Iklan
Kerja Otak

Mengenal Tinnitus, Gangguan Pendengaran Biasa Menimpa Anak Metal atau Hardcore

Ahli neurologi sebetulnya sudah menemukan cara menangani denging tak mau pergi, setelah kalian nyaris budeg sepulang dari gig. Sayangnya kesadaran orang soal Tinnitus masih rendah.

oleh Michael Byrne
07 Februari 2018, 6:31am

Artikel ini pertama kali tayang di Motherboard

Di puncak karirku sebagai kritikus musik, aku biasa menyambangi lima atau enam gig dalam seminggu. Bahkan sering lebih dari itu, kalau aku memang sempat menghadiri lebih dari dua acara dalam semalam. Itu belum termasuk acara DJ after-party. Dulu, mendatangi sebanyak mungkin gig adalah gaya hidup yang alami buatku. Sekarang, sudah tidak bisa lagi. Tiap malam, aku paling membaca buku tentang struktur data dan mikroarsitektur, atau menulis tentang gas Bose satu dimensi, atau mengulas misteri foton dalam medium intergalaktik. Yup, aku sudah jadi jurnalis sains sekarang. Beda banget ya. Enaknya jadi jurnalis sains adalah adanya perubahan gaya hidup. Aku tidak harus bangun setiap pagi dengan dengungan nyelekit akibat tinnitus.

Oke, kalian pasti bertanya-tanya, "ntar dulu bos, tinnitus tuh apaan?"

Dengungan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk, termasuk bunyi nyaring, desis, dan segala jenis suara lainnya. Tinnitus adalah bunyi mengganggu yang seakan menginvasi kuping dan menolak pergi, biasanya hasil dari kerusakan telinga akibat terlalu sering terpapar bunyi bising. Penyebab lain adalah faktor usia, berhubung gendang telinga semakin melemah seiring kita bertambah tua. Dalam kasus tertentu, tinnitus bukan gangguan sepele lho. Bunyi ini dampat menimbulkan dampak merusak terhadap tubuh, contohnya tekanan darah tinggi, walau kasus macam ini jarang sekali. Tinnitus adalah gangguan yang mau tidak mau harus dihadapi sampai akhirnya hilang dengan sendirinya.

Masalahnya, kasus yang jarang itu dapat menghasilkan efek gangguan kesehatan parah. Tinnitus tercatat dapat berakibat fatal: memicu insomnia kronis, stres, gangguan kecemasan, gangguan ingatan, hingga depresi. Ketika penanganan serus dibutuhkan, doktor akan menganjurkan penggunaan alat bantu pendengaran yang menghasilkan 'white noise' guna menutupi bunyi deringan tinnitus. Alat bantu lebih canggih bahkan bisa beradaptasi dengan gangguan tinnitus pengidapnya. Alat ini menciptakan bunyi yang bukan hanya menutupi tinnitus, tapi juga melatih kuping untuk mengabaikan tinnitus itu sendiri. Dalam kasus yang lebih parah lagi, dokter mungkin akan menganjurkan pil antidepressan atau peredam kecemasan seperti Xanax.

Kalau kalian adalah metalhead atau anak punk hardcore yang mulai panik karena mengalami gangguan macam itu, jangan khawatir. Belakangan sudah muncul metode pengobatan baru kini sedang diuji oleh BPOM-nya Amerika Serikat. Metode ini disebut sebagai “Serenity System.” Pengobatan Tinnitus terbaru ini akan berusaha menanganinya langsung ke akar masalah, yakni menyumbat syaraf vagus—syaraf besar yang menghubungkan otak ke berbagai organ tubuh—lantas menghasilkan nadi yang membantu korteks auditory otak “menyetel ulang” dirinya sendiri guna menghilangkan bunyi tinnitus yang menyebalkan.

Inspirasi metode baru ini mengadopsi temuan mengenai “neuroplasticity”, alias kemampuan luar biasa otak menciptakan ulang bagian tubuhnya sebagai respons terhadap kondisi atau kelakuan yang berubah. Ketika seseorang berada di konser musik, telinga pasti diserang stimulasi suara keras. Nah, metode neuroplasticity akan berusaha menurunkan "frekuensi dari neuron korteks auditory” agar dampak merusaknya terhadap telinga turun drastis. Menurut makalah yang terbit di jurnal ilmiah Nature pada 2010, percobaan metode anyar ini sukses dicoba pada tikus. “Peneliti secara berulang-ulang menyandingkan tone dengan stimulasi nadi saraf vagus dapat mengeliminasi dampak fisik tinnitus terhadap tikus yang terekspos dengan kebisingan,” demikian seperti dikutip dari makalah tersebut. “Kemajuan ini terlihat selama beberapa minggu setelah terapi selesai.” Sesi uji coba oleh pemerintah AS yang tengah dilakukan sekarang diharap bisa mengulang hasil yang sama dengan subyek manusia—yang artinya, metode tersebut dapat diaplikasikan massal kepada pengidap tinnitus sedunia.

Lantas apa yang sebetulnya terjadi dengan kuping ketika tinnitus menimpa? Teori utama mengatakan terjadi kerusakan terhadap bulu tipis di koklea kuping, yang menghasilkan efek auditory jangka panjang. Ketika koklea diserbu dengan suara bising, bulu-bulu tersebut membengkok atau merata, mempengaruhi sinyal elektrik yang disalurkan ke korteks auditory otak. Karena sinyalnya kacau, penderita tinnitus mengalami persepsi bunyi yang ‘miring’—termasuk mendengar bunyi dengungan menyebalkan yang sebetulnya tidak ada.

Sumber gambar: harvard.edu

Bulu-bulu koklea ini mungkin akan memulihkan dirinya sendiri seiring waktu, tapi ini mungkin tidak akan menyebabkan banyak perubahan. Pada titik itu, mungkin otak sudah menyesuaikan diri terhadap dengungan tersebut. Ilusi ini kemudian menjadi “phantom phenomenon.” Berdasarkan penelitian yang terbit pada 1998, disimpulkan bahwa korteks auditory penderita tinnitus mengalami tingkat pengorganisasian ulang syaraf yang tinggi. Perubahan bentuk syaraf ini mirip dengan kasus orang yang pernah diamputasi, lalu mengeluhkan rasa sakit dari organ tubuh yang sebenarnya sudah tidak ada (itulah sebabnya gejala tersebut dinamai “phantom pain”). Fenomena phantom pain ini berhubungan dengan organisasi ulang dari meningkatnya kekenyalan korteks sensor otak.

Setelah mempelajari itu semua, aku merasa beruntung. Tinnitus yang kualami dulu tidak segitu parahnya. Jujur, banyak teman-temanku di dunia jurnalisme musik atau para pegiat skena yang mengalami pengalaman jauh lebih tidak enak. Bagi kalian metalhead paruh baya, jangan khawatir, sebentar lagi ada solusi buat denging yang menyiksamu. Ilmu pengetahuan belum melupakan penderitaanmu ini.