Mengintip Geliat Manusia yang Tak Pernah Mengenal Kantor

Seiring makin populernya budaya freelance, muncul anak muda yang tak pernah mengirim surat lamaran, dan tak pernah mengenal durasi kerja 8 jam seperti kebanyakan manusia lain. Orang kayak gini masih butuh kantor enggak sih?

|
Ags 12 2018, 5:15pagi

Ilustrasi pekerja lepas masa kini oleh Farraz Tandjoeng

Nyaris setiap pekan, Ida Bagus Wibawa melangkahkan kakinya dari panggung ke panggung; dari festival musik di ibu kota hingga kota-kota kecil yang kadang kau perlu melihat lokasinya di peta. Dengung tata suara 15 ribu watt yang memekakkan telinga, sorot cahaya yang menyilaukan mata, serta teriakan ribuan orang adalah hal biasa baginya selama 10 tahun terakhir. Lelaki akrab disapa Guswib oleh kawan-kawannya ini bukan musisi. Sebaliknya, dia bertugas merekam gerak-gerik musisi lewat kamera yang ia bawa.

Guswib adalah fotografer resmi bagi band punk Superman is Dead serta kolektif musik Dialog Dini Hari—serta sesekali membantu musisi Tanah Air lainnya yang membutuhkan sentuhan kreatif lewat lukisan cahayanya. Dengan keseharian macam itu, Guswib mengaku hidupnya dihabiskan di jalanan. Sepanjang usia produktifnya—kendati mencukupi hidup dengan cara bekerja untuk orang lain—ia tak pernah berada di belakang meja, tak pernah mengirim surat lamaran, dan tak pernah mengenal durasi kerja 8 jam seperti kebanyakan manusia lain.

"[Seumur hidup] belum pernah ngantor hehehe," ujar lelaki 31 tahun kelahiran Denpasar itu kepada VICE.

Cerita tak jauh beda datang dari Giri Prasetyo. Sepekan sebelum ngobrol bersama VICE, dia masih mengendarai sepeda motor menyusuri Pegunungan Himalaya, sampai India. Beberapa momen perjalanannya ia bagikan lewat Instagram kepada 11 ribu pengikut. Belum lama menginjakkan kaki di Tanah Air, Giri bergegas menuju Gunung Pangrango, Jawa Barat. Baru, sesudah memperoleh sinyal lagi di kaki gunung, Giri bisa rehat sejenak dan berbagi cerita hidupnya. Giri adalah videografer sekaligus sutradara yang sudah makan asam garam menggarap film dokumenter bernuansa travelling maupun iklan sejak 2012. Sama seperti Guswib, lelaki 30 tahun kelahiran Surabaya ini tak mengandalkan kantor untuk mencari nafkah. "[Sengaja tidak kerja kantoran] supaya bisa mendapat pengalaman kerja yang beragam budaya dan workflow-nya," kata Giri.

Dua sosok ini menggambarkan kultur kerja yang sedang melonjak di Tanah Air: kultur pekerja lepas alias freelancer. Jumlah orang yang mengindentifikasi dirinya sebagai freelancer di Indonesia terus menunjukkan grafik meningkat. Dari awalnya baru tercatat 60 ribu, berdasarkan data 2017 yang dihimpun Indonesia Freelancer Association (IFA) menunjukkan jumlahnya kini lebih dari 940 ribu—mereka tersebar di berbagai kota.

Lonjakannya mencapai 1.500 persen. Konsentrasi pekerja lepas terbesar, berdasarkan survei terbaru, ada di kota-kota yang memiliki iklim kreatif serta budaya pendidikan kuat. Misalnya Bandung, Malang, serta tentu saja Jakarta. Dari sekian banyak freelancer, Guswib ataupun Giri mewakili jumlah yang lebih sedikit lagi. Yakni mereka yang sejak awal memilih meniti karir sebagai freelancer—bukan awalnya kantoran lalu akhirnya memilih independen.

aff_i?offer_id=7244&aff_id=1526

Sebagian besar freelancer di Tanah Air memulai karir dari hobi. Guswib mengenal fotografi berkat hadiah kamera pocket semasa SMA dari kerabatnya. Lambat laun, dia mengenal DLSR dan tak berhenti memotret. Mulanya dia memotret sobatnya yang aktif di kancah skateboard Bali. Persahabatannya dengan beberapa musisi lalu membuatnya memantabkankan karir sebagai juru potret spesialis peristiwa musik.

Giri juga memulai kiprahnya sejak masih kuliah. Awalnya dia sering diajak jalan-jalan keliling Jawa Timur oleh sahabatnya. Sepanjang perjalanan dia merekam semua hal memakai kamera. Lambat laun, minatnya merambah travel video, dan mulai mendapat tawaran pekerjaan sambilan sebagai videografer dari instansi pemerintah pada 2011.

Macam-macam alasan orang memilih tidak terikat pada satu institusi untuk mencari nafkah. Namun, benang merahnya, jika mengacu pada cerita Guswib ataupun Giri, adalah kebebasan—baik dalam hal menentukan jam kerja maupun kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat baru. "Saya tidak ingin terpaku di jam dan hal yang sama," kata Guswib.

Sementara bagi Giri, dia menikmati kebebasan bertemu manusia baru dan punya waktu luang mengenal mereka, tanpa harus terkait bidang profesinya sebagai videografer. Itu hal paling bernilai ketika seseorang memutuskan tak menjalani kehidupan profesional di ruang bernama kantor. "Jadinya bisa saling tukar ilmu dan pengalaman," ujarnya.

Tak bisa dipungkiri, freelance adalah jalan sunyi. Tak ada yang mengikatmu dengan durasi, tapi dalam waktu bersamaan kepastian juga menghilang. Baik itu pemasukan maupun cara mengisi waktu luang yang berlebih. "Awal karir freelance memang mati-matian menjaga income tiap bulannya," kata Giri. Sementara Guswib melihat selalu ada titik pekerjaanya terasa mekanis, yakni ketika dia pulang dari perjalanan memotret konser. "Baru bosen kalau sudah masuk tahap editing. Kalau di rumah lagi bosen ngedit biasanya saya main game atau nonton film."

Buat Giri, yang kini sudah rutin menerima permintaan menggarap video, rasa jenuh melakukan hal yang dicintai pasti terjadi. Ketika orang kantoran travelling untuk mengurai penat, dia justru jalan-jalan untuk mencari uang. Jika kebosanan melanda, dia biasanya segera bersiasat. "Saya mengatur ritme job yang masuk," ujarnya, "mengatur kapan bisa travelling dan berhubungan dengan orang-orang di luar pekerjaan."

Dengan warna-warni hidup macam itu, tetap ada kebutuhan bertemu calon klien di ruang profesional. Ruang macam ini juga menjamin mereka terus memperoleh relasi baru untuk mengembangkan karir.

Guswib merasa jalan tengah yang menarik adalah coworking space—alias ruang kerja bersama. Ruang macam itu tengah naik daun di Indonesia, baik untuk kebutuhan perusahaan rintisan maupun freelancer macam Guswib dan Giri. Di Jabodetabek saja, sudah ada nyaris 200 coworking space dan belum menunjukkan stagnasi. Pertumbuhan bisnis coworking space menurut Sekretaris Jenderal Asosiasi Coworking Space Indonesia Felencia Hutabarat, mencapai 400 persen. Salah satu jaringan coworking space besar, seperti COCOWORK yang dulunya memakai bendera EV HIVE dan memiliki 3.000 anggota, bahkan terus melebarkan sayap berkat suntikan dana US$20 juta dari gabungan berbagai modal ventura asing.

Alhasil, rupanya ada kebutuhan memiliki kantor bagi orang yang tak mengenal kantor seperti para pekerja lepas. Sebab, freelancer dapat leluasa bertemu sesama pekerja kreatif maupun mendapat ruang ideal untuk bertukar gagasan bareng klien potensial. "Ide coworking space itu menarik," kata Guswib. Tapi tetap ada syaratnya. Dia jenis orang yang harus berkonsentrasi ketika sedang mengejar tenggat mengedit foto. Sebisa mungkin coworking space itu tidak terlalu hiruk pikuk. "Karenanya saya lebih suka bekerja di tempat sepi."

Adapun coworking space ideal, menurut Giri, tetap mempertahankan aura bukan kantor. "Saya nyaman di tempat terbuka dan casual," ujarnya.

Dengan tantangan dan peluang sama besarnya dalam dunia freelance, Giri meyakini tak akan menyentuh kantor konvensional. Sudah ada tawaran mengepalai rumah produksi, tapi semua ia tampik. Giri optimis akan terus bisa menghidupi diri tanpa harus terikat karena sudah mengetahui kunci survival utama dalam kehidupan profesional . Yaitu sikap ketika bertemu kenalan baru dan hasil kerja yang memiliki ciri khas. "Supaya orang bisa recognize karya kamu memang harus punya diferensiasi dengan yang lain, dengan begitu demand juga akan meningkat," tandasnya.

Guswib pun tidak mau berhenti. Kebebasan berkarya telah membuatnya kecanduan. Kepada anak muda lain yang berminat hidup tanpa terikat kantor sepertinya, ia punya pesan penting: terus mengumpulkan koneksi baru dan selalu update portfolio. "Jangan pernah puas dengan apa yg sudah dibuat dan harus lebih bekerja keras. Klien akan datang jika pekerjaan kita bagus."


#UbahCaraKerjamu adalah kolaborasi antara VICE X COCOWORK untuk memperkenalkan cara baru berkolaborasi di era gig economy

More VICE
Vice Channels