Pilkada Serentak 2018

Ngobrol Bareng Warga Kota Makassar yang Memenangkan Kotak Kosong Sewaktu Pilkada

Pertama kali dalam sejarah, kotak kosong menang dalam pilkada. Apa penyebabnya? Kami mencari tahu alasan warga Makassar yang menolak calon tunggal.

oleh Eko Rusdianto
11 Juli 2018, 9:51am

Ilustrasi oleh Dini Lestari.

Sejarah ditorehkan di Makassar, untuk pertama kali dalam sejarah pemilu di Indonesia kotak kosong menang melawan calon tunggal kepala daerah. Dari 16 daerah dengan calon tunggal di pilkada serentak 2018, hanya di Makassar kotak kosong menang.

Komisi Pemilihan Umum Kota Makassar Minggu 8 Juli lalu mengumumkan bahwa kotak kosong menang dengan perolehan suara sebanyak 53 persen, sementara pasangan Munafri Arifuddin-Andi Rachmatika Dewi (Appi-Cicu), satu-satunya pasangan yang diloloskan KPU untuk bersaing dalam pilkada serentak memperoleh 47 persen.

Sebelumnya ada calon petahana Mohammad Ramdhan Pomanto-Indira Mulyasari juga maju dalam laga perebutan kursi wali kota Makassar. Pada masa pencalonan, elektabilitas mereka di survei jauh lebih tinggi dibanding Appi-Cicu. Tapi pasangan yang maju lewat jalur independen ini dianulir KPU atas tuduhan politik uang.

Kemenangan kotak kosong di Makassar tahun ini jelas menarik sebab mencoblos kotak kosong punya arti berbeda dengan menjadi golput. Orang yang golput gampang sekali dituduh sebagai warga yang apolitis dan apatis karena kekecewaan pada kandidat diaspirasikan dengan cara tak tak ikut pemilu.

Sementara kotak kosong, orang mesti datang ke tempat pemungutan suara dan ikut mencoblos. Pemilih kotak kosong meluangkan waktu dan mengerahkan tenaga untuk ikut pemilu sehingga ia terhindar dari tuduhan apolitis dan apatis. Bisa jadi mereka mengaspirasikan kekecewaan atas pilihan yang ada.

Lalu apa sih sebenarnya alasan pemilih-pemilih di Makassar mencoblos kotak kosong? Apa benar mereka kecewa? Lalu mereka yang memilih Appi-Cicu apakah benar-benar suka dengan mereka atau sekadar tak mau kotak kosong yang menang? Kami bertanya pada beberapa warga Makassar untuk menjawab hal itu. Simak obrolan kontributor VICE Eko Rusdianto dengan mereka:

Zulham Karyadi, 34 tahun, Karyawan Swasta

Foto oleh Iqbal Lubis

Apakah setiap pemilihan umum Anda memberikan hak pilih?
Tidak. Baru di Pemilihan Walikota Makassar ini saya ikut berpartisipasi. Sebelumnya saya acuh dalam arena politik.

Apa yang membuat Anda tiba-tiba ikut berpartisipasi?
Saya melihat banyak perubahaan yang terjadi di Makassar pada periode sebelumnya. Ini hal utama yang mendorong saya untuk mempertahankan pemimpin yang baik dan bekerja.

Apakah itu alasan Anda memilih Kotak Kosong?

Iya. Itu karena saya mencintai Makassar dan tak ingin melihat Makassar mundur lagi.

Apakah Anda sudah melihat dan mempelajari visi dan misi pemimpin lainnya?

Oh iya. Saya membaca semuanya dan menimbang serta memikirkannya. Bagi saya semua program yang di tawarkan pasangan lainnya, sudah dilaksanakan oleh pak Danny. Dan saya menganggap capaian pak Danny sudah sangat bagus. Dan hanya perlu dilanjutkan kembali.

Jadi Anda memilih Kotak Kosong dengan alasan petahana?

Iya. Saya memilih Kotak Kosong karena karena saya benar-benar mendukung petahana yang didiskualifikasi oleh KPU dengan alasannya yang tak jelas.

Apa arti kemangan Kotak Kosong untuk Anda?

Ini adalah kemenangan Pak Danny. Bisa dikatakan begitu.

Mansyur Rahim, 39 tahun, Pekerja Lepas

foto oleh Iqbal Lubis

Apakah setiap pemilihan umum Anda memberikan hak pilih?
Periode sebelumnya saya tidak berpartisipasi. Calonnya tidak memiliki kapasitas yang menjadi tolak ukur saya.

Apa yang membuat Anda tiba-tiba ikut berpartisipasi?

Ini mengenai pemilihan. Hanya ada satu pasangan melawan Kotak Kosong. Ini tentu menarik, kita diberi alternatif untuk menentukan pilihan. Kalau pasangannya banyak, kemungkinan tak ada yang sesuai dengan harapan, maka akan memilih yang ada saja.

Pada Pilkada Makassar, mengapa Anda memilih Kotak Kosong?

Pemilihan Walikota saat ini hanya menawarkan satu pasangan calon tunggal. Dan menurut saya, pasangan itu tak dapat memeparkan program dan solusi terhadap masalah yang dihadapi Makassar.

Saya kemudian membuat daftar sendiri untuk kriteria calon pemimpin Makassar. Saya membuatnya di media sosial itu sebelum pasangan Petahana didiskualifikasi. Beberapa hal seperti moda transportasi publik. Pengurangan kendaraan pribadi yang kian hari membuat sesak jalan. Melarang pengunaan kendaraan bagi anak dibawah umur. Menghentikan reklamasi Losari. Memperbaiki drainase kota. Dan membersihkan sungai, waduk, hingga kanal.


Saya kira dua pasangan calon itu tak memiliki visi itu. Maka tentu saja pilihannya adalah kotak kosong.

Bagaimana pandangan Anda mengenai pasangan tunggal ini?

Soal Appi, saya tidak begitu tahu banyak. Saya hanya tahu kalau dia menjabat sebagai manager PSM Makassar, yang menurut referensi saya pun prestasinya biasa-biasa saja.
Saya juga tahu jika Appi adalah bagian dari keluarga Aksa Mahmud dan Jusuf Kalla. Yang bagi saya ini akan membawa kepentingan bisnis keluarga.

Apakah Anda memilih Kotak Kosong dengan alasan petahana?

Tidak. Itu keliru. Saya memilih kotak kosong karena berharap ada pemilihan yang akan memunculkan calon lainnya. Calon yang benar-benar yang memberikan tawaran program untuk kepentingan Makassar.

Yayuk Yusman, 30 tahun, Pekerja Swasta

foto oleh Iqbal Lubis

Pilkada Makassar kali ini hanya ada calon tunggal. Bagaimana pendapat Anda?
Sebenarnya itu merugikan. Karena kita tak punya pilihan untuk melihat dan mempelajari visi dan misi calon pemimpin. Jika hanya satu calon, ini apa-apaan. Kan bingung.

Anda berharap pasangan lain tidak didiskualifikasi?
Tidak juga dia bersalah atau melanggar aturan. Tapi jika pun ada dua pasangan misalkan Danny-Indira dan Appi-Cicu, saya sudah menentukan pilihan pada satu calon. Saya akan memilih pasangan Appi-Cicu.

Danny, sebagai petahana telah menunjukkan kinerjanya selama satu periode. Saya ikut memilihnya pada saat itu, karena dia berjanji memberikan pelayanan air bersih di kawasan pemukiman di wilayah saya. Tapi hingga masanya berakhir dia hanya janji terus. Itu mengecewakan.

Mengapa Anda memutuskan memilih Appi-Cicu?
Tentu saja saya mau wajah baru. Pemimpin baru. Dia membuat program yang baik dan bagi saya sebagai warga negara, tentu saja hanya bisa berharap. Jika dia terpilih, maka warga bisa menagih janjinya. Jika tak dipenuhi, maka kita meninggalkannya.

Apa tanggapan Anda dengan Kotak Kosong?
Nah itu dia. Kenapa kita harus memilih kotak ini? Itu kan bagi saya, jika menang, maka petahana akan kembali memimpin. Ada rentang kepimpinan yang kosong hingga 2020. Tentu saja, pemerintahan kelak hanya akan menjalankan program walikota sebelumnya. Padahal bagi saya itu program gagal.

Lalu setelah 2020, ada pemilihan lagi. Nah kita belum tahu siapa lagi kelak yang akan maju sebagai calon pemimpin. Ada sekitar dua tahun lebih kita menunggu dan meraba-raba bagaimana calon walikota kita berikutnya.

Ilham Rezky, 26 tahun, Pekerja Sosial

foto oleh Eko Rusdianto

Bagaimana Anda menilai pemilihan umum, khususnya Pilkada Makassar?
Sebelum pasangan DIAmi didiskualifikasi, saya mengikuti informasinya dari media online atau perbincangan di media sosial. Saya tahu Danny adalah walikota atau petahana yang kembali ikut bertarung.

Saya melihat kinerjanya selama memimpin Makassar. Kedekatannya pada komunitas kecil, buruh, hingga upaya perjuangan HAM sangat jarang diketahui. Maka saat pasangan petahana didiskualifikasi, pembacaan menjadi lebih mudah. Artinya saya hanya akan memilih satu pasangan calon.

Mengapa Anda memutuskan memilih pasangan Appi-Cicu?
Saya tahu Cicu. Saya tak tahu kiprah Appi. Ibu Cicu, beberapa kali saya melihatnya dengan beragam komunitas kecil. Dia membaur dan memberikan motivasi. Dia menunjukkan kepeduliannya pada isu perempuan dan anak. Ini bicara dengan perspektif HAM secara universal yang terbuka. Saya senang dengannya.

Jafar, 45 tahun, Juru Parkir

foto oleh Eko Rusdianto

Apakah setiap pemilihan umum Anda memberikan hak pilih?
Sejak berkeluarga dan menetap di Makassar saya selalu ikut memilih. Kalau pemilu itu semua orang ke TPS, masa saya tinggal di rumah. Baru memilih kan cuman sebentar.

Bagaimana pendapat Anda tentang Pilkada Makassar?
Saya dengar orang ribut-ribut. Ada yang bilang Appi-Cicu menang. Ada yang bilang Kotak Kosong. Saya juga tidak tahu. Tapi nanti saja dilihat bagaimana jadinya.

Apakah Anda pernah ikut kampanye dengan pasangan calon wali kota?
Itu tidak pernah. Karena saya selalu jaga parkir. Biasanya orang-orang kalau sudah kampanye, atau sebelum kampanye. Mereka kasi baju kaos, saya terima.

Apa kriteria Anda memilih calon pemimpin?
Ai, itu susah juga. Biasanya dari cerita-cerita orang saja. Mana yang bagus dan layak dipilih. Itu saja.

Di Pilkada Makassar, Anda memilih pasangan Appi-Cicu apa alasannya?
Itu biasaji. Kan lawannya kotak kosong. Masa saya harus memilih itu kotak kosong. Kan tidak ada orangnya. Kalau itu menang, bagaimana mi Makassar. Saya ini warga biasa ji. Rakyat kecil. Jadi mau dipimpin.

Kalau itu kotak kosong, masa Makassar tidak ada pemimpin. Itu kan harusnya menang mi Appi-Cicu. Tapi itu ada aturan, saya tidak tahu bagaimana prosedurnya.

Apa harapan Anda pada Walikota Makassar kelak?
Siapa saja yang jadi Walikota kan nasib sama saja. Jadi mungkin pemimpinnya harus baik dan sesekali main sama rakyat kecil. Jadi tahu, seperti apa sebenarnya mau kelas pekerja seperti kita.