Iklan
Maskulinitas

Pengakuan Lelaki yang Akhirnya Ikhlas Mengalami Kebotakan

Ada banyak tantangan yang harus di hadapi—selain ego dan kepercayaan diri yang tercabik—oleh para pria yang kehilangan rambutnya helai demi helai.

oleh Jordan Foisy
25 Februari 2017, 3:00am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE UK.

Saya adalah lelaki yang tengah mengalami kebotakan.

Saya belum botak. Belum. Masih ada cukup rambut di atas kepala saya. Selama saya tidak terlalu berkeringat, atau dikelilingi orang-orang yang lebih tinggi, dengan pencahayaan yang tepat, saya bisa membuat ilusi bahwa saya masih berambut. Kadang, dengan tidak sadar saya sering menatap rambut-rambut pria yang saya anggap bagus. Garis rambut mereka tegas, memotong lurus ujung kepala mereka bagaikan garis cakrawala. Belakang kepala mereka masih tertutup rambut lebat bagaikan semak belukar, dan belum terlihat seperti muka Sauron yang sedang melotot. Saya kerap membayangkan bagaimana indahnya hidup mereka, penuh dengan kesempatan dan rasa percaya diri.

Sayangnya, saya bukan salah satu dari mereka. Saya berada di sisi kegelapan (atau terang, tergantung persepsi). Bagaikan seorang penyihir, setiap hari saya berlatih ilmu menyisir rambut, untuk menutupi kulit kepala dengan 'kegelapan'. Sayangnya, kesuksesan sihir saya bergantung pada sejumpun rambut terakhir yang saya punya. Jumpunan itu terlihat seperti pulau yang berdiri sendiri di tengah laut jidat saya yang semakin melebar. Bagaikan seorang matador, jumpunan tersebut mengalihkan pandangan mata orang dari jidat saya yang penuh urat, memberikan kesan bahwa rambut masih tumbuh dengan subur di atas kepala.

Proses pembotakan saya tentunya tidak lepas dari rasa narsistik. Dalam satu dekade terakhir, saya menghabiskan berjam-jam melihat kepala sendiri lewat cermin. Pernah satu jam saya habiskan menjulurkan dan memutar leher hanya untuk mencoba lihat ujung kepala. Niat menghabiskan 3 menit di toilet untuk kencing bisa berubah menjadi proses inspeksi rambut selama seperempat jam. Dulu ketika masih punya smartphone, saya sering mencoba mengambil foto dan video ubun-ubun layaknya sebuah drone yang mencoba mengabadikan bumi dari langit.

Saya sadar banyak lelaki lain yang mengalami hal serupa. Ketika sedang berada di restoran bersama rekan-rekan kerja, saya berkomentar tentang bagaimana CCTV yang terletak di ujung ruangan pasti menangkap daerah kebotakan saya. Alhasil seorang rekan bercerita tentang temannya yang mulai mengalami kebotakan dan bagaimana suntikan testosteron justru membuat rambutnya rontok. Rekan tersebut mengeluh bagaimana si teman selalu memaksanya mengecek daerah kebotakannya. Ini membuat saya malu karena saya pun sering melakukan hal yang sama.

Kenapa sih saya terus begini? Kenapa saya mempermalukan diri sendiri di depan umum kayak anak ABG yang belum bisa move on dari pacar pertama? Mungkin karena dibalik ego dan kenarsistikan yang terluka, kebotakan saya melambangkan kematian. Kematian masa muda. Kematian kejantanan. Menatap diri ke dalam cermin rasanya seperti mengintip takdir masa depan dan saya penasaran setengah mati lelaki tua macam apa yang akan menjadi wadah jiwa saya nanti.

Pria keren yang akhirnya bisa menerima kebotakan. Sumber foto: Facebook

Masalahnya tidak tersedia banyak cara menghadapi kebotakan. Anda bisa mencoba melawan dan mengkonsumsi obat antirontok seperti Propecia yang mempunyai efek samping: anu anda akan stop bekerja. Ini membuat anda mempertanyakan identitas kemaskulinan anda: mana yang lebih penting? Penampilan atau kemampuan seksual? Ada juga pilihan untuk cukur total. Ini adalah pilihan yang berani dan biasanya dilakukan oleh orang-orang 'besar': broker saham, atlit, dan Jason Statham. Ini adalah orang-orang yang ingin memegang takdir, manusia super yang ingin berseru "Elo gak bisa ngebotakin gue karena gue gak butuh rambut juga. Gue manusia yang kuat. Biarpun kepala gue licin, duit gue banyak."

Dan tentunya ada juga pilihan "gue pasrah aja deh." Tinggal biarkan rambut anda pendek karena di titik tertentu proses pembotakan, rambut panjang akan membuat anda terlihat seperti tikus percobaan sains yang sedang kabur. Tidak perlu melakukan apapun yang ekstrem, nikmatilah sisa-sisa rambut anda dengan penuh hormat seakan-akan anda mengatakan, "Saya mengerti bahwa hidup penuh penderitaan dan saya pasrah seutuhnya. Dalam kepasrahan, saya menemukan kedamaian."

Pria keren lainnya yang makin top setelah botak. Foto via flickr

Atau ya tinggal pake topi.

Setiap saya panik memikirkan kebotakan saya, saya berusaha mengingat pengalaman saya tahun lalu. Ketika tengah mengalami depresi, saya panik dan secara impulsif mencukur kepala. Kejadian tersebut mengajarkan saya dua hal. Satu: untungnya kepala saya gak aneh bentuknya. Gak ada yang lancip, atau jendol-jendol.

Hal kedua menyadarkan saya bahwa proses pembotakan memang melambangkan kematian, tapi semata-mata kematian atas hal-hal yang memang perlu saya relakan. Kematian atas ide maskulinitas dan kejantanan yang dari dulu saya jadikan standar. Kematian atas konsep lelaki ideal dengan rambut sempurna dan dompet tebal yang kuat, berkuasa dan penuh percaya diri. Lelaki yang kesuksesannya diukur lewat kriteria yang buruk: harta benda dan jumlah perempuan yang ditaklukan. Ketika saya mencukur habis rambut dan melihat diri saya yang botak, saya sadar bahwa saya salah selama ini. Dengan cara menerima kebotakan saya, saya menerima diri saya seutuhnya hingga akhir hayat nanti.