Iklan
Kesehatan Mental

Pengidap Depresi Cenderung Melihat Dunia Secara Lebih Realistis

Sebaliknya, menurut kajian ilmiah orang yang lebih bahagia secara mental cenderung menolak kenyataan.

oleh Stephanie Bucklin
27 Juni 2019, 11:19am

Ilustrasi depresi dari Cloud Studio / Stocksy 

Merasa sedih? Anehnya, mungkin ini berarti kamu mampu menilai tindakanmu—dan kenyataan secara umum—dengan lebih baik ketimbang saat sedang bahagia.

Fenomena ini disebut “realisme depresi,” yang mengusulkan kalau kita cenderung suka delusi dalam keadaan normal dan khayalannya hilang ketika depresi. Gagasan ini berlawanan dengan teori orang depresi terlalu negatif dalam melihat dunia: Mereka mungkin melihat dunia apa adanya.

Menurut Institusi Kesehatan Mental Nasional AS, depresi merupakan gangguan mental yang paling sering ditemukan di AS, dan memengaruhi lebih dari 16 juta orang (sekitar 6,7 persen populasi AS) pada 2015. Kalau begitu, benarkah 90 persen populasi kelewat positif melihat dunia?

Beberapa penelitian menyetujui ide ini. Konsep realisme depresi pertama kali disebut dalam laporan terbitan 1979 oleh L.B. Alloy dan L.Y. Abramson. Dalam studi ini, para peneliti memberi sebuah tombol dengan lampu hijau kepada peserta yang depresi dan tidak depresi.

Lalu, peserta diminta menentukan sejauh apa tanggapan mereka (memencet tombolnya) memengaruhi lampu tersebut. Peserta yang depresi berhasil menilai tingkat kontrol mereka, sedangkan peserta dalam keadaan sehat cenderung berasumsi mereka mampu mengendalikan lampu hijau lebih besar dari kenyataannya.

“Banyak psikolog masih menganggap realisme depresi sebagai hipotesis,” ucap Colin Feltham, mantan profesor studi konseling kritis di Sheffield Hallam University dan penulis buku Depressive Realism. Sejumlah studi telah menyelidiki teori ini dengan berbagai hasil, katanya.

Colin menjelaskan teori ini kemungkinan berkaitan dengan teori-teori psikologis lainnya, seperti teori penanganan teror. Penanganan Teror mengusulkan sifat manusia sebetulnya mengarah ke penipuan diri. Kita lebih baik hidup dalam khayalan daripada harus memikirkan konsep mengerikan seperti kematian. Mungkin, ketika depresi, kita tak mudah tertipu.

Menurut Colin, “Beberapa psikolog membenarkan unsur menipu diri memang dibutuhkan untuk menjaga kesejahteraan.” Orang depresi mungkin cuma kurang optimis sehingga mereka melewati hidup penuh sakit hati dan ingat mati. Jadi, meskipun mereka mampu melihat dunia secara lebih realistis, kita semua tahu kenyataan itu memang sulit.

Siapa yang paling mungkin mengalami realisme depresi? Orang introvert, laki-laki, orang ber-IQ tinggi, dan pengidap depresi ringan, kata Colin. Orang yang mengalami depresi parah cenderung menderita distorsi pemikiran lebih signifikan.

Sayangnya, tak semua orang percaya dengan efek realisme depresi seperti yang ditunjukkan dalam literatur. Psikolog Michael T. Moore, dosen Adelphi University, memimpin survei terhadap 75 studi tentang realisme depresi yang melibatkan lebih dari 7.000 peserta. Apa kesimpulannya? “Buktinya ada, tapi terjadi dalam kisaran yang sangat sempit dari kondisi stimulus,” tuturnya. “Jam rusak bisa berfungsi kembali dua kali sehari.”

Moore yakin peserta yang depresi bukannya memiliki pandangan lebih akurat akan kenyataan secara umum. Alih-alih, pengaturan eksperimental terkontrol dari banyak penelitian telah secara artifisial menciptakan hasil seperti itu.

“Apabila kamu mengatur keadaan yang tak ada hubungannya antara tombol dan lampu, pengidap depresi mungkin bisa memilih dengan lebih baik karena rangkaian keadaan itu terjadi sesuai pandangan mereka yang agak bias terhadap dunia, bahwa hal-hal buruk terjadi tanpa alasan,” terang Moore. “Bukan berarti mereka lebih akurat secara luas, tetapi mereka tampak lebih akurat di bawah kondisi stimulus sempit.”


Tonton dokumenter VICE saat mendatangi salah satu penjara paling manusiawi sedunia di Uruguay:


Moore menekankan kita tak tahu-menahu apakah orang depresi, di berbagai pengalaman manusia, benar-benar melihat dunia secara realistis. Penelitian kami saat ini terlalu homogen, katanya.

Menurut Moore, yang masih jadi pertanyaan adalah apakah benar realisme depresi merupakan fenomena yang terjadi secara luas. Pertanyaan ini penting karena bisa berdampak besar pada cara kita mencegah dan menyembuhkan depresi.

Terapi kognitif adalah pengobatan depresi paling terkemuka saat ini. Moore berujar terapinya dilaksanakan berdasarkan asumsi pengidap depresi merasa sedih karena mereka salah memahami lingkungannya. Bahwa mereka cuma bisa mengingat hal-hal buruk saja dan melupakan yang positif. Terapi kognitif mungkin membantu pasien menjadi lebih akurat dan realistis, yang akhirnya membantu mereka merasa lebih baik.

Tetapi kalau realisme depresi ternyata terbukti, pertanyaannya: Apakah terapi kognitif benar-benar membantu pasien lebih akurat melihat kenyataan? Ataukah cuma menawarkan persepsi optimistis yang fana?

Untuk saat ini, bukti menunjukkan alasan mengapa kita percaya kalau orang yang depresi ringan bisa lebih realistis. Patut dipertimbangkan apakah itu berlaku untuk keadaan yang lebih luas. Tetapi sementara itu, sebaiknya kita nikmati saja persepsi fana itu. Mungkin ini pertanda akan kesehatan mental yang lebih baik.

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic

Tagged:
penelitian
manusia
Depresi
Kerja Otak
Kebahagiaan
depressive realism
Hidup
Kajian ilmiah
Memandang Hidup