Iklan
FIGHTLAND

Diktator Chechnya Memanfaatkan MMA Jadi Alat Propaganda Rezim

Tayangan 'Real Sports' di HBO yang mewawancarai Ramzan Kadyrov menampilkan upaya sang diktator mempromosikan maskulinitas ekstrem anti-minoritas lewat pertarungan MMA.

oleh Josh Rosenblatt
24 Juli 2017, 8:30am

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Sports.

Episode terakhir Real Sports yang ditayangkan oleh HBO membuka mata penggemar mixed martial art (MMA) akan kenyataan pahit yang selama ini tak mereka sadari: ada seorang diktator sinting di Chechnya yang menggunakan olah raga ini sebagai perangkat propaganda untuk menyebarkan paham maskulinitas busuk dan menekan siapapun yang bersebrangan dengan visinya.

Kisah-kisah seperti ini mungkin sudah sangat lazim bekalangan. Roman Kadyrov, pemimpin Republik Chechnya yang sangat didukung Kremlin, selama satu dekade lamanya telah memimpin rakyat mayoritas muslim di sana dengan tangan besi. Dia adalah pemimpin maniak perang yang menginisiasi beragam kekejaman—mulai dari pembunuhan awak media dan pejuang pembela hak asasi manusia, pembantaian lawan politik, serta penggunaan pasukan pembunuh, penyiksaan, penghilangan penduduk hingga pemerkosaan sebagai alat koersi dan opresi. Malang, semua kekejaman ini tak kunjung jadi perhatian masyarakat dunia, meski kondisi berubah sejak tersiar kabar tentang usaha pemerintah Kadyrov untuk menggelandang, menyiksa dan bahkan membunuh lelaki homoseksual di Chechnya. Konon, aksi ini dilakukan untuk membersihkan Chechnya dari wabah homoseksual.

Pemerintah Chechnya membantah isi laporan tersebut dengan sebuah klaim ajaib yang mengatakan aksi-aksi bersih seperti itu tak diperlukan sebab toh Chechnya sudah jauh-jauh hari bebas dari kaum homoseksual. Mantap!

Dalam episode Real Sports minggu ini (yang mencakup sesi wawancara dengen penulis Blood Elbow Karim Zidan, penulis laporan keren yang membeberkan penggunaan MMA sebagai alat propaganda pemerintah Kadyrov), koresponden David Scott duduk bersama Kadyrov untuk membedah hubungan langsung MMA dan kekuasaan di Chechnya. Kadyrov, yang selain menjadi orang nomor satu di Chechnya juga mengelola gym MMA dan perusahaan promotor Akhmat MMA, dengan tegas menarik garis batas antara MAA dan kekuasaan. Dia menegaskan bahwa para kampiun MMA sebagai bukti kekuatan Chechnya dan menggunakan MMA sebagai kanal perekrutan perekrutan personel militer. Jadi sekali, di benak Kadyrov, yang politis adalah personal. Begitu juga sebaliknya.

"Kami memang dididik seperti ini sejak kecil," ujar Kadyrov," Ayah saya pernah bilang begini ketika saya masih kecil 'kalau kamu pulang karena kamu takut, mending jangan pulang. Ayah tak butuh kamu. Kamu bukan anak perempuan, kamu itu laki-laki,'....moto kami cuma satu: lebih baik mati daripada jadi juara kedua." sepintas, bagian terakhir kalimat Kadyrov mirip dengan moto para petarung MMA (atau bahkan moto pabrik pembuat sarung tangan tinju atau gym-gym standar di kota besar, namun dalam konsepsi Kadyrov tentang Chechnya, moto itu tak boleh ditafsirkan sebagai bualan hiperbolis belaka. Malah, jika ada yang berhasil diungkap dalam episode Real Sports minggu ini, maka itu adalah bahwa Kadyrov plus para petarung binaannya di Akhmat MMA telah menarik lurus antara kegarangan MMA dan maskulinitas yang "berhasil" (atau tepatnya maskulinitas haus perang) dan bahwa konsepsi maskulinitas di luar konsepsi maskulinitas ini adalah sebuah borok yang harus dienyahkan.

Alhasil, ketika ditanya tentang kebijakan pembasmian kaum gay yang dilakukan oleh rezim pemerintahnya, Kadyrov lengkas menyangkal keberadaan keduanya (lelaki gay dan program pembasmian mereka). Sambil menegaskan jawabannya, Kadyrov mengatakan jikapun ada lelaki gay yang tersisa di Chechnya, mereka harus dikirim ke "Kanada" agar "darah kami tetap bersih."

Dengan kata lain, dalam imajinasi Kadyrov, homoseksualitas adalah manifestasi paling pol dari kelemahan dan rasa takut, dari nihilnya kekuatan dan maskulinitas dan sentimen militerisik. Imajinasi seperti ini semestinya menakutkan bagi semua orang, gay atau straight, yang tinggal di dalam atau di luar sebuah republik yang karakteristik dirinya (sebagai lelaki yang kuat) begitu terikat pada doktrin militer tentaranya. Apa yang kurang menyeramkan dari sebuah negara adidaya seperti Rusia yang memandang kebijakan militer sebagai sekadar pengembangand dari konsepsi tentang maskulinitas?

Tak ayal jika kemudian, ancaman Kadyrov pada Amerika Serikat, jika negara superpower itu, memutuskan berhadapan dengan Chencnya terdengar sangat nekat dan fatalis: "Jika AS pada akhirnya bisa menghancurkan pemerintah kami, rudal nuklir kami akan meluncur secara otomasti," ujarnya. "Kami akan membalik dunia dan menyerangnya dari belakang."

Jelas ini, bukan ancaman yang main-main dalam sudut pandang geopolitik. Namun, bagi penggemar olahraga MMA, ada sebuah pertanyaan yang efeknya bakal terasa dalam kancah olahraga yang kita sayangi ini. Jangan pernah lupa bahwa bintang-bintang UFC yang begitu dihormati semisal Chris Weidman, Frank Mir, dan Alexander Gustafsson pernah mengunjungi Chechnya sebagai tamu kehormatan Kadyrov: semua jagoan kita ini pada akhir jadi pion berbayaran mahal dalam percaturan politik Kadyrov.

Bahkan, legenda UFC Fabricio Werdum is, sejauh yang kita tahu, masih menerima gaji sebagai "Duta" bagi Akhmat MMA, membantu memuluskan jalan menuju penerimaan internasional akan liga MMA dan maskulinitas berbahaya yang diusung Kadyrov serta pada akhrinya politik opresi ektrem yang dijalankannya. Lalu, jangan juga lupa bahwa lawan Cono McGregor dalam laga yang dijuluki The Greatest Fight of All Time™, Floyd Mayweather (yang tak pernah melewatkan setia kesempatan untuk panen uang serta tak pernah berhenti mencium pantat semua pemimpin dunia yang ditemuinya) pernah menjadi tamu agung Kadyrov di Chechnya April lalu, mendukung rezim Kadyrov dan segala dosaya.

Jadi, saya berharap bahwa episode terbaru Real Sports akan menimbulkan rasa jijik atau setidaknya malu dalam komunitas MMA hingga tak seorang pun—tak juga Werdum, Weidman, Gustafsson, atau presiden UFC Dana White (yang sama rakusnya seperti Mayweather) yang pernah ditantang Kadyrov untuk bertarung dalam turnamen UFC/Akhmat "sampai mati"—mau menjadi pion dan jadi papan iklan berjalan rezim Kadyrov.

Kita tahu, 15 tahun lalu, MMA berhasil menyelamatkan eksistensinya dengan menarik garis tegas antara olahraga dan tontonan. Kini, saatnya menarik garis pemisah yang sangat tebal antara capaian dalam kandang pertarungan dan militerisme busuk di luar sana.