Musik

Alasan Sundancer Tak Peduli Pada Tren Garage Rock Kekinian

Band garage liar asal Mataram merilis debut karya, digawangi mantan gitaris unit surf rock legendaris Southern Beach Terror. Single perdana mereka 'musim bercinta' menggebrak penuh percaya diri.

oleh Adi Renaldi
10 November 2018, 5:10am

Foto dari arsip pribadi Sundancer.

Awal 2000-an band-band garage rock menjamur kembali di kancah musik global. Awalnya ditandai dengan maraknya nama band berawalan 'The'. Meski resep bikin nama band garage itu enggak baru-baru amat, faktanya genre garage yang muncul di era 1960'an itu kembali mendapat tempat di tangga lagu modern. Debut album The Strokes bertengger di ranking delapan 100 Debut Album of All Time versi majalah Rolling Stone. Sementara tiga album milik The White Stripes, yang juga sempat dianggap bagian dari gerbong garage rock, sukses menyabet tiga Grammy Awards.

Faktanya tren hanyalah sebuah tren. Kini ketika musik EDM dengan ratusan sub-genrenya jadi headliner festival musik Tanah Air memasuki paruh kedua Abad 21, garage punk kembali berhibernasi. Setidaknya ada satu band asal Mataram, Nusa Tenggara Barat yang enggak peduli amat soal tren garage rock atau nama band dengan awalan ‘The’. Namanya Sundancer dan mereka baru dibentuk Mei lalu oleh mantan vokalis/gitaris band surf rock Southern Beach Terror, Oom Robo, bersama Decky Jaguar.

"Waduh, garage rock yang kita imani bukan versi mapan seperti itu," kata Oom Robo. "Jenis garage rock kandas dan ambyar yang kami imani itu enggak pernah ada di indonesia."

Oktober lalu mereka baru saja merilis debut EP Musim Bercinta yang berisi enam lagu soal petualangan bercinta orang kampung di tengah musim panen padi. Sound-nya tergolong ambyar dalam tataran estetika masa kini. Simak saja single mereka di tautan di bawah ini kalau tidak percaya.

VICE Indonesia menyempatkan berbincang dengan duo personel Sundancer soal apakah band ini terpengaruh Broery Marantika, masihkan mereka berharap duit dari hasil nge-band, hingga apakah Eka Sapta layak disandingkan dengan The Mummies.

VICE Indonesia: Debut EP kalian Musim Bercinta baru saja rilis, seperti apa proses bikinnya dan apa sih alasan kalian bikin EP ini?
Om Robo: Prosesnya sangat cepat, kita kerjakan dari workshop dirumah dan dibawa ke studio sekitar dua bulan saja. Karena si Oom udah ngempet banget sudah hampir 10 tahun sejak pulkam dia enggak pernah bikin karya, jadi ya langsung keluar aja seperti itu. Lagian musik yang kita bikin rock and roll gampang, semua orang juga bisa bikin. Susahnya mungkin karena kita ngotot pakai bahasa indonesia, lama di mikir liriknya. Susah ternyata pakai Bahasa Indonesia. Teknis rekaman pun kita enggak mau ribet harus di studio. EP ini dikerjakan 100 persen di rumah teman dengan laptop, soundcard portable, dan satu buah mic. Microphone yang sama juga digunakan untuk menodong ampli gitar mini merek Pignose. Mudah, cepat dan ambyar. Hasilnya sudah sangat sesuai dengan yang kami inginkan. Alasan bikin EP ini tentunya agar kita terkenal, hahaha.

1541762073524-Sundancer1-1024x1024
Foto dari arsip pribadi Sundancer

Om Robo dulu sibuk di band Southern Beach Terror yang cult tapi sayangnya udah enggak aktif. Kenapa malah sekarang bikin Sundancer? Kenapa enggak mempertahankan saja Southern Beach Terror yang jelas basis massanya?
Decky Jaguar: Karena jarak antar personel jadi jauh, proses kreatif bermusik itu agak susah kalo ga dikerjakan dengan bertemu muka. Energinya jadi beda gitu sih. Southern beach terror itu sudah paripurna kalau kata si Oom. Sesuai dengan namanya, cukup jadi mitologi setempat saja, hahaha.

EP Musim Bercinta jelas merupakan mini album soal cinta, apa kalian terpengaruh lagu Broery Marantika yang berjudul sama?
Om Robo: Wahaha, enggak ada hubungannya sama lagunya si oom Broery, tapi kita respek sama lagu itu. Jadi waktu proses penciptaan EP, kita udah nyerah karena enggak bisa bikin lirik bagus dan bermakna seperti Cholil atau Jimi Multhazam. Jadi ya sudah, kita bikin lirik se-cheesy mungkin saja sekalian dan berharap dengan musik yang kita bikin, aura liriknya yang cheesy itu bisa jadi enak, hahaha.

EP ini sebenernya adalah cerita perjalanan cinta kilat si "Udin". Dia adalah simbol lelaki yang gemar menyambangi dangdutan di pesta perkawinan di kampung-kampung. Di Lombok ini, kalau sudah musim panen itu tandanya musim kawin. Setiap akhir pekan selalu ada pesta kawinan dan dangdutan yang jadi ajang tebar pesona si "udin". Dia bisa gonta ganti pasangan di tiap kampung berbeda. Nah dari track pertama itu temanya perjumpaan, trus kecewa, marah, terkenang, cari yang baru lagi. Kira-kira seperti itu ceritanya.


Tonton dokumenter VICE mengenai asal-asul lipstik hitam yang sempat lekat sebagai citra anak gothic:


Garage rock udah enggak populer lagi sejak The Strokes dan band-band pake awalan ‘the’ heboh di Indonesia pada awal 2000-an. Apa tidak takut dibilang ketinggalan tren?
Om Robo: Waduh, garage rock yang kita imani bukan versi mapan seperti itu. Jenis garage rock kandas dan ambyar itu engga pernah ada di indonesia. Contohnya ya katalognya BOMP records, In The Red, atau Norton Records. Rock and roll liar yang sangat primitif dengan sound yang sangat mentah. Di Amerika sih berkembang terus si genre garage kandas itu. Dari jamannya Black Lips naik daun, ke Ty Segall, trus band-band ajaib nya Burger records deh. Kalau di Indonesia menurut kita enggak pernah ada yang mau mendekati jenis garage beginian. Trennya enggak pernah ada, jadi ya kita enggak perlu khawatir dibilang ketinggalan tren.

Kalian berasal dari kota Mataram dengan pantai ciamik dan sinar matahari berlimpah, adakah pengaruh dari kota ini dalam proses berkarya kalian?
Decky Jaguar: Nama Sundancer ini dipilih karena ingin merepresentasikan dari mana kita berasal. Pulau Lombok yang berlimpah sumber daya alam nya. Dan kalo browsing di internet, memang ada nama resort yang kebetulan sama…ehem. Jangan pedulikan resort itu ya!

Omong-omong, kalian pilih The Mummies atau Eka Sapta?
The Mummies tentunya. Itu standar kualitas yang kami kejar. Eka Sapta terlalu necis untuk kami.

Lagu favorit kalian di EP ini apa?
Semua lagu kita suka sih. Karena ini pertama kalinya kita bikin musik yang beda dari background musik kita masing-masing. Decky yang postpunk dan om Robo yang surf-oriented. Kita baru belajar tentang dinamika. Bikin album enggak melulu harus kencang semua musiknya.

1541762025346-WhatsApp-Image-2018-10-31-at-101445

Main musik kan enggak otomatis bikin kaya, kenapa kalian tetep ngotot pengin nge-band?
Wah, kita si pengen kaya karena musik juga. Kita pengen seperti kakak-kakak di Seringai, yang punya dayjob tapi bisa bermusik juga. Ini kita mencoba menuju ke sana sih. Kita punya dayjob yang bisa menghidupi dan diusahakan ngeband ini juga bisa menghidupi. Walau kita tinggal di kawasan timur indonesia, tapi ya dicoba dulu lah.

Kenapa kamu memutuskan bikin duo? Emang kenapa dengan full band isi empat atau lima orang?
Si oom robo itu kesusahan banget nyari talent yang suka dengan konsep musik-musik jadul. Setelah sekian lama mencoba, cuma Decky aja yang berminat 100 persen. Ya sudah berdua juga bisa lah, pikir om robo. Maka disegerakanlah langsung rekaman saja.

Karena enggak terlalu banyak halangan dari brainstorming atau nge-jam dulu lah, ngulik sound lah, hal-hal yang biasanya ada kalau band punya banyak personil. Lucunya begitu rekaman selesai di garap dan kita lagi mikir untuk manggung, akhirnya kita kasi dengerin ke anak2 eh malah baru pada mau diajak nge-band. Ya sudah mereka kita jadikan additional saja, agar bayaran tetap lebih besar ke kita dong, hahaha.

Kalian peduli sama tanggapan publik soal materi Musim Bercinta gak?
Tentu tidak. Memperdulikan omongan orang hanya membuang waktu dan tenagamu. Sangat tidak baik untuk kesehatan jiwamu. Band ini pun ga bakal ada kalau kita peduli dengan omongan orang.

Tagged:
garage rock
Musik Independen
Musik Indonesia
Wawancara Musisi
Southern Beach of Terror
Sundancer
Decky Jaguar