Iklan
News

Dua Pekan Usai Lion Air Jatuh di Karawang, Ada Indikasi Sistem Keamanan Boeing Bermasalah

Walau evakuasi resmi dihentikan, KNKT belum memperoleh posisi blackbox kedua alias CVR. Kemarin muncul edaran sistem sensor Boeing 737 MAX bermasalah, bikin geger industri penerbangan.

oleh Adi Renaldi
14 November 2018, 9:48am

Petugas KNKT memeriksa temuan turbin pesawat Boeing 737 MAX dari Lion Air yang jatuh di Karawang. Foto oleh Beawiharta/Reuters

Selang dua pekan setelah pesawat Lion Air JT 610 dari Jakarta menuju Pangkal Pinang jatuh di perairan Karawang, upaya untuk memecahkan misteri penyebab jatuhnya kapal udara keluaran Boeing itu masih terus berlanjut.

Meski upaya pencarian korban telah dihentikan oleh Badan SAR Nasional (Basarnas), usaha untuk mencari blackbox cockpit voice recorder (CVR) masih terus dilakukan oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT). VICE Indonesia mengumpulkan beberapa fakta yang telah terkonfirmasi oleh instansi terkait dua minggu setelah kejadian tersebut.

Boeing Diminta Mengevaluasi Sistem Keamanan Pesawat Tipe 737 Max

Dugaan tersebut muncul lantaran Boeing tidak menginformasikan atau memberikan pelatihan soal anomali yang mungkin terjadi pada sistem keamanan penerbangan di pesawat 737 Max. Jenis 737 Max, yang dirilis massal pada Maret 2017, adalah pesawat yang digunakan oleh maskapai Lion Air sejak Agustus lalu.

Sistem keamanan berupa anti-stall sensor tersebut adalah sebuah fitur baru yang ada pada 737 Max. Namun, pihak Boeing rupanya tidak memberikan informasi lebih kepada maskapai dan pilot perihal sensor baru tersebut. Baru pada 6 November pihak Boeing merilis informasi terkait penggunaan sensor.

Terkait insiden Lion Air JT 610, berdasarkan pada investigasi awal, diduga penyebab jatuhnya pesawat tersebut karena mengalami “erroneous input” pada sensor. Pihak media dan otoritas Administrasi Penerbangan Federal (FAA) menduga masalah teknis tersebut bisa dihindari seandainya pilot Lion Air JT 610, Kapten Bhavye Suneja, mendapat pelatihan dan informasi dari Boeing. Laporan ini menggegerkan industri penerbangan global dan mengundang kecaman netizen maupun penerbang profesional terhadap Boeing.

1542188728279-105296-lkqlffjans-1541906957-1
Keluarga korban dan karyawan Lion Air menabur bunga di perairan koordinat jatuhnya Lion Air JT 610. Foto oleh Beawiharta/Reuters

CVR Percakapan Pilot Masih Dicari

Pada 1 November lalu Personel tim gabungan search and rescue yang terdiri dari tim gabungan Basarnas, TNI AL, dan Polri berhasil mengangkat blackbox flight data recorder (FDR) di kedalaman 30 meter perairan Karawang. Namun hingga saat ini blackbox CVR yang berisi percakapan di cockpit, masih belum ditemukan.

Ketua KNKT Soerjanto Tjahjono mengatakan saat ini pihaknya telah mengerahkan kapal pencari dan remotely operated vehicle (ROV) untuk pencarian bawah air. Menurutnya, ROV ini mampu mendeteksi benda meski tertimbun lumpur bawah laut.

"Kita akan melakukan dengan sub-bottom profiling untuk mencari benda-benda yang masih di dalam lumpur. Kita harapkan alat ini bisa menemukan seandainya black box atau CVR masuk ke dalam lumpur kami akan bisa mendeteksi kira-kira di mana lokasi yang akan kita cari. Mudah-mudahan CVR bisa cepat kita temukan," ujar Soerjanto dikutip Detikcom.

RS Polri Berhasil Mengidentifikasi 85 Korban

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Pusat Kedokteran dan Kesehatan Polri telah berhasil mengidentifikasi 85 korban per 14 November. Dilansir CNN Indonesia, Polri berhasil mengidentifikasi 64 jenazah berjenis kelamin laki-laki dan 21 jenazah lainnya berjenis kelamin perempuan.

Basarnas sendiri resmi menghentikan pencarian korban sejak 10 November lalu. Selama 13 hari operasi pencarian korban, Basarnas berhasil mengumpulkan 195 kantong jenazah, seperti dilansir CNN Indonesia. Kepala Basarnas Marsekal Madya M Syaugi dikutip Kompas.com mengatakan operasi pencarian dihentikan karena bagian tubuh korban yang ditemukan semakin sedikit. Ia mengatakan, bagian tubuh korban tetap tidak ditemukan, baik di area pencarian bawah laut maupun pesisir Tanjung Pakis, Karawang, Jawa Barat.

Kepala Bidang DVI Polri Komisaris Besar Lisda Cancer mengatakan saat ini proses identifikasi terus berlangsung, meski terkendala. Namun Lisda mengatakan saat ini tim DVI telah menerima data riwayat atau antemortem korban semasa hidup. Lisda mengatakan saat ini telah ada 256 data antemortem yang diterima tim DVI.