlewat dan mereka mengatakan ‘Kok kamu enggak bilang ini bakal begini sih’, tapi biasanya selalu ketemu jalan keluarnya.

Di pekerjaan saya sebelumnya, ada dua penampil besar di acara yang sama. Manajer dua musisi tadi tidak bisa menyetujui siapa yang akan jadi penampil pamungkas. Itu konyol, maka kami berikan mereka status dual headliner. Konyolnya lagi, mereka tetep enggak puas, jadi solusinya—beneran lho ini—seseorang ditugaskan untuk menukar kedua nama mereka setiap harinya di medsos. Gila ya."

Z, Booker Festival Booker di Eropa


Tonton dokumenter VICE membahas cara mengelola tur dan konser bareng 88rising:


"Kadang tujuan festival adalah menemukan artis baru, jadi kami bisa menampilkan band-band yang belum banyak didengar orang"

"Sebagai event musik yang baru beberapa tahun jalan, kami berusaha menghindari percakapan macam ini. Nge-book 500 musisi buat mengisi festival aja udah cukup ribet tanpa harus menentukan hierarkinya. Kalau percakapan ini ternyata muncul dan manajernya si band/musisi bersikeras, kami bakal menawarkan calon penampil promosi yang lain karena desain poster kami selalu berdasarkan urutan alfabet."

“Ketika saya memilih 25 musisi untuk video promosi, saya selalu berusaha menghadirkan berbagai genre dan negara asal penampil alih-alih menggunakan musisi yang paling terkenal. The Great Escape berfokus menemukan artis baru, jadi kami bisa menampilkan band-band yang belum banyak didengar orang. Audiens kami memercayai kami untuk memperkenalkan mereka dengan musik-musik baru yang terbaik.

“Kami memastikan semua penampil mendapatkan desain pribadi untuk mereka bagikan via media sosial. Ini juga harus disetujui oleh agen, manajer, atau bandnya sendiri—saya mengerti pentingnya posisi nama penampil di poster. Tapi itu mimpi buruk yang berusaha saya hindari.”

Adam Ryan, pengelola Festival Musik The Great Escape

"Saya hampir menangis setelah tahu dua penampil tersebut memiliki manajer yang sama."

"Selain para penampil puncak (headliner), kami tidak pernah menjanjikan billing (penempatan nama musisi di poster). Tapi memang pasti sakit kepalanya nanti-nantinya. Tapi memang buat kami, tugas kami adalah nge-book penampil untuk festival, dan kami gak mau ikut campur dalam kepusingan yang lain…

Sebetulnya masuk akal apabila semua didasarkan penjualan tiket penampil di wilayah tersebut. Tapi ini tidak bisa diterapkan ketika kamu berhadapan dengan penampil yang baru ngetop dalam waktu singkat dibanding dengan band ikonik yang sudah eksis selama beberapa dekade, dan mungkin daya jualnya sudah menurun tapi mereka menolak menerimanya.

Hanya sedikit penampil yang memiliki klausa persetujuan dalam kontrak mereka. Tapi saya sudah belajar dari pengalaman, agak enggak pusing, untuk langsung mengirimkannya ke orang-orang berego terbesar, eh sori maksudnya agen. Mendingan menghabiskan beberapa hari mengurus biling secara santai alih-alih tergopoh-gopoh di menit-menit akhir dan mempertanyakan apabila kamu harus mengubah keseluruhan kampanye marketingmu yang sudah direncanakan dengan hati-hati dan menghabiskan banyak uang hanya karena seseorang enggak suka gimana nama mereka terlihat di poster.

Tapi ya ini pun pernah kejadian. Kami pernah menerima permintaan untuk menghasilkan dua versi desain dengan 2 penampil puncak yang berbeda—yang kemudian harus diunggah bergantian di situs dan media sosial. Sempat juga ada dua penampil yang berdebat perihal billing, dan keduanya menolak ditulis setelah pihak lainnya. Tapi saya hampir nangis ketika tahu ternyata dua penampil tersebut memiliki manajer yang sama. Jadi sebetulnya mereka berdebat sendiri, bego kan? Saya juga pernah terjebak di tengah-tengah argumen dua penampil yang memang saling enggak suka satu sama lain dan pengin kelihatan lebih tenar dari saingannya.

Perlu dicatat bahwa agen hanya melakukan yang terbaik bagi klien mereka. Persepsi itu sangat penting bagi musisi dan penempatan mereka di poster bisa secara tidak langsung mempengaruhi harga tiket konser mereka di masa depan."

X, Festival booker profesional dari London

"Kalau kamu biasa bersikap transparan dalam proses booking musisi, seharusnya tidak terlalu banyak percekcokan"

"Biasanya kamu dan si agen memiliki pemahaman yang serupa mengenai status artis relatif terhadap sisa penampil secara keseluruhan, terutama dalam diskusi awal sebelum tawaran fee resmi dilemparkan. Yang sulit adalah berhadapan dengan seniman yang merasa mereka seharusnya mendapatkan biling yang lebih tinggi dibanding musisi lain yang kamu anggap setara atau bahkan satu level di atasnya.

Perihal billing penampil, konsep status si artis itu agak sulit dikuantifikasikan—kamu bisa menggunakan metrik seperti jumlah stream dalam pasar tertentu, penjualan tiket ketika mereka menjadi penampil puncak, dsb. Tingkat laku penampil jelas sebuah faktor besar tapi bukan segalanya ketika mempertimbangkan billing.

Musisi yang pasarnya lebih niche atau yang lebih dihormati, bisa menerima billing lebih tinggi dibanding nilai penjualan mereka. Yang penting adalah “kurasi” panitia secara keseluruhan dan bagaimana si artis masuk ke dalam konsep acaramu secara keseluruhan.

Ketika membicarakan desain festival keseluruhan, jelas konsepnya datang dari promotor, jadi tidak diperlukan persetujuan dari musisi, tapi untuk masalah penempatan nama di poster, penampil bernama besar biasanya mau memastikan posisi nama mereka di poster. Tapi kalau kamu sudah biasa bersikap transparan dalam proses booking artis, harusnya sudah tidak terlalu banyak percekcokan."

Chris Tyler, Manaher Festival Musik Mingguan Liverpool


Follow Danny, si penulis artikel ini di Twitter, dan ajak dia membahas seputar konser.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey