Tragedi Mei 1998

Kenangan Keluarga Korban Kebakaran Mal Klender, Imbas Tragedi Mei 1998

Sebagian peninggalan korban tewas insiden di tengah penjarahan sebelum Soeharto jatuh itu disimpan oleh Komnas Perempuan dan Komnas HAM. Keluarga masih menuntut jawaban.

oleh Ardyan M. Erlangga; foto oleh Iyas Lawrence
15 Mei 2017, 9:12am

KTP salah satu korban kebakaran Mal Klender. Foto oleh Iyas Lawrence.

Muhammad Saparudin, saat itu berusia 17, pamit pada sang ibu hendak membeli baju kemeja kotak-kotak warna coklat di Mal Yogya, Klender, Jakarta Timur. Ada undangan pernikahan yang hendak dia datangi. Ndin, sapaannya, tak pernah pulang. Dia jadi abu. Bersama Ndin, ada 200-an orang lainnya yang terbakar hidup-hidup ataupun tewas karena mencoba melompat dari atap mal Klender di yang terlalap api.

Mal Yogya pada saat kejadian dipenuhi ribuan orang yang menjarah barang-barang belanjaan. Sangat sulit mengidentifikasi korban yang terpanggang api. Mayoritas jasad dibawa ke Rumah Sakit Umum Cipto Mangunkusumo untuk diidentifikasi keluarga.

Tewasnya Ndin membuat sang ibu, Siti Salmah, terus berduka sampai akhirnya meninggal karena sakit. Siti adalah orang tua tunggal yang merawat empat anak. Ndin diharapkan bisa menjadi tulang punggung keluarga setelah hanya tamat SMP.

"Adik saya saat itu kerja di mebel kayu untuk meringankan beban orang tua," kata sang kakak, Muhammad Sahrifudin. Pengakuan itu tertuang dalam surat ditulis tangan yang kini disimpan oleh Komisi Nasional Perempuan. "Kematian Ndin memupus semua harapan seorang ibu."

Mal Yogya di Klender terbakar hebat pada 15 Mei setelah dua hari berturut-turut menjadi target penjarahan warga. Tidak ada yang tahu bagaimana api bisa menyebar ketika masih ada ratusan orang mengambil barang di lantai dua dan tiga. Rumor beredar jika ada sekelompok orang tak dikenal menyulut api di Mal Yogya. Tidak semua korban adalah penjarah. Sebagian besar justru terjebak atau hendak menyelamatkan keluarga yang ada di dalam.

Terbakarnya Mal Klender adalah puncak ketidakpuasan massa atas krisis ekonomi. Insiden itu terjadi sepekan setelah pemerintah Indonesia mengumumkan penaikkan harga Bahan Bakar Minyak menjadi Rp1.200 per liter. Spiral kekerasan muncul di seantero Jakarta. Penjarahan toko-toko milik etnis Tionghoa mulai terjadi pada 13 Mei 1998, ketika empat mahasiswa Universitas Trisaksi ditembak aparat di depan kampus. Penembakan aktivis membakar amarah massa, yang ganti menumpahkan kemarahan pada toko-toko milik etnis Tionghoa yang dituding bertanggung jawab atas krisis ekonomi. Pada puncak kerusuhan ribuan toko memasang tulisan 'milik pribumi' agar selamat dari amukan massa. Kawasan elit seperti Menteng dijaga tank-tank tentara. Namun bagi penduduk Tionghoa di pusat perdagangan seperti Glodok, mereka harus mengandalkan diri sendiri. Hasilnya berakhir tragis dengan pembantaian dan pembakaran besar-besaran.

Setidaknya 40 pusat perbelanjaan besar di Jabodetabek dibakar, Mal Yogya Klender termasuk yang paling parah. Data Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Kerusuhan Mei 13 hingga 19 Mei, 1.217 orang tewas, 31 orang hilang, dan lebih dari 2.470 pertokoan—kebanyakan milik warga etnis Tionghoa—ludes dibakar dan dijarah. TPGF, termasuk Komnas Perempuan, turut menemukan fakta adanya pemerkosaan massif terhadap ratusan perempuan keturunan Tionghoa selama periode kerusuhan yang meluas ke berbagai kota di Indonesia.

Puluhan keluarga korban kebakaran mal Yogya di Klender menyerahkan peninggalan sanak famili yang tewas akibat kerusuhan Mei kepada TPGF. Bangsa ini mungkin sudah bangkit dari tragedi Mei, tapi luka keluarga yang ditinggalkan belum sembuh. Keluarga korban merasa barang-barang itu akan lebih aman di tangan para pencari fakta. Kenangan-kenangan ini—berupa kaos, foto, akta kelahiran, hingga celana—menjadi pengingat, betapa aktor intelektual tragedi 19 tahun lalu sampai sekarang belum terungkap dan diadili.

"Anak saya dikorbankan," kata Maryani, ibu dari salah satu korban kebakaran Mal Yogya Klender bernama Arifin dalam suratnya kepada TPGF.

"Dia jadi korban hanya untuk seseorang yang ingin berkuasa di negeri ini."


Kaos yang sehari-hari dipakai almarhum Arifin, korban tewas Mal Klender. Semua foto oleh Iyas Lawrence.

Surat ditulis tangan oleh orang tua Eten Karyana, korban kebakaran Mal Klender, menduga kerusuhan ini ditunggangi elit politik yang berebut kekuasaan pada Mei 1998.

Foto terakhir mendiang Gunawan Subyanto yang disimpan oleh keluarga.

Kamus Bahasa Inggris kepunyaan mendiang Eten Karyana. Sebelum tewas akibat kerusuhan Mei 1998, dia bercita-cita lanjut studi ke luar negeri.

Baju peninggalan Ade Muhammad yang tewas di Mal Yogya Klender. Lebih dari 200 orang tewas pada insiden itu, tidak semuanya berniat menjarah. Sebagian justru terjebak atau ingin menyelamatkan keluarga yang ada di dalam bangunan.

Celana putih milik mendiang Gunawan Subyanto, dibeli beberapa hari sebelum dia tewas terbakar di Mal Yogya Klender.

Sertifikat jenazah Eten Karyana dari petugas RSCM disimpan keluarga.