Fotografi

Demi Memotret Mumi, Fotografer AS Rela Menginap Seminggu di Kuburan Bawah Tanah Italia

Ada lebih dari 8.000 mumi dimakamkan di Kuburan bawah tanah Biara Capuchin, kawasan Palermo, Sisilia. Seri foto ini membuat kita merenungi makna kematian bagi manusia.

oleh Miss Rosen
10 Juni 2019, 3:00am

Matthew Rolston, salah satu foto dari seri 'Vanitas' © MRPI 

Pada 1597, para biarawan gereja Ordo Capuchin di Palermo, Sisilia mendapat masalah. Ruang bawah tanah yang biasa dijadikan tempat pemakaman sudah penuh. Untuk mengakali habisnya lahan ini, mereka menggali kuburan bawah tanah besar itu untuk dipindahkan ke gua-gua kuno. Ketika tiba saatnya memindahkan mayat-mayat tersebut, para biarawan menemukan sesuatu yang luar biasa di sana.

Ada 45 jasad yang dimumikan secara alami. Fitur wajahnya pun masih dapat dikenali. Mereka menganggap penemuan ini sebagai suatu keajaiban. Sejak itu, mereka menjadikan Capuchin Catacombs of Palermo sebagai situs suci. Ruang bawah tanah tersebut kini dipenuhi 8.000 mayat berpakaian elegan. Mereka semua orang Sisilia, yang dulunya merupakan biarawan atau orang kaya. Mereka meninggal antara Abad ke-16. Praktik mumifikasi bahkan masih dilakukan di sana sampai awal Abad ke-20.

Kuburan bawah tanah di Italia ini menginspirasi banyak seniman dan penyair. Mulai dari Lord Byron, Otto Dix, Francis Bacon, Peter Hujar sampai Richard Avedon. Mayat-mayat indah ini juga berhasil menarik minat fotografer dan sutradara Amerika Matthew Rolston untuk datang berkunjung. Di sana, Rolston—yang pernah memotret dan membuat video klip untuk Beyoncé, Janet Jackson, Mary J. Blige, dan TLC—mengarahkan lensanya kepada para penghuni Capuchin Catacombs. Hasil jepretannya lalu diabadikan dalam seri foto bertajuk Vanitas: The Palermo Portraits.

Kepada VICE, Rolston menceritakan seperti apa rasanya memfoto mayat-mayat di tengah gelapnya malam di kuburan bawah tanah. Dia juga menjelaskan bagaimana mumi-mumi Italia itu bisa dihubungkan dengan pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan evolusi.

1531767559351-Pa1061-1554
Matthew Rolston. Mumi yang diduga dikubur pada 1554, Palermo, Italia. Foto ini bagian dari seri “Vanitas” © MRPI

VICE: Halo bung. Bisa ceritakan alasanmu tertarik pada teori uncanny valley yang dikembangkan profesor robotika Masachiro Mori? Kenapa kamu bilang proyek foto mumi di Italia ini berkaitkan sama teori tersebut?
Matthew Rolston: Saya enggak sengaja membaca soal uncanny valley. Saya tertarik pada penggambaran simulacra manusia. Berhubung saya mendalami fotografi potret, jadi saya coba mengambil dari sudut berbeda.

Dalam Talking Heads, saya memotret koleksi langka boneka ventriloquist. Proyek pertamaku ini mempelajari bagaimana kita memproyeksikan semangat hidup menjadi simulacra. Kita semua melakukannya tanpa sadar. Jika kita melihat patung Yesus atau Buddha [atau foto selebritas], kita secara naluriah menganggap mereka hidup. Saya memfoto boneka-boneka itu layaknya makhluk hidup. Saya mencari momen koneksi yang sama dengan mereka seperti ketika saya berhadapan dengan manusia. Untuk proyek Vanitas, saya ingin melakukan sesuatu yang lebih serius.

Seri fotografi ini menampilkan potret mumi umat Kristen yang dimakamkan di kuburan bawah tanah Gereja Capuchin di Palermo, Sisilia. Berbekal wawasan dari Talking Heads, saya menambahkan kesadaran akan kefanaan manusia. Ernest Becker menyebutnya “death anxiety” atau rasa takut mati berlebihan. Hal itu membumbui pengalaman manusia, walaupun seringkali caranya tragis.

1531767652134-P_pa748_105
Matthew Rolston. Palermo, Italia, 2013, foto ini bagian dari seri “Vanitas” © MRPI


Filsafat, mitologi, dan agama sudah ada sejak awal keberadaan manusia. Tiga pengetahuan itu fungsinya untuk menjelaskan misteri kehidupan dan kematian. Kita membatasi diri dari orang lain. Banyak dari kita bahkan rela membunuh satu sama lain untuk mempertahankan sistem kepercayaan yang melindungi kita dari rasa takut mati. Ini semacam penyangkalan—tak ada satupun yang tahu dari mana kita berasal dan ke mana kita akan pergi.

Sadar akan mati adalah penderitaan manusia, serta unsur kehidupan yang indah dan menentukan di dunia. Saya ingin menyampaikan pesan ini karena sekarang tampaknya evolusi manusia bisa membuat kita enggak memedulikan tubuh kita sendiri. Bisa dibilang, Vanitas adalah elegi bagi akhir kehidupan manusia, seenggaknya dalam bentuknya saat ini.

Kalau seri foto saya sebelumnya Talking Heads tentang apa yang hidup dan enggak hidup, maka Vanitas lebih menceritakan tentang hidup dan mati, sesuatu yang aneh dan indah, serta keabadian.

1531767583992-Uc_pa487_1318
Matthew Rolston. Palermo, Italia, 2013, bagian dari seri “Vanitas” © MRPI

Menurutmu foto dari kuburan bawah tanah Palermo ini bisa memberi gambaran tentang rasa takut mati yang dimiliki manusia?
Sekitar 500 tahun lalu, generasi pertama Frater Ordo Kapusin di Palermo dimakamkan di ruang bawah tanah gereja. Berhubung dulu belum ada pengawetan mayat, jadi organ tubuhnya dikeluarkan. Jasadnya lalu dikeringkan pada lempengan batu selama setahun. Setelah itu, tubuhnya akan dimasukkan jerami dan dikubur. Setahun kemudian, para Frater mendatangi kuburan bawah tanah tersebut dan melihat mayatnya belum membusuk. Mereka menganggapnya mukjizat.

Mereka percaya lebih dekat dengan keselamatan jika dikuburkan di sana. Alasan jasadnya diletakkan tegak di ceruk, karena mayat-mayat itu sudah siap dibangkitkan pada hari Kebangkitan. Para biarawan berpikir mendiang rekannya bakalan jadi yang pertama masuk surga. Bagi saya, ini tragis dan juga menakjubkan. Semacam ada keangkuhan bisa mengalahkan kematian, baik itu di film Hollywood maupun dimumikan di ruang bawah tanah yang magis dan mistis. Setibanya di sana, saya langsung menangis ketika menyadari kalau manusia memang takut mati. Bahkan dari zaman dulu pun sudah seperti itu.


Tonton dokumenter VICE soal warga pemukiman di Filipina yang terbiasa hidup bersama ribuan jasad:


Bisa ceritakan tantangan apa saja yang kamu alami selama melakoni proyek ini?
Prosesnya sangat panjang. Kami mulai malam hari, dari pukul 6 sore sampai 3 pagi. Saya sudah mirip vampir waktu itu. Saya tidur sepanjang hari di ruangan gelap, bangun di waktu senja, dan pergi ke ruang bawah tanah. Saya sebelumnya minta izin terlebih dulu untuk tinggal di sana selama seminggu. Tim saya ada enam orang, dan kami membawa satu truk penuh peralatan fotografi dari Milan ke Palermo. Kami melewati tol ke Genoa, dan naik feri menyeberangi laut.

Kami juga membuat dokumenter pendek untuk mengontekstualisasikan proyeknya, jadi kami mengatur sesinya untuk menyesuaikan berbagai hari kematian. Hari terakhir pemotretan kami bertepatan dengan Eve of All Saints’ Day pada 31 Oktober. Di Italia, ini adalah saat yang tepat untuk berkomunikasi dengan para arwah dan memikirkan sesuatu yang tak terbatas.

Saya sebenarnya ingin memotret 100 mayat, tapi cuma bisa 70 saja karena kesulitan logistik. Hasil akhirnya jadi 50 foto doang. Kami sering pindah-pindah untuk memfotonya—beberapa ditumpuk jadi dua atau tiga tingkat. Itu artinya saya harus punya perancah untuk menyangga lighting dan kamera. Prosesnya panjang dan melelahkan. Mirip kayak penjelajah yang merencanakan ekspedisi saat ingin menaklukan gunung.

1531767596580-Uc_pa458_1071
Matthew Rolston. Palermo, Italia, 2013, bagian dari seri foto “Vanitas” © MRPI

Gimana caramu memilih warna pencahayaan bernuansa biru untuk memotret mumi?
Kalau kamu berkunjung ke sana, kamu akan melihat ruang redup keabu-abuan dengan lampu neon. Beda banget dari foto-fotoku. Saya menggunakan pencahayaan teater bernuansa emas dan biru. Selain itu, ada sentuhan pirus, biru, hijau, emas dan merah darah. Warna-warna ini menggambarkan memar. Pendekatan ini mengikuti seniman Republik Weimar seperti Otto Dix (yang melukis mumi-mumi ini pada 1924), Francis Bacon, Lucien Freud, dan Egon Schiele.

Warna birunya terinspirasi oleh kapel yang sangat istimewa di sebuah gua terletak di perbukitan Monte Pellegrino, Palermo. Dalam gua itu, ada lampu neon biru di belakang patung Bunda Maria yang sepertinya sudah ada sejak 1950-an. Saya mencari-cari warna biru itu, dan menemukan ada kaitannya dengan tokoh-tokoh seperti Bunda Maria dan Yesus dalam ikonografi Katolik.

Saya memperoleh inspirasi lain saat menelusuri ruang bawah tanahnya. Saya memerhatikan ada persilangan halus antara cahaya alami dan buatan. Katakombanya tepat di bawah permukaan jalan, dan di beberapa sudut ada jendela di atas ruangan yang sebenarnya berada di pangkal trotoar. Cahaya alami yang masuk berwarna biru, dan cahaya di dalamnya lebih hangat. Persilangan ini juga memengaruhi rencana pencahayaan saya.

1531767630860-P_pa314_583
Matthew Rolston. Palermo, Italia, 2013, dari seri foto “Vanitas” © MRPI

Menurutmu adakah kaitan konsep robot dan AI, serta transhumanisme sebagai evolusi alami umat manusia, dengan seri foto mumi ini?
Keinginan untuk mengalahkan kematian, atau seenggaknya mengungkapkan misterinya, sudah ada sejak dahulu kala. Itu adalah motivator spiritual dan momok kemanusiaan, dan masih berlanjut sekarang dengan teknologi.

Saya yakin kalau kita enggak merusak diri sendiri, pada waktunya kita akan berkembang melampaui bentuk kita saat ini menjadi sesuatu yang lain. Kebanyakan orang menyebutnya transhumanisme, dan rasanya seperti segala sesuatu dalam budaya kita menuju ke sana, terutama ketika menjadi semakin membaur seperti sarang pikiran lewat interaksi media sosial. Banyak mitologi dan film yang sudah memprediksi ini sejak bertahun-tahun lalu. Mungkin inilah takdir kita sebenarnya.

Bentuk kita relatif baru. Spesies manusia enggak setua itu. Homo sapiens sudah ada dari sekitar 300.000 tahun lalu. Jika kamu percaya pada teori evolusi, seberapa berbeda bentuk kita sekarang dari protozoa? Mengapa bentuk tubuh kita tidak boleh jauh berbeda di masa depan? Saya ingin menjawab semua pertanyaan ini melalui Vanitas. Renungan terbesar dari seri foto ini adalah: Apa pentingnya tubuh manusia? Bisakah kita membuangnya?

1531767683619-Uc_pa486_1305
Matthew Rolston. Palermo, Italia, 2013, dari seri foto “Vanitas” © MRPI
1531767616126-P_pa834_460
Matthew Rolston. Palermo, Italia, 2013, dari seri foto “Vanitas” © MRPI
1531770788388-Uc_pa492_1345
Matthew Rolston. Palermo, Italia, 2013, dari seri foto “Vanitas” © MRPI

Follow Miss Rosen di Instagram.

Artikel ini pertama kali tayang di VICE US.