Panduan Noisey

Panduan Memahami Tool, Band Rock Pseudo-Intelektual Paling Ciamik Sejagat

Panduan ini bukan disusun untuk menyakinkan pemula agar ikut mencintai Tool. Justru, panduan ini dibuat semata-mata agar kalian paham kenapa sebagian penggemar musik begitu memuja Tool.

oleh Emma Madden; Diterjemahkan oleh Abdul Manan Rasudi
14 Januari 2019, 9:54am

Para personel Tool di awal karirnya sebelum jadi manusia setengah dewa di mata penggemar. Foto oleh Getty Images.

Artikel ini pertama kali tayang di Noisey

Seorang lelaki bijak, namanya Homer Simpson, suatu hari berbaring santai di sofa. Rokok menyangkut di bibirnya. Dia, seperti biasa, memasang tampang sengak. Dari bibirnya keluar kata-kata bijak ini: "Semua orang itu goblok, kecuali gue."

Homer mungkin cuma karakter kartun rekaan, tapi kata-katanya adalah pegangan filsafat saya selama bertahun-tahun menjadi penggemar Tool, band polymath yang 29 tahun terakhir menghabiskan waktunya menggubah lagu-lagu progresif rock/metal paling njelimet dan menantang.

Bagi orang awam—maksudnya mereka yang tak terarik mendengar track-track gubahan Maynard James Keenan cs—musik Tool merusak nalar. Aspek penyusun melodinya saling bertolak belakang: kegagahan hard rock/metal, elitisme progresif rock, kadar psikedelia yang lumayan tinggi, kualitas vokal yang bikin musisi pop iri, diperparah lirik-lirik sok intelektual dan filosofis. Barangkali jika harus cari padannannya, musik Tool setara kutipan-kutipan novel Brave New World, kaset VHS Fight Club, dan segepok jamur tahi.

Dengan ramuan gado-gado macam ini, Tool sanggup mengumpulkan penggemar yang tak sekadar setia memamah lagu-lagu mereka. Para fans ini nyaris menyembah empat rocker ini bak manusia setengah dewa. Hebatnya, Tool cuma perlu menelurkan empat album [rata-rata satu album saban tujuh tahun] sepanjang karir mereka sampai ke titik ini.

Di album Tool manapun—dari yang paling gampang dicerna macam Opiate hingga yang paling rumit Lateralus—pendengar pasti disuguhkan polyrhythm rumit dan birama yang tingkat kesulitannya menyaingi soal-soal Olimpiade matematika. Kalian juga akan memperoleh beat-beat tribal bernuansa mistis dan easter egg yang membuat pendengar Tool mempelajari Fibonacci, golden ratio, ayahuasca, dan makhluk ekstra dimensional. Pokoknya segala hal yang bikin kita kelihatan tolol, ketika orang lain tahu kalian sedang mempelajari apa.

Meski begitu, album kelima Tool yang katanya sudah beres digarap itu, masih saja digadang-gadang banyak media musik sebagai "album heavy metal paling dinanti sepanjang masa."

Sambil menunggu album yang tak jelas kapan rilis itu, biasanya penggemar Tool akan kembali memutar lagu di tautan bawah ini (sambil berdakwah kepada para pemula, bahwa mereka harus mendengarkan Tool sekaligus belajar deret angka ajaib Fibonacci yang menguak rahasia alam semesta).

Tool terbentuk pada penghujung dekade 1980'an. Saat itu Maynard James Keenan, pria halus yang kelihatan sayu, bertemu seniman special effect film bernama Adam Jones. Si Jones ternyata bisa main gitar sekalian. Kala itu, Maynard baru saja keluar dari dinas militer—pengalaman yang menjadikannya sinis dan membuka matanya akan segala macam kesenjangan sosial di Negeri Paman Sam.

"Sembilan puluh persen teman saya di kesatuan dulu kalau tidak gay ya lesbian," ungkap Maynard dalam biografi garapan Joel McGiver, Unleashed: The Story of Tool. "Mayoritas dari mereka terus dipanggil dan dinterogasi sama provos. Saya sempat menjalani kawin kontrak sama perempuan lesbian supaya dia tetap berada dalam kesatuan."

Setelah Jones dan Maynard bertemu drummer Danny Carey serta bassist Paul D’Amour, Tool menjelma jadi band pemarah. Musik mereka merefleksikan kecemasan remaja dekade ‘90an bermodal kegeraman dan pandangan hidup Maynard (nyaris semuanya bersumber dari pengalamannya menjadi tentara), serta kebenciannya mereka terhadap situasi di Los Angeles, kota yang selama bebeberapa dekade jadi rumah bagi Tool.

Tool tak cuma marah-marah seperti band-band rock/metal yang memulai karir sesudah Nevermind-nya Nirvana dirilis. Tool cukup pandai memosisikan diri sebagai band "intelektual". Selipan acuan terhadap Karl Marx dan Carl Jung, serta penampilan Maynard James Keenan yang mirip tradisi opera, condong lebih menarik perhatian pecinta musik yang (sok) pintar daripada band-band grunge sezaman dengan mereka.

Maynard sendiri menjuluki penggemar Tool “orang-orang yang menyebalkan,” membuat fans band ini ibarat nenek moyang penggemar Rick and Morty yang terkenal sok dan edgy. Yang unik—sekaligus bikin frustasi—tentang barisan penggemar Tool adalah betapa band asal LA ini terang-terangan memiliki tendensi pseudo-intelektualisme namun justru dipuja penggemar secara membabi buta. Untungnya, Tool memamerkan kecenderungan sok intelek ini lewat-lewat nomor hard rock/metal yang menyenangkan untuk didengar.


Tonton dokumenter VICE mengenai sosok keren musisi doom metal tunggal yang main sekaligus membuat alat musiknya sendiri:


Lalu pertanyaannya, kenapa penggemar Tool ngotot mencintai band ini, sementara obsesi mereka terang-terangan dibenci Maynard Cs? Barangkali, alasannya barangkali terletak pada kecongkakan Tool yang susah disaingi. Begitu pula kemampuan mereka membuat penggemar merasa sebagai bagian sebuah kultus rahasia besar, alias orang-orang terpilih. Atau, sederhana saja: karena Tool adalah band yang masing-masing anggotanya musisi jempolan.

Jawaban pertanyaan di atas memang perlu dicari. Sekarang sudah lewat 12 tahun sejak Tool merilis album terakhir 10.000 Days. Selama itu pula, penggemar Tool mencapai marwah yang sama dengan suporter Liverpool—sama-sama jadi pakar perkara menunggu. Awalnya gemas dan cemas menunggu kepastian album Tool berikutnya, kini pendengar setia Tool akrab dengan meme-meme yang menertawakan ketololan diri mereka tiap kali harus ikhlas menerima kabar tentang mundurnya perilisan album terbaru Tool. Alasannya ada saja. Mulai dari Adam Jones, Justin Chancellor serta Danny Carey kelewat perfeksionis, atau Maynard lebih sibuk merekam album bareng A Perfect Circle atau Puscifer.

Begitulah. Panduan ini tak sekadar bermaksud menjaring para pembaca sekalian terjerumus menjadi penggemar Tool, tapi artikel ini berupaya menjelaskan pada khalayak kenapa orang-orang seperti kami—yang kemungkinan sok pintar dan dibenci Maynard—masih setia menunggu album baru Tool bakal dirilis. Percayalah, ketika album itu rilis, ribuan manusia menyebalkan akan kembali memuja Tool layaknya menyaksikan kedatangan sang juru selamat.

(Sekadar mengingatkan, kalian tak akan menemukan playlist yang biasanya dijumpai pada artikel Panduan Noisey. Begini alasannya: Band idola ini masih belum ikhlas musiknya dipajang di layanan streaming manapun. Kok begitu? Ya jangan tanya kami dong. Alasan satu-satunya mungkin: karena mereka Tool. Hanya mereka band yang merasa tidak butuh layanan streaming supaya tetap bisa terkenal. Dan sayangnya iya)

Tool Versi Grunge

Saat melepas EP profesional pertamanya Opiate, pada 1992, Tool diposisikan seakan-akan industri musik masa itu bersebrangan sama ideologi kesenian mereka. "Tool seharusnya tak sukses sebagai sebuah band. Namun, sebaliknya, band ini malah sukses besar," begitu bunyi kalimat pembuka biografi yang ditulis McGiver.

Jujur, kondisinya tak sesederhana itu. Sebagian besar sejarah musik bisa dipotong menjadi dua bagian besar: sejarah band-band secara visual menarik untuk ditonton seperti band-band hair metal dengan segala keflamboynan mereka dan sejarah band-band anti kemapanan dengan citra gembel mereka serta keterusterangan mereka. Tool datang ketika khazanah musik global disesaki band jenis kedua.

Pada 1992, saat Opiate pertama kali beredar, seluruh lanskap musik metal baru saja mengalami pergeseran. Tahun itu dimulai dengan keberhasilan album Nevermind mendongkel album Raja Pop Michael Jackson, Dangerous, dari puncak Billboard Top 200. Keberhasilan ini menahbiskan skena musik Seattle sebagai salah satu yang paling berpengaruh di dunia. Dalam konteks ini, Opiate merebut posisi yang unik. Album pendek ini menawarkan sound yang berada tepat di antara grunge yang sedang berjaya sedangkan heavy metal mulai ditinggalkan pecinta musik—setidaknya pada saat itu.

Track pertama EP tersebut “Sweat” dibuka dengan riff tritone yang kekar. Lagu itu bergerak mengikuti permainan bass swampy Paul D’amour. Anasir-anasir grunge seperti inilah yang kelak disempurnakan Tool lewat album selanjutnya Undertow, khususnya di lagu “Prison Sex,” yang mengubah grunge menjadi lagu horor yang menjijikan dengan beat agak funky. Di lagu tersebut, Maynard bernyanyi seputar trauma lintas generasi dan pelecehan seksual. Dia bahkan memelesetkan salah satu aturan penting dalam Kitab Injil: "I do unto others what has been done to me," begitu Maynard bernyanyi, diiringi Jones yang nge-slap senar low E pakai bagian depan pickup, menghasilkan suara distorsi swampy yang khas.

Kebanyakan lagu-lagu Tool sepanjang awal dekade ‘90an bisa masuk kategorisasi grunge. Perhatikan vokal Maynard yang setengah berteriak; setengah bernyanyi seperti orang mengeluh, kemarahan yang tak ditutupi serta judul album pertama mereka sangat anti kemapanan, Opiate (mangacu pada ungkapan Karl Marx “Religion is the opium of the people” yang kerap didengungkan oleh mahasiswa tingkat awal yang baru kenal Marxisme). Tapi kita jangan lupa, karakter sound Tool terlalu kaya—ada serpihan pengaruh King Crimson, Black Flag, atau bahkan Meshuggah lama—untuk bisa ditautkan pada satu skena/genre musik tertentu.

Semua unsur ini justru membuat Tool makin layak disebut band yang grunge banget, karena subgenre ini memang awalnya lahir dari upaya band di Seattle nyampur semua pengaruh jadi satu.

Playlist era ini: “Sweat” / “Prison Sex” / “Stinkfist” / “Intolerance” / “Swamp Song”

Sisi Tool Sebagai Band Metal Galak

"Tolong usir peniru Bob Marley dari sini," kata Maynard, disambut riuh penonton saat sedang menyanyikan track live “Cold and Ugly” di album Opiate. Sedari awal, Tool konsisten membenci penggemarnya sendiri. "Gini deh, kalian memainkan musik yang heavy. Lalu labelmu yang tak pernah merilis album seperti yang kamu rekam langsung memasarkan kalian ke sekumpulan bocah bau tengik berambut gimbal, bau badannya mengerikan dan ada sisa air kencing di sepatu mereka," kata Maynard saat diwawancarai AV Club pada 2006.

Tool juga membenci “agama”, “pemerintah”, dan “industri musik.” Maynard dkk sekaligus membenci segala yang retro, tato, aktris yang insecure, Prozac, serta tak ketinggalan pencetus agama anyar scientology: L. Ron Hubbard. Semua kebencian tadi barangkali bisa menjelaskan kenapa Tool digemari oleh anak-anak kulit putih daerah suburban yang sering menyalak di muka ibu mereka, coli di WC sambil tetap pake flannel. Pendeknya, penggemar Tool—dan band satu era lainnya—tak jauh-jauh dari bocah yang hidup nyaman-nyaman saja, dan sebenarnya tak punya alasan marah-marah.

Tambahan lagi, kecemasan dan kemarahan Tool menginspirasi band-band metal tukang ngambek yang banyak bermuncul di paruh kedua dekade ‘90an hingga awal tahun 2000an. Vokalis Limp Bizkit, Fred Durst, pernah berkata pada MTV pada 1998 bahwa Tool adalah band favoritnya. "Kamu bisa dengar pengaruh Maynard di lagu Limp Bizkit 'Nobody Loves Me' pada bagian breakdownnya. Gue bener-bener nyontek cara Maynard nyanyi," kata Fred Durst.

Durst bukan satu-satunya musisi yang terang-terangan menggemari Tool. Dalam album Deftones yang beredar pada pertengahan 2000 White Pony, Chino Moreno menyanyikan lirik tentang diculik alien dan menyetir mobil bersama Maynard. Lagu itu menabalkan status legenda yang menempel pada Maynard di kalangan generasi baru musisi metal.

Meski begitu, Tool tak serta merta jadi band ramah. Sentimen kalian-boleh-suka-band-kami-tapi-kami-akan-selalu-membenci-kalian sudah kentara dari album Opiate. “Saat kami pertama terbentuk, kami itu produk zaman Reagan. Itu bikin kami keki,” ungkap Carey dalam sebuah interview dengan majalah Kerrang kepada 2006. Attitude seperti ini—maksudnya sikap mengacungkan jari tengah pada politik dengan P besar—kembali mencuat dalam album keempat Tool 10,000 Days. Saat itu, Carey menyebut Bush sebagai presiden terburuk dalam sejarah Amerika Serikat. “Kami frustasi dan itu alasan kenapa album 10.000 Days lebih heavy dari album kami sebelumnya,” katanya dalam interview yang sama.

Track seperti “Jambi” memperlihatkan strategi marah-marah yang simpel tapi memuaskan—bassline yang lincah, drum yang bertalu-talu namun di-tone down serta hingga picth gitar yang moody serta riff-riff yang gelap. Di album ini pula, Tool mulai terpengaruh Meshuggah. Imbasnya, kemarahan Tool jadi lebih berputar-putar jika tak bisa dibilang bertele-tele. Padahal, sebelum 10.000 Days, kemarahan Tool lebih direct, kurang sok serius dan, terus terang, terdengar lebih baik.

Momen marah-marah terbaik Tool bisa ditemukan di Ænima. Di album itu, Maynard melabrak seorang penggemar yang menuding bandnya sudah sell-out pada musik arus utama. "I sold my soul to make a record dipshit, and you bought one," teriaknya.

Playlist Tool sebagai band berangasan: “Sober” / “Flood” / “Hush” / “The Grudge” / “Jambi” / “Hooker With A Penis”

Tool Saat Jadi Band Prog-Rock

Lepas dari tiga album pertama, Tool membidik keabadian. Tak ada cabang musik rock yang sanggup mengakomodasi impian Tool ini selain prog rock. Sayangnya, subgenre rock satu ini punya catatan lumayan buruk buat pecinta rock sejati. Prog Rock pernah dianggap cabang rock "yang paling banyak dibenci, kedaluwarsa, dan soundnya jadul." Prog Rock sempat pula dianggap sebagai varian musik rock yang “lebih banyak disukai orang kulit putih”, seperti ditulis panjang lebar sama James Parker dalam sebuah artikel untuk majalah The Atlantic.

Uniknya, format komposisi prog rock—yang pernah dijuluki vokalis Yes, Jon Anderson, sebagai “seni tingkat tinggi”—ternyata klop sama karakter Tool. Bukan suatu kebetulan, jika rilisan Tool paling berbau prog rock muncul di tahun yang sama ketika mereka tur bareng salah satu pelopor genre prog-rock: King Crimson. "Kami ingin album-album kami tak lekang dimakan zaman," ujar gitaris dan ketua geng King Crimson, di masa jaya-jayanya genre itu pada dekade ‘70an.

Sedari awal memang begitu tujuan prog rock—membuat pendengarnya terus penasaran, berusaha menguliti tiap misteri dalam lagu atau album dengan konsep yang njelimet. Di saat yang sama, prog rock juga memaksa penggemarnya memuja musisi yang menganggap dirinya lebih mirip dewa-dewa kecil alih-alih musisi skena lokal yang membumi. Dan Lateralus, album Tool yang dikeluarkan pada 2001, punya tujuan yang sama: ingin tetap segar, transenden dan tak termakan waktu.

Lateralus bukan percobaan pertama Tool merevitalisasi sound dan citra jadul prog rock. Mereka pernah mencoba sebelumnya. Sekitar tahun 1994, Tool sengaja mengubah show mereka mendekati suasana psikedelik ala Pink Floyd berbekal pencahayaan, penggunaan laser dll. Mereka juga memanfaatkan soundscape megah yang identik dengan dengan band-band dinosaurus semisal Styx dan King Crimson, dalam track “Parabol” serta lagu dari album Ænima “Pushit.”

Apa yang membuat Tool tak berakhir jadi band prog rock revival konyol adalah kejelian mereka untuk hanya meminjam bagian-bagian menyenangkan dari prog rock—maksudnya, penggunaan instrumen yang tak umum (kalian bisa mendengarkan banyak sampel suara didgeridoo di album Lateralus), komposisi yang njelimet dan penuh kelokan (Birama dalam “Lateralus” dibangun berdasarkan rasio emas Fibonacci)—dan meninggalkan lagak sok pinter band-band prog rock ‘70an. Ini juga yang membuat engineer David Bottrill—pengaruhnya begitu besar dalam sound-sound prog Lateralus—jatuh cinta pada Tool.

"Gaya musik yang mereka mainkan begitu kuat. Masih ada misterinya tapi tetap bisa mendorongmu untuk mendengarkannya," katanya pada Ice Magazine pada 2001. "Prog rock pada umumnya berkutat seputar keahlian musisi memainkan instrumen, dan yang paling penting adalah sisi esoteriknya. Pendeknya, kamu harus cukup berwawasan untuk memahaminya. Sementara dalam kasus Tool, kamu tak perlu berwawasan amat untuk memahami band ini."

Maynard sering ngotot merasa lagu-lagu bandnya tidak komersil. "Lagu rock bukan pula jingle tiga menit. Lagu-lagu itu harus dinikmati—dan menyanyikan lagu-lagu Tool mirip seperti mempresentasikan sebuah film."

Dengan mengklaim begitu, Maynard sebenarnya mau menegaskan CD Tool masih layak dikoleksi. Bukan sebuah kebetulan dong ketika penjualan CD mulai melorot, Tool terus merilis format CD yang inovatif. Ciri khas CD Tool sedikit banyak dipengaruhi ketertarikan Carey pada geometri alam. Saking terobsesinya Carey pada bentuk-bentuk geometris suci, pengaruh itu tergambar jelas dalam imej-imej visual Tool dan menjadi dasar bagi artwork album Tool selanjutnya.

Tahun 2000, Tool merilis boxset CD/DVD Live dalam jumlah terbatas, berisi versi lebih nge-prog dari lagu-lagu mereka sebelum Lateralus. Satu track yang paling menonjol nuansa prog-nya adalah “Pushit.” Kemasan boxset itu dirancang sedemikian rupa agar menjadi “sebuah pengalaman tersendiri” bagi pemiliknya—praktik yang umum dilakukan band-band prog rock.

Dirancang Alex Grey, artwork album itu ditampilkan dalam slipcase tembus pandang dan menampilkan makhluk makrokosmik yang merentangkan tangannya. Taktik ini diulang oleh Tool pada album Lateralus dan 10,000 Days.

Dengan attitude jualan fisik seperti ini, jangan heran jika kalian tak akan pernah menemukan Tool di Spotify!

Playlist wajib sisi Tool yang ala-ala Prog: “The Patient” / “Reflection” /‘Lateralus” / “Rosetta Stoned” / “Pushit” / “Schism” / “Right in Two”

Tool Juga Punya Sisi Lembut Lho

Salah satu sisi menarik dari Tool—entah saat menjadi band grunge, tukang marah-marah, atau band yang sok-sokan main prog—adalah konsistensi dari lagu-lagu mereka senantiasa memberi sentuhan halus nan feminin. Pendekatan ini tentu jarang dilakukan band seangkatannya. Perpaduan antara komposisi yang galak dan lembut disuguhkan Tool dari awal karir mereka—seperti dalam title track EP Opiate. Maynard tanpa kesusahan berpindah-pindah dari cara bernyanyi yang berangasan jadi amat halus, begitu pula sebaliknya.

"Saya memang lebih terbuka tentang teknik bernyanyi daripada teman-teman seangkatan saya," imbuh Maynard dalam interviw dengan The Warp. "Kebanyakan band hard-alternative atau hard rock terpaku pada pendekatan linear yang terlalu maskulin. Saya punya pandangan berbeda. Menurut saya, Tool punya sentuhan feminin dalam sudut pandang kami."

Maynard rupanya belajar banyak dari mendiang Prince dan David Bowie. Kalian tak bisa menjelma menjadi ikon rock, jika alergi memamerkan sisi feminin. Maynard paham betul konsep tersebut, dan memastikan Tool memancarkan sisi feminin yang tampak gamblang.

Tool mulai keluar dari kungkungan sound-sound terlalu heavy sejak album ketiga mereka, Ænima. Metal selamanya dimaknai sebagai genre yang diciptakan khusus untuk laki-laki. Mau bagaimana pun, metal adalah musik pengiring perang—setidaknya kamu harus cukup laki untuk bisa selamat dari peperangan kecil bernama moshpit.

Ænima merobohkan konsepsi maskulin ini dengan cara yang juga maskulin. Dalam psikologi Jungian (dan Tool sekali lagi adalah penggemar berat Carl Jung), Anima adalah sebutan bagi sisi feminin yang dimiliki setiap orang. Namun, Tool memelesetkan istilah ini menjadi sebuah double-entendre yang saru—“anima” digeser menjadi Ænima—yang mirip seperti obat pencahar yang dimasukan lewat lubang pantat.

Begitu merilis album ke-lima 10,000 Days, Tool memamerkan kelembutan yang begitu ringkih. “Wings For Marie”—lagu ini dibagi menjadi dua bagian—adalah balada paling menyentuh sekaligus paling lembut yang pernah dibikin Tool sepanjang karirnya. Lagu tersebut ditulis sebagai penghormatan pada mendiang ibu Maynard.

Lewat lagu itu, Maynard menyanyi mengiba, “So what have I done / To be a son to an angel?”—sungguh sebuah momen tulus bagi sebuah band yang karirnya dihabiskan membenci sekaligus menjahili para penggemarnya sampai mau gila.

Playlist wajib bila ingin mendengar sisi lembut Tool: Opiate” / “Wings For Marie (pt.1 and 2)” / “H” / “4°”


Emma Madden adalah jurnalis musik asal London. Dia bisa diajak debat panjang lebar tentang makna lirik dan komposisi Tool di Twitter.