Iklan
Can't Handle the Truth

Maaf Para Peminum, Whiskey Halal Cuma Kabar Bohong

Hoax yang menyebar di Indonesia kembali pada khittahnya: tolol dan penuh humor gelap. Hoax jadi nyebelin lagi saat kelak ada peristiwa politik dan bencana alam lagi untuk dieksploitasi.

oleh Ardyan M. Erlangga
29 Oktober 2017, 11:50am

Ilustrasi bartender restoran di Jakarta menyajikan minuman beralkohol. Foto oleh Darren Whiteside/Reuters.

Selamat datang di Can't Handle the Truth, kolom VICE Indonesia merangkum hoax dan berita palsu paling ramai dibicarakan pengguna Internet.

Dua pekan belakangan jagat hoax Indonesia relatif tenang. Politikus sedang irit bicara. Perhatian media massa, di sisi lain, tersita pada pelantikan gubernur baru DKI Jakarta, Anies Baswedan bersama pasangan wakilnya Sandiaga Uno.

Pasangan yang didukung Partai Gerindra dan PKS ini segera berurusan dengan pertempuran dunia maya, bahkan sejak pelantikan. Tentu saja, semua gara-gara satu kata 'pribumi' tempo hari. Lanjut sepekan kemudian, pendukung Anies-Sandi mulai menyebut maraknya hoax mendiskreditkan pemimpin baru ibu kota. Abraham Luggana, lebih akrab disapa Haji Lulung, mengkritik pemberitaan beberapa stasiun televisi yang menyebut keadaan Pasar Tanah Abang jadi macet setelah Anies dilantik. Berita bilang, para pedagang memberanikan diri berjualan di pinggir jalan lagi karena gubernur yang baru tak akan menggusur mereka. Lulung mengunggah foto di Twitter, dalam rangka membantah pemberitaan soal ruwetnya Tanah Abang. "Mari bersama lawan berita hoax," demikian kata Lulung.

Tapi pengguna Twitter justru 'melawan' balik. Mereka bilang yang dilakukan Lulung sebatas jurus-jurus ngeles, karena foto diambil saat pasar belum sepenuhnya buka. Kompas, sebagai salah satu media yang diserang Lulung secara tidak langsung, membalas dengan berbagai foto dari berbagai trotoar Tanah Abang. Pendek kata, ribut-ribut ini bukan hoax betulan sih. Cuma upaya pencitraan standar di media sosial. Begitu pula saat Sandiaga Uno mengatakan laporan banjir di Jakarta '50 persennya hoax'. Setelah ditelaah, maksudnya sistem pelaporan banjir belum optimal dan sering kurang terverifikasi. Bukannya murni hoax.

Lalu, apakah hoax yang ternyata bukan 'hoax' kayak gini akan mendominasi ke depan? Kami dari tim VICE menjawab tidak. Masih banyak kok berita palsu yang betulan palsu. Kami pastikan, kolom ini akan terus mengunggah deretan rumor tak jelas yang sukses mengganggu banyak pihak. Di luar ribut-ribut Jakarta, nyaris sebulan belakangan hoax yang menyebar di Indonesia kembali pada khittah-nya: tolol serta penuh humor gelap. Hoax jadi nyebelin lagi saat kelak ada peristiwa politik nasional dan bencana alam lagi untuk dieksploitasi.

Berikut hoax-hoax paling menggelikan, dan paling masuk akal karena banyak orang termakan olehnya, yang berhasil dikompilasi oleh kanal Can't Handle the Truth:

Ramai Ajang Cari Jodoh Difasilitasi Pemprov Jatim

Pemerintah tak tahan lagi pada nasib merana kaum jomblo. Setidaknya, begitulah sikap Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Buktinya, sepanjang 1 hingga 10 November mendatang, akan digelar acara Golek Garwo (cari Istri dalam Bahasa Jawa), berlokasi di Gedung Grahadi, kawasan gubernuran. Informasi acara ini menyebar lewat medsos dan whatsapp. Ajang pencarian istri ini ditanggung gratis serta bisa diikuti siapapun asal cukup umur. Sungguh mulia.

Tentu saja, semua yang serba mulia, kita tahu, kebanyakan bohongnya.

poster inilah yang menyebar di medsos.

Pejabat Pemprov Jatim segera membantah informasi tersebut. Tipikal. "Pemprov juga tidak mungkin membuat acara pencarian jodoh karena masih banyak kegiatan untuk kesejahteraan rakyat," kata Benny Sampir Wanto, Kepala Biro Humas dan Protokol Pemprov Jatim saat dikonfirmasi media massa.

Setelah diperiksa lebih lanjut, rupanya konsep acara Golek Garwo benar-benar ada. Namun kegiatan yang pernah terlaksana lokasinya di Bantul, Yogyakarta. Bukan Surabaya. Sosok di balik biro jodoh offline ini adalah Ryan Budi Nuryanto. Karena itu, lebih aman jika kita bilang beredarnya poster abal-abal menyebut Gedung Grahadi adalah semacam petisi dari sebagian jomblo Jawa Timur agar nasib mereka diperhatikan.

Kesulitan sebagian anak muda Indonesia mendapat jodoh tampaknya rentan dieksploitasi produsen hoax. Jadi bagi kalian para jomblo, iming-iming pencarian jodoh maupun nikah gratis harus terus diwaspadai. Kami tahu, kalian pasti sedih mendengarnya. Tapi iming-iming tak akan menyelesaikan masalah. Install aplikasi Tinder masih lebih masuk akal.

Tiru Malaysia, Admin Whatsapp dan LINE Bisa Masuk Penjara

Pesan menakutkan, yang sebtulnya tidak baru-baru amat, kembali beredar sejak akhir Oktober lalu, diterima pengguna Whatsapp serta LINE dari berbagai kota. Kalian segera teringat nasib kawan-kawan SMA-mu, teman kuliah, sekretaris RT, dan juga teman kantor yang menanggung nasib sebagai admin grup WA. Sudah tidak digaji, harus tahan digunjingkan kalau ada ribut-ribut dalam grup, eh, sekarang mereka terancam dipenjara pula.

Pemerintah Indonesia kabarnya resmi mengadopsi kebijakan yang sudah dilakukan Malaysia. Informasi yang beredar memakai screenshot tajuk sebuah surat kabar yang mengatakan admin Whatsapp boleh dipenjara apabila berperan aktif menyebarkan hoax lewat aplikasi pesan tersebut. Konon, itu pernyataan dari jubir Menteri Hukum dan HAM. Disitir pula ancaman hukuman memakai Pasal 28 ayat 2 UU Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Lembaga analisa hoax, Vaksincom, membuktikan apabila screenshot itu hanya rekayasa photoshop. Kalimat yang dicantumkan juga sama sekali tidak bisa dibuktikan sumbernya. "Kutipan koran yang diambil ternyata bukan dari koran Indonesia, melainkan dari koran Malaysia 'Berita Harian' yang terbit pada 27 April 2017," demikian pernyataan dari tim Vaksincom. Andai orang yang sempat takut jeli, sejak April lalu VICE sudah memuat berita serupa, dengan menjelaskan kalau upaya mengkriminalisasi admin WA berasal dari Malaysia.

Tentu saja, UU ITE bisa menjerat orang yang menyebar kabar bohong. Namun itupun perlu delik aduan lebih dulu ke polisi. Oke. Begini prinsip dasar ketika memperoleh foto macam itu. Kalau memang itu judul pemberitaan sebuah koran, apa namanya korannya? Ketika tidak ada, kalian pantas untuk bilang kepada rekan-rekanmu yang jadi admin grup WA: tenang, lanjutkan tugas mulaimu kawan. Stay safe, hindari tubir!

Sekarang Whiskey dan Anggur Merah Sudah Ada Versi Halalnya

Ini kabar yang membuat cemas kalangan konservatif maupun peminum. Beredar informasi bahwa Majelis Ulama Indonesia menerbitkan sertifikasi halal untuk whiskey dan anggur merah yang mengandung alkohol nol persen.

Kalangan konservatif berang. Mereka menganggap sudah terjadi penyimpangan moral biasa dari pemerintah, sampai-sampai mengizinkan produk minuman keras dibuat versi jinaknya. Kalau sudah ada whiskey halal, terus anak kecil boleh minum gitu? Nanti gimana kalau mereka penasaran sama versi aslinya?

Begitu pula para peminum. Beberapa kawan yang melihat poster ini di media sosial bingung bukan kepalang. Kalau enggak bikin pening, buat apa minum meras?

Foto dari akun inilah kemungkinan yang menyebar di pesan berantai dan grup Facebook untuk mendukung kabar whiskey halal.

MUI segera membantah kabar tersebut. Zainut Tauhid, selaku Wakil Ketua Umum MUI menyatakan label halal tersebut juga tidak berasal dari LPPOM MUI. Andai benar ada produk semacam itu di pasaran, artinya itu sudah masuk ranah pemalsuan. "MUI meminta kepada aparat kepolisian untuk mengusut tuntas pemalsuan label halal pada produk minuman tersebut," ujarnya saat dikonfirmasi media.

Tudingan sempat mengarah kepada Kementerian Agama. Penerbitan sertifikasi halal sebentar lagi memang akan diambil alih negara, bukan lagi oleh MUI. Menteri Agama Lukam Hakim Saifudin sontak menepis dan menegaskan bila informasi whiskey dan amer halal hanyalah hoax. Melalui klarifikasi yang juga disampaikan lewat akun Twitter Pribadi, Menag Lukman me-mention akun Divisi Humas Mabes Polri. "Mereka yang memfitnah telah melecehkan nalar publik. Mereka pikir publik akan begitu saja mempercayai hal yang sama sekali tak masuk akal," ujarnya.

Benar pak Menag. Publik tak percaya begitu saja, termasuk rekan-rekan saya yang statusnya adalah peminum kelas berat. Mereka takut mendengar adanya kabar miras nol persen alkohol. Sebab, buat peminum, bayangan menenggak abidin bergelas-gelas hanya menghasilkan kembung justru sangat menakutkan.