VICE Votes

Tren Anak Muda Rela Jadi Caleg Pasangan DILDO Ungkap Krisis Politik di Indonesia

Gelombang shitpost yang jadi perbincangan nasional ini menguak borok praktik demokrasi Indonesia di mata anak muda, serta kerinduan terhadap lebih dari dua capres supaya pemilu kembali #MahaAsyik.

oleh Titah AW
07 Januari 2019, 10:23am

Ilustrasi pasangan DILDO oleh Farraz Tandjoeng.

Ketika hawa politik dan kontestasi capres semakin memuakkan menjelang April 2019, saya terkejut melihat beberapa teman di media sosial yang biasanya tak sekalipun sudi angkat bicara soal politik—atau yang terang-terangan menyatakan golput—tiba-tiba nyaleg. Apakah kiamat sudah dekat?

Ternyata saya mereka semua tergulung gelombang konten viral jagat media sosial. Anak-anak muda itu berapi-api mengampanyekan pasangan Nurhadi-Aldo, biasa disingkat DILDO.

Calon presiden serta wakil presiden "jalur prestasi" dari Partai Untuk Kebutuhan Iman (PUKI) yang sukses membuat berbagai media arus utama berebut meliputnya. Buat penggemar shitpost, dua sosok tadi— terutama Nurhadi sang tukang pijat asal Kudus—sangat diakrabi berkat kombinasi petuah relijius dan humor selangkangan dari akun medsosnya.

Paslon nomor urut 10 ini rupanya hasil kreasi bersama sekelompok pegiat shitposting berbagai kota, yang dirilis sejak akhir Desember 2018. Lewat strategi branding blak-blakan, pasangan DILDO mendulang respons positif dari warganet didominasi pemilih muda berkat kutipan absurd serta tagar kampanye gampang diingat, macam Tronjal-Tronjol ataupun #SmackQueenYaQueen.

Tanpa komando, ratusan anak muda seantero Indonesia membuat poster dan mencalonkan diri sendiri sebagai anggota legislatif demi Koalisi Tronjal Tronjol demi memenangkan Nurhadi-Aldo. Modalnya cuma foto agak resmi, beberapa program kerja nyeleneh, tagline mesum, dan gelar akademis ngawur. Semua itu jadi semacam template para caleg #MahaAsyik tersebut. Beberapa orang bahkan hingga mencetak poster, spanduk, dan stiker kampanye Nurhadi-Aldo betulan di kota mereka. Pencapaian fantastis ini seharusnya membuat kedua tim sukses calon presiden betulan bisa segera melakukan evaluasi dan studi banding.

Maaf-maaf aja nih, Komisi Pemilihan Umum dan tim sukses pasangan Jokowi & Prabowo, paslon DILDO terbukti lebih ampuh menyulut partisipasi publik terhadap politik kotak suara.

Meski terlihat ringan dan lucu, sebetulnya partisipasi aktif serta masif dari warganet terhadap capres Nurhadi-Aldo menyiratkan masalah besar muaknya anak muda terhadap laku politik Indonesia hari ini. Dari sosok-sosok caleg yang ditanya VICE, semua sepakat kondisi politik sudah tidak menyenangkan lagi. Politik di Tanah Air melayani kepentingan elit, serta tak lagi pantas dijuluki "pesta demokrasi".

Tidak heran, ancaman golput meningkat. Dalam pemilihan 2014, warga yang sengaja tidak memberikan suara ataupun menolak datang ke TPS mencapai 30 persen dari total jumlah pemilih. Apalagi tim Jokowi ataupun Prabowo sama-sama memakai jargon politik identitas, minim tawaran program kerja, membuat potensi pemilih rasional golput makin tinggi.

Adu hoax, tebar-tebar ujaran kebencian, dan berbagai jurus kampanye norak yang selama ini beredar dari dua kubu capres nyata nampaknya benar-benar membuat penonton bosan. Anak-anak muda ini melawan balik, membawa kegembiraan dalam pesta demokrasi.

Di sela-sela agenda kampanye mereka yang padat, caleg-caleg ini membahas strategi kampanye, pandangan politik mereka, dan apa yang membuat DILDO lebih menjanjikan dibanding Jokowi vs Prabowo. Berikut cuplikan obrolan kami:


Dr. Ir. Bayu Pratomo, SH, Mkn, Audio Visual Sound Designer, 32, Jakarta

1546852776368-WhatsApp-Image-2019-01-06-at-104650-AM

VICE: Kenapa memilih mendukung dan menjadi caleg untuk pasangan calon DILDO?
Bayu Pratomo: Selain karena udah "kenal" sama dua tokoh di jagat shitposting itu sebelumnya, tentu aja karena ini semua lucu, mbeling dan absurd, sesuai dengan selera humor gue.

Sebelumnya kamu merasa peduli situasi politik Indonesia?
Tentunya aktif dan peduli, bahkan pada pemilu 2014 pernah bergabung di gerakan sosial salah satu politisi dan sangat aktif mendukung salah satu capres. Sekarang milih DILDO lebih karena muak sama yang saling serang, saling fitnah, dan ngata-ngatain. Baru sekarang tapi, perasaan marah dan muaknya bisa disalurkan secara lucu.

Di tengah huru-hara politik saat ini, apa yang kamu pikir positif dari Nurhadi-Aldo dan kampanye #SmckQueenYaQueen?
Gue nemu oase di tengah karut marutnya orang-orang pada asik berantem. Seharusnya para capres dan timsesnya yang sekarang bisa nyontoh DILDO. Blasting program kerja ke mana-mana—walau fiktif—daripada ngeladenin hinaan dan asik berkubang di dalam hal-hal yang normatif kayak lomba baca kitab suci ataupun siapa yang lebih banyak didukung sama pemuka agama.

Misalnya jumlah capres nggak cuma dua, apakah menurutmu suasana pemilu akan lebih kondusif?
Oh tentu. Lebih dari dua capres bakal bikin masyarakat punya banyak pilihan dan pasti lebih niat milihnya, karena proses filteringnya pasti lebih banyak. Lama-lama kita jadi kayak Amerika, berantem dan banter [debat- red] terus. It sucks!

Dengan kekecewaanmu pada Jokowi ataupun Prabowo, kamu bakal golput?
Golput adalah hak, walaupun hak itu enggak bisa dipertanggung jawabkan nantinya. Saya sendiri dulu golput, sampai 2014. Untung insyaf. Soalnya golput enggak bisa mengubah keadaan, kecuali kalau mayoritas dari pemilih golput, nah itu baru rame.

Strategi kampanyemu sebagai caleg DILDO seperti apa nih?
Banyak-banyak bercanda di sosmed. Dijamin bakal nurunin ketegangan dan bikin orang lupa sama capres yang lain. Gue juga bikin akun IG buat kampanye DILDO di bulan, karena jumlah penduduk pasti akan melonjak pesat kalau Pak Nurhadi jadi presiden beneran.


Nanda Sekar Arum M.p3, Pelajar, 17, Bekasi

1546852740807-WhatsApp-Image-2019-01-06-at-92440-AM

VICE: Halo Sekar. Kenapa memilih jadi caleg untuk pasangan calon DILDO?
Nanda Sekar: Karena capres fiktif lebih asyik, lebih menghibur di tengah panasnya debat politik dua poros pasangan calon 1 dan 2. Saat ini pendukung kedua poros sama-sama suka menghina. Nah saya ingin ikut serta meramaikan pesta democrazy ala DILDO.

Sebelumnya kamu peduli enggak sama situasi politik? Sekarang gimana?
Lumayan, tapi enggak terlalu aktif. Sebelum ada DILDO saya berada di poros 1.

Di tengah huru-hara politik saat ini, apa yang menyegarkan sih dari kampanye Nurhadi-Aldo?
Biasanya timeline saya isinya hanya perdebatan paslon 1 dan 2. Tapi sekarang bahkan anak muda yang belum memiliki hak pilih saja sering share tentang DILDO. Mungkin itu hiburan menarik.

Strategi kampanye caleg seperti apa nih?
Kami akan slalu up to date menghibur warganet yang mabuk politik agar dapat berpikir enjoy.


Brian Fadli Fahmi, P.Sd, M.p4, Wirausahawan, 28, Padang

1546852839828-1

VICE: Halo bung. Buat apa sih bikin poster dan jadi caleg pasangan calon DILDO?
Brian Fadli: Kita menganggap gerakan ini sebagai panggilan menyelamatkan Indonesia. Menyelamatkan dari apa?! Ya dari kehancuran logika masyarakatnya. Karena iklim demokrasi di medsos saat ini udah enggak sehat dan mencerdaskan lagi. Simpatisan bukan adu gagasan lagi, sekarang malah cenderung adu isu. Saya merasa situasi ini secepatnya harus segera disudahi. DILDO muncul sebagai solusi. Politik itu harus membahagiakan, bukan menyebalkan.

Kamu merasa berkat DILDO jadi peduli politik lagi?
Sebelum jadi caleg DILDO, saya terlalu serius sama isu-isu politik. Kadang sampai lupa tidur kalau udah debat sama simpatisan capres lain di medsos, kayak lagi memperjuangkan harta warisan aja, sampai jantungan dan sesak napas [tertawa]. Akhirnya kebahagiaan dan kesenangan berpolitik cerdas itu saya temukan di pasangan DILDO ini.

Kamu lebih nyaman dengan sistem yang membuat koalisi besar hanya terdiri dari dua paslon?
Pengennya sih [lebih dari dua]. Coba enggak ada political threshold (PT), mungkin bisa saja capres DILDO ini beneran maju ke pilpres sebenarnya.


Ismi Rinjani, Wirausaha, 26 tahun, Yogyakarta

1546852964334-WhatsApp-Image-2019-01-04-at-74029-PM

VICE: Kenapa memilih mendukung dan menjadi caleg untuk pasangan calon DILDO?
Ismi Rinjani: Alasan personal karena solidaritas profesi, kami sama-sama tukang jamu dan pijet, saya merasa akan terwakili. Juga bosen sih sama dua capres asli berisik dan pendukungnya kayaknya susah jadi teman. Ikut nyalon karena saya lihat DILDO progresif banget, ngomongin ganja, kementrian penghancuran patriarki, sampai program petani untuk ketahanan pangan. Seumur-umur saya enggak pernah kepikiran jadi caleg, tapi liat visi misi mereka saya langsung tancap gas [tertawa].

Kamu sebelumnya sudah peduli situasi politik? Sekarang gimana?
Cuma memerhatikan, jarang aktif. Apalagi 2019 ini benar-benar tidak berkomentar sama sekali, karena apapun mudah dipelintir. Sekarang lumayan memerhatikan, tapi lebih ke lucu-lucuan aja gitu, politik praktisnya tetep enggak.

Di tengah huru-hara politik, apa yang membuat terpukau sama Nurhadi-Aldo dan kampanye #McQueenYaQueen?
Kita sekarang itu kayak lagi di jalan besar, macet dua arah dengan cuaca 50 derajat, saling klakson, saling teriak. DILDO ini kayak tukang cendol di pinggir jalan, di bawah pohon rindang. Jadi daripada ikut macet dan panas-panasan mending gue makan cendol, adem.

Pemilu 2019 akan seperti apa kira-kira?
Kayaknya akan penuh drama, FTV yang azab-azaban itu lewat pokoknya.

Pendapatmu soal golput? Apakah kamu akan jadi golput?
Melihat apa yang terjadi di Amerika dan Brazil kemarin, itu kan karena swing voter banyak yang udah muak ya. Jadi Donald Trump sama Jair Bolsonaro itu naik bukan karena orang pada milih, tapi malas juga sama calon lain. Mungkin akan ada kecenderungan itu juga di cebong-kampret. Aku sendiri kayaknya iya akan golput, soalnya isu HAM dan agraria, kayak Kendeng, Kulonprogo, dan reklamasi Benoa itu Jokowi nggak bertindak apapun. Udah males, DILDO aja [tertawa].

Isu apa sih yang ingin kamu angkat sebagai caleg DILDO?
Saya fokus ke masalah pangan, karena revolusi dimulai dari meja makan. Strateginya ya di medsos aja, tapi semoga enggak dilihat ibu sama calon mertua [tertawa].


Tonton dokumenter VICE saat menggelar sensus ke berbagai kota dan bertanya pada anak muda tentang harapan, ketakutan, dan impian mereka seputar Indonesia:


Agung Prakarsa, S.Mim, A.kmj, Mahasiswa, 18, Pontianak

1546853003448-WhatsApp-Image-2019-01-06-at-124248-PM

VICE: Halo. Apa yang membuatmu kepincut sama paslon DILDO?
Agung Prakarsa:
Meski fiktif, namun visi misi dan program kerjanya bisa dibilang hal yang memang Indonesia perlukan. Program kerja Dildo juga sarkastik terhadap janji politisi yang biasa disebar. Membuat kita sadar bahwa janji politisi itu semata-mata buat menarik perhatian aja.

Kamu merasa selama ini melek politik?
Sebelumnya saya mengamati segala sesuatu yang berkaitan dengan politik, mulai dari macam-macam janji, hingga hoax yang bertebaran. Tapi saya enggak mudah percaya, soalnya politik adalah dunia penuh kebohongan. Itu juga jadi alasan kenapa saya ikut mendukung DILDO.

Misalnya jumlah capres enggak cuma dua apakah menurutmu suasana pemilu bisa lebih kondusif?
Saya lebih memilih dua capres saja. Dua sudah cukup ribut dan kisruh, apalagi lebih dari itu.

Strategi kampanyemu sebagai caleg DILDO seperti apa nih?
Sebagai caleg yang lahir dari pergaulan remaja sekarang, saya menyadari Wibu dan kaum Plastique sangat berpengaruh terhadap tumbuh kembang masyarakat, ini yang akan saya perhatikan.


I Putu Rizky Marandika, Ga.L.e.R, Pegawai Swasta, 20, Bali

1546853122812-WhatsApp-Image-2019-01-06-at-20834-PM

VICE: Halo Bli. Kenapa masyarakat harus mendukung paslon DILDO?
Putu Rizky:
Karena Dildo membuat hari hari saya bahagia.

Di tengah huru-hara politik saat ini, memangnya Nurhadi-Aldo punya solusi?
DILDO salah satu capres yang cerdas, merakyat, dan memberi solusi. Dengan senyumnya yang maha asyik, saya yakin,banyak rakyat yang memilih beliau.

Misalnya jumlah capres enggak cuma dua apakah menurutmu suasana pemilu akan lebih kondusif?
Menurut saya berapun jumlah capres itu tidak berpengaruh besar. Jadi masalah kalau yang nyalon itu cuma satu aja, terus kita milih siapa?

Politik ala DILDO macam apa yang membuatmu lebih menarik dibanding caleg lain?
Banyak janji kayak caleg lain itu biasa dan norak. Sementara yang saya berikan adalah kemudahan, nyaman, aman, damai, dan kepuasan hasrat birahi. Saya pribadi yang tegas, kalau ada DPR yang tidur, saya beliin kasur terus saya pecat.