kesehatan

Inilah Alasan Kita Tidak Boleh Terlalu Percaya Diagnosis Penyakit Hasil Googling

Semua orang seharusnya sudah paham logika ini, tapi siapa tahu masih ada yang memercayai diagnosis hasil pencarian Google, kami kasih alasan lengkapnya.

oleh Rebecca Kamm
21 Mei 2020, 6:00am

Foto Ilustrasi: unsplash

Kepala kamu rasanya sakit banget belakangan ini. Kamu sudah minum obat, tapi kok belum berkurang juga. Kamu akhirnya googling karena sudah tidak tahan. Keringat tiba-tiba mengucur deras di sekujur tubuh saat kamu membaca bagian paling atas.

“Aku… kena tumor otak? Waduh, gimana nih?!” batinmu. Panik, kamu bergegas ke rumah sakit. Namun, sesampainya di UGD, dokter bilang kamu hanya kecapekan dan kurang makan saja. Berarti situs kesehatan yang kamu baca tadi tidak akurat, dong?

Studi, yang diterbitkan oleh Universitas Edith Cowan (ECU) dalam Medical Journal of Australia, mengungkapkan situs pengecek gejala online tidak selamanya akurat. Penelitian menunjukkan diagnosis yang diberikan sebagai hasil pertama hanya akurat 36 persen saja, sedangkan hasil tiga teratas memiliki keakuratan 52 persen.

Kelihatannya mungkin cukup akurat, tapi kalian juga harus mempertimbangkan kesalahan diagnosis yang mencapai 64 persen.

Para peneliti menganalisis 36 pengecek gejala internasional berbasis web dan seluler, yang digunakan sekitar 40 persen orang Australia untuk mengetahui penyakit mereka. Michaella Hill, penulis utama dan mahasiswa master di ECU, menyatakan:

“Sebagian besar waktu, [pengecek gejala online] tidak dapat diandalkan dan bisa berbahaya … Situs dan aplikasi semacam ini seharusnya digunakan dengan hati-hati dan tidak dijadikan sebagai acuan. Pengecek online tidak mengetahui riwayat kesehatan dan gejala yang dirasakan sesungguhnya.

“Orang awam mungkin akan mengira saran yang diberikan situs-situs tersebut akurat, atau merasa kondisinya tidak serius padahal bisa jadi sebaliknya.”

Mereka menemukan “penilaian triase” online—pengecekan yang dilakukan secara langsung—menggali hasil lebih akurat. “Kami menemukan pengecekan kondisi darurat akurat 60 persen, sementara keakuratan kondisi non-darurat turun menjadi 30-40 persen,” ujar Michaella.

Meski “penilaian triase ada sisi baiknya karena lebih hati-hati, hal ini [juga] bisa membuat orang pergi ke UGD padahal sebenarnya tidak perlu.”

Bukan berarti situs kesehatan di internet tidak bisa dipercaya. Dengan diagnosis resmi, situs pengecek gejala dapat memberikan informasi valid seperti kunjungan dokter. Michaella berujar situs semacam ini dapat dimanfaatkan dengan baik selama pandemi. “Misalnya, National Health Service Inggris menggunakan alat-alat ini untuk memonitor gejala dan lokasi ‘hot spot’ potensial penyakit secara nasional.”

Kurangnya kontrol kualitas menjadi alasan pengecek gejala online bisa tersebar luas. Tak ada regulasi pemerintah yang secara khusus mengawasi dan mengatur situs-situs tersebut. Dia melanjutkan datanya tidak jelas berasal dari mana, atau bisa diverifikasi atau tidak.

“Kami juga menemukan banyak situs internasional yang tidak memasukkan penyakit asli Australia,” ungkapnya, “seperti demam Ross River dan virus Hendra. Situsnya tidak mencantumkan layanan yang relevan dengan Australia.”

Intinya, jika kamu merasa kondisi badan semakin memburuk, lebih baik langsung konsultasi ke dokter saja. Jangan asal tebak-tebakan dan salah minum obat, yang pada akhirnya dapat membahayakan dirimu sendiri.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia

Tagged:
Google
self-diagnosis
Penyakit
Mendiagnosis diri sendiri
Bertanya Pada Google