Iklan
Bertanya Buat Teman

Doyan Nahan 'Pup' Ternyata Berbahaya Buat Kesehatan Lho

Rasanya emang malu untuk eek di kamar mandi kantor, tapi kalau ditahan-tahan jadinya malah bahaya lho.

oleh Alyssa Girdwain
17 Mei 2018, 11:23am

Artikel ini pertama kali tayang di Tonic.

Bertanya Buat Teman adalah rubrik khusus dari Tonic menjawab semua pertanyaan kalian seputar kesehatan, yang paling tolol sekalipun. Jadi, kalau ada teman yang punya masalah kesehatan tapi enggak berani tanya ke dokter, bisa kalian wakili lewat rubrik ini.


Begini Skenarionya:
Teman sekantormu ada yang takut pup di kantor. Melewati meja-meja menuju kamar mandi memang menyeramkan, dan dia takut bertatapan dengan seorang developer yang duduk dekat pintu kamar mandi, dan dia bakal tahu kalau kamu mau pup.

Saat dia menenggak habis kopinya hari itu, perutnya mules. Dia memikirkan pilihan yang ada: Pup di Indomaret dekat kantor, atau nunggu sampai pulang. Dia juga memikirkan untuk pup aja di kantor, mungkin di bilik yang paling jauh dari pintu. Tapi gimana kalau musuhnya dari divisi akuntansi masuk untuk dandan lalu mencium bau pupnya? Dia ngebayangin dia langsung ngirim pesan ke seantero Slack kantor: “Nisa pupnya bau banget anjir.” Jadi ya sudahlah: tunggu aja sampai pulang.

Kenyataannya:
Jika temanmu menahan eek sampai dia berada di rumah, dia mungkin gak akan kepengen pup lagi, dan menahan pup secara pasif seperti itu bisa berbahaya seiring waktu. Itu karena sekali atau dua kali sehari, kontraksi melewati usus besar untuk membiarkan tubuhmu tahu bahwa sebentar lagi kamu mau pup, kata William D. Chey, profesor gastroenterologi dan penyakit dalam di Universitas Michigan. Saat kotoran menyentuh bagian terakhir usus besar, alias rektum, saraf memberi sinyal ke otak bahwa ini saatnya membuang kotoran itu.

Sinyal ini berakar pada koneksi otak-usus, menurut Sarah Kisinger, psikolog kesehatan Loyola Medicine dengan spesialisasi gangguan GI. Sistem saraf enterik kita di saluran pencernaan berkomunikasi dengan otak untuk mengatur pencernaan. “Karena mereka bekerja sama dengan erat, usus kami merasakan efek dari perubahan emosional yang signifikan yang kita alami,” kata Kinsinger. Jadi, kopi di pagi hari atau sarapanmu bisa memicu kontraksi ini, tetapi deg-degan karena mau presentasi juga bisa menjadi pemicu.

Kontraksi yang lebih parah bisa dialami oleh para pengidap gangguan GI, yang tak punya banyak kemampuan untuk mengontrol pergerakan ususnya dan kerap dilanda siklus stres dan gejala masalah pencernaan akut.

Makanya, jika temanmu itu malu untuk pup, dia akan melewatkan kesempatan untuk pup dan harus menunggu 12 jam lagi atau sampai keesokan hari agar impuls untuk pup datang lagi. Mudah sekali untuk terperangkap dalam siklus menunggu hasrat pup seperti ini. Agar tidak pup, temanmu itu harus menarik sphincter luar dan permukaan pelviknya. Cara ini bisa berfungsi untuk beberapa saat. Masalahnya, kalau ditunda terus, bakal terjadi penumpukan di usus. “Kita kan terus makan dan makanan itu ditumpuk di perut oleh tubuh,” ujar Chet. makanya, tiap kali temanmu ngemil snack-snack ringan di kantor sambil terus menahan pup, sesungguhnya otot besarnya tengah berubah jadi tempat pembuangan akhir sampah.

Kemungkinan Paling Parah yang Bisa Terjadi:
Temanmu punya kebiasaan baru: nahan pup. Dan itu bisa merusak kesehatannya. “Kalau kamu terus menerus menahan pup, kamu mungkin akan menerima konsekuensi yang lebih menyakitkan daripada rasa malu masuk WC umum,” kata Chef.

Konsekuensi pertama: konstipasi kronis. “Seiring waktu, kamu menumpuk kotoran yang besar di usus besar dan kamu belum memutuskan untuk mengosongkannya,” ujar Chey. Tumpukan kotoran yang harusnya segera dikeluarkan ini akan melebarkan usus besar dan pada akhirnya temanmu akan dilanda kram dan rasa begah yang lebih dahsyat dari yang dia rasakan setelah melahap satu loyang besar Pizza. Lebih parah lagi, selagi nongkrong di usus besar, kotoran ini menyerap air. Jadi saat temanmu akhirnya memutuskan untuk buang air besar, perjuangannya akan penuh onak dan duri—mulai dari mengejan, pendarahan hingga kotoran yang begitu kerasnya hingga harus dipancing dengan laksatif.

“Konsekuensi lainnya adalah jika kamu secara konsisten melebarkan usus besar, ada kemungkinan bentuknya tak kembali seperti semula,” kata Chey. Dia membandingkannya dengan kondisi gagal jantung, ketika otot yang tak terus meregang akhirnya berhenti bekerja. Jika kamu terus menerus mengalami konstipasi, kamu bisa merusak saraf pemberi sinyal pup di rektum, kehilangan kekuatan otot dan jadi gampang—cepirit. Dengan kata lain, kebiasaan jelek menahan pup ujung-ujung akan menyebabkan tubuhmu lupa cara pup yang benar.

Apa yang Mungkin Terjadi
Kalau temanmu malu pup di kamar kecil umum atau harus menunggu sampai benar-benar sendirian, dia akan tersiksa karena mulas dan rasa tak nyaman. Dia mungkin bisa selamat—tapi cuma sekali loh ya. “Ini bukan yang hal yang baik untuk dilakukan,” kata Chey. “Apakah kebiasaan ini berbahaya? Tidak. Apakah ini ide yang bagus? Juga tidak!”

Apa Yang Harus Kamu Katakan ke Temanmu
“Hargai keinginan untuk berak” ujar Chey. Memang sih, jika temanmu menahannya, sistem ini percernaan tak langsung rusak. Cuma sebaiknya, dia menghormati hasrat alamiahnya alih-alih malu-malu karena takut suara pupnya kedengaran orang. Bilang padanya untuk pup di wc umum. Ingatkan padanya bahwa pup itu suatu yang alami. Siapapun pasti pup dan enggak ada yang ganteng/cantik pas pup.

Kissinger mengatakan orang yang malu pup di WC umum harusnya mencari tahu apa yang mereka takutkan—apakah malu karena bikin suara-suara memalukan atau jangan-jangan tak kuat bertemu mata dengan orang yang seolah-olah bilang “elo baru boker banyak banget ya?”—dan pikirkan lagi seberapa besar kemungkinannya terjadi. “Tak usahlah menebak-nebak apa yang dipikirkan orang lain atau berasumsi orang lain punya pikiran negatif karena kita pup saat pesta sedang ramai-ramianya,” katanya.

Beberapa hal ini mungkin membantu: minta temanmu untuk mendesak kantornya menyediakan penyegar ruangan di kamar kecil (atau bawa sendiri deh kalau kantornya pelit). Cara lainnya, biasanya nge-flush di tengah-tengah kenikmatan pup. Ini sebenarnya semacam adab pup yang benar. Dengan dua modal ini, temanmu pasti insyaf menahan pup dan bisa buang hajat dengan leluasa kapanpun dan di manapun.