Perang Suriah

Begini Rasanya Berulang Tahun Ke-18 di Kamp Pengungsi Suriah

Perang Suriah sudah genap berusia tujuh tahun. Kami menemui beberapa remaja yang besar di tengah konflik menahun tersebut.

oleh Andrew Quilty
17 Maret 2018, 4:03am

Semua foto oleh Andrew Quilty.

Pada Maret 2018, VICE mengunjungi Kamp Pengungsi di Lembah Beqaa bersama jurnalis foto Andrew Quilry dan Yayasan World Vision Australia, mendokumentasikan cerita para pengungsi pada momen tujuh tahun perang saudara di Suriah.


Tujuh tahun lalu, gelombang tuntutan demokratisasi berjuluk 'Musim Semi Arab/Arab Spring' melanda berbagai wilayah Timur Tengah. Generasi muda mengupayakan revolusi, sebagian sukses menjungkalkan pemerintah yang berkuaa di Tunisia, Mesir, Libya, hingga Yaman. Gerakan yang sama menjalar ke Suriah. Kala itu banyak pengamat politik mengira serangkaian unjuk rasa di Kota Daraa, Suriah, akan mengakhiri kekuasaan Presiden Basyar al-Assad. Rupanya pandangan itu keliru. Suriah, salah satu negara paling stabil di Timur Tengah, mendadak berubah menjadi rusuh. Perang saudara pun meletus.

Selama tujuh tahun, konflik bersenjata yang melanda Suriah memaksa lima juta warga Suriah mengungsi, menyelamatkan nyawa keluarga dari kekejaman perang. Sebagian besar pengungsi itu masih anak-anak ketika harus meninggalkan tanah kelahiran. Merekalah yang kini sering disebut sebagai “generasi yang hilang.” Sebagian anak-anak ini terpaksa menyeberangi lautan atau benua. Sebagian lainnya tak bisa pergi sejauh itu. Ada yang hanya berhasil kabur melewati pegunungan di perbatasan sisi barat Suriah, lalu kini bertahan di Lembah Beqaa, Libanon. Di pengungsian, mereka mengalami ultah ke-18, usia yang di berbagai negara disebut penanda seseorang resmi jadi manusia dewasa. Artinya, seluruh masa kanak-kanak mereka terenggut oleh perang.

Jurnalis foto asal Australia, Andrew Quilty, berangkat bersama VICE mengunjungi Lembah Beeka yang kini menjadi salah satu lokasi penampungan pengungsi Suriah paling besar. Kami menemui anak-anak yang berusia 18 tahun di kamp. Quilty memotret mereka di luar tenda, yang disusun dari bekas papan reklame tua, simbol kehidupan lain dari yang mereka alami sekarang.

Remaja asal Suriah ini rata-rata baru 11 tahun saat Perang Saudara meletus. Mereka menghabiskan masa remaja mereka di Lembag Beqaa. Beberapa di antaranya sebenarnya berasal dari kota yang letaknya cuma beberapa jam saja ke Beqaa. Sebagian besar dari muda-mudi ini menjalani hari-harinya sebagai pekerja kasar. Hanya segelintir yang masih sekolah dan lebih sedikit lagi yang merayakan ulang tahun mereka tahun ini. Berikut cerita mereka melewati masa remaja sebagai pengungsi dan nyaris lupa bagaimana rasanya punya rumah akibat perang berlarut-larut:

Zakaria.

Zakaria, 18 tahun
Aleppo

Zakaria berasal dari kawasan pinggiran Aleppo, Suriah. Zakaria sudah tinggal di banyak Informal Tent Settlement, tenda pemukiman sementara [ITS] di Lembah Beeka dalam dua tahun terahkhir. Dia memutuskan meninggalkan kampung halaman ketika kondisi di Suriah dirasa sudah terlalu berbahaya lantaran terus dihujani bom pasukan Rezim Bassar Al-Assad. Katanya, untuk bisa selamat di Suriah, ongkosnya sudah kepalang tinggi saat itu.

Pada ulang tahun ke-18 pekan lalu, Zakaria mengatakan kalau dirinya, “sejujurnya tidak melakukan apa-apa.”

Andai kondisinya jauh berbeda, dia mengatakan mungkin bakal bikin pesta dan merayakan hari jadinya bersama teman-teman. Ulang tahun terakhir yang dia rayakan, ujar Zakaria, adalah saat usianya genap 15 tahun.

Nasir.

Nasir, 18 tahun
Afrin

Nasir berasal dari kota Afrin, sekitar satu setengah jam perjalanan ke arah utara Aleppo. Afrin saat ini dikuasai Pasukan Kurdi. Menurut pemberitaan media, tentara etnis Kurdi kini tengah dikepung oleh pasukan Turki.

Semenjak mengungsi dari kampung halamannya enam tahun lalu, Nasir tak pernah pergi dari Lembah Beqaa, Libanon. Nasir meninggalkan Suriah adalah karena kesempatan bekerja sirna setelah peperangan sipil melanda Suriah.

Nasir juga tak merayakan hari jadinya tahun ini. Kalau saja dia masih di rumahnya, katanya, dia pasti sudah mengundang teman-teman dan merayakan ultahnya di bawah pohon zaitun. Seingat Nasir, dia terakhir kali merayakan ultah pada 2013.

Mirvat.

Mirvat, 18 tahun
Raqqa

Mirvat datang dari Raqqa, bekas ibu kota de facto Negara Islam Irak dan Syam (ISIS). Sejak perang merebak di Suriah, Mirvat sudah tingal di Lembah Beeka, Lebanon. Artinya, dia sudah tinggal sebagai pengungsi selama tujuh tahun lamanya.

Mirvat tak melakukan apa-apa pada ulang tahunnya kali ini. Salah satu alasannya karena keluarganya masih berkabung setelah kakak perempuan Mirvat meninggal beberapa pekan lalu.

Issa.

Issa, 18 tahun
Aleppo

Issa terakhir kali merayakan hari kelahirannya tak lama sebelum dia angkat kaki dari Aleppo, enem tahun lalu. Keluarganya berhasil menyelamatkan diri dari sana setelah ayahnya nekat mengendarai mobil di tengah perang yang berkecamuk. Setelah meninggalkan Aleppo, kehidupan Issa berkutat sepenuhnya di Lembah Beeka.

Di hari jadi ke-18nya, Issa tak melakukan apa-apa. “Kalau kondisinya enggak seperti ini, mungkin kami akan bikin pesta kecil-kecilan,”ujarnya. “tapi enggak ada yang bisa kami lakukan di sini.”

Rajab.

Rajab, 18 tahun
Aleppo

Rajab datang dari Aleppo, Suriah. Pemuda ini meninggalkan rumahnya lima tahun lalu karena tak ada pekerjaan tersisa di sana. Terlebih lagi, kotanya seakan tak henti jadi sasaran bom. Sejak saat itu, dia jadi satu dari sekian ribu pengungsi yang tinggal di Lembah Beeka.

Tahun ini, Rajab merayakan ulang tahunnya sendirian, ujarnya, karena terpisah jarak dengan teman-temannya. Nasir tak punya kue ultah, tapi sempat membeli baju baru untuk merayakan hari kelahirannya. Dia mengaku terakhir kali merayakan hari jadi dengan semarak adalah ketika berusia 13 tahun. Saat itu, ada musik dan kue di hari jadinya.

Mohammad.

Mohammad, 18 tahun
Daraa

Mohammad berasal dari Daraa, kota kecil tempat perlawakan terhadap Rezim Suriah berkobar. Sejak lima terkahir, sejak dirinya meninggalkan dari, Mohammad tingal di ITS, Lembah Beeka, Libanon karena “kota kelahirannya sudah hancur lebur.”

Mohammad tak merayakan ultah tahun ini, tapi dia masih ingat jelas pesta ultah terakhirnya di Suriah. Perayaan ultahnya waktu itu hanya dirayakan dengan pesta kecil-kecilan oleh keluarga. Mereka makan permen, minum jus, dan mendengarkan musik. Mohammad tak memiliki sanak saudara di Beqaa selain ibu dan saudarinya. Jadi, katanya, dia tak lagi merayakan ulang tahun di masa mendatang.

Ramia.

Ramia, 18 tahun
Aleppo

Ramia berasal Aleppo, Suriah, tapi kini bermukim di Beqaa sejak “awal perang Suriah” tujuh tahun lalu. Awalnya, keluarga nekat tinggal di Aleppo meski kota-kota di sebelahnya hancur dilumat bom. Pada akhirnya, mereka juga memutuskan angkat kaki.

Ramia mengakutak merayakan ultahnya tahun ini karena teman-temannya tak ada di Beqaa. Cuma, kalau saja dia masih di kampung halamannya dan situasi tak seperti sekarang, dia pasti menggelar pesta. Terakhir kali dia merayakan ultah pada saat genap berusia 11 tahun. Sebuah pesta kecil digelar. Ramia dan teman-temannya menggasak permen waktu itu.

Kousai.

Kousai, 18 tahun
Raqqa

Kampung halaman Kousai adalah Raqqa, bekas ibukota de facto ISIS. Dia mengaku meninggalkan Suriah bersama keluarganya karena perang berkecamuk dan tak ingin dipaksa masuk tentara.

Tahun ini, dia merayakan ultah bersama teman-temannya di kamp pengungsi ITS Beqaa, yang sudah dianggapnya sebagai rumah sendiri. Karena Kousai tak punya surat-surat yang menyatakan dirinya seorang pengungsi, dia tak diperbolehkan meninggalkan kamp penampungan. Jadi, alih-alih pergi keluar, Kousai membeli permen dan kue hookah untuk dimakan di dalam kamp.

Dia adalah salah satu orang dari sedikit pengungsi di Beeka yang masih bisa merayakan hari ulang tahunnya. Kousai bisa melakukannya karena punya uang hasil bekerja, namun tak bisa membelanjakan uang itu selain untuk bikin pesta ultah kecil-kecilan.

Malak.

Malak, 18 tahun
Aleppo

Berasal dari Aleppo, Malak praktis tinggal dalam ITS, di Lembah Beeka, Libanon “sejak perang merebak.” Dia tak ingat kapan terakhir kali keluarga menggelar perayaan ulang tahunnya.

Gadis muda ini tak melakukan apa-apa di hari jadinya. “Kami diam di rumah saja,”katanya sambil mengangkat bahu. Kalau saja kondisinya berbeda, dia “bakal bikin pesta,” kata Malak.

Ahmad.

Ahmad, 18 tahun
Aleppo

Ahmad berasal dari kawasan pinggiran Aleppo. He meninggalkan rumahnya enam tahun lalu dan sejak saat itu hidup sebagai seorang pengungsi di Lembah Beqaa, Libanon.

Dia bilang dia tak merayakan hari ulang tahun ke-18nya. Tak ada kue ultah baginya. Dalam kondisi yang berbeda, sebelum perang, dia sudah pasti bakal berpesta dengan temannya. Dia masih ingat pesta ultah terakhir di Suriah.

Ghouroub.

Ghouroub, 18 tahun
Aleppo

Ghouroub berasal dari Aleppo, Suriah. Dia kabur dan menyebrang ke Libanon bersama ayah dan ibunya setelah rumah mereka hancur dan salah satu saudaranya tewas. Saudari dan saudaranya yang masih hidup hingga kini bertahan di Suriah. Sejak saat itu, dia tinggal di ITS di Beeka.

Lantaran tiga tahun terakhir ini, keluarganya masih berkabung karena kematian saudaranya, dia tak merayakan ultahnya. Dia bahkan lupa kapan tanggal lahirnya, katanya, karena merayakan hari jadi tak biasa dilakukan keluarganya.

Ismail.

Ismail, 18 tahun
Aleppo

Ismail datang dari Aleppo. Perang Suriah tak memberinya pilihan selain angkat kaki. Dia meninggalkan Suriah enam tahun lalu dan sejak saat itu tinggal di Lembah Beeka.

Ultah tahun ini dilewatkannya begitu saja. Namun, kalau saja kondisinya tak seperti sekarang, dia bakal bikin pesta. Ismail yakin betul dia dulu sering merayakan ultah, tapi dia hanya ingat momen-momen membahagiakan itu lewat foto lama yang masih bisa diselamatkan saat keluarganya kabur dari peperangan.


Andrew Quilty adalah seorang jurnalis foto asal Australia yang bertugas di Afghanistan. Andrew bisa diajak tukar pikiran di Twitter dan Instagram

Artikel ini pertama kali tayang di VICE Australia.