Filipina

Duterte Memecat Menteri Pelaksana Perang Narkoba Berdarah

Ismael 'Mike' Sueno dicopot Presiden Filipina, walaupun terhitung sekutu dekat, lantaran terlibat bermacam kasus korupsi yang merusak citra Duterte.

oleh David Gilbert
05 April 2017, 10:12am

Foto oleh Romeo Ranoco/Reuters.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Awal pekan ini Presiden Filipina Rodrigo Duterte memecat salah satu pejabat kepercayaannya yang selama ini bertanggung jawab atas pembunuhan ekstrajudisial pengguna dan pengedar narkoba. Tangan kanannya itu diduga kuat terlibat beberapa skandal korupsi. Duterte bilang, pemecatan ini harus dilakukan, karena dia sudah berjanji pada rakyat Filipina "menghabisi siapapun yang korupsi."

Juru bicara pemerintah Filipina Ernesto Abella membenarkan bila Menteri Dalam Negeri Ismael 'Mike' Sueno tidak lagi menjabat setelah mengikuti rapat kabinet Senin (3/4) malam waktu setempat di Ibu Kota Manila. Ismael dipaksa mundur karena presiden telah "kehilangan kepercayaan pada sosoknya."

"Saya tidak perlu rasanya menjabarkan alasan kebijakan [pemecatan] ini diambil," kata Duterte sehari setelah pemecatan itu. "Tolong semua orang mengingat saja janji saya selama kampanye: tidak ada lagi korupsi, peredaran narkoba, dan kejahatan yang merajalela di negara kita."

Sueno adalah salah satu otak di balik kebijakan perang narkoba brutal yang meneror rakyat Filipina selama setengah tahun belakangan. Dia juga berulang kali membela kebijakan Presiden Duterte soal tembak mati pengedar narkoba tanpa pengadilan, yang dikecam oleh para pegiat hak asasi manusia. Sueno adalah salah satu politikus yang pertama kali membujuk Duterte maju sebagai calon presiden sejak jauh-jauh hari. Menurut keterangan Abella, walaupun Duterte dan Sueno berteman sangat akrab, "tapi hubungan pribadi keduanya tidak menghalangi presiden dan pemerintah bersikap tegas dalam pemberantasan korupsi."

Beberapa bulan belakangan, sudah santer beredar kabar jika Sueno memperkaya diri gila-gilaan melalui proyek kementerian dalam negeri. Tuduhan itu dilontarkan tiga mantan anak buahnya. Dari bocoran yang beredar ke awak media, pada rapat kabinet awal pekan ini Duterte sangat marah mendengar laporan valid soal Sueno sengaja membeli truk pemadam kebakaran dari perusahaan di Austria. Biaya pengandaannya melambung dua kali lipat dibanding pemenang tender lokal.

Sueno, politikus 69 tahun itu, walau mengaku terkejut dipecat oleh sekutunya sendiri, berusaha menerima keputusan Duterte saat menggelar jumpa pers. "Tapi saya ingin menyatakan pada Presiden jika tak ada hukum apapun yang saya langgar. Saya tidak melakukan korupsi," ujarnya.

Sejak menjabat sebagai presiden Filipina pada Juni 2016, Duterte langsung mencopot puluhan birokrat, pejabat tinggi, termasuk salah satu mantan tim suksesnya. Mantan Wali Kota Davao itu pernah bilang kawan maupun lawan tidak akan dia ampuni seandainya mereka terlibat kejahatan atau korupsi. Bagaimanapun, pemecatan Sueno merupakan kebijakannya yang paling mengejutkan. Sebab, saat pencopotan ini terjadi, kalangan oposisi Duterte di parlemen sedang mengajukan mosi tak percaya untuk memakzulkan Duterte atas tuduhan korupsi. 

Selain Sueno, tangan kanan Duterte lainnya yang disingkirkan dari pemerintahan adalah Peter Tiu Laviña, yang dipaksa mundur bulan lalu. Laviña menjabat sebagai kepala Badan Pertanian dan Irigasi Nasional. Seperti Sueno, Laviña juga dituding terlibat korupsi.

Duterte sudah punya banyak kasus sebelum sobat-sobat dan tim suksesnya tersandung korupsi. Kalangan oposisi menyoroti pengakuan Duterte yang pernah membunuh sendiri kriminal di masa lalu, ketika masih menjabat Wali Kota Davao. Dia dianggap tak pantas menjabat sebagai presiden lantaran pernah membunuh orang tanpa diadili. Perang narkobanya, dikecam oleh berbagai negara dan pegiat HAM internasional, tak kunjung dihentikan. Siapapun ditembak mati oleh polisi dan pasukan misterius hanya berbekal dugaan bila mereka adalah pengguna maupun pengedar narkoba.

Lebih dari 7 ribu orang telah terbunuh karena 'perang narkoba' itu. Wakil Presiden Filipina, Leni Robredo, mengakui tingginya angka korban tewas akibat kebijakan itu ketika bertemu perwakilan PBB Bidang Penyalahgunaan Obat-Obatan bulan lalu. 

Di mata politikus oposisi, langkah Duterte memecat Sueno hanyalah pencitraan belaka untuk menaikkan lagi pamornya. Perang narkoba tidak lagi berhasil meraup dukungan rakyat, sementara kini banyak kasus korupsi terungkap. Membuat janji Duterte melakukan perubahan drastis di Filipina tak terbukti. "Bisa dibilang pemerintahan Duterte sama saja, akrena korupsi masih mewabah di pemerintahan," kata Senator Antonio Trillanes IV yang sering mengkritik sang presiden. "Pemecatan Sueno hanyalah alasan agar pemerintah sekarang bisa mengalihkan isu penting yang dialami birokrasi dan mengesankan mereka masih memegang janji memberantas korupsi."