Iklan
ring of fire

Tak Cuma Gunung Agung, Cincin Api Pasifik Sedang Bergolak

Aktivitas vulkanik Gunung Sinabung, Gunung Agung, dan Gunung Manaro Voui di Vanuatu meningkat bersamaan pekan ini.

oleh Emma Fidel
29 September 2017, 10:05am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE News.

Peningkatan aktivitas tiga gunung di kawasan Pasifik sepekan terakhir mengingatkan kita semua bahwa terminologi cincin api akan terus relevan. Ratusan ribu orang telah dievakuasi di Bali hingga Vanuatu akibat ancaman erupsi dari gunung masing-masing.

Hingga berita ini dilansir, Jumat (29/9), penduduk lima kabupaten di Provinsi Bali yang sudah diungsikan dari kawasan lereng Gunung Agung mencapai 122.500 orang. Peningkatan aktivitas magma puncak tertinggi Pulau Dewata itu sudah tercatat sejak akhir pekan lalu oleh mesin pemantau milik pemerintah. Ratusan ribu pengungsi kini harus bertahan di barak, dengan risiko erupsi yang bisa terjadi sewaktu-waktu.

Dalam waktu bersamaan, tepatnya tiga hari lalu, kawah Gunung Sinabung di Sumatra Utara melontarkan asap putih yang membumbung 2,4 kilometer ke udara. Lalu, tak berapa lama, masih di hari yang sama, Gunung Manaro Voui di Pulau Ambae, Vanuatu, mulai aktif kembali. Akibatnya, 11 ribu penduduk diungsikan dari lereng pulau di tengah Samudra Pasifik tersebut.

Ahli vulkanologi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gede Suantika mengatakan ketiga gunung tersebut ada dalam satu cincin api (ring of fire), dalam keterangan tertulis kepada media lokal.

PVMBG mencatat terjadi 844 gempa ringan dari Gunung Agung sejak Senin lalu. Citra satelit juga menunjukkan bahwa magma mulai terkumpul di permukaan kawah gunung yang disucikan masyarakat Bali tersebut. Gunung Agung terakhir kali meletus pada 1963. Erupsi kala itu menewaskan lebih dari 1.100 orang.

Dengan aktivitas vulkanik semacam ini, erupsi sudah pasti terjadi. Persoalannya, belum ada teknologi manusia di masa sekarang yang bisa memperkirakan secara tepat kapan terjadi letusan. "Bagi seorang ahli gunung yang paling susah itu kan menentukan golden time," kata Ahli Vulkanologi Surono," saat dihubungi VICE Indonesia. "Memprediksi munculnya awan panas sampai letusan, agar warga tak terlalu lama di pengungsian, itu memang sulit sekali," katanya.

Adapun saat ini Gunung Manaro Voui sudah lebih mendekati momen letusan, dibanding Sinabung atau Gunung Agung. Dari pengamatan Gede Suantika, karakter letusan Manaro Voui adalah lelehan lahar, tidak seperti Gunung Agung yang bersifat andesitis, alias memuntahkan material ke udara secara eksplosif.

Berdasarkan data PVMBG, Gunung Agung dan Sinabung berada di sisi yang sama dari lempeng Indo-Australia. Sementara Gunung Manaro Voui ada di lempeng pasifik. Sehingga, peningkatan aktivitas vulkanik ini menandakan tiap lempeng Cincin Api sedang bergerak, tapi tidak otomatis saling mempengaruhi letusan di gunung lain.

Cincin Api, alias ring of fire, adalah istilah dari ilmuwan geologi untuk menjelaskan situasi kawasan sekitar Samudra Pasifik yang menjadi lokasi tumbukan tiga lempeng benua. Indonesia termasuk yang masuk dalam Cincin Api, karena menjadi titik pertemuan lempeng Indo-Australia, Eurasia, sekaligus Pasifik. Dampaknya di kawasan ini, termasuk Indonesia, akan selalu rawan erupsi gunung berapi, gempa, hingga ancaman tsunami.

Surono, di sisi lain, mengimbau ratusan ribu pengungsi bersabar menghadapi fluktuasi Gunung Agung. Memang untuk bersabar tak semudah itu, apalagi tak ada kepastian sampai kapan gunung akan mereda. Surono meminta warga memaklumi gejolak yang terjadi pada Gunung Agung.

Ibaratnya, Gunung Agung adalah tuan rumah sementara manusia yang tinggal di sekitarnya adalah tamu. "Seperti bertamu, kan kita harus bertamu di saat yang tepat," katanya. "Kalau kita bertamu saat yang punya rumah sedang beres-beres, ya kita harus bersabar."