keuangan

Seberapa Jujurkah Kita Ketika Membahas Uang Dengan Pasangan?

Kenapa ya ngebahas uang dan status sosial ekonomi dengan pasangan kadang-kadang susah banget dan gak nyaman?

Ana Cecilia Alvarez

Ana Cecilia Alvarez

Foto kolase oleh Zoe Ligon

Artikel ini muncul di majalah VICE edisi Juni.

Suka atau tidak suka, segala sesuatu berhubungan dengan uang. Sayangnya, membicarakan perihal uang masih dianggap tabu — apalagi ketika obrolan tersebut melibatkan seks and hubungan pribadi. Studi tahun 2012 menunjukkan bahwa penyebab utama perceraian di Amerika adalah perseteruan tentang uang. Ada pula studi lain yang menyatakan bahwa hampir tiga per empat warga Amerika dilanda stres karena masalah finansial. Waduh. Jadi apa yang enaknya kita katakan ke pasangan ketika membahas masalah duit? Lalu, kenapa sepertinya susah sekali atau kadang tidak nyaman untuk ngobrolin uang dan status sosial ekonomi? Apakah jumlah uang yang masuk ke akun bank kita mempengaruhi dinamika posisi kita dalam berpasangan?

Beberapa tulisan berisi tentang pekerja seksual di majalah mainstream seperti New York Magazine dan New York Times Magazine mendorong munculnya diskusi tentang dampak langsung dan tidak langsung kondisi keuangan dalam hubungan asmara. Artikel-artikel tersebut menggarisbawahi bagaimana semua hubungan pribadi kita — dengan pasangan, orang tua, rekan kerja, teman kos — pada titik tertentu bersifat transaksional.

Di edisi The Talk bulan ini, editor video Chuka Chukuma dan penulis Jenny Zhang, Larissa Pham, Jesse Barron dan saya sendiri berdiskusi tentang hidup berpasangan di dunia di mana uang berkuasa.

Ana: Jarang banget sebetulnya kita mencoba benar-benar mencerminkan kelas ekonomi kita yang sesungguhnya. Demi ingin terlihat perlente, yang miskin malah makin miskin. Sementara yang kaya justru sok-sokan miskin . Efek dari fenomena ini adalah kelas sosial menjadi kabur. Ini membuat konsep perbedaan kelas ekonomi menjadi lebih mudah untuk diabaikan atau dilupakan. Pasangan saya dan saya punya latar belakang kelas ekonomi yang sangat berbeda. Penghasilan kami juga berbeda. Cuman kalo kamu lihat kami berdua, pasti kamu tidak akan tahu.

Jesse: Hal ini mengingatkan saya akan sebuah adegan dari dalam buku Losing My Cool, karya Thomas Chatterton William. William tumbuh besar di lingkungan kelas-menengah-atas dan kuliah di Georgetown. Ada sebuah adegan ketika Williams berada di dalam sebuah toko kelontong bersama temannya yang kaya — ia memanggilnya Playboy. Playboy menyuruh William untuk mengambil sebuah baguette. William berpikir, anjir baguette itu apaan sih? Dia berputar-putar di dalam toko, terlalu malu untuk menanyakan apa itu baguette ke orang lain. Akhirnya dia mikir bahwa "baguette" pastilah bahasa Perancis untuk "kantong kecil", lalu dia mengambil sebuah kantong belanjaan dan kembali ke luar. William mengatakan bahwa dia tidak akan pernah melupakan rasa rendah diri dan malu yang diakibatkan oleh kesalahan besar dia tersebut. "Kelas" seseorang itu bukan hanya soal duit saja; Kelas itu merupakan serangkaian tingkah laku yang seseorang — yang bisa dipelajari.

Ana: Setuju. Kelas menunjukkan seberapa banyak hal bodoh yang kamu bisa lakukan dan tetap lolos dari hukuman atau kritik. Kelas menunjukkan lingkungan-lingkungan dimana kamu akan diterima. Hak istimewa dari sebuah kelas sosial sama pentingnya dengan uang yang kamu punya. Apakah kelas menjadi salah satu pertimbangan kamu ketika memilih teman atau pasangan?

Jesse: Pastinya, entah secara sadar atau tidak, karena Amerika sangat terbagi-bagi dalam kelas. Uang menentukan lingkungan dari teman-teman dan keluarga kamu. Tidak banyak kenalan saya yang pacaran dengan orang dari latar belakang sosial atau ekonomi yang jauh berbeda. Istilahnya, banyak orang menolak untuk "turun kasta." Sayangnya, mentalitas yang kuno dan tidak masuk akal ini sudah sangat mendarah daging.

Larissa: Yup! di jaman kuliah, saya beberapa kali pacaran dengan pria kulit putih yang secara finansial tidak seberuntung saya. Rasanya aneh. Cuma ya masalah ini memang tidak kenal ras dan kelas sih. Dulu saya sering berdebat dengan salah satu pacar saya, seorang pria kulit putih — ia berasal dari keluarga pendatang — yang tumbuh dalam keluarga yang miskin di Queens, soal siapa dari kita berdua yang lebih menderita. Saya selalu bilang ke dia bahwa biarpun saya lebih beruntung, saya sudah mulai bekerja semenjak umur enam belas tahun loh.

Jenny: Saya selalu tertarik dengan seseorang yang tidak hanya peduli tentang pekerjaan dalam sistem kapitalisme. Sesorang yang tidak ngoyo mengejar jabatan atau semata pengen bikin duit doang. Anehnya ini kadang bertentangan dengan dengan hasrat saya untuk menjadi royal dan liar, dan menemukan seseorang yang bisa jadi mewah tapi tidak boros.

Ada juga perbedaan yang nyata antara seseorang yang kaya tapi pelit dengan seseorang yang berhemat. Keluarga saya dulu sangat miskin. Orang tua saya sangat hemat kalau sudah berhubungan pengeluaran pribadi mereka, tapi mereka tetap sangat royal ke saya, keluarga dan teman-teman mereka. Pasangan dan kekasih yang kita dambakan punya kualitas langka ini — mereka menghargai segala sesuatu karena mereka terbiasa harus berhemat, namun mereka bersedia menghabiskan uang untuk orang-orang yang mereka cintai seakan-akan mereka tidak perlu itung-itungan.

Ana: Saya penasaran bagaimana rasanya stres soal uang dan mesti menerapkan mental "itung-itungan" ini. Apa ini berpengaruh ke urusan ranjang? Sepertinya kekayaan membuat orang cenderung tentram, cuman hidup kekurangan bikin orang jadi gelisah. Tapi mungkin bisa juga terjadi sebaliknya.

Jenny: Sebetulnya,stres finansial dalam level yang rendah — yang masih dalam batas kewajaran ya, dimana pasangan dituntut untuk jadi hati-hati dan berhemat, dan bukan panik karena tidak bisa bayar sewa rumah bulanan, misalnya — bisa jadi hal yang seksi. Mungkin ini karena saya punya ide bahwa seks itu mestinya sesuatu yang merdeka dan kepala saya penuh fantasi menjijikkan tentang hubungan percintaan ala-ala bohemia, dimana dua orang hanya memiliki satu sama lain. Sedikit kesusahan finansial bisa menyulut gairah seksual yang lebih kuat dan lebih bermakna. Cuma dalam jangka panjang, daya tarik dari gaya hidup seperti ini jadi sekedar fantasi semata. Rasa seru dari hidup melarat yang penuh perjuangan pada akhirnya akan jadi hidup melarat yang nyusahin doang.

Chuka: Sebagai seorang pria, saya merasakan tekanan untuk selalu kelihatan "memegang kendali." Pria sering diajarkan bahwa hal inilah yang membuat perempuan kesengsem, ilusi bahwa kita selalu memegang kendali hidup kita. Ketika aspek ini terancam, tekanan sosial langsung terasa di psikis pria.

Ada argumen bahwa uang tidak mempengaruhi ketertarikanmu pada pasanganmu atau calon pasanganmu nanti, namun buat orang-orang seperti saya, yang susah cari duit, kami tak percaya hal itu. Tekanan finansial akan mempengaruhi semua aspek hidupmu ketika hal itu benar-benar terjadi. Kamu akan melakukan apa ketika mengajak pacar ke tempat-tempat wisata gratis tapi tidak bisa bayar tiket bis? Jujur saja deh, kalau kamu lagi sange tapi tidak punya uang buat beli kondom, kamu mau apa? Saya hanya mau mengatakan bahwa ketika masalah keuangan lagi serius, efeknya sangat parah. Kamu akan mulai meragukan diri sendiri.

Jesse: Bener juga sih. Saya pernah melewatkan masa-masa berat ketika habis dipecat atau sedang menganggur. Di waktu-waktu seperti ini, saya kehilangan hasrat untuk berhubungan seksual, atau — dan ini agak parah sih — saya berusaha untuk menutupi hal ini dengan berlagak lebih dominan di ranjang. Untuk cowok, stres finansialnya agak berbeda; lebih ke perasaan tidak berdaya dan malu karena memang budaya kita mengajarkan begitu. Perasaan-perasaan semacam ini dianggap tidak maskulin. Ada anggapan bahwa cowok itu mestinya bisa membayar segala sesuatu, tanpa perlu melihat jumlah tagihannya.

Namun kalau kita terlalu mencari korelasi kondisi finansial dengan kemampuan seks rasanya terlalu berlebihan bagi saya. Jelas bahwa ini adalah hasil dari sistem ekonomi kita. Saya sih selalu selalu ingin ML kapan saja — entah ketika saya ada hutang, saat saya ada uang, ketika saya biasa-biasa aja. Kalau istri saya, Sarah, pulang membawa banyak uang, saya malah terangsang.

Ana: Wuih! Mantep. Bagaimana kalian ngomongin soal gaji masing-masing?

Jenny: Saya biasanya berusaha setransparan mungkin dengan pasangan soal masalah finansial. Mungkin kadang-kadang terlalu transparan sampai-sampai saya terus menerus menghitung di kepala saya siapa yang bisa menanggung makanan dulu atau siapa yang sanggup bayar lebih banyak ketika kita sedang liburan. Saya terbiasa jadi pihak dengan kondisi finansial yang lebih baik dibanding pasangan saya. Ini membuat saya merasa hebat dan berkuasa.

Namun tetap saja, kadang-kadang karena dogma-dogma patriarkis yang terlanjur nyangkut di kepala, ini membuat saya malu. Contohnya ketika kadang-kadang saya ingin punya inisiatif romantis dan bilang "Eh, aku yang traktir ya malam ini", ucapan saya ini malah menjadi penyulut keribuatan malam itu tentang beberapa kebutuhan saya yang tidak terpenuhi. Kadang saya ingin menimpakan kesalahan ini ke diri saya yang terlalu ambisius, yang selalu ingin memeroleh lebih banyak uang karena saya lebih keras bekerja (ini bisa jadi cuma fantasi kapitalis masa kini), hingga saya selalu jadi pihak yang membayar atau mentraktir.

Chuka: Saya selalu ingin menemukan sebuah area yang aman untuk bisa jadi saling jujur tentang keadaan finansial satu sama lain tapi tidak jadi "minder", apapun posisi pasangan saya. Karena saya bekerja di bidang seni, biasanya saya ada di posisi yang lebih miskin. Titik yang pas adalah ketika kamu bisa jadi jujur dengan partnermu dan menciptakan keadaan yang nyaman dan bebas sehingga anda bisa saling mendukung satu sama lain. Kalo dari pengalaman saya, makin kita dewasa biasanya ini makin mudah dilakukan, cuman ya gak tau juga sih. Ngomong doang mah gampang. Sekarang saya tengah mengencani perempuan impian saya. Hubungan kami masih baru. Kadang-kadang saya takut tidak bisa memberikan hal-hal yang dia inginkan. Namun sekarang saya cukup dewasa untuk tahu bahwa yang paling penting itu adalah kejujuran. Ketika kamu jujur, kamu akan lebih mudah untuk saling memahami.

More VICE
Vice Channels